
Sorenya setelah mengantar Dinda pulang ke rumahnya .
Tirta segera kembali ke padepokan di lereng Gunung Ungaran.
Terlihat mbah Hardjo, eyang Pandu, kang Damar, bang Leo juga Bayu sudah duduk duduk dilincak depan pendopo sambil menikmati wedang jahe dan udud klobot.
Tampak bang Leo juga sudah mulai terbiasa dengan kehidupan padepokan yang tenang dan adem ini.
Ketika Tirta sudah berada di depan mereka , Tirta segera mengucap salam dan dijawab oleh Mbah Hardjo dan lainnya..
Tirta segera duduk bergabung, bukan di lincak tapi di kursi panjang yang di keluarkan dari pendopo karena lincaknya sudah tidak muat duduki banyak orang.
"Kok sampai sore Ngger," tanya eyang Pandu berbasa-basi.
"Iya Eyang, pulang dulu nengok Bapak, Ibu dan Adik" jawab Tirta..
"Iya ,, sekalian.indehoi sama ehem ehem,," celetuk Bayu..
"Ahhh , tidaklah ," bantah Tirta,, dengan malu karena ocehan Bayu.
"Tidak apa-apa Ngger, biasa itu,, anak laki- laki ya begitu, nggak dirumah terus nungguin kucing
mau lahiran,," seloroh eyang Pandu.
"Halah, dapet dukungan eyang Pandu, besar kepala deh ," sela Bayu..
"Gak papa lah Bay,, sesama laki-laki keren harus saling dukung," jawab eyang Pandu lagi, mendukung Tirta.
"Seperti eyangmu ini." kata eyang Pandu.
"Dulu eyangmu ini banyak di gilai banyak gadis lho," kata eyang Pandu dengan bangga.
"Eyang mu ini punya istri total ada,,,,, mmmm,,," tampak eyang Pandu mengingat ingat,,,
"Tujuh,,, ya tujuh,. dan sekarang masih ada dua semuanya tinggal di Tuban." kata eyang Pandu.
"Beneran nih Eyang?" tanya Leo.
"Beneran lah Leo, masak eyangmu ini berbohong,, he, he, he......"
"Kalau kalian nggak percaya, tanya saja sama Hardjo," kata eyang Pandu seraya mengarahkan pandangannya pada Mbah Hardjo.
Mbah Hardjo hanya mengangguk tanda membenarkan perkataan eyang Pandu.
"Tapi tujuh kali bukan sekaligus loh.." kata eyang Pandu lagi.
Semua yang hadir tampak kaget mendengarnya.. belum pernah eyang Pandu bercerita tentang dirinya kepada anak-anak muda ini selama di padepokan..
Mereka memang tahu kalo eyang pandu masih energik dan terlihat masih gagah. tapi tak di sangka punya latar belakang yang luar biasa..
__ADS_1
Kemudian eyang Pandu melanjutkan kembali ceritanya.
"Isteriku Yang pertama masih tinggal di Tuban punya tujuh anak dan cucu duapuluh lima.." kata eyang Pandu.
"Yang kedua sudah aku cerai, sewaktu pernikahan baru satu tahun karena dia selingkuh. itu terjadi sewaktu jaman PKI merajalela." lanjut eyang Pandu.
"yang ketiga.. meninggal karena terkena sakit dan belum punya anak.." eyang Pandu tampak masih mengingat- ingat kembali.
"Yang keempat juga pergi , sewaktu usaha eyang mengalami kebangkrutan sekitar tahun tujuh puluhan."
"Istri eyang yang kelima orang dari daerah luar Jawa , Manado tepatnya, sewaktu eyang merantau seperti kalian."
"Akan tetapi sewaktu eyang ajak ke Jawa , dia tidak mau, terpaksa deh eyang ceraikan, padahal sudah punya satu anak.." Pandangan eyang Pandu tampak menerawang jauh.
"Istriku yang kelima adalah yang paling cantig, banyak yang mengejarnya waktu itu, tapi entah kenapa dia malah memilih eyang.
Mungkin karena eyang ganteng dan gagah ya.." kata eyang Pandu sambil menegakkan dadanya, membanggakan dirinya.
"Iya eyang Pandu memang masih kelihatan gagah dan ganteng," kata Tirta Memuji eyang Pandu.
"Bahkan untuk mendapatkannya eyang harus bertarung dengan puluhan jagoan yang disuruh seorang tuan tanah yang juga menyukai Ariana, ya, ya namanya Ariana"..kata Eyang Pandu.
"Istriku yang ke enam juga sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dan punya lima orang anak dan limabelas cucu."
"Dan terakhir istri Eyang yang ketujuh, Eyang nikahi sekitar dua puluh tahun yang lalu ,, masih cukup muda sekitar empat puluhan tahun dan punya anak tiga,"
Tampak semuanya mendengar cerita eyang Pandu dengan serius.
