
"Silahkan duduk mas Tirta, mas Bayu dan mas Adnan," juragan Latifah mempersilakan mereka untuk duduk.
"Terimakasih loh mas, karena kalian, truk kami bisa di pertahankan dan tidak jadi hilang. Jarang ada pemuda seperti kalian yang perduli pada kejadian di sekitar nya," puji juragan Latifah.
"Ah biasa saja juragan, orang lain pun akan melakukan apa yang kami lakukan jika menghadapi hal yang sama," kata Adnan merendah.
"Mas, jangan panggil saya Juragan ah, kesannya gak enak dan kurang akrab, panggil aja Mbak atau nama saya langsung Latifah".
"Sebenarnya Mas, kejadian truk yang di curi bukan kali ini saja, beberapa waktu sebelumnya saya sudah kehilangan 5 truk dalam waktu sebulan ini," Latifah menceritakan tentang hilangnya truk-truk sebelumnya.
"Truk-truk ini hasil kerja keras almarhum suamiku Mas. Tadinya kami memiliki Tujuh belas truk untuk usaha jasa angkutan, tapi setelah suamiku meninggal , ada-saja masalah-masalah yang datang, dan terakhir, lima truk dicuri hampir bersamaan!"
"Apa sudah melaporkan kejadian ini pada yang berwajib Mbak?" tanya Tirta.
"Sudah mas, tapi belum ada perkembangannya," jawab Latifah.
"Terakhir kejadiannya Tiga hari yang lalu, tiga truk sekaligus hilang dari garasi," kata Latifah.
"Dan sebelumya dua truk di begal orang sewaktu mengirim barang, sehingga kerugiannya sangat besar karena saya juga harus mengganti barang yang hilang tersebut." Latifah bercerita dengan sedih nya.
"Sekarang ini banyak pihak yang membatalkan menyewa truk," lanjutnya. Latifah berdiam sejenak ke berkata pada pak Darman
"Oh ya pak Darman kalau bapak capek bisa pulang duluan saja." Latifah melihat pak Darman yang kelihatan menguap beberapa kali.
"Tapi juragan,,mereka mau saya ajak menginap di rumah saya!" jawab pak Darman.
"Biarlah mereka menginap disini saja pak, aku masih ingin berbicara banyak pada mereka," jawab Latifah.
"Baiklah kalau begitu juragan," pak Darman segera pamit dan meninggalkan mereka karena memang dirinya sudah capek sekali.
"Zahra, tolong dong buatkan kopi buat tamu kita!" seru Latifah menyuruh membuatkan kopi buat tamu-tamunya ini.
Beberapa saat kemudian seorang gadis berhijab keluar dengan nampan berisi tiga cangkir kopi yang terlihat masih panas.
"Kenalkan Mas, ini adik saya Zahra namanya. sekarang ini aku percaya membantu pengelolaan pabrik Batik kami." Latifah mengenalkan adiknya.
Zahra seorang gadis manis berhijab yang lembut dan anggun dengan hidung mancung, seperti gadis keturunan arab.
"Zahra bilang ke Mbok Jum supaya membeli makan malam buat tamu-tamu kita ya!" kata Latifah pada adiknya.
"Mas-mas ini mau makan apa ya," Latifah menawarkan makanan yang akan di belinya.
"Ahh jangan repot-repot Mbak," jawab Tirta berbasa-basi, walaupun sebenarnya dia sudah kelaparan.
Bayu yang memang sudah kelaparan segera berseru.
"Ah kau Ta, perutku sudah keroncongan tau ! jangan lah kamu tolak makan malam ini.!"
Latifah dan Zahra tersenyum mendengar omongan Bayu yang terus terang, apalagi melihat wajah Bayu yang ceria dan lucu.
"Aku pesen sate kambing Mbak," serunya.
__ADS_1
"Kamu apa Mas Tirta, Mas Adnan? tanya Latifah.
"Terserah Mbak Latifah saja," jawab Tirta dan Adnan kompak.
