
Iza hanya tersenyum tipis mendengar perkataan bapaknya Tirta.
Ibu dan Tirta kemudian bergabung dalam perbincangan hangat di ruang tamu kecil yang hanya berukuran tiga kali empat meter saja.
Ibu segera duduk disamping pak Joyo.
Beberapa saat kemudian Tirta dengan agak ragu berkata pada bapak dan Ibunya.
"Pak, Bu orangtuanya Iza pak Fajrul dan Mamanya Iza ingin mengundang Bapak dan Ibu untuk berkunjung kesana," kata Tirta dengan pelan dan terlihat agak canggung.
"Ada apa to mas, kok mendadak orang tuanya mengundang kami," jawab Ibu..
"Ya nanti kan Bapak dan Ibu akan tau sendiri," jawab Tirta,,
"Apa benar demikian Mbak Iza?" tanya Ibu memastikan tentang undangan ini..
"Iya Bu," jawab Iza.
"Papa dan Mama memang ingin bertemu Dengan Bapak dan Ibu," lanjut Iza.
"Kira-kira ada apa ya mbak Iza,? lanjut Ibu,,
"Apa mungkin Tirta berbuat salah pada mbak Iza?" tanya ibu menebak nebak..
"Apa mungkin mbak Iza haam ,,, maaf mbak,,, hamilkah??"
"Waduh Ibu,,, !" protes Tirta,,,
"Endaklah !" seru Tirta,,
Iza yang mendengarkan perkataan Ibunya Tirta tampak malu,,, wajahnya jadi memerah..
"Endak kok Bu," jawab Iza..
"Ahh sudahlah Bu,, nanti juga kita tahu kalau sudah ketemu orang tuanya nak Iza," kata Bapak.
"Kalo memang nak Iza hamil juga gak papa kok Bu,tinggal kita nikahin saja,, bisa dapet nak Iza saja kita sudah sangat bersyukur," lanjut Bapaknya Tirta.
"Ya sudah mas Tirta, Bapak sama Ibu bersedia menerima undangan orang tua nak Iza,, kira- kira kapan kami bisa kesana?" kata pak Joyo lagi.
"Kalau bisa sih secepatnya Pak, Bu?" kata Iza.
"Bagaimana kalo sore ini saja nak Iza," kata bapak,,,,,,,,,,,
***
Ya memang pak Joyo ini senang dengan hal-hal yang spontanitas.
Kadangkala dulu sewaktu anak anaknya masih kecil , sukanya mendadak pergi jauh Tanpa rencana.. Tadinya satu keluarga cuma mau pergi keluar rumah mencari makan malam, eh tau-tau pergi ke Jogja atau bahkan ke Dieng, Kebumen , Salatiga dan kota kota lain ! padahal bawa uang pun hanya cukup buat beli bensin doang..
Alhasil ya makannya hanya mi instan yang di masak sendiri karena di dalam mobil memang selalu di siapkan gelas pemanas.
Bahkan yang lebih gila lagi, pernah bapak bilangnya mau ke kota Kendal mengunjungi teman kuliahnya,, eh ndak taunya sampai di kota Bandung !! Benar bener spontanitas yang kebablasan.
***
"Mumpung hari ini Bapak dan Ibu tidak ada kegiatan?" jawab Bapak.
"Iya mbak Iza, coba hubungi orang tua mbak Iza, kalau sore ini kita ketempat orang tua mbak Iza bagaimana?" kata Ibu.
"Sepertinya sih bisa Pak , Bu.. coba
__ADS_1
saya pastikan dulu." kata Iza.
Iza segera menelpon Mama nya .
"Iya malah lebih bagus Iza!" jawab mamanya
"Ini nih papamu malah bilang kalau sekarang pun enggak masalah.." jawab sang Mama.
"Iya mah, ini aku sedang bersama Bapak dan Ibu Tirta.".jawab Iza.
Demikianlah akhirnya diputuskan oleh pak Joyo, untuk segera berkunjung ke rumah pak Fajrul sore hari sekitar jam 3 sore.
Setelah itu Bapak dan Ibu Tirta tampak pergi keluar mengendarai motor berdua, katanya sih mau nyariin oleh-oleh buat Papa dan Mama Iza.
Sorenya Pak Joyo dan Ibu Tirta bersama Tirta dan meluncur ke rumah pak Fajrul yang berada di daerah Ngalian kota Semarang dengan mobil Nissan Navara yang di bawa Iza.
ketika memasuki komplek Pak Joyo tampak kaget .
"Ta, ini mau kemana, kok masuk daerah super elit kayak gini.. rumahnya bagus bagus lagi.!" kata pak Joyo..
"Ya kerumah Mbak Iza lah Pak!? mau kemana lagi," jawab Ibu sok tahu..
Setelah sampai di depan pintu gerbang yang tinggi,.
Pintu gerbang besar tersebut segera di buka dari dalam.
Begitu terbuka tampak pak Dul berdiri di posnya dan mempersilakan masuk..
Tampaknya pak Joyo dan Ibu Tirta begitu kagetnya..
"Ini rumah mbak Iza?" tanya Bapak dan Ibu serempak.
Dengan takjub dipandanginya rumah bercat putih bak istana negara yang berdiri kokoh di depan sana..
"Ndak Pak, ini rumah keluarga kami !" jawab Iza..
"Mari Pak, Bu," ajak Iza sambil menggandeng tangan Ibu Tirta berjalan menuju rumah megah itu.
