
Ketika hari beranjak siang, hati Dinda mulai gelisah, dia berjalan mondar-mandir mengelilingi kolam renang dengan berlagak melihat-lihat air kolam yang jernih ataupun tanaman-tanaman di sekitarnya agar tidak terlalu mencolok kalau dia sedang gelisah berat.
Di lihatnya berkali-kali ponselnya, apakah ada chating dari Tirta atau sahabatnya yang lain.
Ketika dirinya sedang memperhatikan layar ponsel, mendadak,
"Da,,, daaaa.!!!. Dindaaa!!" seruan nyaring yang akhir-akhir ini sudah biasa mampir di telinganya, siapa lagi kalau bukan Tia!.
Tia nongol bersama Nani! Tia berlari kecil menghampiri Dinda dan langsung berpelukan hangat banget,
"Ups jangan kenceng-kenceng dong, gak bisa napas nih," seru Dinda yang serasa di peluk Gorila saja! Tia segera melepaskan pelukannya pada Dinda.
"Maaf, terlalu bahagia aku melihat kamu! kayak putri , cantik banget, " puji Tia.
Nani yang ada di belakang Tia juga ikutan mendekat, ditangannya ada dua buah bungkusan kado yang segera di serahkan pada Dinda.
"Trimakasiiih,, malah ngerepotin kalian"..
"Eh,, tadi kalian sendirian? Dinda coba melihat kearah belakang Tia dan Nani.
"Ihh, kamu pikir kami nyembunyiin pangeran mu di kantung kayak Doraemon apa," seru Tia menggoda Dinda.
"Bukan begitu Tia, tapi ini kan sudah siang, trus kemana Tirta ,Bayu dan Adnan," kata Dinda.
Mereka berjalan di pinggir kolam sambil ngobrol. Di sudut lain Andrew bermain ponsel nya sambil sekali-kali memandang kearah Dinda, Tia dan Nani. Sedangkan Anggara entah sudah pergi kemana lagi bersama Dimas dan Ratna.
Hari semakin siang, tapi ternyata Tirta, Bayu dan Adnan masih belum juga nongol batang hidungnya.
Dinda mulai gelisah lagi, kali ini dia menyampaikan nya pada Tia,
"Sudah semakin siang nih Tia, tidak lengkap rasanya tanpa mereka bertiga, kurang seru!"
Ya, mereka sudah terbiasa berenam sejak dari awal mereka berikrar sebagai sahabat, mereka selalu jalan bersama berenam.
"Coba kamu hubungin siapa saja deh," kata Dinda kepada Tia. Sebenarnya sejak tadipun Dinda sudah berusaha menghubungi Tirta, Bayu ataupun Adnan tapi selalu tidak terhubung, bahkan chat WhatsApp pun tidak terbaca!.
Dinda khawatir kalau terjadi sesuatu pada sahabat-sahabatnya itu.
Ketika hari sudah benar-benar siang, ponsel Tia yang sedari tadi berusaha menghubungi Bayu tiba-tiba tersambung.
"Kalian dimana,?" serunya.
__ADS_1
"Sudah siang nih, kalian sudah ditungguin Dinda dari tadi tahu!"
"Hah apa!? kecelakaan,,??
Tirta,,?? Iya iya.."
Dinda yang mendengarkan suara Tia, ikutan panik. Dia hanya mendengarkan suara dari Tia saja tanpa mendengarkan lawan bicaranya..
"Tirta, kenapa Tia?, serunya kelihatan panik,
Tia masih saja berbicara dengan Bayu membuat Dinda bertambah panik dan gelisah saja.
Setelah Tia menutup ponselnya Dinda langsung bertanya.
"Bagaimana Tirta dan kawan kawannya, apa mereka mengalami kecelakan?"
"Sabar-sabar Din, aku haus mau minum dulu aahh," Tia dengan sengaja membuat Dinda semakin panik dengan ulahnya ini.
Tia sengaja mengulur waktu, dia berjalan menuju meja tempat minuman. Dinda membuntuti dari belakang.
Diambilnya segelas juice dan di teguknya dengan pelan, sangat pelan sekali, tidak seperti biasanya yang sekali teguk langsung habis.
Setelah meletakkan gelas Tia segera duduk di pinggir kolam renang sambil memainkan kakinya di air.
"Tirta tidak apa-apa, mereka hanya sedang menolong korban kecelakaan, jadi mereka terlambat sampai disini."
