Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
perang tanding


__ADS_3

Aryo Seto memandang Tirta Jayakusuma dengan seksama.


Dalam gelapnya malam dan hanya di terangi cahaya obor, terlihat pemuda yang masih sangat muda berusia lebih muda darinya, dengan wajahnya yang lembut dan tampak tenang....


"Hmm anak ingusan yang masih mau kencur, jangan menyesal kalo kamu bakal mati disini, kamu sudah berani menantangku, sudah berani merebut Nastiti dariku!" geram Aryo Seto .


Salah satu alasan Aryo Seto nekat menyerbu tanah larangan Srengseng ini adalah karena Nastiti.!.


Sejak pertama kali Aryo menginjakkan kakinya di padukuhan Srengseng ini dia sudah tertarik untuk mendapatkan Nastiti.


Nastiti yang lincah, Nastiti yang manis cantik, Nastiti yang lembut, membuat Aryo Seto tergila-gila..


Waktu itu Nastiti berumur limabelas tahunan ketika Aryo mengenal nya.


Nastiti belum begitu mengenal hubungan antara muda-mudi, karena padukuhan yang tertutup. Sehingga hubungan antara pria dan wanita muda masih sangat tabu.


Aryo seto dan Nastiti tumbuh bersama dalam bimbingan ki Ranu juga pemuda-pemuda lain di padukuhan Srengseng, termasuk juga Wulungan.


Aryo Seto waktu itu masih berusia dua puluh tahunan.


Hubungan mereka sangat dekat. Nastiti sudah menganggap Aryo Seto sebagai kakak kandungnya sendiri.


Ketika usia Nastiti semakin dewasa dan Aryo Seto pun bertambah dewasa lagi, Nastiti berusaha agak menjauh, karena perilaku Aryo Seto dirasakan oleh Nastiti menjadi tidak wajar.


Nastiti tumbuh menjadi gadis yang cantik luar dan dalam bak bunga yang harum semerbak di tengah hutan.


Berbudi halus, lembut tapi lincah dan tangguh jika sedang berlatih kanuragan bersama kawan-kawannya.


Tapi semakin dewasa kawan-kawan prianya menjadi semakin sedikit bahkan tidak ada yang berani bermain bersamanya ! Bahkan hanya untuk menyapanya saja sudah tidak ada yang berani.


Mereka hanya berani memandang dari jauh dan mengagumi dalam hati saja kecantikan cucu ki Ranu ini..


Dan ini semua adalah ulah dari Aryo Seto.. dia merasa tidak senang jika Nastiti bergaul dengan pemuda- pemuda padukuhan Srengseng.. karena itu dia sering mengancam bahkan menghajar siapapun yang mendekati Nastiti,, walaupun itu sekedar menyapanya..


Pernah seorang pemuda padukuhan menyapa Nastiti sewaktu dia pulang dari berkebun dan Nastiti sedang menyapu halaman pendopo rumah ki Ranu, dan kebetulan Aryo Seto berada tidak jauh dari situ..


Besoknya Aryo Seto menghajar si pemuda itu di kebunnya sampai babak belur dan mengancam supaya tidak menyapa lagi Nastiti juga tidak melaporkannya pada ki Ranu, karena kalau sampai di dengar ki Ranu maka pemuda itu di ancam akan di bunuhnya.


Wulungan sendiri pernah merasakan kekuatan Aryo Seto.


Pada dasarnya Wulungan juga menyukai Nastiti, hingga terjadi persaingan antara Wulungan dan Aryo Seto secara diam-diam.


Hingga pada suatu saat bentrok tak dapat di hindarkan.


Waktu itu setelah latihan Kanuragan dengan di bimbing secara langsung oleh ki Ranu, Wulungan segera mengajak Nastiti berjalan- jalan menyusuri jalanan di pinggir padukuhan.


Nastiti mengiyakan saja ajakan dari Wulungan , karena menganggap Wulungan juga sebagai kakaknya sendiri.


