Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Reno, kepala pasukan pembunuh


__ADS_3

Di dalam kamar presidential suite, Tirta tampak di keroyok tiga orang sekaligus, tapi bukan dia yang serasa di keroyok , tapi tiga lawannyalah yang terkurung dalam lingkaran bayangan Tirta.


Akhir-akhir ini Tirta memang agak tidak memberi kesempatan pada lawan- lawan nya untuk bertahan lebih lama.


Kali ini pun tendangan dan pukulannya tidak main- main.


Setiap pukulan dan tendangan mengandung tenaga luar dan batin yang luar bias besar!


Tiga orang yang menjadi lawannya pun sebenarnya bukan lawan sembarangan, salah seorang diantaranya adalah seorang pemuda dengan mata agak sipit dan rambut yang agak panjang seperti halnya Tirta, dengan panjang rambut sebahu terlihat keren seperti bintang film laga dari Jepang.


Gerakan-gerakannya sangat cepat dan mantap!


Dia adalah Reno, pemimpin pasukan pembunuh..!


Langkah kakinya ringan bagai kapas, tapi tetap bertenaga.


Sedangkan kawan Reno yang lain adalah orang kedua di pasukan pembunuh itu, tubuh kekar dan wajah beringas ganas seperti simpanse! mulut dan gigi maju kedepan. seringainya menakutkan!


Apalagi kalau gelap gulita seperti ini, persis kayak simpanse yang lagi marah, gerakannya liar dan aneh.


Sedangkan orang ketiga adalah anggota pasukan pembunuh biasa.


Tapi sekarang ini yang di hadapi adalah Tirta Jayakusuma! Seorang pemuda yang pilih tanding, pewaris ilmu dari para pendiri nusantara.


Secepat apapun dan sekuat apapun ketiganya, Tirta selalu lebih cepat dan kuat.


Walaupun ketiganya memegang parang yang tajam, tapi tidak ada gunanya dalam menghadapi Tirta Jayakusuma.


Dalam sebuah serangan kilat, Tirta sudah berhasil merampas parang yang di pegang oleh lawan yang mirip simpanse ini..


Orang ini segera berteriak-teriak marah, seperti teriakan monyet minta kawin..


Akan tetapi detik berikutnya langsung terdiam karena sebuah pukulan keras menerpa wajahnya yang memang sudah jontor! beberapa gigi depannya langsung copot , dan mulut penuh darah!


Reno segera menyerang dengan bacokan kilat kearah punggung Tirta yang terbuka untuk meyelamatkan si monyet simpanse.


Tanpa mengelak dari bacokan Reno, Tirta membiarkan punggungnya di hantam parang dengan sekuat tenaga oleh Reno.


"Uhh,, !?" Reno kaget ketika parangnya terpental balik seperti menghantam besi baja saja .


Sementara tanpa mempedulikan serangan Reno yang menghantam punggungnya, Tirta tetap melanjutan pukulan berikutnya kearah si manusia simpanse dengan pukulan Tapak Geni.

__ADS_1


"Brakk ,!"tubuh manusia monyet ini terlempar menghantam sofa dan perabotan lain yang memang sudah porak poranda karena pertarungan ganas ini.


Tampak tubuh si manusia jontor tersebut bergerak-gerak sebentar dan kemudian terkulai tanpa bisa mengeluh lagi, mungkin nyawanya sudah terbang keluar dari raganya.


Dalam kejutnya Reno segera melompat jauh ke belakang sehingga dia terbentur dinding kamar, Tirta segera berbalik cepat, sambil melayang di udara, tangannya melakukan pukulan lurus sangat cepat mengarah dada Reno tanpa Reno bisa mengelak lagi.


Dalam ketidakberdayaannya tanpa di sadari Reno mengangkat kedua tangannya keatas secara reflek.


Tirta kaget, di kiranya Reno menyerah, tapi pukulan terlanjur di lepaskan.. Hanya bisa mengurangi tenaganya saja.


"Duak,,, Aduh,, !" teriak Reno mengaduh ketika pukulan menghantam dadanya.


Walaupun Tirta sudah mengurangi tenaga di detik- detik terakhir, tetap saja berefek luar biasa. Dada Reno terasa di hantam palu godam ..


Darah segar meleleh keluar dari mulutnya, tampaknya walaupun nyawanya selamat tapi tetap terluka dalam sangat parah..


Lawan ketiga Tirta sudah pucat pasi, melihat Reno yang merupakan pimpinan pasukan pembunuh ini, keok dalam beberapa gebrak saja, apalagi si muka simpanse kelihatannya juga sudah tak bernyawa lagi.


