
Sang Master mulai merasa dia tidak akan bisa menang melawan pemuda ceking ini. keinginan untuk bertarung mulai surut. Dia juga mulai sadar bahwa pemuda didepannya ini telah memberi muka kepadanya.
Sebelum tenaganya benar-benar habis dan membuatnya pingsan, sang Master segera melompat kebelakang dan berdiri membungkuk pertanda hormat dan berkata;
"Saya kira pertarungan ini tidak akan bisa selesai . Kita akhiri pertarungan ini seperti tidak pernah ada pertarungan di antara kita."
Dengan berkata seperti ini, sang Master sudah cukup merendahkan dirinya pada pemuda di depannya ini.
Para penonton pun banyak yang paham bahwa sang Master sudah kelelahan.
"Trimakasih master telah mengalah padaku, kedepannya sudilah kiranya memberikan petunjuk padaku," jawab Tirta merendah.
"Jika bukan karena kerendahan hati Master, aku pasti sudah hancur."
mendengar kata-kata Tirta, sang Master merasa malu dan tersenyum kecut, tanpa basa- basi lagi segera melangkah keluar dojo dengan melambai kearah Aldi.
Aldi segera mengikuti dibelakang gurunya tanpa berkata apa-apa lagi.
Hatinya sakit hati dan hancur, keinginanya mempermalukan Tirta di depan orang banyak malah membuat dirinya malu luar biasa.
Setelah Aldi dan gurunya meninggalkan Dojo, Tirta segera mengajak kawan-kawannya kembali ke basecamp WanaHardi.
Sejak dari Dojo hingga basecamp WanaHardi tak henti-hentinya mereka memuji-muji Tirta. Semakin dipuji Tirta semakin malu, terutama Bayu yang tak henti-hentinya memuji Tirta setinggi langit dan tak lupa dia juga membanggakan dirinya yang sudah berhasil mengimbangi Aldi.
Iza yang memang menjadi pokok permasalahan antara Aldi dan Tirta pun semakin kagum pada pemuda pujaan hatinya tersebut. Semakin mantap hatinya melabuhkan hatinya pada sang pemuda.
Sesampainya di basecamp WanaHardi, sebagian langsung pulang, sedangkan yang tinggal hanyalah Iza dan kelompok nya Tirta.
Dinda yang sejak tadi diam sebenarnya ingin banyak-banyak bicara dengan Tirta akan tetapi sejak tadi Iza tidak pernah beranjak dari sisi sang pemuda.
"Ta, akhir-akhir ini kamu jarang sekali mampir ke basecamp, sesibuk itukah kamu?" Iza memulai percakapan.
"Mama sering nanyain kamu Ta, Mama juga menyuruh aku memgajak kamu main ke rumah. Papa aku juga penasaran ingin kenal kamu Ta" bujuk Iza.
Sejak Tirta diperkenalkan Iza pada Mamanya, seringkali Mamanya menanyakan ke Iza kenapa Tirta tidak lagi main ke rumah. Bahkan Papanya yang juga mendengar cerita dari Iza dan Istrinya pun menjadi penasaran ingin melihat Tirta secara langsung.
__ADS_1
Apalagi Istrinya dan Iza mengatakan bahwa Tirta sangatlah mirip dengan anak mereka Farhan yang telah tiada, menyebabkan Papa nya Iza semakin penasaran ingin menemui Tirta.
"Mama sudah kangen sama kamu Ta, Papa juga ingin ketemu kamu," lanjut Iza.
"Baiklah Iza, kapan kapan aku akan ke tempat kamu. Kalo aku ada waktu luang aku akan kesana. Sekarang ini Aku bersama Bayu dan Adnan masih agak sibuk. maafkan Tirta ya Iza," jawab Tirta.
Iza yang mendengar jawaban Tirta menjadi kecewa , Tapi di simpannya didalam hati, sambil tersenyum dia berkata;
"Ya sudahlah nanti kalo kamu sudah ada waktu luang, aku di kabarin ya".
Karena waktu sudah semakin malam Tirta segera mengajak untuk bubar, Nani dan Tia pulang ke kos, Dinda dan Iza masing masing membawa mobil sendiri sendiri. Tirta, Bayu dan Adnan segera kembali ke padepokan.
Sesampainya di padepokan, Mbah Hardjo dan Eyang Pandu sedang duduk berhadap hadapan di pendopo. Ditengah tengah keduanya ada papan catur. Tampaknya mereka sedang sibuk bermain catur.
Dengan tangan masing- masing memegang rokok klobot di salut kopi.
Tampaknya mereka sedang berkonsentrasi penuh pada bidak-bidak catur sehingga kedatangan Tirta, Bayu dan Adnan tidak diperhatikan.
"Assalamualaikum" Tirta, Bayu dan Adnan segera mengucapkan salam begitu kaki-kaki mereka melangkah memasuki pendopo.