Kelihatannya Wulungan hendak menyamkaikan isi hatinya pada Nastiti.


Setelah berada di jalanan yang agak sepi, Wulungan segera berkata pada Nastiti;


"Nastiti kita sudah lama saling mengenal, sejak kecil kita sudah selalu bersama," dengan memberanikan diri Wulungan berusaha tenang.


"Iya Kang Wulung, " jawab Nastiti.


"Semakin dewasa aku semakin bingung dengan perasaan ku padamu Nastiti," lanjut Wulungan dengan suara agak bergetar..


"Bingung bagaimana Kang?" tanya Nastiti bloon.

__ADS_1


"Aku menyukaimu Nastiti ," kata Wulungan setelah berdiam diri beberapa saat, untuk menenangkan debaran hatinya.


"Aku juga menyukaimu kang Wulungan."


"Deg !"


Dada Wulungan seperti balon saja,,mekar dan terbang keawan melambung tinggi menembus ruang dan waktu...


"Benarkah kamu menyukai ku Nastiti ?" tanya lagi Wulungan pada Nastiti..


"Iya kang aku suka kamu,, karena kamu sering menolong aku, karena kang Wulung baik pada Nastiti," jawab Nastiti polos.


"Bukan suka seperti itu Nastiti," kata Wulungan.


"Terus suka seperti apa kang Wulung?" tanya Nastiti semakin tidak paham pada arah pembicaraan Wulungan..


"Ya sepeti sukanya Bopo pada Simbok!?"


Nastiti tampak terdiam dengan perkataan Wulungan..


"Aku sudah tidak punya Bopo maupun Simbok kang Wulung," jawab Nastiti sedih.


Kali ini Wulungan semakin pusing. Bagaimana cara menerangkan pada Nastiti!?


Dalam bingungnya ini, mendadak Aryo Seto muncul di hadapan mereka.


Dengan merah padam Aryo Seto berkata pada Wulungan..


"Heh Wulungan ,, kamu sudah hebat ya,,, berani mengajak-ajak Nastiti tanpa sepengetahuanku!" seru Aryo Seto..


"Apa Hakmu harus ijin dulu padamu," bantah Wulungan.


Dalam pembicaraan selanjutnya antara dua pemuda ini tidak bisa mendapatkan titik temu! darah muda mulai bergolak!


"Baik Aryo, kita tentukan dengan kepalan tangan siapa yang berhak memiliki Nastiti!" tantang Wulungan.


Belum selesai Wulungan bicara mendadak Aryo Seto sudah menyerangnya dengan penuh amarah.


Dasar- dasar kanuragan Aryo Seto memang sudah hebat karena telah menyerap ilmu dari gegedug padukuhan Wuni.


Sebuah padukuhan rahasia dan tertutup seperti halnya padukuhan Srengseng ini.. dimana para gegedug nya juga menguasai ilmu ilmu dari masa lalu.


Dalam tempo yang singkat, Wulungan sudah terdesak hebat.


Ilmu- ilmunya sudah terbaca semua oleh Aryo Seto.


Sedangkan Wulungan tidak dapat mengenali ilmu yang di gunakan Aryo Seto.


Hingga suatu saat Aryo Seto berhasil membuat Wulungan jatuh tersungkur. Tubuh yang tinggi besar itu ternyata tidak mampu mengimbangi kekuatan dan kecepatan Aryo Seto yang bertubuh lebih kecil.


Sejak saat itulah Wulungan tidak berani secara terang- terangan mendekati Nastiti lagi.


Dia hanya bisa secara diam diam saja memperhatikan Nastiti.


Dan sejak kejadian itu Nastiti berusaha mencari tahu tentang hubungan antara pemuda dan pemudi, sehingga dia lambat laun memahaminya.


***


Begitu Aryo Seto melihat Tirta Jayakusuma ini, rasa benci mendadak meluap-luap di hatinya, hatinya bergolak dengan hebat..

__ADS_1


Jika kamu mampu mengalahkan pemuda ini dengan cara yang jujur, akan aku serahkan padukuhan Srengseng ini kepadamu Aryo Seto.." kata ki Ranu..


