
Kali ini keduanya bertarung menggunakan senjata tajam , meleng sedikit nyawa taruhannya!
Ki Sadewa dan Wulungan bertarung dengan mempertaruhkan nyawa mereka!
Suatu saat Wulungan dan Ki Sadewa mendengar teriakan Mawar yang sedang terguling- guling karena menahan serangan hawa pedang dari salah seorang pedang iblis...!
Tampak Mawar sudah tak mampu menahan serangan kiam khi yang meluncur ke arahnya!
Dalam keadaan yang demikian, Mawar hanya bisa pasrah matanya terpejam menunggu takdir nya...
Dalam keadaan yang berbahaya ini Tiba-tiba saja Wulungan dan Ki Sadewa yang sedang bertarung di dekat Kejadian itu, hampir bersamaan melompat memapak serangan si pedang iblis yang sedang memburu Mawar tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri!
Wulungan memeluk tubuh dan melindungi tubuh mawar dengan tubuh nya yang tinggi besar...
"Wuss,,,, srettt,,, !"
"Uagh,,,, ! "Seru Wulungan tercekat
Hawa pedang tampak merobek pinggung Wulungan! luka menganga terlihat di punggung Wulungan !
Wajah Wulungan tampak memyeringai kesakitan tapi dia tidak bersuara dia hanya menahan rasa nyerinya dengan sekuat tenaga! pantang bagi nya mengeluh sakit..
Dia tersenyum ke arah Mawar yang masih dalam pelukannya.
Ketika tangan- tangannya sudah tak mampu menopang tubuhnya,,, Wulungan ambruk menimpa tubuh Mawar!
Mawar segera menyadari kalau ternyata Wulungan sudah terluka berat!
Tubuh besar itu tampak mengejang , tapi. senyum nya tampak bahagia...
"Terima kasih Marni,, aku mencintaimu lebih dari apapun walaupun aku baru mengenalmu! bisik Wulungan lemah.
Sampaikan maafku pada kawan kawanku dari Srengseng!!! Aku ingin mati tidak sebagai pengkhianat,,! aku mati ,, demi melindungi mu Marni!"
"Aku rela mati demi kamu Marni!....
Maafkan aku...!"
Setelah berkata demikian, Wulungan jatuh menimpa Mawar ! entah mati entah hanya pingsan saja!
Tangis Marni segera pecah!
Walaupun mawar tidak mencintai Wulungan, tapi pengorbanannya sudah menyelamatkan Mawar dari kematian.
Sementara itu Ki Sadewa dengan di bantu oleh Cemani dan Fatih serta Jalu dan Kebo Dengen yang barusan datang, berusaha mati matian menahan sepak terjang dari sepasang pedang Iblis.
Dan kali ini dengan kerjasama dari mereka, tampaknya gerakan dari sepasang pedang iblis agak bisa di kekang karena ternyata kemampuan kelima anak muda ini cukup hebat juga!
Mawar dalam keadaan tubuh yang belepotan lumpur dan darah dari Wulungan segera berdiri dan ikut terjun mengeroyok sepasang pedang iblis!
Sementara korban dari kedua belah pihak mulai berjatuhan dari pengawal dukuh Srengseng maupun dukuh Wuni..
Di lingkaran pertempuran yang lain.
__ADS_1
Tirta tampak mulai mengeluarkan aji aji andalan nya!
Aji Suryo Dahono yang di salurkan dari cicin bermata biru menyambar nyambar memburu kemanapun Aryo Seto bergerak!
Beberapa kali sudah benturan kekuatan diantara mereka terjadi! Permukaan tanah tempat mereka mengadu tenaga sudah membentuk kawah kecil!
Makin lama tandang Tirta semakin nggegirisi! kecepatan Tirta benar benar sudah tidak dapat di ikuti oleh Aryo Seto.
Pukulan-pukulan yang di landasi aji tapak Geni dan aji Suryo Dahono terasa semakin menakutkan bagi Aryo Seto.
Tubuh Tirta yang kebal karena aji Lembu sekilan dan aji Tameng Waja membuat Tirta tidak takut menerima pukulan pukulan dari Aryo Seto sekalipun Aryo Seto menggunakan aji Sosro Godo dan aji Suryo Dahono secara bersama sama !
Sementara itu pertarungan antara Jadug melawan Bayu, Adnan dan Mahardhika pun semakin dahsyat dan seru saja.
Jadug dengan kekuatan nya awalnya tampak percaya diri! bertarung dengan ganas nya !
Akan tetapi lama kelamaan melawan tiga orang yang mempunyai kemampuan yang juga sangat hebat membuat Jadug lama kelamaan menjadi lelah juga.
Tiap kali dia berhasil menekan salah satu lawan maka yang lain segera bergerak menolong! Begitu berlangsung berkali-kali!
Hingga lambat laun kekuatannya menjadi semakin susut!
Tandang nya yang tadinya penuh tenaga dan membuat keder lawan mulai surut!
