
Mahardhika, Bayu dan Adnan secepat kilat menyusul Mr Budiman dan kawan-kawan nya,
Mereka tersusul tepat di Regol dukuh Wuni ketika mereka sudah hampir berhasil melarikan diri dari dukuh ini.
Mereka tak dapat berjalan cepat karena memang orang-orang ini bukanlah ahli bela diri..
"Kalian , tidak boleh keluar dari dukuh Wuni ini!!" Seru Adnan yang segera melangkah menghadang beberapa orang ini.
Belum sempat Adnan menyelesaikan kata- katanya, salah satu dari Sepasang pedang Iblis ini sudah mengayunkan pedangnya menebas kearah Adnan,,,
Wusss,,, ayunan pedang iblis hanya lewat beberapa inchi saja dari tubuh Adnan.
Adnan dengan sigap melompat menghindari sabetan pedang dari salah seorang Mo Kwi ini..
Belum sempat Adnan berdiri tegak, serangan pedang mo kwi sudah datang lagi,,!
Kali Ini Mahardhika cepat bertindak menolong dengan melontarkan pukulan jarak jauh, dengan melontarkan aji tapak Geni nya.
Segera saja mereka bertiga bertarung mengahadapi siang Mo Kwi si sepasang pedang iblis dari negeri Tiongkok.
Kali ini Adnan segera meminjam golok pada salah satu pengawal Srengseng yang tadi ikut melakukan pengejaran. demikian juga dengan Bayu..
Sedangkan Mahardika tetap bertangan kosong..
Pertarungan menggunakan senjata adalah pertarungan yang mempertaruhkan nyawa,. membunuh atau di bunuh..!
Dengan kemampuan sepasang pedang Iblis, aji Lembu Sekilan maupun tameng Waja Milik Mahardhika tampaknya masih sangat riskan untuk dibenturkan secara langsung!
Akan tetapi cukup mengurangi efek jika terkena sabetan pedang dari siang mo kwi ini..
Dalam sebuah serangan yang dahsyat yang sangat sangat cepat bagai halilintar menyambar,
pedang Tan Siang Ki sang kakak berhasil mematahkan golok yang di gunakan oleh Adnan!
Adnan sangat terkejut ketika mengetahui goloknya tak mampu menahan ketajaman pedang dari Siang Ki ini.
Dalam keadaan yang demikian gawat, sudah tidak mungkin bagi Adnan untuk mengelak,,,
Tiba tiba,,,,
"Trang,," Pedang yang sedang mengarah ke leher Adnan menjadi berubah arah dan menyamping!
Hawa dingin dari pedang Siang Ki berdesir melewati kepala Adnan dan memapas sedikit rambut Adnan.
Tiba- tiba Adnan sudah terdorong beberapa langkah kebelakang.
Dan posisinya semula sudah berdiri seorang pemuda agak ceking dan cukup tinggi, berwajah teduh..dan bermata tajam.
"Tirta,,,! "Seru Adnan gembira.
"Bantulah Dika dan Bayu,, biar iblis ini aku yang menghadapi! " Seru Tirta pada Adnan.
Kali ini si adik dari sepasang pedang iblis yaitu Tan siang Wi, berhadapan dengan Dika, Bayu dan Adnan..
__ADS_1
Perubahan ini membuat pertarungan menjadi lebih seimbang!
Tirta yang berhadapan dengan sang kakak, tampak lebih berhati- hati karena ilmu pedang dari iblis ini sudah mencapai ilmu pedang tertinggi yang mampu membunuh seseorang hanya dengan hawa pedang saja!
Tameng Waja dan Aji Lembu Sekilan di terapkan hampir mencapai puncaknya.
Tubuh Tirta terlihat sangat keras seperti lempengan baja,, juga tubuhnya mengeluarkan cahaya kebiruan bercampur kemerahan pertanda dirinya telah mengerahkan aji Tapak Geni sekaligus aji Suryo Dahono!
Tubuh Tirta bergulung gulung bagai ombak biru pantai selatan menerjang Siang Ki !
Siang Ki tampak sangat terkejut dengan kemampuan lawan yang sangat luar biasa ini..
Belum pernah dalam pengembaraan nya dia menghadapi ilmu sedemikan hebatnya..
"Apakah pemuda ini menguasai tenaga sakti (Sin kang) yang bersifat panas dan dingin ," pikirnya..
Orang orang di negerinya yaitu negeri Tiongkok membagi tenaga dalam (Sin kang/ Ki kang) menjadi dua jenis tenaga yaitu yang bersifat dingin di sebut" Im" atau juga " Yin" dan tenaga dalam yang bersifat panas atau di sebut" Yang".
"Sungguh seorang pemuda yang luar biasa, dalam usia semuda ini mampu menguasai dua jenis tenaga sakti yang bertolak belakang yang sudah jarang sekali orang orang di negerinya menguasai nya!" pikirnya lagi!
"Tampak nya aku harus bekerja keras menghadapi pemuda ini..!" batin Tan Siang Ki.
Berikutnya Tan Siang Ki segera bergerak tanpa ragu!
Tenaga nya kerahkan nya sampai puncak!
