
Sementara kawan Gendon ternyata tidak mampu mengatasi lawannya yang memegang parang,, dan dalam sebuah terjangan yang ganas dirinya tidak mampu menghindar dari bacokan senjata lawannya, sehingga pundaknya terluka sangat parah yang membuatnya tersungkur.
Gendon yang tidak punya lawan segera berhadapan dengan lawan baru.
Keduanya bertemu setelah mengalahkan lawan- lawannya..
Di lingkaran pertempuran lain, si kaki kilat benar- benar mulai kehilangan kepercayaan dirinya..
Kedua bilah belati lengkung Leo benar-benar senjata maut yang terus memburunya kemanapun dia menghindar..
Hingga dalam satu serangan yang sengaja di buat seolah-olah agak lambat, sehingga menganggap Leo lengah, si kaki petir berbalik melakukan tendangan putar cepat mengarah bahu kanan Leo yang terbuka,, Leo sengaja memberikan bahu kanannya sedangkan tangan kiri sudah bersiap dengan belati lengkungnya!
Bahu Leo segera terhajar dengan keras,, akan tetapi secepat itu pula tangan kiri Leo yang juga memegang belati lengkung, bergerak melingkar menyobek betis lawan.
Leo jatuh! demikianpun si kaki Kilat. Akan tetapi efek tendangan si kaki kilat tidak begitu parah karena sudah diperkirakan oleh Leo dan pisau di sepatu pun tidak menggores bahu Leo..
Sebaliknya , luka robek di betis si kaki kilat benar-benar parah ,, betisnya hampir-hampir terpotong. Dia jatuh dan tak sanggup berdiri, betisnya terobek cukup dalam, darah tak henti hentinya mengalir..
Berakhirlah sepak terjang si kaki kilat di tangan mantan anggota pasukan khusus juga mantan pembunuh bayaran.
Sementara di samping Leo, Gendon juga berhasil menghabisi lawannya dengan susah payah, beberapa luka sayatan menghiasi tubuhnya, walaupun lawannya juga mengalami luka-luka yang lebih berat sehingga sudah jatuh tertelungkup sejak tadi.
Tirta Bayu dan Adnan yang sudah tidak punya lawan lagi, segera keluar dan menyaksikan bagaiman Leo dan Gendon dengan susah payah berhasil menaklukkan lawan-lawannya,
Tirta Bayu dan Adnan segera berniat membantu eyang p
Pandu yang di keroyok tujuh lawannya.
"Eh Ngger jangan bantu eyangmu ini,, ! eyang masih ingin melemaskan otot !" seru eyang Pandu.
Ya ,, walaupun di keroyok oleh tujuh orang yang berkemampuan sangat hebat, akan tetapi bagi eyang Pandu hanyalah seperti bermain pedang-pedangan saja..
Lompat kesana kemari tidak karuan. Tapi satu demi satu lawan-lawannya pada jatuh tersungkur karena terkena sentuhan- sentuhan eyang Pandu , hingga dari tujuh orang tinggal seorang saja yang akhirnya menyerah.
Tinggallah si tangan petir dengan kang Pandu yang sudah dalam puncak pertarungan.
Keduanya sama-sama kuat dan tangguh,, beberapa kali pukulan bertemu pukulan dengan hasil sama kuatnya..
Hingga setelah bertarung beberapa saat lagi ketahanan stamina lah yang menjadi penentu..tampaknya kang Damar mempunyai stamina yang lebih, karena tiap hari bertani dan berkebun serta naik turun gunung Ungaran.
Beberapa saat kemudian si tangan petir sudah kehabisan nafas, apalagi setelah di ketahui nya si kaki kilat juga terluka parah di kakinya, semangatnya langsung turun drastis!
__ADS_1
Hingga suatu saat pukulan kang Damar sudah mendarat di dadanya dengan telak tanpa bisa dielakkannya,
Tak disangka nya hari ini dia jatuh di bawah kepalan orang yang tadinya sangat di remehkan..
Dia memegangi dadanya yang terasa di gebug menggunakan palu besi saja..
Dalam keadaan demikian dia sudah tidak berdaya lagi untuk melanjutkan pertarungan dengan Damar.
Demikianlah, menjelang tengah malam pertarungan telah terhenti semuanya.
Tirta segera memberitahukan pada pak Michael kalau para penyerbu sudah berhasil di lumpuhkan!
Pak Michal bersama keluarganya dan para pengawalnya segera kembali ke lantai tujuh.
Dia memerintahkan pada para pengawalnya untuk membereskan bekas-bekas pertarungan, menyingkirkan yang tewas dan merawat yang terluka dan menawan yang menyerahkan diri.
Sementara Leo tampak bersedih, Jim terluka sangat parah akibat pukulan si tangan petir!
Nafas Jim tinggal satu- satu, wajahnya sangat pucat.
Leo segera memeluk dan meletakkan kepala jim di pangkuannya.