Napas Jadug pun mulai memburu!
Dalam keadaan demikian,,, Jadug mulai berpikir keras untuk mengatasi keadaan nya ini.
Tiba-tiba Jadug berteriak keras!
Roy tampak masih bertarung sama kuatnya melawan Brangah dan Kerto.
karena kekuatan Roy tampak luar biasa hebat!
Setiap gerakannya menyebabkan jatuhnya korban di pihak pengawal Srengseng.
Tadinya hanya Kerto saja yang menghadapi Roy, akan tetapi lambat laun Kerto tidak mampu lagi menahan sepak terjang dari Roy, sehingga akhirnya Brangah terjun untuk membantu Kerto menahan sepak terjang dari Roy!
Untuk di ketahui, Brangah ini adalah pemimpin kelompok dari pengawal padukuhan Srengseng, jadi kekuatan nya dalam hal olah Kanuragan cukup mumpuni! Sedangkan Kerto juga salah seorang pemimpin klompok pengawal dari Srengseng seperti halnya Brangah.
Sedang Sondong lah yang agak bebas, karena dia dengan bebas mengobrak abrik anak buah Brangah.
Sondong segera melompat ke arah lingkaran pertempuran Jadug!
Walaupun kemampuan bertarung dari Sondong masih di bawah mereka yang bertarung ini, akan tetapi cukup untuk mengembalikan keseimbangan dalam pertarungan antara Jadug melawan Mahardhika, Bayu dan Adnan!.
***
Di arena pertempuran lain.
Pertarungan antara Ki Ranu dan Ki Pradigdo sudah mendekati akhir!
Aji Suryo Dahono dan aji Sosro Godo saling beradu kuat!
__ADS_1
Keduanya terpental dan jatuh terduduk akibat dari bertemunya dua aji yang luar biasa ini...
Keduanya tampak berusaha berdiri dengan susah payahnya.
Tulang tulang tua mereka serasa berpatahan akibat benturan itu.
Dalam usia mereka yang menginjak tujuh puluh lima tahun ini . Wadag mereka sudah tidak mampu lagi mendukung keduanya untuk bertahan lebih lama dalam sebuah pertarungan!
Walaupun tenaga batin mereka sudah mencapai kesempurnaan, akan tetapi dalam sebuah pertarungan di butuhkan tenaga wadag yang kuat dan tenaga batin yang mumpuni!
Keduanya sudah tampak payah sekali, akan tetapi keduanya masih tetap ingin menyelesaikan pertarungan mereka sampai tuntas!
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kembali aji Suryo Dahono dan aji Tapak Godo berbenturan dengan keras!
Kembali keduanya terlibat dalam benturan Dahsyat...
Tampaknya inilah ungkapan tenaga terakhir dari keduanya..
Bumi bergetar dan daun-daun mengering dan rontok sebagai akibat dari benturan dahsyat itu .
Ki Ranu tampak tidak mampu menguasai dirinya,!
Dia jatuh terduduk dengan darah meleleh di dari mulut nya yang tinggal beberapa buah gigi saja.
Sedangkan Ki pradigdo tampak lebih parah lagi! Tubuh tuanya jatuh telentang di rerumputan halaman pendopo.
"Digdo!,,,, Digdo,,,!,"panggil Ki Ranu pada Ki Pradigdo.
Akan tetapi tak ada tanggapan dari Ki Pradigdo.
Tampaknya Ki Pradigdo terluka sangat parah, sehingga tak mampu menjawab panggilan dari Ki Ranu..
Akhirnya dengan sisa- sisa tenaga terakhir Ki Ranu merangkak mendekati tubuh Ki Pradigdo yang telentang lemah di rerumputan.
"Digdo,, Digdo!" panggil Ki Ranu ketika dia sudah sampai di samping tubuh Ki Pradigdo yang tampaknya sudah sangat lemah dan nafasnya tinggal satu-satu..
Di guncang-guncang nya tubuh renta sahabat nya ini..
"Digdo,,, Digdo,,,! Maafkan aku Digdo,, " bisik Ki Ranu...
"Kenapa kita bisa seperti ini Digdo..."
"Maafkan aku,,,!" bisik Ki Ranu lagi..
Dengan sisa-sisa kekuatannya Ki Pradigdo berkata lirih..
"Maafkan Aku Ranu,,, semua ini salahku,,, aku terlalu memaksakan kehendakku,,, aku yang salah Ranu..
Maafkan aku Ranu! maafkan aku Wiratriiiiii,,,,,,,, aku pergi dulu Ranuu..!".
ki Ranu segera memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat,, "Digdooo,. maafkan akuu....!"
Ternyata keduanya pergi hampir bersamaan meninggalkan dunia menghadap Gusti ingkang akaryo jagad , Gusti yang menciptakan dunia dan isinya!
__ADS_1
Berakhirlah sudah perjalanan dua sahabat yang di paksa terpisah oleh keadaan dan kini mereka telah kembali lagi sebagai sahabat..