
Adnan, Bayu, Mbah Hardjo serta Irman dan Tomy dengan mengendarai toyota Alphard hitam segera menuju rumah Dinda di Bukit Sari.
Begitu turun dari mobil terlihat mama Dinda dengan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Adnan dan kawan-kawannya..
"Mana mas Tirta mas Adnan?" tanya mamanya Dinda yang memang sangat mengenal Tirta.
"Maaf Bu, Tirta masih mengurusi hal lain," jawab Adnan.. tapi kami kemari atas nama Tirta bu, kami akan mencari Dinda sampai ketemu !" kata Adnan lagi.
Tampak mama Dinda sangat kecewa dengan jawaban Adnan.
"Kami kemari ingin mencari petunjuk hilangnya Dinda bu ," Kata Adnan..
"Irman ,, Ayo turun dulu," seru Adnan .
Irman segera turun dari mobil bersama Tomy dan mbah Hardjo sedangkan Bayu masih beristirahat di dalam mobil untuk beristirahat dan bermeditasi supaya luka dalamnya segera membaik.
Irman segera turun dari mobil dan melangkah ke teras rumah ,,
"Ini Irman bu,, adiknya Tirta,," kata Adnan memperkenalkan Irman pada mamanya Dinda.
Juga di kenalkannya mbah Hardjo sebagai eyang nya Tirta dan Tomy sebagai saudaranya Tirta..
Mama Dinda tampak kurang memperhatikan mereka, karena memang pikirannya sedang kacau karena memikirkan Dinda yang tidak kunjung pulang. Apalagi papa nya Dinda juga sedang tidak berada di rumah tersebut.
"Boleh kami masuk ke dalam bu?" kata irman meminta ijin untuk masuk ke rumah mewah tersebut.
Irman tampak berdiam beberapa saat, perasaannya disesuaikan dengan aura Dinda yang ada di ruangan tersebut.
Setelah menyesuaikan aura Dinda, kemudian Irman berjalan keluar rumah. Adnan segera mengikuti dari belakang begitupun mamanya Dinda.. Tomy dan mbah Hardjo.
Irman kemudian mengajak mereka untuk pamit pada mama nya Dinda..
"Tolong ya mas Adnan, tolong temukan Dinda?" pinta mamanya Dinda.
Irman segera mengajak semuanya untuk berjalan kembali menyisir jalan- jalan yang tampaknya dilewati oleh Dinda.
Hingga Irman menemukan lokasi dimana mobil Dinda di serempet dan Dinda di culik oleh orang-orang suruhan Mr Budiman..
Kemudian Irman mengajak untuk berjalan lagi pelan- pelan sambil dia berkonsentrasi penuh sepanjang perjalanan dengan menutup mata dan dia berusaha merasakan keberadaan aura Dinda dengan menajamkan mata batinnya.
***
Sementara itu Tirta, bang Leo dan kang Damar dengan cepat meluncur kearah perumahan elite di daerah pantai Marina.
__ADS_1
Ini adalah salah satu hunian elite di kota Semarang.
Setelah melewati pos penjagaan, dan menanyakan alamat yang dituju, Leo yang kali ini memegang kendali atas mobil Alphard ini segera melaju lurus menyusuri jalanan di pinggir pantai Marina ini.
Malam ini angin bertiup cukup kencang disertai rintik hujan menambah suasana mencekam.
Ketika mereka sampai di sebuah rumah yang sangat besar, bercat putih dan bergaya Spanyol dengan pintu gerbang yang tingginya sekitar tiga meter, terlihat empat mobil terparkir di luar pintu gerbang.
Bang Leo segera memarkir mobil di samping mobil mobil yang sudah ada si situ,, sebuah Fortuner, sebuah Pajero, sebuah Land Cruiser dan Nissan Navara.
"Tirta , kang Damar ayo Turun,,!" seru Leo.
Ketiganya dengan gerakan cepat segera melompat ke atas pagar..
Begitu ketiganya berada di atas pagar, mereka segera menyaksikan beberapa orang yang sedang bertarung seru, dan beberapa tampaknya sudah tergeletak entah mati ataukah terluka.
Dan di belakang beberapa pria yang sedang bertarung ini tampak seorang pria setengah baya tinggi besar yang mengawasi pertarungan ini dengan gelisah dan penuh kekhawatiran.
Ya Pria setengah baya yang masih tampak gagah ini adalah pak Fajrul, ayah Faiza.
Malam itu, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk mendeteksi keberadaan para penculik putrinya bedasarkan no ponsel yang di berikan oleh Tirta.
