Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
penyesalan


__ADS_3

Tirta berjalan perlahan dari kegelapan menghampiri Aldi yang terdiam membeku di tempatnya.


Tirta berusaha menahan kemarahannya di dalam hatinya.


"Aku tidak akan membalas sakit hati ku padamu Al! aku hanya akan memberimu pelajaran karena perilakumu yang sudah melampaui batas!"


Kali ini Aldi merasa bahwa Tirta akan bertindak pada dirinya! Walau bagaimanapun dia adalah seorang ahli beladiri karate yang sudah di tekuninya sejak kecil dengan susah payah.


Dan dengan susah payah juga dia sudah mencapai sabuk hitam.


Kuda-kudanya dipasang dengan kuat siap menghadapi segala kungkinan!


Sebelumnya dia sudah pernah bertarung melawan Tirta, dan dia merasa kemampuan mereka berimbang. Tapi entah kenapa, setiap kali bertemu, kemampuan Tirta selalu diluar dugaan nya.


Beberapa saat yang lalu dia juga di kejutkan dengan kekalahan Masternya dan sekarang ini di malam ini, preman-preman suruhannya yang dia percaya untuk menghabisi pemuda ini bisa hancur malang melintang di pinggir jalan.


Jack yang dia tahu adalah pimpinan kelompok preman yang tangguh yang sehari-harinya bergelut dengan kekerasan dengan di bantu anak buahnya yang rata-rata juga preman berpengalaman bisa hancur sedemikian rupa.


"Silahkan, apa maumu, memang akulah yang menyuruh mereka mencelakaimu, tapi sayang kamampuan mereka tidak memadai!'


Tanpa basa-basi lagi Tirta mengerahkan sebagian kecil tenaganya di salurkan ke telapak tangan kanannya dan langsung mengarahkan pukulan Tapak Geni dari jarak 2 meter dari Aldi!


Tapak tangan yang telah di aliri gelombang energi langsung di arahkan pada Aldi.


Angin keras menerjang Aldi, yang secara reflek menyilangkankedua lengannya melindungi diri.


"Bakk!!..,. brukk!!"terdengar benturan angin pukulan Tapak Geni! tidak terlalu keras tapi akibatnya Aldi terpental dengan keras dan mebentur sebuah pohon Mahoni di pinggir jalan.


Lengan yang di gunakan untuk menangkis angin serangan Tapak geni tampak mengeluarkan asap. Tidak ada diantara para preman itu yang berani memberikan pertolongan pada Aldi.


Terlihat lengan aldi melepuh seperti efek terbakar, kulitnya melepuh hitam dan tangannya lunglai tak bisa di gerakkan.


Tirta melangkah mendekati Aldi. Dilihatnya Aldi bersandar di pohon Mahoni sambil merintih kesakitan. Nafasnya memburu dan tersengal-sengal, dari sudut bibirnya meleleh darah segar.


Tirta memandangi Aldi yang merintih kesakitan. Dia merasa kasihan melihat keadaan Aldi. Walaupun selama ini dia banyak di rugikan oleh Aldi akan tetapi rasa kasihan lebih mendominasi hatinya.


Tirta memanglah berhati lembut dan penuh welas asih.


Dihampirinya Aldi, di lihatnya tangannya lunglai di kanan kiri badannya.


Aldi yang gagah tampan tinggi besar dan bertemperamen ganas , kali ini terlihat mengenaskan.


Aldi yang di hampiri Tirta hanya bisa memandangi Tirta, dikiranya Tirta akan menyakiti dirinya yang telah berulangkali berbuat yang merugikan bagi Tirta.


"Maaf Aldi, aku terlalu keras padamu,! maaf kan aku!" kata Tirta lirih sambil berjongkok di dekat Aldi.


Aldi melengak mendengar kata-kata permintaan maaf dari Tirta. Bukankah dirinya yang seharusnya meminta maaf pada Tirta?

__ADS_1


Aldi terdiam sesat kemudian berkata,


"Kenapa kamu malah minta maaf padaku? Bukannya kamu mendendam padaku!? ingin menghancurkanku karena ulahku yang terus memusuhimu dan aku juga sudah berusaha ingin mencelakaimu!?"


Aldi berdiam sesaat sambil menarik nafas dalam -dalam, kemudian melanjutkan.


"Tirta... Tirta, .. aku sudah tidak berdaya, pukullah aku sepuasmu !? aku tidak akan mampu melawanmu!"


"Tidak Aldi, Maaf kan aku, Aku tidak sengaja menyakitimu!" jawab Tirta sedih.


Tirta segera memegang kedua lengan Aldi yang berwarna hitam dan melepuh seperti luka bakar.


Aldi pun Tidak bisa berontak ataupun menolak Tindakan Tirta, karena benar -benar efek dari angin pukulan Tapak Geni benar-benar luar biasa.


Dalam hati Tirta pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak sembarangan menggunakan pukulan Tapak Geni nya.


Dipegangnya kedua telapak tangan Aldi dengan tangannya, seperti sepasang kekasih saja yang sedang memadu kasih di taman.


Dipandanginya luka bakar di kedua lengan Aldi. Agak parah kalau dilihat dari luar, tapi ternyata lebih parah lagi di dalamnya, terjadi kerusakan otot otot di kedua lengannya, dan inilah yang menyebabkan terkulainya kedua tangan Aldi seperti tidak bertenaga.


