Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Panen Rambutan


__ADS_3

Bayu segera saja mengulurkan tangannya.


"Bayu!" Bayu menyebutkan namanya.


"Murid baru kang Damar" lanjut nya.


"Delima, Mirah Delima" putri Ayah Damar. Delima menyebut namanya.


Kemudian di ikuti Adnan juga memperkenalkan dirinya.


"Aku tinggal dulu ke kebun ya Bay, Adnan. Buah Petai dan Rambutan sudah waktunya dipanen segera," Kang Damar menerangkan.


Ketika Kang Damar hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba Bayu berseru;


"Kang, aku ingin ikut panen, bolehkah? Aku ingin membantu kang kamar!"


"Aku juga Kang," sahut Adnan.


"Eh,, beneran nih kalian ingin ikut Kang Damar ke kebun?"


"Iya kang, mumpung disini, biarlah hari ini kami tidak kuliah dulu,, he he he.."


"Boleh-boleh", jawab Kang Damar.


"Eh nanti dulu , kalian sarapan dulu," Delima mengingatkan.


"Bay, Adnan kalian sarapanlah dulu, nanti kakang tunggu di kebun belakang padepokan, Delima tau kok. Nanti biar sekalian diantar Delima"


"Iya Yah" jawab Delima.


"Ayo mas sarapan dulu, biar Delima yang nyiapin ya.."


Dengan cekatan Delima mengambilkan nasi, sayur dan lauk.


"Ini semua hasil dari kebum di belakang lho mas. Ikannya dari empang di belakang?" Delima lanjut menerangkan.


Bayu dan Adnan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Delima.


Ketika mereka sedang asyik sarapan, Tirta mendadak sudah berdiri di belakang mereka.


"Oo begini ya, nggak mau bangunin aku gara-gara sarapan di temenin cewek cakep?." Tirta langsung saja nyerocos.


"Ahh Mas " seru Delima malu.


"Tadi kamu mau kami bangunin Ta, tapi Mbah Hardjo melarang kami!". protes Adnan


"Lagian Memang Delima cakep lho Ta, jadi kami lupa bangunin kamu, he he he he". Bayu sengaja menggoda Delima..


"Ah mas Bayu bisa aja," Delima tersipu tambah malu.


"Ayo mas Tirta sekalian Delima ambilkan sarapan ya , dengan cekatan Delima sudah menyiapkan satu piring buat sarapan Tirta dan menyerahkannnya pada Tirta.


"Terimakasih ya Del."

__ADS_1


Mereka segera sarapan bersama-sama. Di sela-sela sarapan Bayu menceritakan tentang rencana mereka ikut panen buah di kebun belakang.


Tirta segera menyatakan keinginanya untuk ikut mereka, begitu pula dengan Delima. Delima juga akhirnya hari itu ikutan tidak masuk sekolah demi menemani teman-teman barunya.


Pagi itu mereka dengan gembira membantu panen Kang Damar di kebun belakang padepokan.


Kebun ini cukup luas, hampir 2 hektar yang di kelola Kang Damar dan keluarga. Hasil kebun sendiri sangat berlebihan untuk mereka hidup dengan layak dan berkecukupan.


Hari ini yang di panen adalah Rambutan dan petai, juga beberapa tandan pisang yang memang sudah cukup tua.


"Ayo Bay kamu yang naik, ini galahnya kurang panjang," seru Adnan.


"Waduh, gila kau Adnan, mana mungkin aku manjat!" protes Bayu


"Coba dulu Bay, anggap sebagai latihanmu," seru Tirta mengompori..


"Nggak mau, enggak mau titik?" seru Bayu..


"Sudah sudah Kakang yang akan naik."


Segera saja dengan lincahnya Kang Damar melompat naik.


Pohon Rambutan ini berada di seberang sungai kecil di belakang Padepokan, pohonnya lumayan besar. Kira- kira sepelukan orang dewasa, jadi bisa di perkirakan kalau umurnya sudah tua. Walaupun sudah tua tapi buahnya cukup lebat.


Dengan lincahnya Kang Damar sudah menjatuhkan banyak buah Rambutan.


Dari atas pohon Rambutan Kang Damar memberikan perintah pada Bayu dan Delima untuk megumpulkan buah Rambutan yang jatuh dan di masukkan keranjang yang sudah dipersiapkan sebelumnya


"Ta, Adnan kalian panjat pohon Rambutan yang itu," Kang Damar menunjuk pohon Rambutan yang juga lumayan besar yang berjarak kurang lebih dua puluh an meter dari pohon yang sedang di panen kang Damar sekarang ini.


Melihat ini Bayu langsung berseru;


"Hebaat sekali kau Tirta.!"