Pedang nya dan tubuhnya sudah menyatu, sudah sejiwa..
"Wussss,, !" pedang meluncur lurus ke arah Tirta Jayakusuma yang juga bergerak dengan kecepatan yang luar biasa karena Bayu Bajra juga sudah di kerahkan keluar..
Pertarungan dahsyat dan mengerikan dari dua jagoan yang mempunyai latar belakang ilmu bela diri yang berbeda segera terjadi..
Dua bayangan , yang satu dengan bayangan pedang putih berkilat-kilat laksana petir menyambar! dan yang lain bagaikan bayangan ombak biru bergulung- gulung bercampur warna merah di sertai suara Guntur menggelegar di setiap pergerakan nya..
Dua bayangan saling serang dan saling libas.. selain bentur dan terlontar...!
Hingga suatu ketika Tirta Jayakusuma yang sudah mampu mengukur kekuatan Siang Ki, dengan telapak tangan nya yang di lambari kekuatan luar biasa dari aji Tameng Waja dan aji Suryo Dahono Mampu menangkap ujung dari pedang yang di gunakan oleh Tan Siang Ki si kakak.
Siang Ki sangat sangat terkejut sekali.. belum pernah dia mengalami kejadian seperti ini..
Ilmu pedang nya yang mampu memotong besi baja dengan mudah bisa di tangkap oleh pemuda lawannya ini.
Dengan sekuat tenaga di tariknya pedang yang dipegang ujungnya oleh Tirta Jayakusuma.
Akan tetapi pedang itu tampak tidak bergeming sama sekali!
Telapak tangan si pemuda tampak seperti penjepit baja yang sangat kuat!
Wajah Tan Siang Ki tampak memerah karena dia sedang mengerahkan tenaganya sekuat kuatnya..
Mendadak....
"Krek,,, krek ,,,tak....!"
__ADS_1
Ujung pedang nya tampak patah, dan Tan Siang Ki tampak ter lontar kebelakang karena tenaga nya sendiri...!
Siang Ki tampak bersalto ke belakang untuk menetralkan tenaga nya sendiri .
Begitu dia berdiri , dia segera mendapati ujung pedang nya yang telah patah..
Dia segera berjongkok dengan kedua tangan terkepal dan menangkup khas penghormatan dari orang Tiongkok.
Pedang yang telah patah di taruhnya di tanah di depannya.
"Aku menyerah anak muda,,!" serunya.
"Pedang bagi kami adalah nyawa kami !"
"Jika pedang kami patah, maka berakhirlah hidup kami, " kata Tan Siang Ki gagah, mengakui kekalahan nya.
Sementara pertarungan Tan Siang Wi melawan Dika, Bayu dan Adnan juga seketika berhenti.
Sang adik Tan Siang Wi yang sudah kalah oleh lawannya membuatnya menghentikan pertarungan dan mengikuti langkah sang kakak meletakkan pedangnya dan berjongkok sambil menghormat pada Tirta Jayakusuma.
Tirta Jayakusuma tampak terkejut melihat hal ini. Demikian juga dengan orang-orang yang hadir di tempat itu..
Tak disangka sepasang pedang iblis ini walaupun sangat ganas dan sadis ternyata mempunyai sifat ksatria sejati (ho han: bahasa China)
Tirta bingung juga menghadapi
kejadian ini.
"Kami mengaku kalah!" seru kedua Mo Kiam ini.
"Kami menyerahkan hidup kami pada mu anak muda!" kata Tan Siang Ki tegas.
"Siang Mo Kiam! "seru Mr Wijaya.
"Aku bayar mahal kalian berdua untuk mengawalku! untuk melindungi ku!" Seru Mr Wijaya tampak sangat marah!
"Maaf Mr Wijaya, ini adalah prinsip kami!" jawab Tan Siang Ki tegas.
Dan sekarang ini yang bingung adalah Mr Budiman, Mr Wijaya dan tiga orang kawan mereka .
Mau tidak mau, suka maupun tidak suka akhirnya merekapun harus menyerahkan diri !
Mau melawan? sama saja bunuh diri !
Merakpun akhirnya digiring kembali ke padukuhan induk dimana malam itu mereka semua berkumpul di pendopo padukuhan Wuni..
Para korban yang mati dari pihak Aryo Seto maupun dari dukuh Srengseng ataupun dari dukuh Wuni di kumpulkan di rumah judi yang berada dekat dengan rumah judi tempat berlangsungnya pertarungan di malam itu, sedangkan yang terluka akibat pertumpahan darah ini di rawat dan di obati di rumah judi yang lainnya lagi.
Sedangkan para tawanan di kumpulkan dengan penjagaan yang sangat ketat di rumah judi yang paling besar, dimana terjadi pertarungan di malam itu.
Selain sepasang pedang iblis, Mr Budiman, Mr Wijaya dan tiga kawannya, di tawan juga orang orangnya Aryo Seto baik yang berasal dari dukuh Wuni maupun dari luar,,!
Juga ternyata para pengawal. dari Mr Budiman juga banyak yang tertangkap maupun terluka!
__ADS_1