Melihat kondisi kedua tangan Aldi, hatinya trenyuh, disalurkannya tenaga batinnya menyusuri telapak tangan Aldi dan menerjang urat-urat dalam darah yang mulai membeku dan rusak akibat Aji Tapak Geni.


Aliran tenaga yang hangat merasuki kedua lengan Aldi dan merasuki tubuh dan dadanya.


"Biarkan Aliran tenaga ini merasuki tubuhmu Aldi! biarkan menembus aliran darahmu yang tersumbat. Jangan di tolak, aku tidak bermaksud jahat padamu!" kata Tirta pelan.


Aldi hanya bisa mengangguk pelan. Kalaupun Tirta bermaksud jahat kepadanya dirinya juga tidak mampu berbuat apa-apa.


"Sudah cukup Al," Tirta segera melepaskan pegangannya pada kedua telapak tangan Aldi.


"Kedua lenganmu sudah agak baik kan? Cobalah gerakkan secara perlahan!"


Aldi mengangguk dan mencoba menggerakkan tangan kanannya terlebih dahulu.


Perlahan tangan Aldi suda bisa di gerakkan. akan tetapi sesat kemudian dia meringis menahan sakit.


"Aduh" dia mengaduh menahan nyeri dan sakit,


"Pelan- pelan Al, butuh waktu untuk kembali seperti semula. Yang penting luka dalam di kedua lenganmu dan di dadamu sudah tidak membahayakan dirimu, tinggal butuh waktu saja untuk kembali seperti semula," jelas Tirta.


"Untuk luka bakar itu hanya dikulit saja tapi tetap perlu perawatan intensif. Bawalah pada tenaga medis untuk pengobatan selanjut nya!" kata Tirta menambahkan keterangan nya.


Aldi hanya bisa memandangi Tirta denga haru, tak disangkanya Tirta mempunyai hati lembut dan welas asih serta mencintai sesama dengan tulus. Kali ini dirinya benar-benar takluk luar dalam pada pemuda ini.


Dia merasa malu pada Tirta, pemuda yang sejak awal kuliah selalu saja di anggap musuh olenya.


"Maafkan aku Ta" kata Aldi lirih. Dia hanya mampu mengatakan itu perlahan. Belum pernah sebelumnya dia mengatakan ini pada orang lain bahkan kepada orang tuanya sekalipun.

__ADS_1


Tirta mengangguk dan tidak mengatakan apa apa, dia beranjak dari tempat Aldi. Kemudian dia mengambil ponsenya dari kantong celana dan menghubungi seseorang.


beberapa saat kemudian segera tersambung.


"Bay, motorku rusak parah nih, tolong dong kamu kesini" ucapnya.


"Iya ini di daerah dekat cangkiran, Oh ya kalo bisa pake mobil pick up nya Kang Damar, soalnya rusaknya parah ....


Iya aku di pinggir jalan kok, sebelum pertigaan Cangkiran kira-kira yaa dua kilo an."


Setelah Tirta selesai berbicara dengan Bayu, terdengar Aldi berkata pada Tirta.


"Maaf kalau motor mu rusak parah, aku akan menggantinya untukmu.


Akan aku ganti yang baru dan lebih baik."


"Ah tidak usah Al, ini masih bisa diperbaiki kok, lagian ini motor kenang-kenangan. Sudah sejak SMP motor ini aku kendarai," tolak Tirta.


kurang lebih lima belas menit kemudian dari kejauhan tampak sebuah mobil dengan sorot lampu nya mendekati ke arah mereka.


Ternyata Bayu dan Adnan yang datang.


"Bay, Ad sini !" seru Tirta.


Bayu dan Adna segera melangkahkan kaki menghampiri Tirta.


Dilihat nya di pinggiran jalan itu banyak orang yang duduk dan tiduran meringkuk , ada pula yang telentang.


Ketika Bayu dan Adan sudah sampai di depan Tirta dengan tidak sabar Bayu sudah nyerocos.


"Kamu kecelakaan Ta, di tabrak mobil ? tapi kok korbannya banyak banget yaa .. Trus itu Aldii..yaa!? ngapain dia di situ !! Kamu pasti di tabrak Aldi yaa!?" tebak Bayu.


"Tidak-tidak, semua tebakanmu salah!" seru Tirta.


"Trus ngapain mereka bergelimpangan kayak gitu!" bantah Bayu.


"Mereka sedang lelah, pengin tiduran, memangnya salah!" jawab Tirta cuek.


Mendengar jawaban Tirta ini para preman yang bergelimpangan ingin tertawa tapi tidak bisa, jadi hanya bisa sisimpannya dalam hati mereka.


"Coba tanya pada mereka sendiri sana."


Bayu yang penasaran segera menghampiri seseorang yang duduk bersender di sebuah pohon di pinggir jalan. di lihatnya tubuh nya kekar dan wajah yang seram.


"Heh ngapain kamu pada duduk dan tiduran di pinggir jalan" tanya Bayu pada orang tersebut.


" Anu mas, kami semua cedera Mas, ini kaki ku terkilir tidak bisa jalan Mas!"

__ADS_1


"Kalian semua cedera!?" bayu balik bertanya dengan kaget.


"Iya Mas, kami semua berjumlah tujuh belas orang, kami dari kelompok "Suro Gento" jawab orang tersebut.


__ADS_2