
Di kediaman Mr Budiman.
Setelah mendapatkan laporan akan kegagalan dari pasukan pembunuhnya, tampaknya membuat Mr Budiman harus berpikir keras untuk membuat langkah-langkah berikutnya..
Walaupun kegagalan-kegagalan kali ini membuat sumber dayanya merosot drastis akan tetapi dana yang di punyai Mr Budiman benar-benar luar biasa banyak hasil dari berbagai usaha kekahatannya.
Bisnis ilegalnya sudah menggurita dari narkoba hingga perdagangan manusia.
"Peter !" panggil Mr Budiman,
"carilah orang-orang baru yang bisa kamu dapatkan, dana tidak akan aku batasi,, dan tanyakan juga pada Hendra siapa sebenarnya tiga pemuda ini," kata Mr Budiman.
"Pelan- pelan saja Peter,,jangan terburu buru.. kali ini aku tidak ingin ada kegagalan lagi.
Tampaknya Mr Budiman mulai menyadari kekuatan lawan kali ini.
"Selidiki juga latar belakang tiga pemuda ini, dan untuk sementra waktu hentikan urusan untuk mengakuisisi saham si Michael.."
"Baik Mr, " sahut Peter..
Rekrut lah orang-orang baru,, darimanapun, yang penting kuat dan hebat.. Jangan bergerak dulu sebelum kamu yakin akan orang orangmu. lanjut Mr Budiman.
"Oh ya Peter, pasok lagi sabu sabu juga mariyuana juga heroin buat Hendra, kata Mr Budiman lagi, gerakkan Jaringan distribusi kita."
"Baik Mr Budiman..sahut Peter.
***
Sore itu Nadine mengajak Tirta untuk berjalan-jalan di mall di tengah kota Jakarta,
Hari ini Nadine terlihat ceria setelah tadi sempat juteg karena Angel dan Sely. Dia berjalan dengan menggandeng lengan Tirta layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara..
Di Mall, Nadine sengaja mengajak ke bagian pakaian cowok, Dia membelikan baju- baju bagus untuk Tirta walaupun pada mulanya di tolak oleh Tirta.
Dan setelah membeli beberapa potong baju , Nadine mengajak Tirta makan di salah satu tempat favorit nya di mall tersebut.
Saat mereka asik makan sambil ngobrol , terlihat seorang gadis cantik manis dengan tersenyum mendekati meraka.
"Nadiiine ,,!! serunya,
Nadine segera menengok..
"Ranii ,,?" teriaknya terkejut.
Nadine segera berdiri dan memeluk gadis itu..
"Kapan kembali kemari seru Nadine.. gembira sambil saling memegang tangan Rani.
"Iya barusan jawab Rani...
Nadine kemudian mengajak Rani untuk bergabung dengannya dan Tirta.
Rani ini adalah sahabat Nadine sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA. Setelah tamat SMA, Rani melanjukan kuliah di luar negeri, karena memang Rani ini mempunyai prestasi akademik yang baik.. dan dukung kedua orang tuanya untuk melanjutkan studi diuar negri.
__ADS_1
"Kamu sedang liburan di sini?" tanya Nadine membuka pembicaraan.
"Bukan sih," jawab Rani pelan.
"Terus??" tanya Nadine lagi..
Rani tampak ragu untuk bercerita, Nadine segera paham akan keraguan Rani,
"Oh ya kenal kan ini cowok aku, Tirta namanya."
Tirta yang diperkenalkan beberapa kali sebagai cowoknya Nadine hanya tersenyum kecil saja tidak protes, padahal Nadine juga belum pernah minta persetujuannya untuk itu.
"Salam kenal ya," sapa Rani seraya mengulurkan tangannya yang lembut pada Tirta,
"Tidak usah ragu, untuk bercerita pada kami Ran, mungkin saja kami bisa mebantumu mengatasi kesulitan," kata Nadine.
Akhirnya Rani berbagi cerita kepada Tirta dan Nadine.
Rani ini sebetulnya adalah seorang anak kembar, saudaranya bernama Randi.
Orang tua Rani dan Randi sebenarnya cukup kaya, karena mempunyai sebuah toko elektronik yang lumayan besar di daerah Glodok.
Rani dan Randi ini kedua nya dimanja oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Hingga suatu saat Randi menjadi tidak terkendali dalam masa menuju dewasa.
Randi salah pergaulan, Dia yang notabene adalah anak seorang yang cukup kaya walaupun bukan sangat kaya seperti halnya keluarga Nadine.
Pergaulan Randi membawa dia terbawa arus, dengan mencoba-coba Narkoba.
Pada awalnya hanya coba- coba karena penasaran dan bujuk rayu kawan- kawannya.
Apalagi harga Narkoba jenis sabu sabu dan sejenisnya sangat tinggi, yang akibatnya akan menguras harta benda dan menghancurkan masa depan orang yang kecanduan.