"Zahra bilang pada Mbok Jum beli sate kambing, nasi padang dan nasi megono ya."
"Iya Mbak," jawab Zahra yang segera masuk kedalam.
Sambil menunggu pesanan makan malam, Kemudian Latifah mulai melanjutkan ceritanya.
"Almarhum suamiku bekerja keras untuk bisa mendapatkan semua ini, dari awal kami menikah kami memang di beri modal dari orang tua kami masing-masing, dan kami kembangkan dengan kerja keras. Aku mengembangkan Batik dan Almarhum suamiku berbisnis di ekspedisi." Latifah berdiam sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Awalnya truk kami hanya satu, kemudian bisa bertambah terus hingga seperti sekarang. Dan beberapa bulan yang lalu tepatnya enam bulan yang lalu, suamiku mengalami kecelakaan ketika menggantikan salah satu sopirnya yang nggak bisa berangkat! Karena sudah ada janji, jadi lah suamiku yang menggantikannya. Tapi tidak disangka kalau itulah hari suamiku di panggil Gusti Allah untuk selamanya." Latifah bercerita dengan sedih.
"Sejak kepergian suamiku, seorang sepupu suamiku selalu saja mendekati aku untuk di ajak menikah karena dulunya sepupuku ini juga mengejarku. Namanya Hendra!"
"Sudah aku tolak berkali-kali tapi semakin lama dia semakin nekat, beberapa kali dia menyelinap kemari berusaha berbuat tidak senonoh padaku, tapi Aku selalu berhasil menghindar."
"Apa Mbak Latifah tidak curiga kalau semua rentetan kejadian ini ulah sepupu mu itu Mbak?" tanya Tirta.
"Sebenarnya aku juga berfikir demikian Mas, tapi aku tidak punya bukti apa-apa. Lagian sepupu almarhum ini seorang yang terbiasa kasar dan di takuti orang. Dia mempunyai banyak anak buah yang sering berbuat sewenang-wenang di daerah Wiradesa ini, juga di Kota Pekalongan. Tidak ada yang berani menentang mereka mas, korbannya pada takut melaporkannya ke pihak berwajib, karena diancam dan di takut-takuti." Latifah menjelaskan kelakuan adik sepupunya itu.
Setelah beberapa saat kemudian Zahra datang memberitahukan kalau makan malam sudah siap.
Malam semakin larut ketika mereka selesai makam malam dengan di temani Latifah dan Zahra.
Malam ini mereka tidur di kamar rumah Latifah.
Mereka bertiga disediakan kamar kusus untuk tamu, letaknya di sebelah kanan rumah utama.
Walaupun ada tiga kamar tidur, tapi mereka sepakat untuk menggunakan satu kamar tidur saja yang berukuran paling besar di bandingkan dua kamar lainnya.
Tirta , Bayu dan Adnan sudah terbiasa tidur bersama- sama sewaktu di padepokan.
Bayu langsung menjatuhkan dirinya di kasur yang empuk dan segera tertidur dengan nyenyak di tandai suara dengkurannya yang cukup keras, sedangkan Adnan masih setengah tidur sambil memandang keatas atap kamar tersebut, pandangannya menerawang jauh entah sedang memikirkan apa.
Tirta masih sibuk menjawab banyak Whatshap yang masuk ke ponselnya.
Dari Ibu, dari Iza dari Dinda dan lainnya. Mereka umumnya menanyakan perjalanan nya.
Tirta segera menjawab satu persatu , sampai matanya sudah terlalu berat masih saja jari jemarinya bergerak mengetik.
Suasana malam itu sunyi senyap, penjaga rumah juga tampaknya sudah terlelap pula.
Adnan yang sedari tadi masih setengah-setengah tidurnya.
Dia tidak segera bisa memejamkan mata, apalagi tadi meminum kopi dari Latifah.
Semakin malam matanya tidak mengantuk malah semakin terang saja.
Kemudian dia beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar menuju halaman rumah.
