
Tirta segera mengajak Ludiro dan Jokosuro nongkrong di pinggir jalan itu bersama Adnan dan Bayu. Sedangkan kawan kawan dari Ludiro disuruh oleh Ludiro kembali dulu ke camp mereka.
"Di mana Ki Suromenggolo Mas Ludiro" tanya Tirta begitu mereka duduk-duduk di rerumputan di pinggiran jalan itu.
"Keadaannya sudah membaik, akan tetapi juga untuk kegiatan sehari hari di padepokan di serahkan kepada kami berdua," jawab Ludiro.
"Dan kalian ikutan acara ini mewakili perguruan silat kalian?" tanya Tirta lagi.
"Iya Mas ! guru menyuruh kami mewakili perguruan kami," jawab Ludiro.
"Kalian juga mewakili padepokan kalian juga?" tanya Ludiro.
"Kalau kalian ikutan , lebih baik kami mundur saja," kata Ludiro lagi.
"Oh, tidak tidak!" jawab Bayu.
"Kami kemari ada keperluan yang lain," lanjut Bayu.
Mereka kemudian bercerita hal hal yang lainnya.
Dalam suatu kesempatan Ludiro menyampaikan pada Tirta dan kawan-kawan nya, bahwa pertemuan dari perguruan silat ini telah di susupi suatu kekuatan besar dari sebuah organisasi kegelapan yang ingin membawa perguruan-perguruan silat ini kepada kepentingan dari organisasi gelap ini yang sangat berbahaya.
Walaupun ki Suromrnggolo tadinya sempat terjerumus pada godaan duniawi, akan tetapi tampaknya kali ini dia sudah sadar dan berusaha menghubungi para pemimpin perguruan silat dalam perkumpulan ini.
Dan beberapa pimpinan perguruan silat secara diam-diam juga turut hadir dan mengawasi acara di puncak gunung Ijen ini. Di antaranya adalah Ki Suromenggolo sendiri dan Kyai Syahroni. Juga beberapa yang lain yang memang telah di kenal oleh Ki Suromenggolo.
Mendengar keterangan dari Ludiro ini, Tirta, Bayu dan Adnan menjadi sangat terkejut.
Tirta Bayu dan Adnan tampak ikut berkhawatir dengan apa yang mungkin bisa terjadi.
Dia sudah di berikan sisik melik dari eyang Wasis Joyokusuma tentang akan adanya ontran-ontran besar yang akan melanda pulau Jawa ini, dan sekarang di sini di Gunung Ijen, dia menemukan kembali bibit dari bencana ini.
"Dan kebetulan kalian sudah berada disini, Jadi kami bisa bernafas lega karena aku yakin kalian mampu mengatasi permasalahan ini!" kata Ludiro.
"Ahh! Mas Ludiro jangan terlalu memandang terlalu tinggi seperti itu, kalau nanti jatuh akan terasa sakit," kata Tirta.
"Nanti selepas Magrib datanglah ke perkemahan kami, di sana !" Ludiro menunjuk agak jauh ke arah selatan dimana terlihat beberapa tenda berdiri di sana.
"Guru pasti akan senang melihat kehadiran kalian disini !
Tadinya guru juga sempat menyinggung kalian pada kami. Akan tetapi karena waktu dan jarak jadi Guru mengurungkan keinginannya untuk menghubungi kalian." kata Ludiro lagi.
"Baiklah nanti selepas Maghrib kami akan mengunjungi kalian," kata Tirta menyanggupi ajakan Ludiro.
Demikianlah mereka kemudian berpisah ketika matahari sudah setinggi penggalah, Ludiro dan Jokosuro beranjak kembali ke perkemahannya, demikian juga Tirta , Bayu dan Adnan.
Sesampai nya di perkemahan, Tirta segera menceritakan pada Mahardika tentang apa yang telah di dengarnya dari Ludiro dan Jokosuro.
__ADS_1
"Hmm, tampaknya keadaan disini cukup berbahaya juga," kata Mahardika.
"Jika kepemimpinan dari perkumpulan perguruan-perguruan silat disini bisa diambil alih oleh orang- orang yang di sebutkan oleh Ki Suromnggolo, maka akan menjadi bencana besar !" lanjut Mahardika.
Setelah mereka berdiskusi panjang lebar, kemudian mereka beristirahat karena kegiatan mereka sekarang ini banyak sekali di lakukan pada malam hari.
***
Semetara itu di perkemahan Ki Suromenggolo, Ludiro dan Jokosuro.
"Syukurlah kalian bertemu dengan Tiga anak-anak muda yang sangat hebat itu !" kata seseorang yang sudah tua dengan wajah kereng dengan muka penuh jambang.
Ya dia adalah Ki Suromenggolo, guru dari Ludiro dan Jokosuro.
Seorang tokoh dunia olah kanuragan yang sangat disegani di daerah Ponorogo dan juga Jawa Timur ini.