Tirta menggunakan galah yang terbuat dari bambu yang ujung nya sudah di beri pisau tajam untuk memotong ranting kecil yang terdapat buah Rambutan di ujungnya.


Sesangkan Adnan dengan agak susah payah memanjat pohon Rambutan yang lainnya lagi.


Dengan cepatnya pekerjaan memanen ini segera kelar. Total ada lima pohon Rambutan dan tiga pohon petai yang berhasil di panen, dengan menghasilkan dua belas keranjang buah Rambutan berukuran besar. Sedang petai yang di petik juga ada dua keranjang. Untuk pisang nya ada lima tandan.


"Alhamdulillah selesai Adi Tirta, Bay Ad, sekarang kita angkut dulu hasil panen ini ke padepokan!"


Kali ini Bayu yang bertubuh bak anak Gajah ingin menunjukkan kekuatannya. Diangkutnya langsung dua keranjang.


"Ini juga termasuk latihan kanuragan buat kalian!" Kang Damar memberitahukan pada mereka.


Sehingga mereka semakin bersemangat dalam membantu Kang Damar.


Ketika semua hasil panen sudah di pindahkan ke padepokan semua nya.


"Waduh pinggangku dan lenganku sakit semua", keluh Bayu.


"Siapa suruh kamu maksain diri kayak gitu sahud Adnan.

__ADS_1


"Walau tenagamu besar , kamu kan belum terbiasa angkat-angkat berat, apalagi jarak dari kebun kesini lumayan jauh," Tirta menaggapi.


"Iya benar apa yang di katakan Tirta Bay" Kang Damar ikutan menanggapi.


"Tapi nanti kalau kalian sudah terbiasa juga pelan- pelan tubuh kalian akan kuat dan mapan."


"Oh ya, kalo kalian pulang bawalah sebagian Petai Rambutan buat oleh oleh di rumah."


"Nanti kalian bisa ikut Kakang ke pasar buah di Mijen buat menjual hasil panen ini" ajak Kang Damar.


Siap kang!" jawab mereka serempak.


Kang Damar segera pergi untuk mengambil mobil bak terbuka yang memang sudah dipersiapkan nya.


Hari ini seharian Tirta dan kawan- kawannya sibuk membantu Damar.


Sebelumnya Tirta sudah ijin sang Ibu sedangkan Bayu kuga ijin kakanya. Adnan tidak ijin siapa-siapa karena dia anak Kos.


Ini merupakan pengalaman yang baru bagi Tirta Bayu dan Adnan, mereka menikmati kegiatan di padepokan dengan semangat dan gairah menggebu khas pemuda dengan energi berlimpah.


Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat nya, malam sudah menjelang.


Sehabis Isya.


Terlihat di sungai kecil di belakang padepokan, Kang Damar memberikan petunjuk- petunjuknya pada Bayu dan Adnan.


Beberapa kali Bayu dan Adnan jatuh ke air sungai, tapi mereka tidak patah semangat, mereka terus berlompatan dari satu batu ke batu yang lain. Baju mereka sudah basah kuyup.


Di tempat lain di lereng yang berbatu dan terjal.


Tirta berusaha mengasah ilmu barunya, Tapak Geni dan Tameng Waja.


Kali ini Tirta berdiri tegak di antara batu batu terjal di lereng Gunung Ungaran. Sedangkan Mbah Hardjo berdiri dalam jarak kurang lebih lima meter di depan Tirta.


"Bersiaplah Ngger, Mbah akan mulai mengujimu. Kerahkan Tameng Waja mengitari tubuhmu!"


Mbah Hardjo segera mengambil bebatuan kecil di sekitarnya dan mulai di sambitkan ke arah Tirta.


Batu-batu sebesar telur puyuh di lemparkan Mbah Hardjo dengan cepat kearah tubuh Tirta.


Segera terjadi batu-batu tersebut membentur tubuh Tirta dengan mengeluarkan suara dentingan seperti batu membentur logam.


Ya, tubuh Tirta berubah seperti logam, keras bagai baja.


Mbah Hardjo kemudian menambah kecepatan dan kekuatan sambitannya.


Hati-hati Ngger, tambahkan tenaga pada Tameng Waja.seru Mbah Hardjo.


Kali ini suara desiran batu makin nyata, pertanda kecepatan dan kekuatannya bertambah.


Kali ini benturan yang terjadi menimbulkan suara yang lebih keras.


Tirta segera merasakan nyeri di bagian tubuh yang terkena sambitan batu- batu kecil yang di lemparkan Mbah Hardjo.

__ADS_1


Di pusatkannya segenap akal budi nya dan di kerahkannya tenaga dari pusarnya untuk melindungi tubuh bagian luar.


__ADS_2