
Bayu mulai terpancing marahnya oleh Andrew. Dia malahan sengaja membuat gerakan-gerakan yang membuat cipratan air mengarah ke Andrew dengan deras, apalagi karena jengkel, sengaja Bayu mengerahkan sedikit tenaganya sehingga membuat Andrew gelagapan, karena air meluncur deras mengenai muka dan badannya.
Andrew mencak-mencak, bajunya basah kuyup dan matanya pedas terkena percikan air yang seakan menjadi kerikil-kerikil kecil yang mengenai wajahnya, kemudian setelah puas memaki-maki Bayu, dia beranjak dari tempatnya duduk dan pergi dari pinggir kolam, Bayu tertawa terbahak- bahak melihatnya.
Tanpa terasa hari sudah memasuki waktu Ashar. Tirta segera mengajak Bayu dan Adnan untuk pamit kembali ke padepokan. Sedangkan Tia dan Nani masih bersama Dinda untuk tinggal dan menemani Dinda.
Maya dan Andrew sudah sejak tadi meninggalkan rumah pak Danu.
Sedangkan Ratih, Dimas dan Anggara barusan pulang ke rumah orang tuanya Dimas lebih dulu.
Dinda, Tia dan Nani sempat mengantarkan Tirta,Bayu dan Adnan sampai pintu gerbang. Ketika dilihatnya Tirta mengendarai motor yang tidak biasa nya, Tia segera berseru.
"Motor kamu baru ya Ta, bagus banget.. mau dong aku di boncengin."
"Hush ini boncengan kusus cewek Cantik, bukan buat cucunya Gajah yaa, seru Bayu!
Sialan kau Bay, Tia yang jengkel segera memukul bahu Bayu.
"Wadaw!! teriak Bayu, Tolong Taa aku di pukulin cucu Gajah, teriak Bayu pura-pura kesakitan.
"Ini motor bukan punya aku Tiaaa,,,, ini di pinjemin sama temen aku, sebab motor butut aku rusak parah di tabrak orang," Tirta menjelaskan tentang pergantian motornya.
"Tapi bagus kok Ta," kata Dinda.
Kalau ada waktu ajak aku jalan- jalan dong,"
"Iya, iya siap .. jawab Tirta. Ya sudah kami pulang dulu ya, Tirta segera men starter motornya, Bayu dan Adnan mereka berboncengan, dengan Bayu yang pegang motor, biar gak berat belakang. Sedangkan Tirta mengendarai sendirian.
Mereka melaju dengan santai. Sebelum kembali ke padepokan , Tirta mengajak Bayu dan Adnan mampir dulu ke rumah, karena Ibu sudah kangen pada Tirta.
***
Malamnya di padepokan.
Eyang Pandu mengajak Tirta Bayu dan Adnan untuk berkumpul, tampaknya ingin membicarakan sesuatu hal yang penting.
Mereka duduk-duduk beralaskan tikar pandan. Mbah Hardjo dan Damar juga turut hadir di situ.
Kemudian Eyang Pandu memulai pembicaraan pada mereka.
"Angger Tirta, sebagian besar ilmu yang ada pada Eyangmu ini telah Angger kuasai! Akan tetapi semua ilmu itu perlu untuk diperdalam dan dilatih serta dipraktekkan dalam kehidupan nyata." Eyang Pandu berhentisejenak dan menyeruput kopi yang masih panas, kemudian segera melanjutkannya.
"Dari jaman dulu sampai sekarang kebatilan selalu terjadi dan tidak akan pernah ada habis-habisnya, selalu muncul terus dan terus. Untuk itu Angger Tirta sudah seharusnya ikut mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah Angger kuasai, untuk ikut memperbaiki tatanan kehidupan di jaman ini. Paling tidak sedikit saja mengamalkan ilmu yang Angger telah kuasai!"
__ADS_1
"Lakukanlah pengembaraan untuk menempa diri dan menambah pengalaman dan wawasan, bantulah sesama yang membutuhkan pertolongan. Dan basmilah kejahatan jika Angger menemukannya dalam pengembaraan Angger."
Eyang Pandu menarik nafas sejenak dan kemudian melanjutkan.
"Dalam pengembaraan pertama ini sebaiknya Angger Bayu dan Angger Adnan Juga ikut, Bagaimana Angger , apakah kalian bersedia,? tanya Eyang Pandu.
Tirta segera menyatakan kesanggupan nya, dan berkata.
"Saya sanggup Eyang!"
"Bagaimana dengan Angger Bayu dan Angger Adnan?"
"Kami juga bersedia Eyang!" jawab meraka bersamaan.
Untuk selanjutnya Eyang Pandu membekali mereka dengan wejangan -Wejangan (nasehat) sebagai bekal perjalanan mereka bertiga.