"Apa eyang hapal semua nama cucu cucu eyang?" tanya Bayu iseng dan juga penasaran..
Eyang Pandu menggelengkan kepalanya,
"Tidak Ngger ,, eyang tidak hapal semua,,,, terlalu banyak!" jawab eyang Pandu. Begitulah sore itu pembicaraan hanya di sekitar kehidupan semasa muda dari eyang Pandu yang selama ini belum pernah di ceritakan pada anggota padepokan ini.
Ketika menjelang Maghrib , Mbah Hardjo segera mengajak semuanya untuk mengerjakan sholat Maghrib berjamaah. .
Baru setelah waktu magrib hampir usai Adnan terlihat pulang dan segera membersihkan diri di belakang.
Malam itu di lereng Gunung Ungaran bagian Utara, terlihat bayangan-bayangan berkelebat cepat mendaki gunung Ungaran.
Mereka adalah mbah Hardjoikoro, eyang Pandu, kang Damar, bang Leo, Tirta, Bayu dan Adnan.
Tampak Bayu yang selama ini selalu kedodoran dan tertinggal di belakang, kali ini mampu mengimbangi kecepatan lari dari anggota padepokan yang lain.
Setelah mereka sampai di puncak Ungaran, mereka segera menuju tempat dimana mereka biasa berlatih ilmu kanuragan.
Mereka beristirahat sejenak.
Kemudian eyang Pandu dan Mbah Hardjo meminta Tirta, Bayu dan Adnan untuk menunjukkan ilmu baru yang di dipelajarinya dari perjalanan mereka di lereng Tengger, di padukuhan Srengseng. Sedangkan bang Leo sedang berlatih tanding melawan kang Damar.
__ADS_1
"Coba Angger Bayu dan Angger Adnan berlatih tanding dengan Angger Bayu dengan landasan aji Bayu Bajra dan aji Kidang Kencono! kata Mbah Hardjo.
"Siap Mbah !" seru Bayu dan Adnan serempak.
Keduanya segera memposisikan diri berhadapan.
"Ayo Bay, mulai!" seru Adnan segera mulai berlatih tanding melawan Bayu.
Keduanya langsung saling serang dengan serunya,, angin ****** beliung menyambar-nyambar mengikuti setiap gerakan mereka.
"Hmm, bagaimana Jo?" bisik eyang Pandu pada mbah Hardjo.
"Lumayan bagi pemula kang Pandu, cukup baik bagi mereka," kata mbah Hardjo.
"Kurang latihan saja Kang, nanti kalau sudah mapan pasti kemampuan mereka berdua akan melesat lebih jauh lebih tinggi lagi!" kata mbah Hardjo.
"Benar Djo, tampaknya mereka juga sangat bersemangat mendapatkan ilmu baru ini."
Sementara itu bang Leo dan kang Damar tampak sudah berhenti dan beristirahat.
Beberapa saat kemudian Bayu dan Adnan juga sudah selesai dengan latih tandingnya juga.
Peluh bercucuran di leher mereka berdua, kaus yang di kenakan juga tampah basah kuyup.
Bayu segera melepas kaus dan di perasnya dan dijemur di atas batu yang memang banyak tersebar di tempat itu.
"Gak kedinginan Bay?" seru bang Leo,
"Lebih dingin lagi kalau masih pakai kaus yang basah Bang!" jawab Bayu.
"Sekarang Angger Tirta coba tunjukkan aji Suryo Dahono itu Ngger," kata mbah Hardjo .
"Iya Mbah,!" sahut Tirta.
Tirta segera melangkahkan kaki ke tengah- tengah tanah lapang itu.
Tirta tampak bergerak sangat sangat cepat, di seru eyang Pandu.
Tampak di tengah tanah lapang itu tubuh Tirta terselimuti cahaya kebiruan tipis, gerakan-gerakannya sangat kuat dan cepat membuat debu beterbangan dan membumbung di sekitar tubuh Tirta..
"Luar biasa Djo, kekuatan Angger Tirta benar- benar melonjak dengan sangat cepat kali ini," kata eyang Pandu.
Leo dan kang Damar tampak terpana dengan kekuatan Tirta saat ini. Tak disangka hanya beberapa hari saja merantau di lereng Tengger, kemajuan olah kanuragan Tirta sudah melonjak sedemikian tingginya.
"Djo, tanganku sudah gatal, ayo kita uji Angger Tirta bersama sama, seru eyang Pandu..
"Iya, ayo kang , mbah Hardjoikoro segera menyetujuinya.
Kedua orang tua tersebut yang merupakan orang-orang yang mumpuni dalam olah kanuragan segera melompat, kearah Tirta yang sedang berlatih sendirian
__ADS_1
"Hati-hati Angger, kami berdua akan menguji ilmu barumu !" seru eyang Pandu.