
***
Malam itu Ki Lodaya, Windu dan Manggolo Yudho berjalan cepat masuk ke hutan Alas Purwo..
Sebuah hutan belantara yang masih penuh misteri..
Mereka berjalan sepertinya biasa saja akan tetapi jika orang biasa mengikuti mereka pasti akan terheran - heran, karena kecepatan mereka dalam berjalan seperti orang berlari saja! sangat cepat! bahkan seakan akan tidak menyentuh tanah!
Setelah berjalan kurang lebih satu jam, hutan Alas Purwo ini semakin rapat vegetasinya (tetumbuhan).
Semak , perdu dan pepohonan semakin rapat!
Suara binatang-binatang yang aktif di malam hari menambah suasana sangat menakutkan !
Kadang mereka bertiga menjumpai auman harimau yang menggetarkan seantero hutan!
Harimau Jawa atau Panthera Tigris Sondaica yang sudah di nyatakan punah pada tahun tujuh puluhan akan tetapi ternyata akhir-akhir ini banyak di temukan jejaknya kembali.
Ya... Harimau Jawa ternyata masih ada!
Mbah Loreng ternyata telah muncul kembali dan salah satu tempatnya adalah di hutan Taman Nasional Alas Purwo (rendian 88).
Ketika mendekati tengah malam, terlihatlah di depan mereka, segerombol pohon Lontar atau Bogor atau juga pohon Siwalan!
"Kita sudah sampai !" seru Ki Lodaya.
Tidak ada apapun yang istimewa dari sekumpulan pohon lontar ini..
Langkah Ki Lodaya, Manggolo Yudho dan Windu Widagdo tampak berhenti di depan dua buah pohon lontar yang tumbuh sejajar seperti sebuah gapura kembar dengan ukuran yang hampir sama!
"Kulonuwun!" seru Ki Lodaya dan Manggolo Yudho bersamaan .
Tidak ada jawaban ...
"Kulonuwun ! Guru ini aku Lodaya dan Manggolo Yudho berkunjung !" seru Ki Lodaya..
Setelah Tiga kali mengucap salam, tiba-tiba saja terdengar suara yang pelan yang berasal dari balik pohon-pohon bogor atau lontar...
"Masuklah Lodaya! Yudho!" suara itu mempersilakan mereka untuk masuk.
Ketiganya segera melangkah melewati dua pohon lontar tersebut, dan ketika langkah mereka sudah melewati dua pohon lontar tersebut, terlihat lah suasana yang berbeda..
Di tengah-tengah tempat itu, terlihatlah tiga rumah panggung sederhana beratapkan daun lontar yang dianyam..
Dan terlihat pula pencahayaan yang redup dari sebuah sentir minyak kelapa dari rumah panggung yang berada di tengah .
"Kemarilah Lodaya, Yudho.. dan siapa pemuda itu Lodaya?!"
Tanya Kyai Bogorame!
Setelah ketiganya masuk ke rumah panggung yang berada di tengah, kemudian mereka duduk bersila di hadapan seorang yang sudah sangat tua!
__ADS_1
Mungkin usianya sekitar seratus tahunan atau bahkan lebih!
"Sudah lama kamu tidak kemari Yudho !" kata kyai Bogorame !
"Maaf guru,, memang muridmu ini salah,, maafkan aku guru!"
Kata Manggolo Yudho...
Ya, walaupun sebagai seorang yang paling berpengaruh di Cakar Iblis, dan tidak pernah memandang orang lain, kali ini sang Big Bos Cakar Iblis ini tampak sangat hormat pada gurunya, Kyai Bogorame.
"Ya, sudahlah Yudho..!" kata Kyai Bogorame.
"Pertanyaan ku belum kalian jawab, siapa pemuda ini?"
Tanya Kyai Bogorame.
"Ini adalah Windu Widagdo guru, anak saya!"
Jawab Manggolo Yudho..
"Oh, cucu muridku ternyata!" kata Kyai Bogorame...
"Iya guru, dia adalah cucu murid guru!" kata Manggolo Yudho.
"Dia aku ajak kemari supaya bisa belajar disini!
Sudilah kiranya guru menurunkan sedikit ilmu Kanuragan untuk cucu muridmu ini!"
Kata Manggolo Yudho.
"Sebenarnya lah usiaku ini sudah sampai pada batasnya di dunia yang fana ini," kata sang guru .
"Aku akan menempuh jalan Moksa,,untuk mendapat jalan keabadian !" lanjut sang guru.
"Jadi semua ilmu- ilmu keduniawian yang masih melekat padaku akan aku lepaskan dan akan aku wariskan pada... Cucu muridku! putramu Windu Widagdo dan juga pada Cantrik ku yang juga murid dari kakak seperguruan kalian!