Begitu sudah di ketahui alamat pastinya, pak Fajrul segera mengerahkan dua puluh orang anak buahnya yang terlatih untuk membebaskan anak gadisnya dan sekaligus memberikan pelajaran pada para penculik anak gadisnya itu.
Mereka ternyata sangat tangguh dan terlatih.
Dan ternyata walau para penjahat ini hanya berjumlah sepuluh orang saja, ternyata mereka dapat dengan mudah menaklukkan orang-orang yang di bawa pak Fajrul !
Dalam waktu yang relatif singkat, dari dua puluh orang anak buah pak Fajrul kini hanya tersisa lima orang saja.
Sedangkan limabelas orang anak buahnya sudah jatuh bersimbah darah di halaman rumah ini.
Ketika di lihatnya tidak ada kemungkinan untuk menang melawan para penjahat ini Pak Fajrul segera meraba gagang pistol yang di selipkan di pinggangnya, yang memang sudah di persiapkan sebelumnya.
Ketika kelima anak buahnya satu persatu jatuh hingga tersisa dua orang, tampak kegelisahan mendera hati pak Fajrul, niat ingin menyelamatkan putrinya!
Kini yang terbayang di pelupuk matanya adalah bayangan kegagalan!
Dalam keadaan demikian, mendadak tiga bayangan seperti bayangan setan saja turun dari tembok pagar setinggi tiga meter, melayang turun dan langsung masuk ke arena pertarungan.
Dan,,,
"Argggh,!" terdengar teriakan ngeri ketika, sebuah belati lengkung yang berkilat- kilat menghujam dalam-dalam di dada salah seorang penjahat yang berjaket hitam, seperti para penjahat yang menyerbu rumah pak Michael tadi.
__ADS_1
Di ikuti jeritan ngeri sekali lagi, ketika dengan sigap dan cepat belati di tangan Leo berhasil membuat sebuah luka robek di dada lawan yang lainnya lagi.
Sementara kang Damar tampak berhasil menendang seorang penjahat hingga terkapar tak berdaya, pingsan!
Di sudut lain Tirta dengan Tapak Geni nya sudah langsung menjatuhkan dua lawannya sekaligus.
Dada mereka tercetak lima jari tangan dengan bekas menghitam dan bau daging terbakar..
Sekali turun tangan lima orang sudah langsung jatuh oleh Tirta, bang Leo dan kang Damar.
Tampak seorang pemuda bermasker hitam yang tampaknya adalah Welang adanya, sangat-sangat terkejut menyaksikan kejadian ini,,
Segera dia melompat dan menyerang Tirta Jayakusuma.
Tirta Jayakusuma segera merasakan tekanan tenaga batin yang luar biasa besar menyebar di sekitar tempat itu .
Pertarungan yang lain juga segera berhenti.
Leo dan Kang Damar segera melangkah mundur , begitupun sisa anak buah Aryo Seto alias Welang.
"Hmm , tampaknya aku seperti pernah mengenal pemuda ini !" batin Tirta.
Keduanya segera terlibat pertarungan yang jarang terjadi .
Tirta segera mengenali ajian yang dipergunakan oleh pemuda lawannya ini .
"Hmm, tampaknya engkau Aryo Seto !" seru Tirta keras.
"Dimana-mana kamu membuat onar Aryo!" seru Tirta sambil menyerang pemuda lawannya ini dengan aji Tapak Geni !
"Benar Tirta Jayakusuma,, !"
"Hari ini aku akan menuntut balas atas kekalahan ku di lereng Tengger !" seru Aryo Seto atau yang di kenal oleh orang-orang nya Mr Budiman sebagai Welang.
Kedua-duanya kini saling berhadapan lagi,, mereka sudah saling mengenal dan mengetahui kemampuan masing-masing.
Tapi kali ini tampaknya Aryo Seto sangat percaya diri setelah beberapa saat dia menerima tambahan tenaga dari eyang gurunya yaitu ki Pradigdo dan menerima gemblengan langsung dari eyang gurunya tersebut.
Tubuh Aryo seto segera diselimuti cahaya biru pekat, tanda aji Suryo Dahono yang sempurna.
Kali ini, Tirta tampak lebih berhati hati lagi.
Disadarinya, aji Suryo Dahono yang di kuasai oleh Aryo Seto sudah meningkat dengan pesat dan tidak bisa di samakan seperti beberapa waktu yang lalu saat keduanya bertemu.
__ADS_1