Orang tua Randi pun tadinya berusaha menasehati randi dan mencoba menghentikan perilaku Randi! akan tetapi Randi yang sekarang sudah tidak bisa di kendalika oleh Papa dan mamanya lagi. Lambat laun harta benda orang tuanya mulai menipis akibat di gerogiti anak kesayangannya ini.
Dan usaha orang tuanya pun mulai mengalami kemerosotan..
Dan beberapa hari yang lalu Ayah Rani yang sudah tua pun akhirnya meninggal dunia karena terlalu menderita akibat ulah anak laki lak lakinya itu .
Parahnya lagi sekarang ini untuk memenuhi akan Narkoba bagi dirinya Randi menjadi seorang pengedar Narkoba..
"Demikianlah Nadine, kehidupan keluarga ku sekarang sudah hancur.. ," Rani mengakhiri ceritanya pada Nadine sahabatnya.
Nadine dan Tirta terdiam mendengar cerita Rani.
Setelah bercerita Rani tidak dapat menahan gejolak hati nya dia menangis dalam pelukan Nadine.
Setelah menumpahkan segala beban di hatinya Rani kemudian bercerita lagi,,
Sekarang kami sudah tidak punya apa- apa lagi. Akupun sudah tidak bisa melanjutkan kuliah di Luar negri karena kurang dana, juga aku harus menjaga mama yang sekarang menjadi sangat tertekan akibat ditinggalkan papa untuk selamanya.".
Setelah beberpa saat Nadine menawarkan mengantar Rani pulang.
Dalam perjalanan Rani bercerita kalau dirinya ke mall itu untuk menemui seorang kawannya di mall tersebut untuk mencari pekerjaan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus melalukan apa lagi Nadine! tabungan orang tuaku sudah ludes dikuras semua oleh Randi, juga semua barang peninggalan papa yang berharga pun sudah ludes dijual Randi."
Nadine diam beberapa saat kemudian berkata;
"Bagaiman kalau kamu mencoba untuk menjadi model saja, aku akan mengenalkanmu pada om Hengky , mungkin dia bisa membantumu! Wajahmu cantik dan tubuhmu bagus, aku yakin kamu bisa jadi model."kata Nadine, yang segera saja mengangkat ponselnya dan menghubungi om Hengky.
Setelah tersambung,,
"Iya om , ini ada temenku om, Dia sedang kesulitan, mungkin saja dia cocok jadi model Om" kata Nadine.
"Iya Nadine cobalah besok siang ajak kemari, sekalian kamu juga!"
"Sekalian kamu meneruskan pemotretan tadi yang tertunda," jawab om hengky dari seberang.
"Terimakasih om," jawab Nadine yang segera menutup ponselnya.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah memasuki kawasan yang lumayan elit di daerah Bintaro.
Rani segera menunjuk sebuah rumah yang lumayan bagus.
Mereka segera turun dari mobil dan menuju rumah Rani,,
Isi di dalam rumah benar-benar minim sekali, hanya terlihat kursi plastik saja yang ada di ruang tamu yang cukup luas ini.
Nadine tampak prihatin melihat keadaan rumah sahabatnya ini.
Dulu sewaktu SMA beberpa kali dia main ke rumah ini, dia masih ingat rumah ini berisi barang barang yang cukup mewah.
Sofa besar mewah di ruang tamu, lampu gantung yang indah juga beberapa guci besar menghiasai ruangan tamu ini ...
Tapi sekarang kosong melompong, tinggal kursi plastik untuk duduk saja..
Rani kemudian masuk ke dalam rumahnya dan keluar membawa teh di nampan..
"Maaf mama aku agak depresi akhir-akhir ini, tidak punya semangat," kata Rani sedih..
"Sejak kepergian papa, mama seperti tidak punya kemauan apa apa lagi, dia hanya tiduran saja di kamar," keluh Rani..
"Apakah sudah dibawa ke dokter , atau pun psikolog Ran?" tanya Nadine.
"Inginnya sih seperti itu, tapi belum ada dana Din," jawab Rani..
Tirta yang mendengarkan percakapan dua sahabat ini kemudian menyatakan keinginanya untuk
melihat keadaan mamanya Rani.
Rani kemudian beranjak berdiri dan mengajak Nadine dan Tirta untuk melihat mamanya di kamarnya. kamar tersebut juga hanya berisi satu spring bed yang sudah lusuh dan tua.
Terlihat seorang wanita yang tidak terlalu tua sedang tidur meringkuk,.
"Ma, ini ada teman Rani ingin menjenguk Mama, bisik Rani pada mamanya.
"Siapa Rani?" tanya sang mama lemah.
__ADS_1
Mama Rani mulai membuka matanya dan berusaha bangun dari tidurnya.
"Ini Nadine Ma, teman Rani sewaktu SMA, jawab Nadine.