
Sore itu didepan sebuah hotel mewah di Jakarta pusat kang Damar bersama bang Leo memang sengaja mengawasi lalu lalang orang dan orang- orang yang masuk dan check in hotel ini.
Leo yang berpengalaman dalam dunia hitam dan bermata setajam elang curiga pada dua orang Tiongkok yang memesan kamar di lantai tujuh.. tapi di tolak karena lantai tujuh sudah penuh.. Leo segera memfokuskan pandangannya pada dua orang ini.
mereka tampaknya juga tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga menggunakan bahasa isyarat. dan memgapa Leo mengetahui mereka memesan kamar lantai tujuh? itu karena sang resepsionis nya menyebutkan nya.
Terlihat dua orang Tiongkok agak marah-marah pada sang resepsionis, tapi karena kendala bahasa! sang resepsionis juga tidak mempedulikannya.
Gerakan mereka terlihat sangat ringan sekali layaknya orang yang mendalami ilmu beladiri, tubuh mereka tinggi dengan sorot mata setajam sembilu, gerakannya sangat mencurigakan.. di ikuti beberapa orang dengan wajah asia tenggara yang masuk tidak bersama-sama, meraka masuk ada yang berdua bertiga juga berempat. jika dihitung semuanya mencapai dua puluh orang.
Akhirnya dengan bantuan rekan-rekan yang lain mereka akhirnya mendapatkan kamar di lantai lain.
"Tampaknya malam ini mereka akan mulai bergerak, kata Leo pada kang Damar.."
Kang Damar mengangguk pelan, membenarkan prediksi Leo.
kang Damar segera ikut memperhatikan pergerakan orang-orang ini.
Dilihatnya rombongan orang-orang ini berusia tidak lebih dari tigapuluhan tahun, hanya dua orang yang tampaknya dari Tiongkok saja yang sepertinya berusia empatpuluh tahunan.
Mereka tampaknya juga menempatkan orang-orangnya di lobi hotel dan dan di halaman hotel untuk melihat situasi.
Leo segera mengabarkan perkembangan tebaru kepada Tirta dan memintanya untuk memindahkan pak Michael dan keluarganya ke kamar lain di lantai duapuluh satu seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.
"Tampak nya orang-orang Mr Budiman mulai berdatangan kemari pak Michael, mereka tidak perduli lagi dengan situasi hotel yang ramai ini", kata Tirta pada pak Michael.
"Iya, benar- benar gila orang-orang ini," kata pak Michael.
"pak Michael harus pindah kamar dulu seperti yang kita rencanakan sebelumnya" kata Tirta.
Pak Michael dan Mamanya Nadine segera bersiap-siap pindah kamar ke lantai sepuluh dengan diiringi Tirta. sedang Nadine dan kedua adiknya akan pindah secara bertahap.
Setelah Tirta mengantarkan pak Michael dan istrinya, di lantai sepuluh Tirta segera menjemput Nadine di kamarnya.
Begitu tahu Tirta yang masuk,
peluk dan cium langsung menghujani Tirta,,
__ADS_1
"Mmh... uhh!!" Tirta hampir hampir tak bisa bernafas,,
"jangan seperti Ini Nadine,, nanti terlihat orang lain!" kata Tirta dengan nafas memburu bukan karena capek atau lelah tapi karena kelakuan Nadine!
"Ayo kita harus segera ke lantai duapuluh satu ," bisik Tirta yang mulai terengah engah karena serbuan dalam bentuk lain dari Nadine .
Jika bertemu dengan Nadine Tirta pasti gelagapan, ada-ada saja cara Nadine untuk membuat Tirta salah tingkah dan kebingungan.
Bahkan akhir-akhir ini setiap kali bertemu Nadine dia sudah tidak berani menatap seluruh tubuh Nadine, dari wajah yang memancarkan hawa lain, mata yang menantang, senyum menggoda sampai bentuk tubuh nadine yang bak gitar spanyol ! Benar- benar godaan yang berat bagi iman seorang pemuda culun seperti Tirta ini .
Nadine segera melepaskan ciuman panasnya.
Bersyukur dan kecewa bercampur aduk menjadi satu dalam benak Tirta,, dan dadanya masih berdeburan tidak karuan .
Bersyukur karena lepas dari belitan Nadine yang mengguncang dadanya dan kecewa karena ....
