
Siang itu Tirta dan kawan-kawannya baru saja bangun!
Belum juga dia beranjak dari matrasnya ! Bayu Adnan dan Mahardika juga masih tidur dengan pulas, ketika Jabrik datang memberitahukan padanya bahwa ada dua orang tua yang ingin bertemu dengannya.
Tirta segera bergegas keluar tenda untuk menemui dua orang tersebut.
Ketika dia sampai di luar tenda, segera saja Tirta mengenali dua orang tersebut.
Terdengar ucapan salam dari keduanya orang tua itu.
"Assalamualaikum Mas!, maaf mengganggu istirahat Mas Tirta !" sapa kedua orang itu.
"Ki Suromenggolo, kyai Syaroni! seru Tirta sambil mengulurkan kedua tangannya tanda menghormat kepada orang yang lebih tua dan di hormati.
"Ah, tidak tidak apa apa Kyai," kata Tirta sopan.
"lagian ini sudah masuk waktu Dhuhur Kyai," lanjut Tirta.
Tirta segera mempersilakan mereka berdua untuk masuk kedalam tendanya.
Walaupun agak sempit tapi cukuplah menampung kyai Sahroni dan Ki Suromenggolo.
Daripada di luar terkena rintik hujan, karena siang itu mendung lumayan gelap dan mulai turun rintik hujan.
Terlihat Bayu masih mendengkur dengan di kanan kirinya Adnan dan Mahardika dengan tangan dan kaki mereka menimpa perut besarnya Bayu.
Kyai Syahroni dan Ki Suromenggolo tampak tersenyum menyaksikan tingkah pemuda-pemuda ini!
Kyai Syahroni teringat masa-masa mudanya ketika dia masih menuntut ilmu agama di sebuah pondok pesantren tua yang ada di daerah Jombang. Masa- masa yang indah yang selalu di kenangnya dengan para sahabatnya di masa- masa muda.
"Maaf Kyai! Ki Suro! memang demikianlah kalo siang kami beristirahat," kata Tirta .
"Tidak apa-apa mas, bersyukurlah kalian mempunyai teman-teman yang baik dan bisa memanfaatkan masa-masa muda untuk mencari ilmu dan mencari pengalaman," kata Kyai Syahroni.
"Bayu, Adnan , Mahardika ! sudah siang lho,! Ayoo banguuun !" seru Tirta.. berusaha membangunkan mereka.
"Ah masih capek ta, bentar lagi !" jawab Bayu sambil menyibak kaki Adnan yang menimpa pahanya.
"Biarkan saja mas Tirta, mungkin mereka masih capek !" sela kyai Syahroni.
"Sebenarnya kedatangan kami kemari ingin membicarakan s suatu dengan mas Tirta," kata kyai Syahroni yang nampak mulai serius.
"Saya sebagai orang tua Intan ingin meminta maaf kepada mas Tirta dan juga kawan-kawan mas Tirta ! Saya sudah mendengar tentang peristiwa tadi malam" kata Kyai Syahroni.
__ADS_1
"Intan sebenarnya anak gadis yang baik mas ! akan tetapi karena terlalu bapak manja, sehingga menjadi agak di luar kendali," kata Kyai Syahroni.
"Ah, tidak apa-apa kyai, hanya kesalah pahaman kecil saja, tidak perlu terlalu di permasalahkan Kyai ," kata Tirta.
"Sebenarnya kejadian itu juga tidak kami masukkan kedalam hati.. biasa saja Kyai. Anak muda kadang gampang emosi dan egonya kadang juga terlalu tinggi .. Tapi percayalah hal ini tidak akan berpengaruh apa-apa." lanjut Tirta..
"Tapi mas, Bapak menjadi tidak enak pada kalian..! Intan benar benar salah dalam menilai Mas Tirta dan kawan-kawan. Sekali lagi Bapak minta maaf pada kalian," lanjut Kyai Syahroni.
"Selanjutnya mas, kami mohon mas Tirta mau turun gelanggang ," kyai Syahroni berhenti sejenak untuk melihat tanggapan dari Tirta.
Tirta tampak diam saja mendengar permintaan Kyai Syahroni ini. Dia adalah pemuda yang pada dasarnya pendiam dan pemalu juga tidak suka menonjolkan dirinya.
"Karena memang kami tidak ingin, perkumpulan perguruan silat ini di kendalikan oleh orang-orang yang berniat tidak baik yang akan menjerumuskan perguruan-perguruan silat ini ke hal-hal yang tidak seharusnya." lanjut Kyai Syahroni lagi
"Dan kami yakin, mas Tirta juga tidak ingin, perguruan-perguruan silat ini terjerumus pada hal-hal yang menyalahi hukum dan paugeran yang ada kan?"