"Maksud guru kakang Singo Lodra!?" kata Manggolo Yudho!
"Ya, Kakak seperguruan kalian Singo Lodra.
Muridnya telah kemari dan nyantrik di disini setelah gurunya menghilang entah kemana!" kata kyai Bogorame.
"Jadug ! kemarilah !" pelan suara Kyai Bogorame, akan tetapi terdengar kuat dan mantap serta menembus gelapnya tempat itu yang hanya di terangi lampu sentir belaka.
Seorang pemuda kemudian naik kerumah panggung tersebut, kemudian dia duduk bersila di depan gurunya , Kyai Bogorame .
"Jadug, kenalkan ini adalah paman gurumu!" kata kyai Bogorame!
"Lodaya dan Manggolo Yudho adalah muridku juga! mereka berdua adik seperguruan gurumu Singo Lodra!" lanjut kyai Bogorame.
"Injih Eyang Guru!" kata Jadug
__ADS_1
"Dan selanjutnya pemuda ini akan menjadi adik seperguruanmu! " kata Kyai Bogorame.
"Aku harap kalian bisa secepatnya menyerap ilmu ilmu ku, karena waktuku semakin pendek di dunia ini!"kata Kyai Bogorame.
Setelah mendengar keterangan dari sang Guru. Manggolo Yudho dan Windu Widagdo tampak memperhatikan dengan seksama pemuda yang merupakan murid Ki Singo Lodra ini .
Seorang pemuda berwajah beringas dan buas dengan tatapan mata sangat tajam berkilat kilat !
Seperti memancarkan sinar di malam hari!
Seperti mata binatang buas!
Lebih tepatnya seperti mata macan tutul atau macan kumbang!
Jadug inilah yang pernah bertarung melawan Tirta Jayakusuma sebanyak dua kali.
Yakni sewaktu perebutan pimpinan perguruan silat seluruh Jawa Timur dan juga sewaktu pertempuran di padukuhan Wuni!
Dan dalam dua kali duel tersebut, Jadug selalu mengalami kekalahan telak!
Kekalahan inilah yang membuat dirinya dendam pada Tirta Jayakusuma, sehingga ketika sang Guru, Singo Lodra telah hilang tak tentu rimbanya, Jadug kemudian mencari keberadaan eyang Gurunya di hutan Alas Purwo ini..
Dalam suatu kesempatan Ki Singo Lodra memang telah bercerita pada Jadug bahwa gurunya , Kyai Bogame adalah seorang pertapa hebat yang masih hidup dan bertempat tinggal di tengah-tengah hutan Alas Purwo yang "Gung Liwang Liwung" ini!.
Hutan yang sangat menakutkan.
Banyak pemburu, penjelajah atau siapapun yang masuk ke hutan Alas Purwo ini dan tidak pernah keluar lagi untuk selamanya!
" Jalmo Moro Jalmo Mati, Sato Moro Sato Mati!" yang artinya kurang lebih adalah : Siapapun yang masuk atau datang , baik manusia maupun hewan pasti akan mati !
Demikianlah Untuk beberapa saat Ki Lodaya, Manggolo Yudho dan Windu Widagdo berada di tempat tersebut sambil ikut memperdalam ilmu-ilmu mereka!
***
Sementara itu di kota Jakarta, malam ini Tirta jaya Kusuma dan kawan-kawan mulia bergerak secara serentak!
Seperti kemarin, pergerakan mereka juga di lakukan secara diam-diam dan sesideman!
Semua telah berkumpul di beberapa tempat yang berbeda beda!
Kali ini Tirta Jaya Kusuma dan kelompoknya bersiap-siap berangkat dari rumah pak Michael!
Regu bang Leo bersiap dari markas cabang Cakar iblis yang sudah takluk yakni markas cabang Jakarta Utara dan selanjutnya bergabung dengan kelompok Tirta jaya Kusuma untuk menyerang markas Cabang Cakar Iblis di Jakarta Selatan.
Mahardhika dan regunya akan berangkat dari markas cabang Cakar Iblis di Tangerang dengan meninggalkan beberapa orang untuk menjaga markas ini.
Sementara Ludiro sedang bersiap-siap dari markas Cakar Iblis Kota Depok
yang sudah didudukinya !
Adnan dan kelompoknya siap bergerak dari markas cabang Cakar Iblis di kota Bekasi yang sekarang dalam kekuasaan Adnan dan regunya!
__ADS_1
Bayu yang sekarang ini di percaya untuk memimpin penyerbuan, telah bersiap siap dari rumah pak Michael juga.
Mereka mulai bergerak pada waktu tepat pukul delapan malam wib.