
Nadia mendengarkan kata kata kakaknya sambil memainkan ponsel nya .
Leo masih saja terus bicara walaupun tidak di gubris oleh adik semata wayangnya ini.
"Akan aku beritahu rahasia besar Abangmu ini Nadia,,,! Abangmu ini sebenarnya adalah orang yang tidak baik, Abangmu ini tiap harinya bergumul dengan kejahatan.,! Leo berhenti sejenak, dia mandang adik nya untuk melihat reaksinya.
Benar saja, Nadia sangat terkejut mendengar perkataan Leo barusan.
"Kamu sering kan, di goda teman -teman abangmu sewaktu kamu di rumah abang di Cibubur?" tanya Leo.
"Iya Bang,temen temen Abang jorog jorog dan tidak sopan!" jawab Nadia spontan.
"Benar Nadia, itulah temen-temen Abangmu dulu, sekarang ini lihatlah teman-teman Abangmu dari Tirta, Bayu dan Adnan!" Leo berhenti sejenak kemudian melanjutkan.
"Karena merekalah Abangmu ini mau bertobat. Mereka pemuda-pemuda baik dan jujur!"
Nadia sedikit tersentuh dengan penjelasan abangnya tentang Tirta Bayu dan Adnan, tapi hatinya sudah terlanjur membenci mereka, apalagi sejak kejadian siang kemarin.
Abangmu ini adalah penjahat besar, dua tangann Abangmu ini sudah berlumuran banyak darah dari orang-orang yang telah Abang bunuh," lanjut Leo.
"Untuk selanjutnya Abang akan mengikuti Tirta, Bayu dan Adnan!"
"Abang ingin mencuci tangan-tangan kotor ini, walaupun tidak akan bisa bersih," lanjut Leo, dengan sedih dan suara bergetar.
"Sisa hidup Abang akan Abang gunakan untuk mengikuti jalan yang di tempuh Tirta, Bayu dan Adnan!"
"Tiga pemuda itu bukan pemuda sembrangan, terutama Tirta Jayakusuma!"
"Dia seperti malaikat, hatinya putih bersih! Abangmu hanya bisa berharap kamu bisa berjodoh dengannya!" kata Leo.
Nadia yang mendengarkan Leo, tanpa sadar, air mata meleleh dari kedua pipinya yang putih dan halus tanpa ada jerawat yang menghiasinya.
Dia segera memeluk abangnya dengan erat. Abang yang sudah di anggapnya seperti orang tuanya sendiri. Abang tempatnya bergantung selama ini.
"Titip kedua anak-anak Abang jika terjadi sesuatu dengan Abang, karena jalan yang abang pilih ini akan membawa resiko yang besar."
Nadia sekarang terbuka pikirannya, dia mencoba memandang tentang sikapnya selama ini menghadapi Tirta, Bayu dan Adnan dan tentang harapan Abangnya pada dirinya!
Beberapa saat kemudian Leo pulang kerumahnya di Cibubur.
***
Hari ini, sudah genap seminggu Tirta Bayu dan Adnan merantau.
Sejak semalam banyak sekali panggilan tidak terjawab yang masuk ke ponselnya.
Baru pagi ini Tirta baru bisa menjawab lewat Whatshap.
Iza berharap Tirta segera pulang begitupun dengan Dinda.
Ketika Tirta sedang sendirian di halaman dan duduk di kursi taman, Nadia mendekati dirinya dan menyapanya;..
"Pagi Ta," sapa Nadia lembut.
Tirta kaget mendengar sapaan Nadia yang lembut, karena biasanya Nadia bersikap judes dan cuex pada mereka bertiga.
Tirta jadi bertanya-tanya dalam hatinya!"
"Ada angin apa, mendadak kamu baik padaku?" tanya Tirta tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya.
"Ahh hanya memastikan saja kalau omongan bang Leo benar tentang kalian bertiga," jawab Nadia.
__ADS_1
"Memangnya bang Leo bicara apa tentang kami?" tanya Tirta penasaran.
"Bang Leo bilang, dia bisa bertobat karena kalian," jawab Nadia.
"Apa benar kalau Bang Leo berbicara seperti itu Nadia!" Tirta menegaskan kembali pernyataan yang keluar dari mulut Nadia.
"Benar, buat apa aku mengarangnya!"
"Syukur Alhamdulillah jika Bang Leo sadar akan jalannya yang salah selama ini!" Jawab Tirta.
Beberapa saat mereka ngobrol, membicarakan banyak hal.
Terutama menyangkut diri Tirta juga Bayu dan Adnan.
Ketika sedang asyik- ashiknya mereka ngobrol, terlihat sebuah mobil Land Cruiser memasuki halaman yang memang tidak tertutup pintu pagarnya.
Seorang gadis tinggi berkulit putih layaknya orang Eropa turun dari mobil tersebut.
"Nadine!" seru Nadia!
Nadia segera menyambut kedatangan Nadine, kemudian keduanya berjalan menuju kursi tempat Tirta duduk sejak tadi .
"Halo Tirta!" sapa Nadine.
"Halo juga Nadine," jawab Tirta.
Nadine segera duduk di depan Tirta.
Mereka segera terlibat obrolan ringan.
Nadine banyak bertanya tentang diri Tirta,
"Kamu ini sebenarnya darimana sih Ta, apa kamu ini bener- bener anak muda kampung atau anak muda kampungan?" tanya Nadine.
"Aku, Bayu dan Adnan berasal dari perguruan tinggi swasta di Semarang, kami ke Jakarta ini karena nasib saja yang membuat kami terdampar kemari." jawab Tirta.
