Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
aji Suryo Dahono


__ADS_3

Di pendopo tinggal ki Ranu , Tirta , Bayu , Adnan dan Nastiti..


"Nastiti, tolong anakmas Bayu dan anakmas Adnan! Ajarilah dasar- dasar kidang kencono," kata Ki Ranu.


Aku akan mengajak anakmas Tirta untuk menurunkan beberapa ilmu terbaikku untuk kakangmu ini", kata ki Ranu pada Nastiti.


"Injih Eyang," jawab Nastiti pada ki Ranu, eyangnya.


"Kidang kencono" merupakan ilmu yang bisa membuat tubuh menjadi ringan seringan kapas, sehingga membuat pemiliknya bisa berlari seperti kijang saja!


Kemudian Tirta diajak oleh ki Ranu menuju sebuah gumuk kecil yang letaknya agak jauh dari pusat padukuhan dan berada di sebelah utara padukuhan rahasia ini.


Ini adalah tempat yang benar-benar sepi dan sunyi, jauh dari pusat padukuhan.


Hanya terdengar suara hewan hewan malam saja.. yang membuat bulu kuduk meremang jika tidak terbiasa berada di tempat seperti ini..


"Anakmas, kita akan berpacu dengan waktu untuk secepatnya menurunkan aji-aji pamungkasku pada anakmas," kata ki Ranu.


"Injih eyang Ranu , semoga saya tidak mengecewakan harapan-harapan Eyang," jawab Tirta.


"Aku akan memulai menurunkan Aji Suryo Dahono, anakmas" kata ki Ranu lagi.


"Ilmu ini berdasarkan kekuatan cahaya dan api, jadi bersifat panas," terang ki Ranu.


"Pukulan anakmas yang didasari oleh aji Suryo Dahono akan membuat efek mengeringkan! Walau hanya sentuhan kecil saja akan membuat lawan layu karena terkena pukulan dari anakmas Tirta,,"


"kelak Jangan gunakan ajian ini secara sembarangan anakmas. Karena efeknya akan sangat merusak," kata ki Ranu.


"Maaf Eyang , saya juga menguasai aji Tapak Geni, yang bersumber dari tenaga panas juga, apakah efeknya seperti aji tapak Geni? tanya Tirta.


"Coba anak mas keluarkan aji Tapak Geni, dan pukulkan kearah pohon itu anakmas," pinta ki Ranu, sambil menunjuk sebuah pohon sebesar paha orang dewasa di sekitar tempat itu.


Tirta segera melakukan perintah ki Ranu untuk mengeluarkan pukulan Tapak Geni.


Dipusatkanya akal budinya dan di keluarkannya tenaga batin menuju telapak tangannya.


Tirta segera memukul dengan tapak tangan terbuka dari jarak tiga meter dari pohon tersebut.

__ADS_1


Seleret sinar kemerahan tampak keluar dari telapak tangan Tirta dan menghantam pohon itu.


"Duar!",,,,, krakk !" terdengar suara keras diikuti tumbangnya pohon itu disertai kepulan asap hitam dari bagian pohon yang terkena pukulan tapak Geni.


Ki Ranu segera melangkah dan mendekati pohon yang tumbang akibat di terjang aji Tapak Geni.


Ki Ranu segera memeriksa pohon tersebut dan berseru;


"Luar biasa,! sungguh sebuah ajian yang langka dan sudah punah telah muncul kembali !"


Pohon itu terlihat hangus gosong seperti terbakar di bagian yang terkena pukulan, seperti efek tersambar petir.


Setelah memeriksa Ki Ranu berdiam diri sejenak, kemudian berkata;


"Pukulan dari ajian Tapak Geni anakmas sudah hampir mendekati sempurna.." kata ki Ranu.


Kemudian ki Ranu segera bersiap dengan kuda-kudanya dan berkonsentrasi kemudian mengarahkan pukulan ke arah pohon yang lain, seleret sinar kebiru- biruan meluncur dari telapak tangan ki Ranu.


"Duar !!" terdengar suara keras ketika sinar kebiru-biruan itu membentur pohon.


Pohon sebesar paha itu tampak tidak tumbang hanya tergetar sangat keras.


Tirta berjalan mendekati pohon itu.


Dilihatnya daun-daunnya mulai layu dan rontok, batangnya mengering tanpa ada aura kehidupan di sana.


ki Ranu tersenyum ketika Tirta tampak kaget melihat ini..


"Itulah anakmas ! perbedaan mendasar dari ajian Tapak Geni dan ajian Suryo Dahono, keduanya menimbulkan akibat yang berbeda." terang ki Ranu.


"Aji tapak Geni menimbulkan kerusakan yang akan terlihat begitu mengenai sasarannya, sedangkan aji Suryo Dahono menimbulkan kerusakan dari dalam dan tidak segera terlihat akibatnya." lanjut ki Ranu.


