
Fredy yakin, belatinya pasti akan membuat telapak tangan pemuda di depannya putus atau terluka parah..
Tapi.......... Terkaan dan prediksi mereka jauh dari kenyataan.
Belati Fredy tidak pernah melukai telapak tangan Tirta, justru malah sebaliknya, belati tidak bisa dipertahankan dari genggaman Fredy dan jatuh ke tanah karena sentakan telapak tangan yang kuat dari Tirta.
Sekarang Fredy benar-benar terkejut , orang yang mampu menahan serangannya hanyalah Leo, yang merupakan guru dan mentornya!
Fredy tertegun berdiri di tempatnya sejenak, setelah sadar dari terkejutnya dia dengan secepat kilat memindah belati dari tangan kiri ke tangan kanan dan melanjutkan serangan dengan tangan kanan.
kali ini dia lebih berhati-hati supaya kejadian tadi tidak terulang.
Leo yang menyaksikan kejadian ini mulai sadar bahwa lawan benar-benar tangguh, dan apa yang di sampaikan oleh Ramon bahwa pemuda- pemuda ini sangat tangguh benar adanya.
"Jim, Gendon, Asep maju kalian semua! habisi secepatnya!" perintah Leo pada anak buahnya yang lain.
Anak buah Leo yang di ajak menyelesaikan pekerjaan kali ini ada empat orang, lima orang termasuk Leo.
Anak buah yang tadinya hanya menonton saja akhirnya turun gelanggang semua.
Bayu dan Adnan yang tadinya hanya menonton, juga mulai bersiap, walau sebenarnya mereka tau, tanpa merekapun Tirta akan mampu menyapu bersih para pembunuh ini.
Bayu memungut pisau belati Fredy yang tadi terjatuh. Sedangkan Adnan mencari apapun yang sekiranya bisa di gunakan sebagai senjata. Dan pandanganya tertuju di bawah pohon kamboja, di mana tergeletak sekop yang kelihatannya punyanya tukang taman.
Setelah mendapatkan sekop,
pertarungan segera terjadi lagi dengan seru.
Empat pembunuh bayaran melawan Tirta Bayu dan Adnan.
Sambil bertarung Tirta mengawasi Bayu dan Adnan. Dia khawatir keduanya mengalami cedera seperti kejadian melawan Hans.
Tirta tidak ingin sahabat-sahabat seperjuangannya mengalami cedera.
Setelah bertarung beberapa saat, terlihat bahwa kemampuan Bayu dan Adnan mampu mengimbangi Jim dan Gendon yang bertarung dengan kasar dan berteriak-teriak keras mengacaukan konsentrasi.
Bayu dan Adnan hanya kalah dalam pengalaman saja.
__ADS_1
Setelah mengetahui keadaan dua sahabatnya, Tirta yakin Adnan dan Bayu masih bisa bertahan dalam waktu yang lama dan tidak akan mudah di kalahkan.
Tirta segera menambah kekuatan wadagnya. Tandangnya makin Nggegirisi (menakutkan) cepat dan kuat!
Kali ini Tirtaa tidak banyak mengelak, Tameng Waja dan Lembu Sekilan jadi andalannya.
Asep dan Fredy sudah tidak mampu lagi bertarung dengan baik, pukulan Tirta beberapa kali menyakiti Asep dan Fredy.
Umpatan dan cacian keluar dari mulut Asep dan Fredy. Hingga suatu saat keduanya terlempar dari arena pertarungan dan tidak sanggup berdiri, karena ternyata dengkul mereka telah pecah terkena tendangan Tirta yang keras yang sengaja memang untuk melukai dua pembunuh bayaran ini agar kelak insaf dan bisa menjalani hidupnya sebagai manusia biasa! bukan sebagai pembunuh!
Leo terkejut bukan buatan.
Sudah terlambat bagi dia menyelamatkan dua anak buahnya, Fredy dan Asep!
Dengan kemarahan yang meluap-luap dia segera menerjang kearah Tirta dengan dua buah belati di tangan kanan dan kirinya!
Belati yang di gunakam agak berbeda dengan belati yang di gunakan anak buahnya!
Belatinya melengkung dan agak panjang dan terlihat sangat tajam di ujungnya.
Kekuatan dan kecepan Leo beberapa kali lipat di banding anak buahnya.
Apalagi Leo dalam keadaan marah besar, gerakannya semakin bertambah cepat saja.
Akan tetapi kali ini yang di hadapi adalah Tirta Jayakusuma, seorang pemuda yang mewarisi ilmu-ilmu kuno yang jarang di temui di jaman ini!
