
Secepat kilat Tirta mengejar mobil Alex yang masih nampak di depannya. ketika jarak kurang lebih lima puluhan meter, mendadak mobil yang tadinya terlihat jelas di depannya menghilang begitu saja, Tirta segera menghentikan larinya.
Dikerahkannya mata batinnya, semua kemampuannya dikerahkan untuk mencari keberadaan mobil Alex..
Suasana hutan yang gelap ditambah kabut yang mulai turun disertai hujan rintik menambah suasana yang gelap dan jarak pandang yang pendek. Suasana benar- benar tidak bersahabat .
Tirta berusaha keras menembus gelapnya hutan untuk mencari keberadaan mobil Alex.
Tirta kemudian duduk bersila, dikerahkannya mata batinnya lagi dengan konsèntrasi penuh! semua ajaran dari Eyang Wasis Jayakusuma telah di kerahkan sepenuhnya, tapi dirasakannya tenaga gaib yang sangat kuat menutupi jarak pandang nya.
Dalam keadaan bersila , mendadak mata batinnya menangkap gerakan yang sangat cepat bagai kilat, walaupun hanya sekilas dia dapat memastikan bahwa itu adalah sosok gadis muda, karena terlihat sekilas rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang ramping.
Tirta segera bangkit dan berusaha mengejar bayangan tubuh yang berlari sangat cepat itu.
Setelah berlari beberapa saat, didepan Tirta terlihat sebuah perkampungan.
Rumah- rumah penduduk di lereng- lereng gunung yang berjajar rapi dengan beberapa lampu yang masih menyala.
Tirta segera menghentikan larinya, karena dia sudah kehilangan jejak dari sang gadis, begitu dia melihat perkampungan ini .
"Tampaknya Desa ini belum teraliri listrik," pikir Tirta. karena beberapa penerangan di sudut sudut rumah terlihat hanya menggunakan penerangan dari senthir ( senthir; lampu penerangan jaman dulu).
Tirta bejalan menyusuri jalan perkampungan dengan pelan,, ketika Tirta sampai di ujung gang, Tirta melihat sebuah rumah yang tampak lebih besar daripada rumah-rumah sebelumnya.
Rumah terlihat lebih terang, dan pendoponya Terlihat terbuka, dengan beberpa senthir ada di tiap sudutnya dan juga di tengah tengah ruangan tersebut.
Tirta segera menghampiri rumah tersebut yang segera dilihatnya ada beberpa orang yang duduk-duduk di kursi ruangan pendopo.
Terlihat seorang tua duduk di tengah tengah, di kelilingi dua orang usia pertengahan, dua orang pemuda dan seorang gadis berambut panjang..
Tirta segera mengenali kalau gadis ini tadi yang sedang iya kejar.
Tirta segera mengucap salam pada orang-orang ini.
"Silakan anak mas, silahkan duduk-duduk dulu,, pasti anak mas kaget melihat kami apalagi melihat Nastiti," orang tua itu menunjuk pada gadis berambut panjang tersebut.
Tirta segera membungkuk hormat dengan tangan menelangkup..
__ADS_1
"Sembah sungkem Eyang, kata Tirta.. " Tirta hanya merasa kalau lingkungan disini terlihat sangat njawani, sehingga dia melakuan penghormatan seperti ini..
Orang tua tersebut tampak gembira dan tersenyum ramah pada Tirta.
"Silakan-silakan anakmas, kata orang tua itu mengulang perkataan nya, karena tampak Tirta belum segera untuk duduk..
"Ayo anakmas, duduk dulu, nanti eyang akan menjawab pertanyaan pertanyaan anak mas yang sudah di ujung lidah itu," kata orang tua itu seperti tahu akan apa yang dipikirkan oleh Tirta.
Tirta segera menempatkan diri di kursi yang kelihatannya di persiapkan untuknya di depan orang tua itu.
"Ayo minum jae anget dulu anak mas." kata orang tua itu..
Tirta duduk dan berdiam sesaat , kemudian tangannya meraih poci dari tanah liat yang berisi jae hangat, tapi alangkah terkejutnya dia,,mendadak poci tersebut bisa seperti hilang lenyap dari hadapannya .
"Kelihatannya aku berhadapan dengan orang-orang yang tidak biasa," pikirnya..
Dikerahkannya mata batinnya untuk menembus energi yang tak kasat mata yang melingkupi poci tersebut, tangannya segera terulur kembali meraih poci dari tanah..!
Begitu tersentuh tangan Tirta, poci segera menunjukkan wujud nya seperti semula.
