
Tirta segera memeriksa lebam kemerahan yang ada dipunggung Intan.
"Seperti bekas terkena aji Tapak Geni akan tetapi ini berwarna merah darah, seperti nya ini terjadi sedotan dan bukan pukulan," pikir Tirta..
Tirta segera meletakkan telapak tangannya di bekas pukulan yang memerah tersebut.
Ada perasan ragu dan sungkan di hati Tirta, karena memang sebelumya Intan ini sangat ketus dan memusuhi dirinya.
Dikerahkannya tenaga batin untuk memudarkan warna merah di punggung Intan..
Perasaan Intan benar-benar kacau.. pemuda yang selama ini dimusuhinya kini dengan rela menolong dirinya,..
Perasan hangat dan nyaman menjalar di sekujur tubuhnya.
Perlahan-lahan dia merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya,, dan merambat ke wajahnya yang tadinya pucat!
Sekarang wajahnya bersemu merah.
Perasaan malulah yang membuat wajahnya memerah.
Sekarang perasaan sakit dan nyeri di punggung berangsur-angsur menghilang berganti perasan hangat di tubuh dan hati Intan.
Rasa manis karena sentuhan tangan Tirta Jayakusuma yang mengalirkan getaran-getaran lembut menyentuh hati dan perasaannya..
Intan benar-benar terlena dengan sentuhan lembut Tirta Jayakusuma.
Setelah warna kemerahan di punggung Intan mulai memudar dan tinggal bekas-bekasnya saja, Tirta segera menghentikan aliran tenaga batinnya..
"Cukup dulu Intan," bisik Tirta yang segera melepas telapak tangan nya dari punggung halus nan lembut itu.
Ada perasan kecewa begitu Tirta melepas telapak tangganya dari punggungnya.
"Saya kira luka dalam yang diderita Intan sudah cukup membaik dan tidak membahayakan keselamatan Intan, Kyai." kata Tirta Jayakusuma.
Setelah berbasa basi sejenak, Tirta kemudian mohon diri untuk kembali ke tendanya, karena matanya sudah mulai pedas karena sudah mulai mengantuk.
***
Sore itu kembali Tirta , Bayu dan Adnan sudah berada di Tenda Intan.
Ternyata Kyai Syahroni dan para sesepuh sedang berbincang bincang dengan santai di depan tenda itu dengan beralaskan tikar.
Tampak di sana hadir pula Mahardhika. Sudah beberapa hari ini Mahardhika tidak bersama lagi dengan Tirta, Bayu dan Adnan.
"Ayo mas Tirta, mas Bayu, mas Adnan, kesini dulu!, duduk dulu,, sapa Kyai Fakih.
Ketiganya segera bergabung dengan orang- orang tua ini.
Dalam kesempatan itu , mereka membicarakan akan pertandingan nanti malam.
Para sesepuh mewanti wanti pada Tirta dan Mahardhika untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi Jadug, karena menurut pandangan orang orang tua ini , Jadug sangat lah hebat dan mengerikan tandang nya selama ini.
Sebelum meninggalkan tempat itu Tirta menyempatkan dirinya memeriksa kembali keadaan Intan.
"Syukurlah keadaan Intan sudah membaik kyai, " kata Tirta membuat lega perasaan Kyai Syahroni.
***
Malam ini adalah malam penentuan dari serangkaian pertandingan yang telah di laksanakan dalam beberapa hari ini.
Tirta Jayakusuma , Mahardhika dan Jadug sudah bersiap- siap di bawah arena pertandingan..
Ki Seno Aji memanggil lebih dulu Tirta Jayakusuma di ikuti kemudian oleh Jadug..
"Silakan memulai Jadug," seru Tirta.
__ADS_1
Tanpa Ragu, Jadug bergerak menyerang! Tidak terlalu cepat, akan tetapi gerakannya membuat siapapun yang menyaksikannya menahan nafas!
Angin yang di timbulkan oleh serangannya seperti badai bergemuruh yang datang menyapu Tirta Jayakusuma.
Kali ini Tirta sudah mempersiapkan aji Lembu Sekilan dan Bayu Bajra.
Tirta ingin mengukur lebih dahulu kekutan yang di punyai seorang Jadug.
Dan...
"Duarr,,,!"...
Dua kekuatan raksasa saling berbenturan.
Panggung arena itu tampak bergetar dengan keras..
Keduanya terlihat sama-sama terlontar ke belakang!
Begitu kaki- kaki mendarat di lantai arena, keduanya segera melompat dan saling menyerang kembali.
Tampak Jadug sangat terkejut dalam bentrokan pertama ini.
Benturan-benturan berikutnya segera terjadi saling susul menyusul.
Pertarungan berlangsung dalam tempo lambat, akan tetapi efek yang di timbulkan mulia terlihat...
Panggung yang dibuat dari papan papan kayu tebal dengan penyangga dari Glugu tua mulai berderak derak dan terguncang keras menahan gerakan dari keduanya.
Tanpa terasa waktu setengah jam berlalu, Ki Seno aji segera memerintahkan Tirta Jayakusuma Dan Jadug untuk berhenti dan beristirahat sebentar.
Kemudian Jadug dan Mahardhika gantian naik ke arena! sedangkan Tirta beristirahat di bawah.
Keduanya segera terlibat dalam duel seru dan mendebarkan.
