
Sore itu Tirta bersiap-siap meluncur menuju rumah Iza, tapi kali ini Bayu dan Adnan menolak di ajak, mereka beralasan kalo nanti akan mengganggu Tirta saja. Jadi Bayu dan Adnan tetap berdiam di rumah Tirta.
"Kami gak usah ikut aja Ta, biarlah kami disini dulu, nanti malam kami akan langsung ke padepokan saja," kata Bayu.
"Lagian kalo kami ikut kan gangguin acara kalian berdua, he he he!"
"Baiklah kalau begitu," jawab Tirta.
Tirta segera meluncur dengan motor bututnya menuju arah rumah Iza dengan mengenakan mantel hujan karena sore ini Kota Semarang turun hujan walaupun tidak begitu deras.
Sesampainya di pintu masuk komplek perumahan "Graha Taman Bunga" Tirta segera berhenti di depan kantor keamanan komplek dan meninggalkan kartu identitas untuk bisa masuk. Memang untuk perumahan cluster apalagi yang elite seperti di Graha Taman Bunga ini tingkat keamannya relative tinggi.
Beberapa tikungan Tirta sampai di sebuah pintu gerbang besar yang tertutup rapat. Belum sempat dia turun dari motor pintu gerbang segera terbuka lebar dan seorang penjaga rumah mempersilakan nya masuk.
"Silakan masuk saja Mas!" Pak Dul tampaknya masih mengenali pemuda yang memang pernah diajak majikannya ke rumah ini. Apalagi memang jarang ada seorang pemuda berkunjung ataupun diajak anak gadis Pak Fajrul.
Dan tampaknya pula kehadirannya memang sudah di tunggu-tunggu oleh Iza dan keluarganya.
Sudah dua kali ini dia ke rumah Iza, tapi tetap saja kagum dengan kemegahan rumah ini. Rumah yang besar dan mewah seperti istana negara dengan halaman yang luas!
Dia segera memarkirkan motor bututnya disebelah deretan mobil-mobil mewah yang memenuhi garasi.
Berjejer mobil di dalam tempat parkir ada Hammer, Rubicon, Mercedez Benz, Porche dan Yaris yang sering digunakan Iza sehari-harinya.
Tirta segera menuju rumah utama yang berjarak agak jauh dari tempat parkir dengan diantar Pak Dul sang penjaga rumah dengan payung, karena hujan yang masih mengguyur Kota ini sejak sore tadi.
Di ujung anak tangga terlihat Iza dan Mamanya, juga seorang pria paruh baya yang tinggi besar dengan wajah tampan dan berwibawa khas seorang pria kaya raya yang sukses dalam hidupnya.
Begitu Tirta sampai di ujung anak tangga Tirta segera mengucapkan salam dan mengulurkan tangan.
"Perkenalkan, saya Ayahnya Iza Mas," pak Fajrul mengulurkan tangan dan menyalami Tirta.
Pak Fajrul memandangi Tirta dengan seksama dari ujung kaki sampai ujing rambut, tak ada yang terlewatkan dari pandangannya.
"Pah, jangan mandangin Tirta kayak gitu ah, nanti jatuh cinta loh!" celetuk Iza.
"Bener-bener mirip sama kakakmu Za!" gumam pak Fajrul pelan.
__ADS_1
"Ah kamu Za, Papa kan laki-laki tulen, kalo jatuh cinta ya jatuh cintanya orang tua pada putranya jawab Pak Fajrul kalem.
Mereka kemudian mengajak Tirta masuk kerumah yang sangat megah tersebut.
Mereka duduk di ruang tamu dengan santai. Pak Fajrul walaupun terlihat "Jaim" dan tegas, tapi di hadapan Tirta terlihat lembut dan menunjukkan sisi lembutnya. Mungkin karena kerinduannya pada putra sulungnya yang telah tiada.
"Mas Tirta ini tinggal dimana sekarang," Pak Fajrul membuka pembicaraan dengan ramah.
"Tirta tinggal di Gedawang pak, tapi sekarang Tirta lebih sering tinggal di padepokan di Gunungpati," jawab Tirta.
"Iya Pa, Tirta sekarang sedang mendalami bela diri Pa, hebat loh Tirta."
"Benarkah kalo Nak Tirta sedang mendalami bela diri?" tanya Pak Fajrul.
"Ah sekedar main-main saja pak, menyalurkan hobi saja.
"Kemarin Iza cerita sama Bapak, kalo Mas Tirta kemarin ngasih pelajaran pada Aldi dan Guru nya kan?".