Nadine kemudian mengikuti Tirta menuju lantai atas berkumpul dengan kedua orang tuanya.
Setelah itu Tirta menghubungi Bayu dan Adnan untuk gantian mengantar kan Tomy dan Joey naik ke lantai duapuluh satu hotel tersebut menyusul Papa dan Mamanya juga kakaknya Nadine.
Di lantai bawah, bang Leo dan Kang Damar sudah kembali lagi ke kamar hotel dengan menyuruh Jim dan Gendon berjaga, tepatnya mengawasi situasi lobi hotel dan mengawasi pergerakan orang orang yang mencurigakan.
Karena lantai tujuh sebagian besar sudah disewa pak Michael, maka tampaknya! orang-orang ini menghuni kamar diantai enam tepat di bawah kamar pak Michael sebelum pindah ke lantai dua puluh satu.
Hari berjalan terasa lambat bagi Tirta dan kawan- kawannya, karena menunggu tindakan dari orang-orang tadi yang di perkirakan adalah suruhan Mr budiman..
***
Ketika malam semakin larut.
Di tempat lain, tepatnya kediaman Mr Budiman yang entah berada dimana..
"Peter bagaimana persiapannya malam ini,?" tanya Mr Budiman,,
"Sudah siap semua Bos, si tangan petir dan si kaki kilat dari tiongkok sudah berada di lokasi, tinggal menunggu perintah Bos!" kata Peter.
"Bagaimana kans keberhasilannya peter?" tanya sang big Bos lagi,,
__ADS_1
Seratus persen Bos, si tangan petir dan si kaki kilat setahuku tidak pernah gagal dalam tugasnya mereka selalu berhasil membunuh lawan lawannya Bos kata Peter yang membuat hati senang sang big Bos..
"Lalu bagaiman dengan pasukan pembunuh kita?" tanya sang big Bos lagi..
"Pasukan pembunuh kita kali ini berkekuatan duapuluh orang bos, aku ambil yang benar-benar hebat dan kuat," kata peter.
"kekuatan duapuluh orang ini dua kali lipat daripada kekuatan kita yang gagal kemarin, apalagi ditambah dua orang dari Tiongkok tersebut." tambah Perer.
Sebenarnya Mr Budiman mempunyai hampir seratusan pembunuh, sedang kan kemaren dia telah mengaerahkan Lima belas di antaranya, akan tetapi tak seorangpun yang berhasil kembali, sebagian mati dan Sebagian tertangkap dan menjadi tawanan.
Mr Budiman mengangguk-angguk pertanda puas mendengar laporan Peter, orang yang menjadi kepercayaannya.
"Baik Peter, perintahkan nanti jam sembilan malam mereka untuk bergerak, aku tidak mau ada berita kegagalan lagi," seru Mr Budiman.
"Karena kalau sampai gagal lagi kita butuh waktu yang lumayan lama untuk membangun kekuatan."
***
Di lantai tujuh Tirta besama Bayu dan Adan berada di bekas kamar pak Michael, sebuah kamar presidential suite yang sangat besar dan mewah.
Bayu dan Adnan ternyata minta ikut berjaga saja di bawah, sehingga Tirta menggantinya dengan dua orang anak buah bang Leo, ditambah beberapa pengawal pilihan dari bodyguard pak Michael yang dipimpin Herman.
Bayu berputar-putar mengitari kamar tersebut.
"Luar biasa!" serunya sambil melontarkan dirinya di pembaringa big size yang empuk dan nyaman.
"Ahh , katrok , ndeso, kamu Bay,, malu maluin aja,, " seru Adnan..
"Hallo Adnan, kalo kamu pengin jangan di tahan-tahan, ngiler nanti kamu!" seru Bayu sambil tertawa lebar.
Ya di mana- mana, Bayu menebar keceriaan dan kegembiraan walaupun dalam keadaan tegang sekalipun.
Sementara itu eyang Pandu dan kang Damar ada di bekas kamar Nadine, serta Jim dan dua orang anak buah Leo ada di bekas kamar Tomy dan Joey.
Leo posisinya berada di luar kamar dengan terang-terangan duduk di salah satu ruang tamu di lorong lantai tujuh bersama Gendon dan seorang anak buahnya yang lain.
Tepat pukul sembilan malam mendadak lampu ruangan mati semua.. suasana menjadi gelap gulita..
__ADS_1