Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
ujian sebelum turun gelanggang


__ADS_3

Mereka kemudian menunggu di luar tenda. Untunglah siang itu udara tidak terlalu panas ataupun hujan.


Beberapa saat lamanya kyai Syahroni, Ki Suromenggolo , Ki Seno Aji dan juga Intan menunggu di luar tenda.


Hingga terlihat sebuah wajah nongol keluar dari tenda Sambil mengucek-ucek kedua mata..


"Kyai Syahroni?! Ki Suro!?" seru Adnan Kaget!"


Adnan tampaknya yang bangun terlebih dahulu!


"Ada apa Ad!" seru Bayu dari dalam tenda!


Seruan Bayu di ikuti oleh suara Tirta juga Mahardika.


"Ada siapa Ad?!" seru mereka..


"Ada Intan dan Kyai Syahroni !"seru Adnan..


Adnan segera saja lari kedalam tenda dan mencari celana pendeknya.


Tirta , Bayu dan Mahardika segera sibuk mencari baju masing- masing.


Setelah keempat nya berpakaian dengan benar, barulah Tirta dan kawan-kawannya menyambut kyai Syahroni, Ki suromneggolo , Ki Seno Aji dan Intan.


Tirta segera mempersilahkan mereka memasuki tenda.


Tampak wajah Intan masih merah malu dan jengah melihat para pemuda ini.


Setelah duduk bersila di tikar di dalam tenda Kyai Syahroni lah yang kemudian membuka pembicaraan.


"Begini mas Tirta , mas Dika , mas Bayu dan mas Adnan.


Sebenarnya lah kami hanya ingin memastikan usaha kami berhasil dengan baik."


"Kami meminta mas Tirta untuk turun gelanggang nanti malam! Bukannya kami tidak percaya pada kemampuan dari mas Mahardika, akan tetapi kami masih was-was dan gamang dengan kekuatan mereka." Kali ini ki Seno Aji lah yang berbicara.


Mendengar permintaan orang-orang tua ini, hati Tirta jayakusuma menjadi tidak enak.


Apalagi mereka sudah dua atau tiga kali ini memintanya untuk turun gelanggang.


"Apa boleh buat," pikir Tirta.


"Aku tidak bisa mengecewakan pengharapan dari para tetua ini,"


Setelah berpikir beberapa saat, kemudian Tirta Jayakusuma memberikan jawabannya.


"Baiklah Kyai Syahroni, Ki Suro dan Ki Seno Aji. Saya bersedia turun gelanggang nanti malam.

__ADS_1


Tapi tolong jangan lah berharap terlalu tinggi pada saya...". Kata Tirta menyanggupi permintaan para tetua ini.


"Syukurlah kalau mas Tirta bersedia membantu kami yang sudah tua-tua ini." kata Kyai Syahroni.


"Kami sudah mempersiapkan perguruan silat yang bisa di wakili oleh Mas Tirta Jayakusuma !


Padepokan silat "Rogo Sukmo" yang di pandegani oleh Kyai Fakih," kata Kyai Syahroni menjelaskan.


"Nanti selepas Maghrib kalian datang lah ke perkemahan Ki Suromenggolo! kalian akan kami pertemukan dengan Kyai Fakih dan juga Ki Maruto pemimpin dari perguruan silat Watu Gunung!" lanjut Kyai Syahroni.


Dalam kesempatan itu Intan lebih banyak diam, dia menjadi semakin mengenal karakter dari anak- anak muda ini yang memang benar- benar anak-anak muda yang baik dan rendah hati.


Ingin dia berbicara, tapi pembawaannya yang angkuh dan tinggi hati benar- benar menghalanginya untuk mulai berbicara dengan anak- anak muda ini yang memang lain daripada para pemuda yang selalu mengejarnya selama ini.


Demikian lah pembicaraan kemudian beralih pada hal-hal yang lain.


Kyai Syahroni mulai menggali latar belakang dari Tirta Jayakusuma dan tujuan sebenarnya dari Tirta Jaya Kusuma ke puncak Gunung Ijen ini.


"Kami sebenarnya dari padepokan di lereng gunung Ungaran Kyai,"kata Tirta Jayakusuma.


"Dan memanglah kami sedang mendapatkan perintah dari guru kami untuk memperdalam ilmu dan juga mencari pengalaman." lanjut Tirta Jayakusuma.


Setelah hari beranjak siang dan matahari mulai bergeser ke arah barat, Kyai Sahroni dan para tetua segera pamit pada Tirta dan kawan-kawannya.


***


Sesampai di sana tampak Ki Suromenggolo dan beberapa orang sudah menunggu kedatangan Tirta Jayakusuma dan kawan-kawan.