Dia segera menyatakan menyerah dan melemparkan parangnya kelantai...


"Aku menyerah!" teriaknya kawatir Tirta akan memburunya.


Sementara Bayu kali ini bertarung dengan sepasang belati dari bang Leo. Tadinya belatinya cuma satu ,, akhirnya bang Leo memberikan sebilah lagi sebagai pasangannya.


keduanya bertarung secara berpasangan , memang sebenarnyalah mereka cocok sebagai pasangan kekasih ,,,,! bercanda..!!! he he he..


Adnan menyerang dari sisi dalam dan Bayu bertahan di pintu masuk kamar,, akibatnya tubuh yang besar segede gorilla ini menutupi pintu dengan sempurna, tak ada jalan kabur untuk lawan- lawanya.


Dua lawan bertarung dengan beradu punggung dengan kawannya.. .


Parang mereka berputar-putar seperti baling-baling bambu!!


Tapi putaran seperti ini hanya cocok untuk menakut- nakuti saja.


Begitu Adnan sudah mulai mengayunkan tongkatnya putaran jadi tangkisan.


Beberapa saat kemudian, Adnan berhasil merangsek habis-habisan lawannya yang beradu punggung dengan kawannya.


"Bay, Tirta sudah menghabiskan dua lawannya ! masak kita belum satupun !" teriak Adan diantara denting senjata yang beradu.


"Iya Ad, ayo, siapa duluan ngejatuhin lawan bisa dapet hadiah dari Nadine!" teriak Bayu.

__ADS_1


"Hey hadiah Nadine bukan buat kita Lol,,!" sahut Adnan, ,


Keduanya bertarung sambil berkomunikasi, ,, benar-benar meremehkan lawan- lawannya,,


"Heh ngapain kalian ngomongin Nadine!" teriak Tirta dari arah dalam yang kelihatannya barusan selesai dengan tiga lawannya..


Dua lawan dari Bayu dan Adnan benar- benar jatuh mentalnya. Mereka sudah tak mampu mempertahankan dirinya lebih lama lagi, apalagi ketika diketahuinya Reno dan dua orang kawannya mungkin sudah mati dan satunya menyerah.


Akhirnya kedua lawan Bayu dan Adnan dalam suatu kesempatan segera menyerah kalah, dari pada mati menyedihkan disini ,..


"Jangan bunuh aku, teriaknya, aku barusan menikah !" seru salah seorang di antaranya yang terlihat agak muda.


Ya salah satu dari orang itu barusan menikah dengan seorang gadis cantik,manis anak seorang juragan beras di desa... untuk mendapatkannya pun dia sudah menghabiskan banyak uang dan tenaga..


Dia membayangkan kalo istrinya hanya akan sebentar saja meratapi kepergiannya dan pasti langsung.. jadi janda muda yang diperebutkan banyak orang..!!!


Akhirnya dia memutuskan untuk menyerah saja.


"Aku juga menyerah!" seru yang satunya lagi, anakku masih kecil kecil ,,!" teriaknya lantang,,


Pada dasarnya Tirta Bayu dan Adnan bukanlah seorang pembunuh, mereka hanyalah membela pihak yang lemah dari tindasan pihak lain yang memaksakan kehendak!


Banyak kejahatan terjadi karena pemaksaan kehendak,,!


"Hah,, kamu ini,, kalo penakut jangan jadi pembunuh jadi pedagang saja ,,!" seru Bayu.


"Iya bang nanti aku akan bertobat bang!


Belum ada sebulan aku menikah bang!" sahut sang pembunuh yang barusan menikah.


"Istrimu pasti cantik yaa?" tanya Bayu.


"Iya sih bang,!" jawab orang itu malu-malu..


"Baiklah kali ini kalian yang menyerah kami ampuni!" kata Bayu.


Sementara di lorong sebelah kanan , pertarungan antara sepuluh orang pasukan pembunuh berhadapan dengan Jim dan dua orang kawannya bersama Damar dan eyang Pandu berjalan dengan serunya.


Damar dan eyang Pandu mengambil masing-masing tiga dan empat lawan..


Walaupun kang Damar di keroyok tiga lawan, dia masih bisa bergerak bebas kesana kemari tanpa hambatan dari lawan-lawannya.

__ADS_1


Begitupun eyang Pandu, walaupun sudah berusia lanjut, gerakannya masih lincah dan kuat.


Tameng Waja juga di kuasainya!


__ADS_2