Mahardhika mengerahkan aji Lembu Sekilan dan Tameng Waja sampai batas yang di kuasainya.
Tampak nya kali ini kekuatan Mahardhika masih selapis di bawah Jadug.
"Lumayan juga kamu cah Bagus!" seru Jadug!
"Inilah ajianku Tapak Lodra!" seru Jadug sambil mengerahkan sebuah pukulan telapak tangan seperti aji Tapak Geni! aji yang serupa tapi berbeda akibat nya.
Mahardhika segera menyambutnya dengan aji Tapak Geni.
"Duarr.. !!!"
Dua ajian warisan leluhur tanah Jawa berbenturan dengan hebatnya,,!
Kembali arena pertandingan bergoncang dengan kerasnya!
Mahardhika tampak tergetar tubuhnya dan melangkah surut tiga langkah.
Sedangkan Jadug tampak berdiri dengan kokoh nya seperti tonggak kayu yang berusia ribuan tahun!
Kembali tangan kanan Jadug terangkat tinggi dan bersiap kembali melepaskan aji Tapak Lodra nya yang sangat hebat itu.
"Cukup, waktu sudah selesai !" seru ki Seno Aji!
"Huh merepotkan saja !"
Seru Jadug yang merasa sudah hampir membuat Mahardhika keok malah di hentikan oleh Ki Seno Aji!
Dengan kecewa Jadug kembali turun arena.
Sementara Mahardhika hampir saja jatuh ketika dia turun dari arena.
__ADS_1
Ki Maruto dan Sawung dengan sigap memapah Mahardhika ..
Tampak segenap anak murid perguruan Watu Gunung berkhawatir dengan keadaan Mahardhika,,
"Minum air putih dulu mas Dika," kata Sawung sembari menyodorkan air putih dalam botol kemasan..
Mahardhika kemudian duduk bersila dan mengatur pernafasannya.
Untunglah setelah istirahat sejenak kemudian yang dihadapinya adalah Tirta Jayakusuma !
Mahardhika sudah merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengalahkan Jadug!
Dalam bentrokan tadi dia tahu kekuatan Jadug yang sebenarnya! Dan dia berharap Tirta mampu mengatasi Jadug
Dia tahu kekuatan Tirta, apalagi sekarang Tirta sudah selesai dengan ritualnya menguasai aji Suryo Dahono..
Ki Seno Aji tampak nya tahu bahwa Mahardhika sudah terluka, dia sengaja memberikan waktu beristirahat yang sedikit lebih lama pada Mahardhika!
Waktu dirasa sudah cukup, Ki Seno Aji segera memanggil Tirta Jayakusuma untuk naik ke arena pertarungan.
Dalam suatu kesempatan Tirta segera berkata;
"Jangan gunakan terlalu banyak tenaga! Biarlah aku yang bergerak menyerang mu, seakan akan kita bertarung dengan seru," kata Tirta.
Mahardhika hanya mengangguk menyetujui saja kata-kata Tirta. Dia percaya sepenuhnya pada Tirta.
Ketika pertarungan dimulai, Tirta dengan sengaja menyerang dengan cepat seperti angin ****** beliung, membungkus Mahardhika di tengah- tengah pusaran !
Aji Bayu Bajra tingat tinggi di kerahan untuk menghalangi pandangan para penonton, sehinga seakan-akan pertarungan benar benar berlangsung!
Padahal yang terjadi sebenarnya hanyalah Tirta yang berputaran dengan cepat sambil mengerahkan aji Bayu Bajra yang mengurung Mahardhika di tengah- tengah, sedangkan Mahardhika hanya duduk bersila berkonsentrasi mengatur pernafasan dan jalan darahnya yang terguncang akibat benturan dengan aji tapak Lodra milik Jadug.
Tanpa terasa waktu setengah jam sudah berlalu..
Tirta segera. menghentikan gerakannya,
Dan terlihat Mahardhika masih berdiri dengan gagah di tengah tengah Arena!
Keduanya segera melompat turun.
Setelah beristirahat sejenak Tirta Jayakusuma segera melompat kembali ke atas arena.
Jadug Sudah menunggu diatas arena pertandingan!
"Hmm, curang! seru Jadug tampak jengkel.
"Kamu kira semua penonton bisa kamu bohongi dengan sandiwaramu itu hah! " seru Jadug.
"Asal kamu tau saja hey anak muda! Mataku ini mampu melihat lebih jauh dan lebih tajam dari manusia biasa!"
"Aku mampu melihat di kegelapan malam! aku mampu melihat dan menembus tebalnya kabut!"
Tirta terkejut. mendengar kata-kata Jadug..
Setelah berpikir sejenak, kemudian Tirta balas menjawab!
"Kamu juga melakukan hal yang sama sewaktu kamu bertarung melawan orang mu di babak sebelumnya!" balas Tirta.
Sebenarnya Tirta juga merasa bersalah..akan tetapi ini demi Mahardhika.
"Hmm,, baiklah ,, Tirta.. tidak masalah ! kali ini kalian akan aku buat hancur oleh aji Tapak Lodra,!" geram Jadug.
Selesai dengan kata-katanya, Jadug mengerahkan aji Tapak Lodra di tangan kanannya.
Di iringi suara raungan seperti binatang buas yang marah,, Jadug segera menerjang kearah Tirta Jayakusuma yang telah bersiap dengan aji tapak Geni.
__ADS_1