"Itu hanya kebetulan saja Pak, mungkin Aldi dan gurunya mengalah, Tirta merendahkan dirinya, dia tidak ingin orang lain terlalu menganggap nya hebat.
Pak Fajrul manggut-manggut, dia menjadi paham, pemuda yang mirip dengan almarhum putranya ini seorang yang rendah hati.
"Orang tua nya mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang cukup kuat di Kota ini Mas, jadi Mas Tirta harus berhati-hati menghadapi Aldi."
"Sebenarnya orang tua Aldi juga seringkali menyinggung tentang hubungan Iza dan Aldi, akan tetapi Bapak tidak terlalu menanggapinya, karena Bapak tahu siapa Aldi dan Bapaknya." Pak Fajrul berdiam sejenak dan kemudian melanjutkan.
"Jika Mas Tirta ada kesulitan Menghadapi Aldi Bapak bersedia menjadi tameng bagi Mas Tirta."
"Iya trimakasih pak," jawab Tirta.
"Begini-begini Orang tuanya Aldi masih segan pada Bapak. Jadi selama ini pun Aldi tidak berani melangkah lebih jauh dalam mendekati Iza," Pak Fajrul meneruskan keterangannya.
"Dia hanya berani bertindak pada orang-orang yang dekat ataupun mendekati Iza. Seperti kejadian terhadap dirimu Mas Tirta."
Tirta mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Pak Fajrul.
"Tapi kali ini kelihatannya Aldi salah sasaran ya Mas. Orang yang di musuhi ternyata pemuda yang tidak mudah di intimidasi dan di kalahkan."
__ADS_1
Tirta menunduk kan kepala sambil berkata lirih.
"Hanya kebetulan saja Pak."
"Ayo Mas sambil di cicipin hidangannya, Tadi Iza membelikan brownis khusus buat Mas Tirta kok." Mamanya Iza menawarkan karena sejak tadi Tirta diam saja mendengarkan Pak Fajrul.
Iza tanpa di komando langsung mengambil sepotong brownis dan di sodorkan pada Tirta, Didepan kedua orang tuanya Iza kelihatan sekali perhatian pada Tirta, hal ini membuat Tirta semakin malu tapi juga ada suatu rasa bahagia di hatinya.
Selanjutnya mereka mengobrol panjang lebar tentang hal-hal lain yang membuat suasana hidup dan menambah keakraban dalam keluarga Pak Fajrul.
Dengan karakter Tirta yang sopan dan rendah hati dan terkesan agak culun, membuatnya dengan mudah mengambil hati Papa dan Mamanya Faiza.
Dan suatu ketika Pak Fajrul dan Mamanya Iza menyampaikan keinginannya sambil bercanda untuk bisa secepatnya memiliki Cucu, karena rumah sebesar ini terasa sepi senyap , hanya didiami beberapa orang saja.
Tirta mendengar percakapan seperti ini diam saja, dirinya bingung harus menaggapi bagaimana.
Sedangkan Iza sudah memahami kalau Kedua orangtuanya sudah menyetujui hubungannya dengan Tirta jika suatu saat itu terjadi.
"Ahh Mama, Jangan ngimongin gitu dulu ah, malu kan. Iza kan masih kuliah, masih lama juga!"
"Gak papa kan Za, sambil kuliah punya baby dulu, biar Papamu enggak sibuk ngurusin usahanya terus!"
Begitulah tanpa terasa hari sudah malam, setelah makan malam Tirta berpamitan kepada kedua orang Tua dan Iza.
Tanpa terasa Mama nya Iza menitikkan air mata memandang kepergian Tirta yang sudah dianggapnya seperti almarhum Farhan.
"Hati-hati di jalan Mas, sering seringlah kemari, Mama akan selalu menerimamu tiap saat!", seru Mama Iza.
Dengan hati yang berat Iza dan keluarganya melepas kepergian Tirta.
Setelah kepergian Tirta, Pak Fajrul segera berkata lirih;
"Seorang pemuda yang baik dan rendah hati!"
Mama mengiyakan pendapat Pak Fajrul.
Semoga anak kita bisa berjodoh dengan pemuda itu Mam, Papa tidak keberatan sama sekali, kalau bisapun sebenarnya tadi Papa ingin mengikat Tirat dengan sebuah pertunangan terlebih dahulu, tapi tampaknya Tirta masih terlalu muda dan culun, kata Pak Fajrul.
__ADS_1
Mama mengagguk-angguk mendengar kata-kata Suami nya itu.
Iza yang mendengar percakapan dari kedua orang tuanya semakin bahagia bahwasannya kedua orang tuanya pun merasa cocok denga pemuda pujaan hatinya.