Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
orang orang luar


__ADS_3

"Menurut ku dengan kekuatan Kita sekarang kita akan kesulitan menghadapi mereka, dengan datangnya Jadug dan gurunya apalagi di tambah para penjahat di luaran! Maka kekuatan mereka akan semakin kuat dan tangguh!" kata Adnan memberikan masukannya.


"Maaf Ki Ranu dan Ki Amongraga serta semua yang hadir disini, Jadug ini adalah seorang pria yang tangguh dan kuat, juga gurunya yang bernama Ki Singo Lodra!" lanjut Adnan.


"Saya kira kekuatan dari Jadug setara dengan Aryo Seto!" kata Adnan lebih lanjut.


Begitu mendengar hal ini, orang-orang padukuhan Srengseng tampak sangat kaget ! mereka sudah merasa bahwa Aryo Seto adalah pemuda yang luar biasa! kuat dan tangguh yang hanya bisa dikalahkan oleh Tirta JayaKusuma ! dan ternyata sekarang muncul seseorang yang tangguh lagi yang bernama Jadug dan Gurunya Singo Lodra!


"Benar kata Adnan, ki Sadewa, Ki Amongrogo! sebenarnya lah sebelum kami kemari, kami telah bertemu dan bertarung melawan kelompok Jadug ini. kali ini Bayu yang berbicara.


kemudian secara ringkas Bayu menceritakan bagaimana pertemuan itu hingga akhirnya Tirta beduel melawan Jadug.


Setelah mendengar ceritera Adnan mereka merasa bahwa memang kekuatan lawan menjadi semakin tangguh.


"Aku pikir apa yang di sampaikan oleh anak mas Adnan ada benarnya juga! dan anak mas Adnan pasti punya jalan keluarnya", kata Ki Ranu sambil tersenyum.


Karena Ki Ranu sangatlah percaya pada Tirta, Bayu dan Adnan.


"Kami percaya pada kalian," lanjut Ki Ranu lagi.


"Sebenarnya kami punya teman teman di dunia luar untuk bisa menambah kekuatan kita menghadapi orang-orang dari dukuh Wuni, tapi kami perlu ijin dari para tetua di sini," kali ini Tirtakusuma yang berbicara.


"Baiklah, kami setuju anak mas, Kami percaya kalian pasti berusaha memberikan jalan keluar yang terbaik bagi padukuhan Srengseng ini." jawab Ki Amongrogo sebagai kepala padukuhan.


"Jika demikian kami akan mengundang beberapa rekan kami dari dunia luar untuk dapat bergabung dengan kita disini," jawab Tirta Jayakusuma.


"Silakan anak mas Tirta yang


mengatur saja ! kami sudah mempercayakan semuanya pada anak mas Tirta!" kata Ki Amongrogo


Tirta kemudian menyampaikan tentang Perkumpulan perguruan silat yang di pimpin oleh Mahardhika saat ini.


Mahardhika ! ya Mahardhika!


Tirta akan mengajak Mahardhika selaku ketua dari perkumpulan perguruan silat. Dan yang lainnya biarlah nanti Mahardhika yang menentukan siapa-siapa yang akan di ikut sertakan.


Setelah di putuskan demikian, Tirta tampak berjalan keluar dari padukuhan Srengseng dengan di ikuti oleh Nastiti .


Tirta menuju keluar dukuh untuk mencari sinyal ponsel , tempat yang ditujunya adalah tempat dimana dia pertama kali tersasar ke padukuhan Srengseng ini.


Nastiti yang sejak tadi berada di samping Tirta Jaykusuma tampak ceria dengan senyum menghiasi wajahnya yang cantik, kadang berlari kecil, kadang berlari mengelilingi pemuda pujaan hatinya dan kadang berlari mundur sambil tersenyum kecil memandang sang pemuda.

__ADS_1


Tirta hanya tersenyum kecil saja melihat tingkah Nastiti ini.


"Seperti anak kecil saja!" seru Tirta.


"Biarin,!" jawab Nastiti.


Hari ini Nastiti memang sangat gembira karena baru kali ini dia berkesempatan berdua saja.


Ketika mereka berjalan di antara pohon-pohon Pinus yang tinggi dan besar dimana dulu mobil yang ditumpangi Tirta dan kawan-kawan nya terjebak di dalam nya, Nastiti tampak malu-malu meraih tangan Tirta dan menggenggamnya dengan erat...


Tirta membiarkan saja tingkah Nastiti ini, sampai akhirnya mereka sampai di jalan raya yang menghubungkan kota Malang dengan Bromo.


Tirta segera mengeluarkan ponselnya. Dan di tempat itu ternyata memang ada sinyal ponsel.