Semua yang hadir terlihat tersenyum menyaksikan kejadian ini.
Terasa tubuhnya menjadi hangat setelah menyesap jae yang di suguhkan orang tua ini.
"Perkenalkan Saya Tetua di Padukuhan sini anakmas , dan ini para pembantu saya ki Amongraga dan ki Sentanu sedangkan gadis ini pasti anak mas sudah mengetahunya , dia cucu Eyang , Nastiti namanya, dan dua anak muda itu Suro dan Dipo cucu eyang yang lain, orang tua itu memperkenalkan orang orang yang ada di situ semuanya.
"Dan eyang sendiri panggil saja ki Ranu.!"
"Dan anak mas sendiri bernama...."
"Tirta Eyang! Tirta Jayakusuma," sahut Tirta.
"Maaf kan Eyang, anakmas! Eyang harus memanggil anak mas dengan cara seperti ini.. dengan menyuruh Nastiti untuk memanggil anakmas," terang ki Ranu.
"Nastiti Eyang suruh mengundang anak mas kemari. Tidak tahunya malah membuat anakmas kebingungan.."
Nastiti yang disinggung oleh Eyangnya terlihat malu dan menunduk kan wajahnya. Apalagi pemuda yang disuruh eyangnya ini seorang pemuda yang menarik hatinya, sopan dan lembut dengan alis tebal dan pandangan mata yang teduh.. didukung dengan kemampuan yang hebat..
__ADS_1
"Sebenarnya Eyang mengundang anakmas kemari bukannya tidak ada kepentingan apa-apa, akan tetapi ada hal- hal yang sangat penting bagi kami meminta pertolongan dari anakmas.."
"Sejak anakmas melewati daerah kami, Eyang sudah merasakan getaran getaran dari ilmu yang anakmas kuasai.." lanjut ki Ranu.
"Sehingga Eyang kemudian menyuruh Nastiti untuk mengundang anakmas kemari.. " Ki Ranu berhenti sejenak untuk melihat tanggapan sang anak muda di hadapannya.
Tirta segera tanggap, kemudian berkata;
"Jika saya mampu , akan saya bantu ki , tapi apakah saya mampu? saya hanya pemuda biasa yang tidak berkemampuan apa-apa, saya khawatir Ki Ranu akan kecewa nantinya," kata Tirta merendah..
"Ah anakmas terlalu merendah, getaran ilmu anakmas cukup menunjukkan seberapa kuat anakmas ini, sudah sangat jarang di jaman ini anak muda seperti anakmas," kata ki Ranu..
Kemudian ki Ranu bercerita tentang padukuhan tersebut.
Padukuhan itu ternyata adalah padukuhan yang sangat tertutup, jauh lebih tertutup daripada désa Ngadas, Wonokitri dan desa lain yang ada di lereng Tengger.
Padukuhan ini sangat tertutup dan keberadannya pun tidak diketahui orang awam pada umumnya.
Hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaan dukuh ini.
Karena dukuh ini diselimuti oleh energi ghaib yang di pasang oleh orang orang mumpuni pada masa lalu.
Seperti halnya padepokan Mbah Hardjo yang tidak akan terlihat walaupun pada siang hari.
Padukuhan seperti ini ada beberapa di lereng tengger ini. Tersebar di lereng lereng terjal dan tersembunyi.
Penduduknya rata-rata mempunyai doyo linuwih (tenaga lebih).
Padukuhan padukuhan ini mempunyai akar ilmu yang berbeda-beda antara padukuhan satu dengan yang lainnya..
Dan antara padukuhan satu dengan yang lain juga jarang berkomunikasi.
Akan tetapi suatu saat padukuhan yang dipimpin Eyang Ranu atau Ki Ranu, begitu penduduk padukuhan memanggilnya, kedatangan seorang pemuda dari padukuhan lain, anak dari kepala padukuhan yang berniat nyantrik (mengabdi dan berguru) di rumah ki Ranu..
Tadinya ki Ranu menolaknya, akan tetapi si pemuda ini terus menunjukkan itikad baik dan kesungguhan nya untuk nyantrik, akhirnya lambat laun diterimalah sang pemuda.
Karena dilihat nya sang pemuda sangat berbakat dan bersungguh- sungguh serta sopan akhirnya sedikit demi sedikit ki Ranu mengajarkan olah kanuragan kepada sang pemuda.
__ADS_1
Demikianlah sampai akhirnya si pemuda ini yang ternyata bernama Aryo berhasil menyerap semua ilmu Wadag maupun batin dari ki Ranu.