Dengan sopan Tirta membungkukkan sedikit badannya dan mengucapkan salam.


"Ayo mas silakan masuk!" Ki Suromeggolo segera mengajak Tirta dan kawan- kawannya memasuki tenda yang memang lumayan besar dan mampu menampung puluhan orang sekaligus.


"Perkenalkan mas Tirta, mas Bayu mas Adnan dan mas Mahardika !


ini Kyai Fakih dan cucu perempuannya kata Ki Suromenggolo.


"Dan ini Ki Maruto pemimpin padepokan Watu Gunung !" Ki Suromenggolo memperkenalkan mereka-mereka yang hadir.


Kemudian Ki Suromenggolo mengulangi tentang rencana para tetua yang telah di sepakati sebelumnya.


Tampak Kyai Fakih mengangguk-anggukan kepala mendengarkan penjelasan dari Ki Suromenggolo.


Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari Ki Suromenggolo, dengan halus Kyai Fakih berkata;


"Ki Suro, kami setuju saja dengan rencana mu! Akan tetapi cucu Perempuanku ini tadinya akan turun dalam pertandingan itu, jadi dia ingin memastikan kemampuan dari mas Tirta Jayakusuma yang akan menggantikanya di pertandingan itu !" kata Kyai Fakih.


"Hmm, benar juga apa yang di katakan oleh Kyai Fakih Ki Suro!" kali ini ki Maruto yang berbicara.

__ADS_1


Muridku ini juga ingin mengetahui kekuatan sebenarnya dari pemuda yang akan menggantikan dia nanti," kata Ki Maruto.


"Maaf mas Tirta Jayakusuma dan mas Mahardika , terpaksa kalian harus menunjukkan sedikit kamampuannya di depan kami para tetua ini," kali ini Kyai Syahroni yang berbicara.


"Tidak apa-apa Kyai, karena kami sudah menyanggupi untuk menggantikan mereka, sudah sepatutnya lah kami menunjukkan kelemahan kami," kata Tirta Jayakusuma merendah.


Kemudian mereka bersama-sama keluar tenda.


Diluar tenda ini adalah tanah lapang yang cukup luas dengan rumput yang hijau dan tebal.


Kali ini murid Ki Maruto yang bernama Sawung yang tampak nya tidak sabar untuk menjajal kemampuan ilmu kanuragan dari Mahardika.


"Silahkan mas Mahardika," kata Kyai Syahroni pada Mahardhika untuk menghadapi murid Ki Maruto yang bernama Sawung itu.


Sawung ini seorang pemuda yang gagah dan tinggi besar. Sedangkan Mahardhika juga cukup tinggi dan gagah serta tampan.


Tampak mereka seimbang dalam segi fisik.


Sawung yang tampak sudah tidak sabar segera membuka serangan ke arah Mahardhika.


Mahardhika ini bukanlah seorang pemuda yang lembut, dia cenderung tegas walaupun juga agak pendiam.


Tadinya dia seorang pemuda yang keras hati dan agak sombong! akan tetapi baik hati dan suka menolong. Dan sejak berkumpul dengan Tirta dan kawan-kawannya, sifat- sifat kerasnya menjadi sedikit luntur.


Tanpa ragu Dika segera menyambut serangan Sawung dengan menggunakan aji Lembu Sekilan.


Dalam sekali gebrakan saja, Sawung sudah terpental jauh ke belakang! ..


Tampaknya Sawung masih belum puas dengan benturan pertama yang membuatnya terpental, di pikirnya ini hanyalah sebuah kebetulan belaka!


Sawung segera mengumpulkan segenap tenaganya dan kembali melompat dan mengarahkan pukulannya ke arah dada Mahardhika!


Dan...


"Blammm,,!!!" terdengar suara keras ketika tangan Sawung menghantam dada Mahardhika.


Mahardhika sengaja memasang dada nya yang sudah di lapisi aji Tameng Waja!


Sawung kembali terlempar kebelakang dan terbanting di rerumputan dengan keras!


Dia meringis kesakitan sambil mengibaskan tangannya yang serasa membentur besi baja!


"Cukup !" seru Kyai Syahroni ...


Semua yang hadir di sekitar tempat itu tampak sangat terkejut dengan kejadian ini .


Sebelumnya mereka belum pernah menyaksikan Mahardhika turun tangan, dan sekarang ini semua yang hadir bisa menyaksikan bagaimana kuatnya pemuda ini.

__ADS_1


Hanya dua kali gebrakan dia sudah berhasil menjatuhkan Sawung! murid utama perguruan silat Watu Gunung.


__ADS_2