"Iya guru tampaknya mereka juga sedang melakukan sesuatu di gunung Ijen ini, akan tetapi kami tidak menanyakan nya lebih jauh," kata Ludiro.
"Kami juga sudah menceritakan semua yang kami ketahui tentang pertemuan dari perguruan silat kali ini ," kata Ludiro.
Ki Suromnggolo mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan dari Ludiro ini.
"Hmm, bagaimana tanggapan mereka ?" tanya Ki Suromenggolo.
"Mereka bersedia membantu Guru! nanti selepas Maghrib Tirta, Bayu dan Adnan akan kemari Guru" kata Ludiro.
Ki Suromenggolo segera menceritakan tentang apa yang sudah di ketahui nya pada semua yang hadir.
"Aku percaya pada kalian yang hadir disini tidak akan membocorkan pembicaraan kita kali ini pada pihak lawan kata Ki Suromenggolo.
"Lalu apa rencana kita Ki?" tanya seorang pria seumuran Ki Suromenggolo.
"Sebenarnya gampang saja!" seru seorang lain yang agak lebih muda.
"Asalkan mereka kalah , mereka juga akan mundur dengan sendirinya," lanjutnya.
"Benar apa katamu Wayan sudhiarte!" seru seorang pria tinggi besar dengan suara berat tapi terdengar sangat berwibawa.
Ya dia adalah orang yang membuka acara kemarin. Dia adalah Ki Seno Aji! dialah yang memimpin perkumpulan perguruan silat tiga tahun belakangan ini.
Padepokan nya terletak di lereng gunung Argopuro.
Dia adalah seorang Pria perkasa yang jujur dan lurus.
Dalam perebutan sebagai pemimpin diantara perguruan-perguran silat tiga tahun yang lalu dia berhasil mengalahkan Ki Suromenggolo !
Dalam sebuah pertarungan yang sangat sengit yang berlangsung selama semalaman, dia berhasil mengungguli Ki Suromenggolo !
__ADS_1
Karena Ki Suromenggolo telah kehabisan nafas!
"Tapi masalahnya kita tidak tahu seberapa tinggi kemampuan orang orang yang akan menyusup ini," lanjut Ki Seno Aji.
"Benar apa katamu Seno Aji!" celetuk seorang pria tengah baya bersorban putih dan berpeci putih! Wajahnya terlihat bersih dan seperti memancarkan kehalusan Budi pekerti nya. Dia adalah kyai Syahroni!
Di samping kyai Sahroni duduk berderet adalah Intan putrinya, kemudian pemuda berwajah garang yang sempat hampir bentrok dengan Mahardika dan seorang lagi pemuda tegap dan tampan yang juga masih keponakan Kyai Sahroni.
Mereka duduk melingkar di dalam tenda yang cukup besar itu dengan beralaskan tikar.
Dan di luar tenda ini di jaga dengan ketat oleh anggota anggota yang terpercaya.
"Kita nanti akan melihat dulu, kemampuan dari penyusup penyusup itu di pertandingan nanti," kata Ki Seno Aji.
"Sebenarnya kemarin malam pun , aku sudah mencurigai seorang yang sudah turun gelanggang, akan tetapi tampaknya dia belum mengeluarkan semua kemampuannya ," kata ki Seno Aji.
Semuanya mendengar penjelasan Ki Seno dengan seksama.
Ketika mereka sedang berdiskusi, mendadak di luar terjadi keributan.
Seseorang kemudian memasuki tenda dan berkata;
"Ada serombongan anak muda yang ingin masuk, mereka terliihat sangat mencurigaan." lapor pemuda tersebut.
"Berapa orang ?" tanya Ki Suromenggolo.
"Empat orang Ki," jawab pemuda tersebut.
Tampak Ki Suromenggolo mengerutkan keningnya, karena setahunya hanya Tirta, Bayu dan Adnan yang di undang oleh Ludiro.
"Ludiro, lihatlah siapa yang datang?" perintah Ki Suromenggolo.
Ludiro segera beranjak dari tempatnya duduk dan keluar untuk melihat siapa yang datang.
Setahu Ludiro, Tirta juga hanya bertiga, kenapa sekarang yang datang jadi berempat? pikir Ludiro.
Ketika Ludiro sampai di luar , tampak para anggota perguruan silat yang berjaga mengerumuni empat orang pemuda.
Segera saja Ludiro mengenali Tirta, Bayu dan Adnan. Tapi dia tidak mengenali seorang pemuda tampan yang ada bersama mereka.
"Sudah, sudah ! mereka orang kita!" seru Ludiro sambil membubarkan kerumunan mereka.
"Maaf Mas Tirta, ini hanya untuk berhati-hati saja! Tiap-tiap tamu yang hadir harus melalui pemeriksaan oleh para penjaga, terang Ludiro.
"Tidak apa apa Mas Ludiro," kata Tirta.
"Oh ya kenalkan dulu,. Mahardika! kawan kami," kata Tirta.
__ADS_1