Begitu Tia selesai berkata Wajah Dinda langsung berubah cerah, mendung yang tadinya bergayut di wajahnya seketika sirna, hilang tak berbekas, senyum cerahnya kembali mengembang.
Andrew yang sejak tadi berdiam sambil bermain ponsel juga beberapa kali berdiri dan mendekati Dinda, akan tetapi selalu tidak di gubris oleh Dinda.
Kali ini untuk kesekian kalinya Andrew berusaha mengajak berbicara pada Dinda yang masih saja sibuk dengan Tia dan Nani.
"Din , sejak tadi kamu sibuk dengan dua temanmu ini, apa kamu tidak berfikir kalo tamumu bukan hanya mereka saja" Andrew berusaha mengajak ngobrol Dinda.
"Maaf aku tidak mengundang siapa pun, aku juga tidak mengundangmu ataupun menyuruhmu datang kemari kan!?" jawab Dinda ketus.
Andrew bingung menanggapi ucapan Dinda, dan memang benar apa yang di katakan Dinda, dirinya tidak di undang , dirinya kesini atas kehendak dan kemauannya sendiri.
Andrew sangat malu, akan tetapi urat malunya sudah putus demi bisa mendapatkan Dinda.
"Paling tidak terimalah hadiah dariku kali ini Din, pinta Andrew memelas.
__ADS_1
"Hadiah apa sih Din," sahut Nani.
"Ini,,, Andrew mau ngasih hadiah liontin berlian" kata dinda sebal.
"Sudah aku bilang aku gak mau, eh dia maksain terus!"
"Ya sudah di terima saja Din kan lumayan bisa di jual lagi, atau kalo kamu gak mau bagaimana kalo buatku saja!" usul Tia.
Dinda tampak berpikir sejenak, kemudian menyahuti,
"Boleh-boleh, liontinnya buat kamu aja."
Andrew yang mendengarkan pembicaran dua orang gadis itu tersenyum kecut. "Gila juga nih gadis, berlian aku beli mahal- mahal buat Dia, eh malahan mau dikasihkan pada gadis tembem ini!" pikirnya.
"Ya sudah Drew, sini hadiahnya aku terima, kata Dinda cuex.
"Ini,,,ini,, Andrew makin bingung menjawab permintaan Dinda, senyumnya semakin aneh karena bingung
"Tadi kamu maksa-maksa aku buat nerima hadiah kamu, sekarang mau aku terima malah kamu gak boleh, apa maksudmu heh, mau mempermainkan aku apa.!" seru Dinda.
"Iya, tapi kan ini buat kamu Din, bukan buat temenmu itu."
"Kan aku yang trima! mau aku buang atau aku kasih ke temenku kan terserah aku!" Dinda memulai dramanya dengan baik.
Tia dan Nani yang mendengar pembicaraan mereka hanya bisa tersenyum-senyum saja.
Kali ini Andrew benar- benar dalam dilema besar , dikasihkan hadiahnya tapi buat temennya, kalo gak di kasih bisa-bisa dia di cap cowok pelit, seperti buah simalakama saja.
Dia benar-benar tidak rela jika liontin berliannya yang berharga puluhan juta dengan harapan bisa mengambil hatinya Dinda malah di berikan pada temannya begitu saja. Dalam keadaan yang yang membingungkan ini lah mendadak ada suara motor yang cukup keras memasuki halaman,
Perhatian Dinda segera terpecah, suara motor benar-benar berisik sekali. "Suara motornya siapa sih ini serunya, kok di bolehin masuk sama pak satpam ya," pikirnya.
Sesat kemudian sesosok cowok gendut dan besar terlihat memasuki area kolam renang.
"Hooi ada orang nggak!" seru cowok itu yang berlagak seakan akan tidak melihat ada orang di situ..
"Halooo, any body here!" serunya.
"Heh anak Gajah jangan teriak-teriak di rumah orang ya, aku laporin sama pak RT tau rasa lo, seru Tia yang sebal ngelihat tingkah Bayu yang konyol dan suka bercanda itu.
"Ho ho ho, ternyata ada penghuninya disini, ada cucu nya gajah juga tampaknya ho ho ho."
__ADS_1
Dua orang ini kalau bertemu memang suka ribut dan berantem, tapi kalau tidak ada mereka dunia terasa sepiii.
"Heh siapa yang kau bilang cucu Gajah hah!" seru Tia tidak terima.