"Akan tetapi keduanya adalah aji yang susah di cari bandingannya!


Banyak orang yang mengaku-aku menguasai aji-aji warisan leluhur tanah ini, tapi hanya sebatas kulitnya saja tanpa menyentuh inti dari ilmu itu sendiri.."


"Pemilik aji- aji ini haruslah orang yang sudah "semeleh" (berserah diri), orang yang "andap asor" (sopan santun) dan sepi ing pamrih rame ing gawe (lebih banyak kerja dari pada bicara), seperti ajaran leluhur tanah Jawa ini anakmas Tirta ," ki Ranu memberikan petuahnya.

__ADS_1


"janganlah sesorah dan sombong, tetaplah membumi, sebab semua ilmu dan ajian ini kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan gusti Allah ingkang akaryo jagad (yang membuat dan menguasai alam ini), terang ki Ranu panjang lebar.


Tirta mendengar semua petuah-petuah dari ki Ranu dengan bersungguh-sungguh.


"Untuk menguasai ilmu ini seseorang harus sudah mempunyai akar kekutan baik wadag maupun batin yang akan menjadi dasar dari aji Suryo Dahono ini anakmas, itulah sebabnya hanya orang-orang yang sudah mapan dalam olah kanuragan saja yang bisa menguasai aji Suryo Dahono secara sempurna.


Tidak hanya kulitnya saja akan tetapi juga inti dari Ajian ini," lanjut ki Ranu.


"Marilah akan segera Eyang turunkan aji ini kepadamu Angger." lanjut ki Ranu.


"Mintalah kepada yang kuasa dan kosongkan seluruh pikiran," kata ki Ranu lagi.


Ki Ranu segera bersila di atas sebuah batu datar di gumuk itu, dengan Tirta duduk bersila di hadapannya.


Telapak tangan mereka bersatu, dengan kedua mata terpejam.


Ki Ranu tampak sedang berkonsentrasi mengumpulkan segenap akal budinya dan mengerahkan tenaga batinnya.


Sesaat kemudian tampak cahaya kebiru- biruan muncul dan menyelimuti seluruh tubuh ki Ranu, dan secara perlahan-lahan merambat melalui kedua lengannya yang sudah keriput, dan selanjutnya menyelimuti seluruh tubuh Tirta Jayakusuma..


"Biarkan aliran tenaga batin ini masuk ke seluruh aliran darahmu anakmas! gabungkanlah aliran tenaga ini dengan tenaga batin yang sudah ada terlebih dahulu dalam diri anakmas, arahkan agar bersatu," bisik ki Ranu pelan..


Dengan cara seperti ini,. penguasaan Aji Suryo Dahono menjadi lebih cepat, tanpa laku dan ritual khusus yang bisa di lakukan para leluhur tanah ini di masa lalu.


Akan tetapi cara seperti ini akan Membuat energi dan kekuatan batin si guru akan memgalami penurunan yang sangat pesat, akibatnya bisa membawa kemunduran bagi sang guru bahkan lebih parah lagi bisa menyebabkan kematian, karena tenaga inti yang ada pada dirinya telah di limpahkan pada muridnya atau pada orang yang di limpahi tenaga batinnya.


Dan ki Ranu menyerahkan tenaga batinnya karena disadari bahwa dirinya sudah sangat tua dan tidak akan bisa bertahan hidup di dunia ini lebih lama, apalagi dukuh dalam keadaan berbahaya akibat ancaman Aryo Seto dan kawan kawannya, sedangkan dirinya secara wadag sudah tidak mampu lagi.


Setelah hampir dua jam berjalan,, perlahan- lahan cahaya biru yang menyelimuti tubuh Tirta mulai memudar diikuti juga memudarnya cahaya biru dari tubuh ki Ranu.


Dengan perlahan telapak tangan keduanya terlepas. Ki Ranu masih dalam posisi bersemadi untuk mengatur pernafasannya dan mengembalikan energi batin yang sudah terkuras karena di salurkan kepada Tirta,.


Sebagian tenaga batin dari Ki Ranu sudah di limpahkan kepada Tirta Jayakusuma. ki Ranu masih menyimpan sedikit tenaga untuk dia bertahan hidup.


Sedangkan Tirta juga bersemedi untuk mengatur dan meredakan energi batin yang bergolak di dalam tubuhnya karena keberadaan dua energi besar yang saling berputar- putar dan belum bisa menyatu seluruhnya di dalam tubuhnya.


Tirta dan Ki Ranu berada dalam keheningan dan bersemadi hingga akhirnya hari menjelang Fajar.

__ADS_1


Tirta membuka kedua matanya terlebih dahulu, terlihat kedua matanya kini terlihat lebih tajam dengan sorot mata berwarna sedikit kebiruan dan sedikit warna keemasan, karena masih terbawa efek dua tenaga batin yang masih bergolak dalam tubuhnya.


__ADS_2