Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
pertarungan sengit


__ADS_3

Sebelum sampai padepokan pak Michael, Nadine dan Tomy dibuat terkejut. ketika mereka mendadak menyaksikan adanya bangunan Joglo setelah melewati sebuah pohon jati besar. Bangunan itu muncul begitu saja depan mata mereka.


Nadine segera mengucek kucek kedua matanya , tanda tidak percaya dengan penglihatan nya.


Sedangkan Tomy segera mencoba melangkahkan kakinya kembali ke belakang.


Dan alangkah terkejutnya dia karena bangunan Joglo yang tadi dilihatnya mendadak hilang dari pandangan nya.


Begitu kakinya melangkah lagi ke depan maka rumah Joglo tersebut terlihat muncul kembali.


"Wahh ,, benar benar luar biasa Mas," seru Tomy..


Tirta , Bayu dan Adnan hanya tersenyum saja menyaksikan tingkah Tomy ini.


Didepan pondok tampak eyang Pandu , Leo dan kang Damar serta mbah Hardjo berdiri menyambut kedatangan Pak Michael, dan kedua anaknya.


Tirta Segera mengenalkan pak Michael, Nadine dan Tomy pada mbah Hardjo yang merupakan satu-satunya orang yang belum di kenal oleh pak Michael, Nadine dan Tomy.


Pak Michael menyalami semua dengan hangat. Walaupun dia tadinya seorang warga negara asing tapi setelah menetap berpuluh tahun di Indonesia, sikapnya menjadi seperti orang Indonesia pada umumnya, ramah dan sopan, apalagi dia berhadapan dengan orang-orang yang menjadi penolongnya.


"Silahkan masuk pak Michael," kata mbah Hardjo


Setelah duduk di ruang pendopo Pak Michael menyatakan niatnya untuk sementara menetap di daerah ini sampai suasana menjadi tenang dan aman.


"Kami berencana untuk menetap di sekitar padepokan ini Mbah," kata pak Michael.


"Karena adanya ancaman-ancaman yang membahayakan keluarga kami, kata pak Michael."


"Karena kami menganggap dengan berdekatan dengan padepokan ini , kami sekeluarga merasa aman," lanjut pak Michael lagi.


"Dan kami mohon para penghuni padepokan ini ikut mengawasi dan menjaga keberadaan kami disini."


Demikianlah pak Michael meminta pada segenap penghuni padepokan untuk ikut menjaga keselamatan keluarganya.


Dan pada kesempatan itu juga pak Michael menyampaikan keinginan anak laki- lakinya, yaitu Tomy untuk ikut menimba ilmu kanuragan di padepokan ini.


Mbah Hardjo sebagai tetua dari padepokan ini segera menerimanya dengan tangan terbuka..dan pada saat itu juga Tomy dipersilakan untuk tinggal sekalian di padepokan.


Karena semakin banyaknya penghuni padepokan , maka Mbah Hardjo pun mempunyai niatan untuk membuat bangunan lagi di samping kanan dan kiri bangunan Joglo yang sudah ada.


Semua penghuni menyatakan persetujuannya akan niat mbah Hardjoikoro tersebut dan berniat untuk segera mewujudkannya.


Demikianlah hari itu pak Michael, Nadine dan Tomy berada di padepokan yang asri dan tenang tersebut sampai sore hari.


Nadine tampak senang berdiam di tempat yang asri dan tenang ini apalagi di temani oleh Tirta.


Nadine yang sudah lama tidak bertemu Tirta pun tampak beberapa kali mencuri-curi kesempatan untuk bisa berduaan saja dengan sang pemuda.


Dan dalam suatu kesempatan Nadine mengajak berkeliling di sekitar padepokan.


"Ta, temenin aku melihat- lihat sekitar padepokan dong," kata Nadine (Ini adalah modus Nadine).


Tanpa persetujuan dari Tirta, Nadine sudah menyeret Tirta saja.


Jadilah Tirta berjalan jalan di sekitar padepokan.


Mereka terlihat melintasi sungai kecil yang berarti sangat jernih dan berbatu.. Beberapa saat Nadine yang tertarik dengan keindahan sungai kecil ini, mengajak turun ke sungai dan berbasah basahan di sini.


Seperti biasanya Nadine selalu saja menggoda Tirta dengan perlakuan-perlakuan menggoda sehingga membuat naluri ke lelakiannya meronta-ronta.


Dan kali inipun demikian.


Dan selalu saja Tirta mampu menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih jauh..

__ADS_1


Ketika hari beranjak petang.


Pak Michael segera mengajak Nadine untuk segera kembali ke hotel tempat mereka menginap bersama keluarganya.


Tirta dan Bayu kemudian mengantar pak Michael kembali ke hotel.


Sementara itu Tomy sudah mulai tinggal di padepokan untuk mempelajari ilmu kanuragan.


***


Di sebuah pulau kecil tak bernama di kepulauan Anambas.


pertandingan lanjutan dilaksanakan pada malam hari.


Peter segera memerintahkan semuanya untuk berkumpul di sekitaran arena pertandingan.


Setelah semua berkumpul Peter segera berkata;


"Karena jumlah petarung yang masih bertahan adalah lima orang, maka akan saya tandingkan lebih dulu dua orang, baru pemenangnya yang akan maju menghadapi seorang lawan dan dua orang lain saling berhadapan."