"Ti... tip kedua anakku bang," bisiknya lemah... satu tarikan nafas terakhir,, Jim terkulai lemas di pelukan Leo..
Air mata menitik di kedua pipi pria perkasa ini . tidak pernah sebelumnya dia menitikkan air mata .
Tapi hari ini , air mata seorang pria perkasa menitik di wajah anak buah sekaligus sahabat dan adiknya!
Jim ini adalah anak buah angkatan pertama yang di rekrut nya selain Asep, Gendon dan Fredy. Mereka berasal dari preman- preman jalanan yang direkrut dan di didik jadi seorang pembunuh bayaran.
Setelah sekian lama mereka bergelimang dalam dunia kelam tangan-tangan mereka sudah penuh dengan darah!
Hari ini dia telah ditinggalkan lebih dulu oleh anak buahnya yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri..
"Maaf kan aku Jim, Udin. aku gagal melindungi kalian berdua,, kalian sudah mengikutiku dalam suka dan duka dalam kelamnya kehidupan ini, kini ketika semuanya ingin aku perbaiki kalian malah pergi mendahului," Leo berbisik di jenazah Jim yang masih berada di pelukannya.
Jenazah Jim dan Udin terbujur kaku di lorong hotel.
Gendon juga bersedih, dari wajah yang keras itu meleleh beberapa titik air mata..
"Angger Jim dan Udin telah pergi mendahului kita, dia pergi dengan membawa keyakinannya akan kebenaran .. Insya Allah mereka akan mendapatkan tempat yang terbaik di sisinya!" hibur eyang Pandu yang sudah berada disamping Leo dan Gendon.
__ADS_1
"Kalian harus terus memperjuangkan apa yang telah kalian yakini! jangan menoleh ke belakang, apalagi kembali !"
lanjut eyang Pandu..
Sementara itu Tirta sedang menginterogasi Reno si pemimpin pasukan pembunuh.
"Aku telah mengampuni, aku tidak akan menggunakan kekerasan padamu kata Tirta lembut, aku hanya ingin tahu di mana markas Mr Budiman!" tanya Tirta pada Reno.
"Aku tidak tahu, karena selama ini kami hanya berhubungan dengan Mr Budiman melalui ponsel saja, itupun bukan langsung dengan Mr Budiman, akan tetapi melalui Peter, salah seorang asisten nya," kata Reno.
"Tiap kali ada perintah atau apapun, hanya melalui telepon saja. Itupun tidak langsung dengan Mr Budiman, tapi melalui tangan kanannya yang bernama Peter," lanjut Reno..
"Tapi setahuku beberapa kali kalau dia muncul di Jakarta ini , kamilah yang selalu menjaganya, kami-kami ini akan ada di sekelilingnya.. dan menurut perkiraanku, kemungkinan besar Mr Budiman ini mengendalikan bisnisnya dari luar Jakarta, atau bahkan di luar negri," Reno melanjutkan.
Tirta mengangguk-angguk pelan.
Adnan yang dari tadi berada bersama Tirta dan mendengarkan semua keterangan dari Reno segera menyela..
"Apakah kamu tidak membawa ponsel ?" tanya Adnan.
"Aku ingin melihat nomor yang di gunakan asistennya Mr Budiman itu, nomor lokal ataukah nomor negara lain, kata Adnan.
"Ponsel kami tinggalkan semua sebelum kami melaksanakan tugas, laporan keberhasilan atau kegagalan tugas di lakukan oleh seorang pengawas yang melaporkan semua tindakan kami ."
"Hmmm susah juga mencari jejak Mr Budiman ini ya!" geram Adnan.
Pagi itu Tirta, Bayu, Adnan eyang pandu, kang Damar, Leo, Gendon dan beberapa anak buah Leo di minta berkumpul di kamar pak Michael yang memang cukup besar.
pak Michael menyatakan terima kasih nya pada meraka yang telah melindungi dirinya dan keluarga nya
"Terima kasih pada kalian semua yang telah tanpa pamrih melindungi kami," kata pak Michael.
"Kami sekeluarga tidak akan mampu membalas semua kebaikan kalian!"
"Untuk keluarga Jim dan Udin, kami sekeluarga akan memberikan jaminan materiil pada keluarganya dan mungkin juga pada anak- anaknya ", kata pak Michael..
"Kalian sudah kami anggap seperti saudara kami sendiri, datanglah pada kami kalau kalian semua butuh bantuan jika kami mampu kami pasti akan membantu."
Hari itu ketika semuanya sudah usai, kang Damar dan eyang Pandu lebih dulu kembali ke Semarang karena kang Pandu mempunyai pekerjaan kebunnya yang memang perlu perawatan dan beberapa buah sudah memasuki masa panen..
Tirta Adnan dan Bayu semetara masih tinggal di Jakarta untuk menjaga segala kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi akibat pembalasan Mr Budiman.
__ADS_1