Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Gunung Ijen


__ADS_3

"Sekarang kalian tinggal dimana?" tanya Mahardika.


"Kami berpindah-pindah Mas! kadang kami di emperan toko, kadangkala kami juga di rumah-rumah kosong yang sudah di tinggal oleh pemilik nya!" kata Jabrik.


"Baiklah sekarang bawa aku kepada kawan-kawan yang masih ada!" kata Dika.


Jabrik kemudian mengajak menyusuri jalanan tersebut, hingga setengah jam kemudian di sebuah perempatan jalan terlihatlah empat orang anak-anak remaja tanggung seusia kira-kira tujuh delapan belas tahunan sedang melepas lelah dengan duduk-duduk di emperan sebuah toko. Mereka terlihat lusuh dan kurus walaupun ada juga yang terlihat agak gendut.


Ketika sudah dekat, Jabrik segera turun mendekati empat orang remaja tersebut.


"Hanif, Eko, gembul, Arif !" seru jabrik memanggil mereka..


"Mas Jabrik,!" seru mereka serempak.


Dengan berjalan tertatih-tatih, Jabrik mendekati mereka. Mereka segera menyongsong Jabrik.


"Mas kenapa?!" tanya Arif.


"Nanti saja aku ceritain," kata Jabrik.


"Coba kalian lihat siapa yang datang !" seru Jabrik pada kawan-kawannya sambil menunjuk kearah belakang nya.


Serentak Arif, gembul, Eko dan Hanif memandang kearah yang di tunjuk Jabrik.


"Mas Dika,???!!" seru mereka serentak.


Mereka sontak berlari menyongsong Mahardika.


Mereka memeluk erat sang ketua yang cukup lama menghilang, ketua yang selalu diharapkan kedatangannya!


Ada air mata dan keharuan disana..


Anak-anak remaja yang di tempa kerasnya hidup di jalanan seperti menemukan induk yang selama ini hilang.


"Aku kembali untuk kalian," kata Mahardika dengan suara bergetar.


"Janjiku pasti akan aku tepati," kata Dika.


Ya Dika telah berjanji, jika dia akan kembali kepada kawan-kawannya ini jika dia sudah berhasil mendapatkan hadiah dari hasil pertandingan yang di ikutinya.


Dia akan mengentaskan kelompoknya kembali ke jalan yang lebih baik.


Dan kini Mahardika sudah mengantongi hadiah yang lumayan yang bisa di gunakan nya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kelompoknya.


"Dimana anggota yang lainnya ?" tanya Dika.


"Semuanya sudah pergi mas, mereka tidak sabar menunggu kedatangan mas Dika." kata Gembul.


"Mereka bergabung dengan kelompok- kelompok lainnya yang bisa membuat mereka nyaman,!" kata Hanif.


Walaupun kelompok Dika adalah kelompok berandalan, tapi selama ini Mahardika tidak pernah mengajari mereka untuk melakukan kejahatan. Mahardika hanya mengijinkan mereka untuk mengamen ataupun meminta-minta.


"Kenapa kamu tadi mencopet Jabrik?!" tanya Dika..

__ADS_1


Jabrik tampak tertunduk tidak berani menatap Wajah Mahardika.


"Maaf mas Dika ! terpaksa aku harus mencopet, daerah operasi kami semakin hari semakin sempit, kami dilarang mengamen di tempat tempat biasanya kita mengamen, kita selalu terdesak oleh kelompok lain!" kata Jabrik sedih.


Dika hanya bisa diam mendengarkan cerita Jabrik. Sesaat kemudian barulah Dika berkata;


"Baiklah tapi jangan di ulangi lagi !"


"Iya Mas!" sahut mereka kompak.


"Sekarang aku sudah kembali, akan tetapi sekarang ini, aku sedang melakukan perjalanan ke arah Banyuwangi! aku bermaksud akan mengajak kalian semua ikut dengan aku, bagaimana ? apa kalian mau ikut ?" tanya Dika.


"Kami mau Mas! " seru mereka gembira.. bagi mereka Mahardika adalah panutan mereka..


Mereka kemudian diperkenalkan Dika kepada Tirta, Bayu dan Adnan.


karena mereka tampak kelaparan, Dika kemudian mengajak mereka makan di warung makan terlebih dahulu.


Kali ini mobil yang mereka tumpangi berisi sembilan orang, sehingga membuat agak sesak, akan tetapi menjadi kan suasana penuh canda.


Malam itu , setelah dari makam sunan Ampel, mereka melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi .


***


Pagi itu mereka sudah sampai di Banyuwangi dan mereka menikmati pagi yang indah di alun-alun kota Banyuwangi.


Mereka menunggu di alun-alun ini sampai terang dan ke kemudian mengisi perut di sekitar alun-alun Banyuwangi.