Tirta segera menghubungi Mahardhika dan menceritakan apa yang terjadi di dukuh Srengseng.


Mahardika tanpa pikir pun langsung menyetujui permintaan Tirta.


Mahardhika mengusulkan nama nama mereka yang akan di ajak seperti Ludiro, Intan, Sawung, dan lainnya .


"Terserah kamu saja Dika! kamu atur saja dan pilih saja siapa siapa yang bersedia dan mau kamu ajak membantu! tapi jangan memaksa !" pesan Tirta.


Tirta juga memberi ancar-ancar tentang letak dari padukuhan Srengseng ini.


Sedang Nadine tampaknya sedang sibuk dengan perusahaan papanya yang mulai di serahkan pada Nadine sehingga dia sudah jarang menghubungi Tirta lagi.


***


Sementara malam itu di dukuh Wuni.


Kyai Wonokerti dan juga Mawar dengan hati-hati berjalan menuju tempat Ki Wigati. Jalanan yang lumayan sulit dan membutuhkan kehati-hatian , karena berada di lereng pegunungan Tengger.


Sesampainya di sana tampak suasana sangat lengang dan terlibat sepi..


Kyai Wonikerti sempat berpikir kalau Ki Wigati gagal mendapatkan dukungan.


Begitu dia melangkah mendekati pintu rumah Ki Wigati dan belum sempat Kyai Wonokerti mengetuknya.


Pintu tampak terbuka dari dalam!


Tampak Ki Wigati berdiri di tengah tengah pintu yang terbuka tersebut!

__ADS_1


"Mari silahkan Kyai, Mbak Mawar!" Ki Wigati mempersilakan keduanya masuk.


Begitu masuk Kyai Wonokerti terlihat terkejut dan senang. Ternyata di dalam telah berkumpul sekitar tiga puluhan orang.


Mereka duduk- duduk di beralaskan tikar pandan, sedang kursi yang tadinya ada di ruangan ini tampak nya sudah di singkirkan dari tempatnya, sehingga ruangan kecil ini terlihat lebih luas.


Ditengah tengah tikar tampak kendi dan teko yang masih mengeluarkan asap pertanda minuman masih hangat!


Beberapa piring tampak berisi umbi umbian rebus kas pedesaan di sekitar hutan.


Kyai Wonokerto dan Mawar segera menempatkan dirinya di antara orang-orang ini.


Setelah berbasa-basi basi sejenak, dan menikmati hidangan yang ada, kemudian Kyai Wonokerti mengulang lagi niatnya untuk mengajak segenap warga padukuhan Wuni melawan kezaliman Aryo Seto dan kawan-kawan nya.


Sebelumnya mereka sudah di beritahukan oleh Ki Wigati sehingga ketika Ki Wonokerti mengulang lagi pembicaraan ini, mereka semua sudah paham dan setuju untuk bergabung dalam pergerakan ini.


"Yang hadir di sini hanyalah sebagian kecil saja Kyai, kata Ki Wigati.


"Sebenarnya banyak yang ingin datang kemari, akan tetapi. hal ini bisa menimbulkan kecurigaan dari para pengawal padukuhan ini," lanjut Ki Wigati.


Begitulah malam itu mereka membicarakan banyak hal, juga melakukan pembentukan pasukan pasukan kecil yang nantinya akan bergerak dari dalam padukuhan Wuni, ketika pasukan dari dukuh Srengseng datang menyerang.


Mereka di minta oleh Kyai Wonokerti untuk setiap saat bersiaga.


***


Sementara malam itu, di induk padukuhan wuni telah datang orang orang dari dunia luar yang tampaknya mempunyai kemampuan cukup hebat!


Salah satunya adalah Jadug dan Gurunya Ki Singo Lodra, Roy dan kawan-kawannya kecuali Mawar yang tanpa sepengatahuan mereka telah membelot ke pihak lawan.


Mereka di terima langsung oleh Aryo Seto dan Ki Pradigdo.


Dan ternyata Ki Pradigdo dan Ki Singo Lodra adalah kenalan lama!


"Ternyata kamu Singo Tua.!?" sambut Ki Pradigdo pada kawan lamanya ini ramah ...


"Hua, haa, haa haa,, ...!!!" terdengar suara tertawa menggetarkan gendang telinga dan dada setiap orang yang ada di ruangan itu..ya Ki Singo Lodra tampak memamerkan aji Gelap Ngamparnya.


"Sudah, sudah Singo tua Edan,! bisa mati semua orang orangku mendengar suaramu!" seru Ki Pradigdo.


"Tidak juga berubah dari dulu kamu Singo Edan!" seru Ki Pradigdo.

__ADS_1


"Hmm,, kamu juga tidak berubah Pradigdo! balas Ki Singo Lodra.


__ADS_2