Kemudian Peter segera memanggil dua nama;


"Arnold !" seru Peter.


Bule Australia segera melompat memasuki arena!


Ya, nama bule Australia ini adalah Arnold !


Selanjutnya Peter memanggil lagi;


"Welang," seru Peter.


Seorang pemuda dengan masker hitam menutupi wajahnya segera melompat ringan memasuki arena pertandingan.


Tubuh yang tinggi besar tidak membuatnya lamban !


Si pemuda bermasker hitam hanya melompat ringan kesamping saja.


Arnold segera memburu si pemuda bermasker hitam yang menyebut dirinya Welang yang diartikan dalam bahasa Indonesia berarti belang.


Pukulan pukulan khas tinju menerjang secara beruntun mengarah kepala dan perut Welang !


Tampak Welang hanya bergerak sedikit kekanan dan kiri dan sesekali menangkis tangan besar dan berbulu halus berwarna pirang tersebut.


Dan ketika Welang sudah tampak bosan bermain-main , maka dia segera mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya.


Pukulan kilat di lancarkan dengan landasan ilmu yang membuat pukulannya seakan-akan berubah menjadi bayang-bayang semu !


Tampak Arnold bingung harus menangkis pukulan yang mana.


Doble cover segera menutup wajahnya !


Dan ,


" Bamm" pukulan cepat menghantam Doble covernya dan sebuah pukulan tangan kiri menghantam perut Arnold.


Tubuh yang besar dan berat tersebut seketika jatuh berdebam di pasir lembut yang memang merupakan alas dari arena pertandingan..


Karena seluruh permukaan pulau ini memang tertutup oleh pasir putih yang lembut .


Peter segera berseru;


"Pemenangnya adalah Welang !"

__ADS_1


Kemudian Peter memanggil dua nama lagi untuk saling baku hantam.


"Gali silakan masuk arena," seru Peter.


Pria penuh tato di wajah maupun kedua lengannya segera melangkahkan kakinya ke tengah arena.


Ya pria penuh tato ini bernama Gali, seorang pembunuh bayaran yang cukup terkenal di kalangan dunia bawah tanah.


Kemudian Peter memanggil lawan dari Gali.


"Daeng !" seru Peter.


Pria paruh baya yang berpakaian serba hitam segera melompat dengan ringan dan mendarat tepat di depan Gali .


Setelah saling memberi hormat, Gali tampak lebih dulu menyerang.


Keduanya pun lebih memilih untuk tidak menggunakan senjata.


Gali segera menyerang dengan sebuah teriakan keras menggelegar, tubuhnya yang lumayan besar menyergap dengan cepat kearah Daeng.


Keduanya segera terlibat pertarungan yang seru. Bayangan hitam tampak bergerak sangat cepat berputaran mengelilingi Gali.


Sedangkan Gali tampak sigap melayani setiap serangan yang datang dari Daeng.


Daeng yang menguasai tenaga batin tampaknya benar-benar berusaha untuk mengurung Gali di tengah pusaran yang di buat oleh Daeng.


Gali yang belum pernah menghadapi orang dengan kemampuan yang sedemikian rupa tampak kebingungan.


Satu dua kali sengatan pukulan menerpa tubuhnya yang kekar dan liat.


Akan tetapi semakin lama bertarung menjadi semakin sering pukulan yang mengenai tubuh Gali.


Pada dasarnya Gali bukanlah petarung kemaren sore, dia sudah malang melintang di dunia bawah tanah sejak usia belasan. dan selama itu sudah tidak terhitung pertarungan jalanan yang sudah di laluinya.


"Jika di biarkan seperti ini lama lama aku pasti akan segera jatuh," pikirnya.


Gali segera melakukan perubahan dalam cara bertarungnya !


Dia berpikir keras dan mengamati cara bertarung dari lawannya ini.


Hingga Gali memahami satu hal yang sangat penting !


Bahwa Kekuatan pukulan tangan Daeng tampaknya walaupun sangat kuat akan tetapi juga tidak mampu menembus tubuh dari Gali yang memang sangat liat, apalagi beberapa tahun yang lalu dia sempat belajar ilmu kebal dari seorang guru mumpuni di pelosok Banten.


Dia harus bisa menangkap tubuh lawan untuk di ajak berduel model wrestling.


Hingga dalam suatu kesempatan sengaja Gali memberikan dadanya untuk dipukul, tapi dengan sigap tangannya yang kekar sudah menangkap tangan kiri Daeng.


Tampak Daeng sangat terkejut dengan kejadian ini, dia berusaha melepaskan dirinya.


Akan tetapi tangan yang kuat dari Gali membuat usahanya sia sia.


Sigap gali menangkap tubuh Daeng yang baginya kecil. dan membantingnya ke pasir putih yang lembut


"Bamm,,,!" tubuh Daeng yang agak kecil segera terbanting cukup keras !


Gali segera menindih tubuh Daeng dan melakukan pukulan di wajah Daeng hingga wajah Daeng berlumuran darah..


"Cukup Gali!" teriak peter dari pinggir arena pertandingan.


Tampak Daeng tidak sadarkan diri .


Untunglah Peter segera menghentikan pertarungan, kalau sampai terlambat pasti nyawa Daeng melayang pergi meninggalkan raganya!

__ADS_1


__ADS_2