Ketika hari mulai beranjak siang mereka melanjutkan perjalanan menuju gunung Ijen yang berjarak kira-kira 15 Sampai 20 an kilo meter dari kota Banyuwangi.


Gunung Ijen merupakan gunung berapi yang berketinggian 2386 mdpl. Dengan kawah berukuran 900 x 600 meter dengan kedalaman 300 meter. Dengan air yang ber- ph 0,5 yang setara keasamannya dengan air aki mobil.


Siang itu Tirta , Bayu, Adnan dan anak buah Dika menikmati udara sejuk di sekitar pos Paltuding.


Pada kesempatan itu pula Dika menyampaikan untuk kedepannya Jabrik, Gembul, Hanif dan Arif juga Eko, akan diajak nya berkelana, mencari pengalaman.


"Bagaimana, maukah kalian?" tanya Mahardika.


"Hidup mati kami hanya akan mengikuti mas Dika!" seru Jabrik.


"Iya mas, kami tetap ikut mas Dika," seru yang lain lain.


Dika tersenyum mendengarkan kesetiaan anak buahnya dan juga kawan-kawannya ini.. Dia berjanji dalam hatinya untuk membuat mereka menjadi lebih berarti dalam hidup bagi masyarakat.


"Syaratnya kalian harus nurut sama aku, tidak berbuat jahat dan melanggar norma-norma agama dan paugeran masyarakat,!" kata Dika Lagi.


"Kami bersedia Mas,!" sahut mereka kompak.


Dan di sela-sela waktu luang, Dika mulai mengajarkan sedikit-demi sedikit olah Kanuragan pada anak buahnya ini.


Mereka dengan bersemangat mengikuti apa yang di ajarkan oleh Mahardika.


Tanpa terasa hari telah menjelang malam, Mereka segera mempersiapkan perbekalan untuk naik ke kawah Ijen.

__ADS_1


Senter, Air minum, makanan , masker dan lain-lainnya sudah di persiapkan.


Mereka mulai mendaki ketika tengah malam tiba.


perjalanan sampai ke kawah Ijen dari pos Paltuding kurang lebih tiga jam lebih.


Mereka menyusuri jalan terjal dan menanjak untuk bisa mencapai kawah Ijen.


Yang dituju Tirta adalah Blue fire, sebagai sarana penyempurnaan ilmu Suryo Dahono.


Mereka sampai di kawasan kawah Ijen pukul 3 dini hari.


Sudah lumayan banyak pengunjung yang sampai di kawasan kawah ini.


Tirta segera mencari Blue Fire yang agak menjorok kebawah tebing yang curam sehingga tidak ada pengunjung yang berani mendekati.


Dengan memakai masker, karena udara yang mengandung bau belerang yang sangat kuat, Tirta Jayakusuma duduk bersila di dekat api biru ini.


Dengan khidmat di pusatkan nya akal dan budinya.. Dengan meminta petunjuk kepada Tuhan semesta alam, Dia mulai membuka kedua telapak tangan nya mendekatkan kedua telapak tangannya ke arah api biru yang menyala nyala panas..


Di bukanya setiap pori pori tubuhnya untuk bisa menyerap panasnya api biru kawah Ijen ini.


Sementara Bayu dan Adnan juga Mahardika serta anak buah Mahardika mengawasi saja dari tempat agak jauh dengan bermeditasi mengolah dan memantapkan ilmu-ilmu yang ada di diri mereka masing-masing.


Sebentar saja tubuh Tirta sudah di selimuti cahaya kebiruan tipis, keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Baju yang dikenakannya sudah basah kuyup oleh keringat.


Baru setengah jam lebih sedikit, terasa tubuh Tirta sudah hampir tidak kuat ! Dia segera menghentikan ritualnya.


Dia kemudian berjalan agak menjauh dari lokasi Blue Fire untuk mengambil udara segar dan menata dan mengatur nafasnya yang memburu.


Setelah pernafasannya kembali membaik, Tirta Jayakusuma segera kembali melakukan ritualnya lagi.


Beberapa saat kemudian, tubuhnya kembali di selimuti cahaya biru tipis. Kembali tubuhnya mandi keringat.


Kali ini Tirta Jayakusuma berusaha bertahan hingga hampir satu jam.


Kepalanya mulai pening, karena asap belerang yang tebal dan membuat pernafasannya sesak.


Tirta kemudian segera menghentikan ritualnya kembali karena pagi sudah menjelang dan api biru mulai memudar.


Tirta, Bayu, Adnan dan Mahardika serta anak buahnya kemudian naik keatas kaldera sambil menunggu sun rise di puncak kawah Ijen ini.



Blue Fire Gunung Ijen


b



Blue Fire Kawah Ijen


a

__ADS_1



Kaldera Gunung Ijen.


__ADS_2