"Kami sudah menyiapkan sebuah perguruan silat yang bisa di wakili oleh mas Tirta. Yaitu padepokan "Watu Gunung" kata kyai Syahroni.
"Bagaimana mas Tirta?!" tanya kyai Syahroni.
"Maaf sebelumnya Kyai Syahroni.
Sebenarnya kami kemari karena ada tujuan lain yang membutuhkan konsentrasi penuh dari saya.
Saya ingin menyelesaikan tugas dari eyang leluhur saya yang juga guru saya lebih dahulu. Untuk itu kalo Kyai berkenan dan tidak berkeberatan, saya ingin mewakilkan pada saudara saya yang juga teman saya, Mahardika!" kata Tirta.
Tampak Kyai Syahroni dan Ki Suromenggolo berdiam, mereka saling pandang dengan ragu.
"Maaf kyai, jangan khawatir dengan kemampuan Mahardika. Insyaallah dia cukup hebat dan berilmu tinggi! kata Tirta meyakinkan.
"Aku percaya dengan mas Tirta, tapi bolehkah kami sedikit mencoba kemampuan mas Mahardika ini?" kata kyai Syahroni.
"Tentu , tentu Kyai ," jawab Tirta..
Ketika Tirta menengok kebelakang ternyata mereka sudah pada duduk di belakang Tirta , sehingga membuat Tirta terkejut.
"Da ,, daa,!" canda Bayu sambil tersenyum lebar, membuat Tirta terkejut .
"Huh, biasa ! ngagetin tau!" seru Tirta sambil menyikut perut Bayu..
"Iya kami sudah dengar semua kok ," kata Dika.
"Mahardika ini adalah cucu dari eyang Pandu dari Tuban, Kyai !" kata Tirta mengenalkan latar belakang dari Mahardika supaya kyai Syahroni dan Ki Suromenggolo tidak meragukannya.
__ADS_1
"Sebentar sebentar, kelihatanya aku pernah mendengar nama ini, kata Ki Suromenggolo!
"Benar, aku juga tidak asing dengan nama ini!" seru Kyai Syahroni.
Setelah beberapa saat kemudian Kyai Syahroni berkata;
"Apakah Eyang mu itu bernama lengkap Ki Pandu Brojo?!" tanya Kyai Syahroni.
"Benar Kyai," kata Mahardhika membenarkan.
"Syukurlah, ternyata ada anak keturunan dari Ki Pandu Brojo yang mewakili beliau!" seru Kyai Syahroni gembira.
"Ketahuilah Mahardhika! Eyangmu itu adalah penolong bagi kami-kami ini.
"Pada waktu itu tahun 1998 tepat pada saat terjadi revolusi di negeri ini.
Disini di Jawa Timur ini telah terjadi pembunuhan besar-besaran pada para kyai dan Alim Ulama.
Banyak para Kyai dan Alim Ulama yang menjadi korban ! Orang-orang baik yang tidak bersalah !" Kyai Syahroni tampak mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu.
"Mereka di culik dan di bunuh oleh orang- orang yang berpakaian seperti ninja." Kyai Syahroni menceritakan kejadian dua puluh tahun yang lalu!
"Dan pada saat itu orang tuaku sempat menjadi target untuk di bunuh oleh sekelompok orang yang berilmu cukup tinggi !
Rumah kami pada waktu itu sudah di tandai dengan cat warna merah.
Pada saat dinihari telah datang segerombol orang-orang berpakaian serba hitam dan menutupi muka mereka dengan cadar.
Ketika itu kami sudah berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Segenap anggota keluarga di bantu beberapa pemuda yang bernyali telah bersiap-siap.
Akan tetapi ternyata, kami tidak mampu menahan serbuan orang-orang yang berpakaian serba hitam dan bercadar.
Mereka adalah orang- orang yang sangat terlatih. Mereka memanfaatkan keadaan negara yang sedang kacau balau.
Pada saat yang sangat genting itulah datang eyang mu Ki Pandu Brojo.
Pada saat itu kalau tidak salah Ki Pandu Brojo berusia sekitar lima puluh tahunan, seusia dengan ayahku," Kyai Syahroni berdiam sejenak untuk mengambil nafas panjang.
Dengan kemampuan yang hebat, Eyang mu mampu menghadapi mereka sendirian! Eyang mu tak mempan di bacok tak mempan di tusuk!
Karena ketakutan, para penyerbu ini akhirnya lari ketakutan. Mereka gagal membunuh orang tuaku.
Akan tetapi di tempat lainnya para Kyai dan Ulama banyak yang terbunuh."
__ADS_1
"Demikianlah sedikit cerita tentang eyang mu, Ki Pandu Brojo ! di masa lalu," kata Kyai Syahroni mengakhiri ceritanya.