Dari obrolan-obrolan dengan Tirta,
pelan-pelan pandangan Nadia mulai berubah pada Tirta.
Sedangkan Nadine sudah sejak awal bertemu tertarik pada Tirta.
"Kalau tujuanmu ke Jakarta ini sebenarnaya untuk apa Ta," tanya Nadia..
Tirta terdiam mendengar pertanyaan ini dari mulut Nadia, kalau dia bercerita dia sedang memburu Hendra kan Naif sekali.
Akhirnya Tirta menjawab kalau mereka ke Jakarta hanya sekedar kepingin jalan- jalan saja.
Jawaban ini tidak memuaskan Nadia, karena dia tahu ada yang di sembunyikan Tirta, karena tadi Abangnya sudah berbicara banyak hal dengan dirinya.
Sedangkan bagi Nadine jawaban seperti ini adalah jawaban biasa saja...
Hari ini adalah hari minggu, makanya Nadia di rumah saja tidak ada kuliah begitupun Nadine.
"Hari ini aku ingin mengajak kalian jalan- jalan ke puncak, Papa aku ada Vila disana, bagaimana menurut kalian?" tanya Nadine.
"Oke, aku mau Din jawab Nadia spontan, kalo Tirta gimana ? tanya Nadine.
"Aku harus tanya dulu sama Bayu dan Adnan." kata Tirta.
Sebenarnya hari ini Dia Ingin bersantai saja, setelah tadi malam bertarung melawan ki Suromenggolo. rasanya agak capek, eh malah ada tawaran seperti ini, mau menolak eman -eman banget! Ada tawaran sebagus ini dari cewek-cewek cakep.
__ADS_1
Ya setelah seminggu merantau pandangannya tentang hubungan pria dan wanita agak mengalami kemajuan.
Tirta segera masuk rumah dan menawarkan pada Bayu dan Adnan.
"Wah beneran banget! aku belum pernah ke puncak!" jawab Bayu, aku sih Yes jawab Bayu,
"kalau kamu Adnan, tanya Tirta pada Adnan, sama seperti Bayu ta, aku ikuuut."
Akhirnya mereka semua setuju ikut kepuncak bersama Nadia dan Nadine.
Mereka berempat segera melaju menuju puncak dengan Tirta yang mengendarai mobil land cruiser milik Nadine
Dalam perjalanan ternyata Nadine menghubungi Lola dan Angel.
lola tidak dapat ikutan, sedangkan Angel juga tidak bisa ikut karena kebetulan di rumah Angel ada acara keluarga.
Sepanjang jalan meraka bersenda gurau riang, Tirta Bayu dan Adnan mulai akrab dengan kedua gadis cantik itu.
Bayu yang memang suka menghidupkan suasana dengan tingkah lucu dan kekonyolannya menambah seru saja perjalanan itu.
Tanpa terasa mereka sudah memasuki halaman sebuah villa mewah di kawasan puncak Bogor.
Bayu, Nadia, sudah lebih dulu keluar mobil dan menghirup dalam dalam udara segar.
"Hmm segarnya udara sini, seru Bayu.
Setelah semua sudah keluar dari mobil Nadine segera mengajak kawan kawannya masuk ke dalam Villa mewah tersebut.
Di pintu villa sudah menunggu seorang penjaga Villa yang mempersilakan mereka masuk.
***
Di Sebuah rumah biasa di daerah Depok, Hendra terlihat memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, dia seperti orang stres.
Di depannya Ramon sedang menghiburnya, tangan kanannya ini adalah orang yang paling setia dan selalu ada di sisinya.
Pagi itu mereka mendapat Info akan kegagalan orang-orang Mr Budiman.
"Orang-orang Mr Budiman gagal Bos, tampaknya tiga pemuda ini terlalu tannguh. Untuk sementara ini kita sebainya vakum dulu, kita biarkan keadaan mereda lebih dulu," Ramon memberikan sarannya pada Hendra.
"Aku berfikir juga begitu mon, kita berdiam dulu sambil menyusun kekuatan," kata Hendra.
"Aku pikir dengan kita tidak bergerak, tiga pemuda itu juga tidak akan mengetahui keberadaan kita!"
"pemuda pemuda itu seperti setan saja! aku tidak habis pikir! orang orang yang kita kirim dengan mudahnya di kalahkan!"
Ketika sedang membicarakan langkah- langkah selanjutnya, Mendadak Ponsel Hendra berdering, dilihatnya nama Mr Budiman terpampang di layar ponselnya.
" Hendra!" seru Mr Budiman dengan suara beratnya.
"Siapa sebenarnya musuhmu ini, dua orang pengawalku hampir mati dan Suromenggolo juga terluka berat?" tanya Mr Budiman yang tampaknya marah dengan kejadian ini.
"Aku Tidak tau Bos," jawab Hendra.
"Orang-orang ku tidak dapat menyusuri jejak nya, lanjut Hendra ..
"Hmm baiklah Hendra, masalah ini akan aku ambil alih, kata Mr Budiman.
Dalam hati Hendra bersorak gembira di hatinya. Jika Mr Budiman sudah turun tangan pasti semuanya bisa cepat teratasi.
Mr Budiman benar-benar Bandar kelas kakap! orang-orang nya tersebar di mana-mana dan berada di berbagai lapisan masyarakat.
__ADS_1
Setelah itu Hendra memberitahukan pada Ramon.
"Syukur Bos, kita tinggal menonton saja Bos!"Ramon memberikan tanggapannya.