Tiap kali belati selalu dapat di hindari oleh Tirta dengan mudahnya, dan beberapa kali pula Tirta sengaja membenturkan lengan nya dengan belati yang tajam itu! dan setiap kali pula belati itu tidak dapat melukai tubuh Tirta.
Leo semakin penasaran, kemarahannya semakin menjadi-jadi. Dia yang notabene mantan anggota pasukan kusus terbaik, dan pembunuh bayaran kelas intenasional mengalami kesulitan mengalahkan pemuda ingusan ini.
pertarungan masih terus berjalan dengan serunya!
Bayu dan Adnan masih berjuang mati-matian melawan Jim dan Gendon yang masing-masing bersenjatakan belati, senjata khas, kelompok Leo.
Bayu bertarung cukup efektif, karena dia tidak terlalu banyak bergerak, tapi setiap serangan lawan selalu saja berhasil di patahkannya.
Sedangkan Adnan bertarung dengan lincah melawan Gendon yang berperawakan agak kecil tapi sangat lincah. Dengan sekop di tangan, menjadikan dia menang dalam hal jangkaun serangan.
__ADS_1
Gendon beberapa kali hampir saja terkena sapuan sekop di tangan Adnan.
Pertarungan antara Tirta dan Leo adalah pertarungan yang luar biasa seru, setiap serangan yang di lancar kan Leo benar- benar menebarkan aura kematian.
Leo bertarung dengan cepatnya, belatinya menderu-deru mengurung Tirta dari segala penjuru! Kekuatan dan kecepatan Tirta dikerahkan hanya untuk mengimbangi Leo saja. Leo tidak menyadarinya! Yang Leo tahu Tirta bertarung berimbang saja dengan dirinya. Padahal Tirta hanya mengerahkan sebagian saja Ilmunya untuk menghadapi Leo!
Leo mengerahkan segenap kekuatan dan pengalamannya sebagai pembunuh professional. Tapi tetap saja dia tidak sanggup menaklukkan pemuda lawannya ini dengan segera.
Dia sadar lokasi mereka bertarung ini sebentar lagi akan ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang melakukan kegiatan sehari-hari.
Hingga dalam suatu kesempatan dia melompat jauh kebelakang, Tirta tidak segera mengejarnya.
"Cukup, kali ini aku gagal tapi lain kali aku pasti berhasil membunuhmu Tirta!" Kata Leo menutupi kelemahannya .
"Akan aku tunggu kedatanganmu Leo, aku harap ketika kamu datang tidak dengan permusuhan , tapi datang sebagai seorang teman." kata Tirta.
"Baik Tirta, Nanti malam akan aku tunggu kamu di pantai utara, di pantai Alam Indah ! kita tentukan Kamu atau Aku yang terakhir berdiri sebagai pemenang!"
"Jim, Gendon ayo mundur," perintah Leo pada dua anak buahnya ini.
Jim dan Gendon segera melomlat mundur juga dari pertarungannya melawan Adnan dan Bayu!
"Huh ternyata hanya segini saja ya kemapuan kalian,!" ejek Bayu sambil tersenyum menghina.
Leo benar- benar marah oleh ejekan Bayu, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa, memang kenyataannya kali ini dia gagal.
Dia tidak pernah gagal sebelumnya dalam menjalankan pekerjaan nya sebagai pembunuh bayaran!.
"Jim, Gendon ! papah Fredy dan Asep ke mobil!" perintahnya.
Jim dan Gendon segera memapah Fredy dan Asep menuju sebuah mobil Van yang terparkir tidak jauh dari situ.
Mereka kemudian megundur diri dengan memapah dua rekannya yang tulang tempurung lututnyanya pecah akibat tendangan Tirta.
"Jangan berani-berani menantang kami lagi hai Leo tukang jagal kambing!" seru Bayu mengejek!
"Huh anak gendut sialan! Nanti malam aku tunggu kalian di pantai utara, di pantai Alam Indah!" Leo menekankan kembali tantangannya nanti malam.
__ADS_1
Dia merasa kurang puas dan masih penasaran dengan kemampuan bertarung anak- anak muda ini terutama Tirta dan tanpa adanya gangguan dia berharap bisa menghabisi para pemuda ini.
Para ahli bela diri seperti Leo akan sangat bernafsu bertarung dengan orang-orang yang dianggapnya kuat dan jadi kebanggaan tersendiri jika dia mampu mengalahkannya.