__ADS_1
Dipandanginya bulan yang bersinar redup karena sedikit mendung. Dia berjalan menuju gerbang utama yang tertutup oleh pagar geser yang cukup besar.
Ketika dia sudah dekat dengan pintu gerbang utama, di dapatinya pintu gerbang terbuka sedikit.
"Ah pasti penjaga rumah ini baru keluar, mungkin mencari rokok atau kopi," pikirnya.
Mendadak ada beberapa bayangan hitam keluar dari arah garasi truk dan berjalan cepat menuju arahnya.
Adnan tidak berprasangka apapun, dipikirnya itu adalah para pekerjanya Mbak Latifah.
Ketika bayangan orang-orang itu mendekat, tampak mereka membawa parang yang cukup panjang.
Adnan terkejut. tampaknya mereka bukanlah karyawan Mbak Latifah, tampaknya mereka bermaksud jahat!
Setelah dekat, salah seorang itu segera berseru;
"Heh kamu ayo ikut kami kedalam seru nya! Adnan segera memandangi mereka dan berkata:
"Siapa kalian ? dan apa makasud kalian?"
"Sudah, ayo ikut kami! seru salah seorang diantaranya.
Tampaknya salah satu dari tiga orang itu mulai tidak sabar dengan percakapan itu.
Salah satunya segera melayangkan pukulan tangan kosongnya bermaksud memukul Adnan, akan tetapi berhasil di hindari oleh Adnan dengan mudah.
Hal ini memancing kemarahan orang-orang jahat itu. Segera tanpa basa-basi salah seorang diantaranya mengayunkan parangnya kearah Adnan.
Adnan terkejut melihat ayunan parang ini, dia segera melompat kebelakang menghindarinya. orang itu segera memburunya.
Kali ini Adnan benar benar agak panik, sebenarnya dia belum pernah bernar benar bertarung dengan preman ataupun penjahat sungguhan, apalagi memegang senjata sungguhan yang tanpa segan dan ragu untuk melukai bahkan membunuh lawannya.
Tadi sewaktu dia menangkap dua orang pencuri mobil itupun sang pencuri hanyalah pencuri biasa yang tidak di bekali kemampuan bertarung dan tanpa senjata.
Kali ini Adnan bertarung dengan berlompat lompatan karena menghindari dari sabetan parang dari tiga lawan-lawannya.
Ilmu Adnan memang belum begitu matang dan menyatu dengan dirinya, dia masih selangkah di bawah bayu.
Dengan bertarung berlompatan seperti itu sulit baginya untuk segera menundukkan lawan-lawannya, ketiga lawannya bertarung dengan kasar dan berteriak teriak nyaring, membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan.
karena teriakan-teriakan itulah Tirta dan Bayu segera berlari keluar mencari sumber keributan itu.
Di tempat lain, di dalam rumah utama yang besar, beberapa orang yang tampaknya satu gerombolan dengan tiga orang yang bertarung dengan Adnan mengumpulkan segenap orang di dalam rumah menjadi satu dengan ancaman parang di tangan gerombolan penjahat.
Total penghuni rumah ada utama tujuh orang, Latifah, adiknya Zahra, putri nya Latifah yang masih balita ,Mbok Jum dan suaminya dan dua Asisten rumah tangga.
Mereka sangat ketakutan ketika parang -parang teracung kearah mereka, bahkan Mbok Jum sampai terkecing-kencing saking takut nya.
Latifah pun sibuk menenangkan putri balitanya yang menangis karena ketakutan.
Ketika sang pemimpin dari geromban ini melihat keluar dihatnya kawan-kawannya masih bertarung dengan sengit melawan seorang pemuda.
__ADS_1
Dia segera mengajak kawannya yang lain untuk keluar membantu pertarungan di halaman.
Dengan meninggalkan seorang saja di dalam rumah untuk menjaga penghuni rumah yang sudah di kumpulkan jadi satu di ruang tamu.