Sesampai di depan rumah tampak pak Fajrul dan Mama Iza sudah berdiri. di ujung tangga atas.
Pak Fajrul segera menyambut Bapak dengan jabatan tangan yang erat dan Mama Iza memeluk erat Ibu Tirta..
"Saya Fajrul Papanya Iza Pak, Bu ! dan ini Mamanya Iza.." kata pak Fajrul mengenalkan dirinya dan sang Istri pada Bapak dan Ibunya Tirta.
Kemudian Pak Joyo segera memperkenalkan dirinya!
"Saya Joyokusumo pak Fajrul, bapaknya Tirta Jayakusuma, dan ini Ibunya Tirta," kata pak Joyo memperkenalkan dirinya dan juga istrinya.
"Ayo silakan masuk pak Joyo, Bu," kata Mama Iza ..
Mereka kemudian memasuki rumah megah tersebut..
Bapak dan Ibu Tirta masih tampak rikuh dan ewuh pekewuh (segan) memasuki rumah megah ini..
Selama hidupnya mereka belum pernah memasuki rumah semegah ini.
"Rumah apa istana ya Bu," bisik pak Joyo pada istrinya..
"Ahh,, jangan ndeso gitu pak, malu maluin tau..!" jawab ibu pelan.
Setelah melewati ruangan depan , mereka kemudian sampai di rumah keluarga.
__ADS_1
"Mari pak Joyo Bu Joyo,. silahkan duduk," pak Fajrul mempersilahkan mereka untuk duduk.
Setelah berbasa-basi beberapa saat lamanya, kemudian pak Fajrul mulai ke pokok pembicaraan..
"Begini pak Joyo dan Bu Joyo,,
Mas Tirta ini sudah kami anggap seperti anak kami sendiri.."
"Sejak beberapa tahun yang lalu kami telah kehilangan putra pertama kami, Farhan ! Dan sekarang ini kami menemukan diri Farhan pada diri mas Tirta," kata pak Fajrul.
"Dan sangat kebetulan sekali Mas Tirta ini mempunyai hubungan yang sangat dengan dengan Iza anak gadis kami satu- satunya.. " pak Fajrul diam sejenak sambil memandangi kedua orang tua Tirta.
"Setelah beberapa jenak kemudian pak Fajrul melanjutkan bicaranya.
"Jadi kami mempunyai keinginan untuk mengikat kan mereka dalam sebuah perkawinan......
Tapi sebelum itu kita tunangkan mereka terlebih dulu.."
"Bagaimana menurut pak Joyo dan bu Joyo ?" pak Fajrul tampak menarik nafas dalam-dalam setelah mengatakan ini.
Karena bagaimanapun juga dia adalah orang kaya raya dan terpandang di kota ini.
Dengan mengatakan hal ini lebih dulu sebenarnya adalah sangat memalukan,, anaknya yang cantik, yang tidak akan kekurangan pria pria gagah tampan dan dari keluarga kaya banyak menginginkan Iza untuk jadi istri mereka..
Eh, sekarang dia yang harus meminta pada orang tua Tirta Jayakusuma ..
Istilahnya nya keadaan seperti ini adalah "Ngunggah unggahi" dalam budaya Jawa.
Tampaknya pak Joyo dan Ibu Tirta sangat terkejut mendengar perkataan pak Fajrul..
Sesaat kemudian pak Joyo segera menjawab pernyataan pak Fajrul..
"Pak Fajrul apa tidak salah?? Lihatlah kami ,,. dari mana kami dan bagaimana kami?" tanya pak Joyo..
"Tirta anak kami hanya pemuda miskin,, pemuda yang biasa,, pemuda yang jauh dari kesempurnaan,, ? !" kata pak Joyo lagi.
"Apakah pak Fajrul tidak akan menyesal nantinya,,?" lanjut pak Joyo.
"Kami tidak memandang derajat seperti itu pak Joyo, kami tidak memandang kekayaan , kami hanya melihat diri mas Tirta yang baik, rendah hati dan yang paling penting adalah kebahagiaan anak kami satu satunya.. jawab pak Fajrul.
"Semua hanya untuk kebahagiaan anak Kami Iza," jawab pak Fajrul cepat.
Iza sudah sangat mencintai Tirta, anak Bapak,, " kata pak Fajrul lagi..
"Jadi tolong jangan bicarakan derajat di dunia ini .." kata pak Fajrul..
"Harta, kekayaan, jabatan, kekuasaan semua ini hanya titipan dari Gusti Allah yang tiap saat bisa di ambil Nya!"
"Kalo kita sudah di tanam di dalam tanah, apa yang masih kita bawa pak..?" kata Fajrul lagi..
"Hanya Amal jariyah, Ilmu yang bermanfaat bagi orang lain dan anak-anak Sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya," lanjut pak Fajrul.
Pak Joyo dan Ibu Tirta sangat senang mendengar ini.
Mereka tak menyangka orang yang super kaya seperti pak Fajrul ini mempunyai pemikiran dan cara pandang yang semeleh.
Sudah sangat jarang orang-orang kaya yang mempunyai pandangan tentang hidup yang seperti ini..
Biasanya orang-orang seperti pak Fajrul akan memandang harta dunia adalah segalanya.
Pak Joyo dan Ibu sangat terharu mendengar kata- kata seperti ini meluncur dari mulut pak Fajrul..
__ADS_1
Air mata meleleh dari mata bening Iza ,,.
Dia bahagia,, Dia sangat bersyukur mempunyai Papa yang demikian mencintainya dan tahu perasannya..