Tanpa menoleh keduanya membalas salam, dan terus memainkan bidak -bidak catur. Tampaknya permainan mereka memasuki babak-babak kritis sehingga konsentrasi mereka tidak mau terpecah.
"Ahh kalah lagi kalah lagi!" seru Mbah Hardjo dengan nada kecewa.
Akhirnya permainan mereka berhenti dengan kemenangan Eyang Pandu.
Ketika ketiganya sudah duduk disebelah kedua orang tua tersebut, Eyang Pandu langsung bertanya,
"Kalian kok agak malam pulang ke padepokan, kami sudah menunggu kalian sejak tadi".
"Maaf Eyang tadi ada sedikit kendala di kampus kami Eyang," jawab Tirta.
"Benar Eyang, kami tadi menghadapi Anak-anak karate di kampus kami!" Bayu segera saja menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi di kampus.
Eyang Pandu dan Mbah Hardjo mendengarkan dengan serius, sekali kali mereka memberikan tanggapan.
__ADS_1
"Apa yang Tirta lakukan sudah benar, tapi ada kalanya kita harus bersikap tegas menghadapi orang- orang seperti Aldi itu Ngger," Eyang Pandu memberikan pendapatnya.
"Dan kamu Angger Bayu, jangan terlalu berbangga hati dulu, kamu harus lebih bisa menjaga emosimu kedepannya dan berlatih lebih keras lagi, jangan cepat puas akan apa yang telah engkau capai hari ini."
"Iya Eyang Pandu," jawab Bayu.
Setelah beristirahat sejenak kemudian mereka seperti biasa melanjutkan latihan kanuragan. Hari ini Damar tidak ke padepokan. Mbah Hardjo hari ini ingin mengajak Bayu dan Adnan untuk pertama kali naik ke puncak Gunung Ungaran.
Bayu dan Adnan segera menyetujui nya, walau agak ragu karena khawatir dirinya tidak sanggup naik hingga puncak, tapi Mbah Hardjo meyakinkan Bayu dan Adnan kalo mereka pasti bisa sampai ke puncak Ungaran.
Tepat jam satu dinihari, mereka berlarian dengan cepat menyusuri lereng lereng, melompati lembah dan bebatuan mendaki ke arah puncak.
Dengan susah payah Bayu mengikuti Di paling belakang karena kecepatannya memang yang paling payah.
Melihat Bayu yang kepayahan, Mbah Hardjo dan Eyang Pandu yang berada paling depan segera mengurangi kecepatan lari mereka sehingga Bayu tidak tertinggal terlalu jauh.
Ketika mereka sampai di puncak, Bayu benar-benar sudah kehabisan nafas, dia langsung duduk di atas sebuah batu gunung yang besar dan mengatur pernafasannya.
Diatas puncak Ungaran, Tirta segera di gempleng oleh Eyang Pandu. Penguasaan Ajian-ajian yang di kuasai sebelumnya di latih berkali-kali untuk bisa mendapatkan inti sarinya.
Aji Lembu Sekilan, Aji Tameng Waja dan Aji Tapak Geni!.
Di tempat yang tidak jauh dari Tirta dan Eyang Pandu, Mbah Hardjo sedang memberikan petunjuk petunjuk pada Bayu dan Adnan. Keduanya sedang diajarkan ilmu kanuragan yang dipunyai oleh Mbah Hardjo yang bersumber dari turun temurun penjaga padepokan ini yang memang peruntukannya agak terbuka dan lebih untuk menjaga kelangsungan padepokan. Akan tetapi ilmu itupun termasuk juga ilmu kanuragan yang luar biasa dan sudah langka di jaman ini.
Ketika dari jauh terdengar sayup-sayup Adzan Subuh berkumandang, mereka segera menghentikan latihan kanuragan di puncak gunung.
"Marilah Angger Tirta, Angger Bayu Angger Adnan, kita akhiri dulu latihan kali ini, besok malam kita kesini lagi."
"Njih Mbah" jawab mereka serempak.
Dengan berlari naik dan turun Gunung fisik mereka benar-benar di latih dengan luar biasa, melebihi latihan dalam bentuk apapun!
Sudah hampir sebulan Tirta Bayu dan Adnan berlatih secara khusus di padepokan. Mereka banyak menggunakan waktu luang untuk berkebun bersama Damar dan Mbah Hardjo juga Delima dan Eyang Pandu.
Hubungan mereka menjadi tambah erat dan akrab seperti keluarga sendiri.
__ADS_1
Bayu sudah tidak lagi menumpang di rumah kakaknya, hanya sekali kali kalo ada waktu dia mengunjungi kakanya. Sedangkan Adnan sudah keluar dari tempat kost yang selama ini dia tempati.
Tirta masih sering pulang kerumah, seringnya setelah pulang dari kampus dia mampir kerumah, karena Ibu nya sering khawatir akan anak sulungnya ini. Dan kadangkala Bayu atau Adnan ikutan main kerumah Tirta, sehingga merekapun akrab dengan keluarga Tirta.