"Tapi jika kalah maka kamu harus menginggalkan padukuhan Srengseng ini untuk selama-lamanya dan jangan sekali-kali menginjak dukuh larangan ini kembali !" Ki Ranu berdiam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya..


"Bagaimana Aryo Seto ?" tanya ki Ranu.


"Bagaimana dengan Nastiti jika aku menang?" balik bertanya Aryo Seto.


"Itu tidak ada hubungannya dengan kemenanganmu Aryo!"


"Karena yang aku pertaruhkan bukan Nastiti tapi hanya kedudukanku sebagai kepala padukuhan ," jawab ki Ranu tegas.


Tampak Aryo Seto mengerutkan keningnya tanda berfikir.


"Baik guru, aku menyanggupi perjanjian ini" jawab Aryo Seto.


Aryo Seto berpikir kalau dia mampu mengalahkan Tirta Jayakusuma maka dia juga akhirnya akan mendapatkan Nastiti sang gadis pujaan nya.


"Hai semua Warga padukuhan Srengseng, jadilah saksi perjanjian ini," seru ki Ranu.


"Iya ki Ranu," jawab para pengawal padukuhan Srengseng serempak.


"Baik kita sepakati demikian Aryo.. Janji seorang laki- laki sejati harus di tepati, "Sekali kuda di cambuk pantang untuk berhenti !" kata ki Ranu.


"Ayo semua mundur agak jauh," seru Ki Amongraga !


Di dekat pintu Regol padukuhan Srengseng ini memang jalannya agak luas dan lapang, cukup untuk melakukan perang tanding.


Di malam yang semakin larut, dua kubu tampak mundur beberapa langkah untuk memberikan tempat yang cukup lapang pada dua jagoan dari masing-masing kubu .


Pandangan Aryo semakin tajam, wajahnya mengeras seiring dipanggilnya aji Bayu Bajra sampai pada puncak pencapaiannya.


Sedangkan Tirta tetap tenang, tapi juga sudah bersiap terhadap serangan dari Aryo Seto.


Sebenarnya pikiran Tirta tidak tenang karena ki Ranu sangat mempercainya sehingga mempertaruhkan posisinya sebagai kepala padukuhan Srengseng ini.. dan mungkin juga Nastiti..


Mengenai Nastiti sendiri sebenarnya dia tidak mempunyai perasan yang lebih, hanya perasaan seperti seorang kakak pada adiknya, akan tetapi pernyataan dari Ki Ranu membuat perasannya jadi bingung dan kacau.


Di Semarang saja sudah ada Iza dan Dinda.


Di jakarta ada Nadine yang tiap saat menggoncang nafsu nafsunya sebagai pemuda yang normal.


Dan sekarang di tambah Nastiti !


Sekarang ini Tirta ibaratnya naik di punggung harimau, jika turun akan di makan harimau, jika tetap berada di punggung harimau tidak tahu akan nasibnya kemudian..


jika dia menang dalam duel kali ini dia pasti akan mendapatkan banyak kesulitan dalam hubungannya dengan ki Ranu dan Nastiti,, dan jika kalah maka malah berbahaya bagi padukuhan ini,, sebuah di lema besar telah menghadangnya!


Akhirnya Tirta pun memutuskan untuk tetap bertarung melawan Aryo Seto apapun hasilnya nanti.


"Biarlah Gusti Allah nanti yang akan menuntunku ," batin Tirta Jayakusuma pasrah.


Sementara Nastiti yang berada tak jauh dari ki Ranu hanya bisa tertunduk, dia tidak berani memandang eyangnya, juga Tirta.


Dirinya hanya merasa bahagia ketika eyangnya menyatakan Tirta sebagai calon cucu menantunya. Yang berarti juga telah menyerahkan dirinya kepada sang pemuda.


Sementara di tengah arena keduanya sudah bersiap,,


Pertarungan antara hidup dan mati segera akan berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2