***
Hari itu di kampus.
Tirta, Bayu dan Adnan berbicara dengan Tia, Dinda dan Nani di warung langganan mereka di sebelah kampus.
Mereka membicarakan tentang rencana perjalanan mereka pada para gadis sahabat mereka.
"Apa tidak bisa di batalkan dulu atau di tunda Ta," Dinda mengajukan keberatannya. Dinda merasa kepergian Tirta akan membuat hari-harinya sepi tanpa Tirta, apalagi hubungan nya dengan Tirta yang akhir-akhir ini terasa manis dan menyenangkan.
"Tidak bisa Din," ini adalah tugas dari guru kami, jawab Tirta.
Dinda tahu, kalau Tirta sudah memutuskan sesuatu tidak akan bisa di bantah atau di batalkan.
Dinda hanya diam membisu, hatinya berat dan sedih harus berpisah dengan Tirta, setelah apa yang dialami nya akhir-akhir ini bersama sang pemuda.
Nani dan Tia juga agaknya keberatan dengan rencana mereka.
"Apakah kalian tidak khawatir tertinggal per kuliahan, kalian kan baru semester satu.!?" protes Nani.
Kali ini Adnan yang menjawab.
"Kan ada kalian, ijinkan kami dong Nani,,,, berikan catatan atau diktatnya nanti ya!" Setelah pulang kembali kalian harus ngajari ketertinggalan kami.."
Tampaknya, keputusan mereka untuk melakukan pengembaraan ini sudah bulat tidak bisa di rubah lagi.
"Kami hanya pergi beberapa hari saja kok," kali ini Bayu yang berbicara, agak serius dia kali ini.
__ADS_1
"Secepat nya seminggu selambat nya Dua minggu."
Akhirnya dengan berat hati Dinda Tia dan Nani menyetujui kepergian sahabat - sahabatnya itu.
Di hari itu juga terkuak satu rahasia yang selama ini di tutup-tutupi oleh Nani, bahwa dia ternyata mempunyai perhatian lebih pada Adnan.
Adnan juga sudah merasakannya sebelumnya, akan tetapi dia masih belum mempercayai perasaannya.
"Tapi ketika dia pamit hari itu, tiba tiba saja Nani memeluknya dengan erat sambil berkata pelan,
"Kamu harus kembali kesini dengan selamat Adnan, aku selalu menunggumu." dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan lembut Adnan pun membalas
"Trimakasih Nani, aku akan kembali untukmu."
Walaupun semula Adnan tertarik pada Dinda, tapi ketika ternyata Dinda lebih tertarik pada Tirta, pelan-pelan perasaan itu dipaksa dihilangkan dari hatinya dan diganti dengan perasaan sebagai seorang sahabat pada Dinda. Apalagi Nani juga seorang gadis yang cantik dan menarik.
Melihat kejadian ini, Tirta, Bayu dan Dinda jadi melongo, terkejut. Sedang Tia memang sudah mengetahui sejak semula kalau Nani punya rasa yang lebih kepada Adnan, karena mereka satu kamar dan sering kali saling curhat.
***
Siang hari selepas kuliah terakhir Tirta berencana mengunjungi Iza kerumahnya, dia ijin pada rekan-rekannya untuk jalan terlebih dahulu.
Tirta sudah mengirim chat WhatsApp pada iza lebih dulu, dan Iza dengan senang menunggunya di rumah.
Sesampainya di rumah besar Iza, ternyata Iza sudah menyambutnya di pintu gerbang.
"Motor siapa yang kamu bawa Ta," Iza terkejut melihat motor yang di bawa Tirta yang biasanya motor butut berubah jadi motor yang bagus.
"Motor pinjaman Iza, bukan motor aku.!"
"Trus motor kamu kemana?" tanya Iza melanjutkan pertanyaannya sambil menggamit tangan Tirta, Tirta sudah mulai terbiasa dengan Iza yang kebiasaan kalau ketemu Tirta pasti menggandeng tangannya.
Ada perasaan nyaman kalau Iza menggandeng tangannya.
Iza sangatlah terbuka pada Tirta, perasaannya tidak pernah di tutup-tutupi pada Tirta.
Sambil berjalan bergandengan tangan, Tirta menceritakan kejadian kemarin Sabtu yang mengakibatkan motornya rusak berat dan akhirnya di ganti dengan motor yang di bawanya saat ini.
Syukurlah Ta kalau Aldi sudah sadar, aku ikut gembira, jadi kedepannya dia tidak akan memaksakan kehendak sesuka hatinya pada orang lain.
kemudian mereka berdua duduk-duduk di Gazebo di depan rumah yang besar itu.
__ADS_1
Kali ini Tirta menyampaikan maksud dan tujuannya mengunjungi Iza.