Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
rayuan maut


__ADS_3

Tirta sedang sendirian main game ketika pintu di ketok dari luar, "mungkin Bayu dan Adnan," pikirnya.


Dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan membukanya.


Ketika pintu sudah terbuka, si resepsionis sudah berdiri di depan pintu kamar hotel, wajah nya sedih dan sayu.


"Bolehkah aku masuk Mas Tirta , bisiknya.


Tirta mengangguk dan mempersilakan si gadis resepsionis hotel untuk masuk kekamarnya,


Gadis tersebut segera melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke kamar.


Tanpa di suruh, dia sudah duduk di sofa dengan posisi sama Seperti tadi. Tirta yang melihat jadi salah tingkah..


"Huft godaan ini lagi ,, ini lagi!" batinnya antara sedih dan gembira.


"Teman-teman mas Tirta pada kemana?" tanyanya, walaupun dia tahu kalau dua teman sang pemuda sedang keluar, makanya dia segera menuju ke kamar Tirta.


"Oooh Bayu dan Adnan sedang keluar Mbak," jawab Tirta.


"Mas,,! aku benar-benar minta tolong pada Mas Tirta, aku tidak mau di keluarkan dari Hotel ini!" bisiknya dengan muka sedih dan menunduk.


Ada wanita cantik seksi momohon pertolongan pada seorang pemuda? adakah yang mampu menolaknya? apalagi di dalam kamar hotel berdua saja!!??


"Semua bukan keputusanku mbak Rara!" Ya, nama resepsionis ini adalah Rara.


"Tapi akan aku usahakan mbak." kata Tirta melanjutkan.


"Aku adalah tulang punggung keluarga mas aku menyekolahkan adik-adikku, papa aku sudah meninggal setahun yang lalu!" Rara bercerita tentang kesulitannya.


Sambil bercerita Rara bergeser mendekati Tirta yang duduk di sofa kecil di samping sofa yang di duduki Rara, jadi mereka duduk bukan berhadapan, dengan posisi seperti ini pandangan Tirta lebih parah lagi ...! Paha mulus tetaplah paha mulus tidak akan bisa berubah jadi paha bopeng!


Selama bicara Tirta tidak berani memandang kearah Rara, pandangannya jauh kearah luar kamar, karena pintu kamar sengaja tidak di tutup oleh Tirta, takut menjadi fitnah.


Tanpa terasa, duduk Rara sekarang sudah di samping Tirta persis, pemuda culun ini tidak menyadarinya, Baru sadar ketika ada tangan halus dan jemari lentik menyentuh dan menggenggam telapak tangannya.


"Mbak,,,!" serunya kaget, dia hendak menarik tangannya akan tetapi jari jemari Rara menggenggam erat telapak tangannya.


"Mas, aku bersedia melakukan apapun untuk Mas," bisik Rara agak malu-malu. Sebenarnya nya dia ragu-ragu melakukan ini, tapi demi pekerjaannya dia memberanikan diri nya..


"Mbak Rara, Mbak tidak perlu melakukan apapun untukku, cukup mbak Rara berjanji tidak melakukannya itu sudah cukup!" Kata Tirta menenangkan gejolak batinnya yang berdebur keras.


Rara tetap memegang jari jemari Tirta dan meremasnya dengan penuh kelembutan. Belum pernah Rara melakukan ini sebelumnya. jadi dia juga sangat malu, tapi di tekannya rasa malu itu.


"Mbak sudah ya Tirta mau ke belakang dulu, Tirta berusaha mengalihkan pikirannya dan berusaha melepaskan dirinya dari Rara! Bisa sangat berbahaya kalau dia tidak bisa menahan diri menghadapi Rara yang cantik, sexy dan....


Segera Tirta berdiri, mau tidak mau Rara segera melepaskan genggamannya.


Tirta dengan tergesa-gesa masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi dia berusaha mengatur nafas nya yang memburu, belum pernah dia mengalami kejadian seperti ini, nafas dan nafsunya benar-benar di uji... sungguh ujian yang sangat berat... hampir,,, hampir..


Ketikabbersama Iza maupun Dinda dia belum pernah mengalami kejadian seperti ini karena Iza maupun Dinda berpakaian sopan dan tidak menonjolkan bagian-bagian tubuh yang bisa menarik hasrat laki laki dewasa.


Ketika Tirta masih di kamar mandi, ternyata Adnan dan Bayu sudah balik .


Mereka berdua terkejut ketika di dapatinya ada tamu sang resepsionis seksi.


"Oohh mbak Rara to, kirain siapa.!.kata Bayu spontan.


Keduanya segera masuk dan tak lupa Bayu melirik kearah paha mulus dan tonjolan yang pas di dada Rara.


"Ta, Tirta!!! kamu dimana, ada tamu seksi dan mulus gini kamu anggurin teriak Bayu! suaranya terdengar sampai kamana- mana!


Tirta yang tadinya ingin berlama lama berada di kamar mandi, begitu mendengar suara kawan -kawannya sudah datang dia segera keluar dari kamar mandi.


"Syukurlah Adnan dan Bayu sudah kembali!" pikirnya.


Rara yang merasa misinya kali ini terganggu segera pamit keluar dan tak lupa minta pertolongan pada Tirta sekali lagi.


Setelah si resepsionis cantik dan sexy pergi.


"Alhamdulillah," seru Tirta, kalian balik tepat waktu.!


"Memangnya kenapa Ta?" tanya Bayu berlagak pilon.


"Huft berat sekali kata Tirta lirih, jika kalian tidak datang entahlah apa yang akan terjadi.


"Ya buatku menakutkan," jawab Tirta..


"Untunglah bukan aku" jawab Bayu tertawa lebar.


"Emangnya kenapa kalau kamu Bay?" tanya Tirta.


"Sudah aku.. sudah


aku... pokoknya ada deh!" jawab Bayu.


Setelah pembicaraan tentang resepsionis si cantik sexy Rara usai. Adnan segera membahas rencana duel lanjutan dengan Leo dan kelompoknya.


"Oh ya Ta sebaiknya nanti kita datang ke pantai Alam indah agak sorean.. kita harus tahu lokasinya lebih dulu!" saran Adnan,


dan Tirta menyetujuinya.


Siang itu Tirta Bayu dan Adnan lebih banyak berdiam di kamar hotel. Juga Tirta menyempatkan diri untuk menghubungi Iza dan membahas masalah Rara.


"Tolong jangan pecat dia Iza, gak enak nantinya aku," kata Tirta.


"Papa memang bermaksud merombak total manajemen Hotel itu Ta, dan kebetulan ada kejadian ini, makin kuat deh keinginan Papa buat merombak manajemen Hotel. Jangan kawatirkan masalah karyawan Hotel, papa tidak sesadis itu main pecat saja." Iza menjawab kekawatiran Tirta.

__ADS_1


***


Sore hari pukul 16.00 Wib.


Tirta, Bayu dan Adnan melangkahkan kakinya keluar dari hotel. Kali ini mereka naik angkot menuju pantai Alam Indah.


Setelah sampai di sana, Mereka membeli tiket dan masuk ke area pantai.


Sore itu pengunjung tidak terlalu ramai karena hari itu bukanlah hari libur ataupun weekend.


Mereka berputar-putar di areal pantai itu beberapa saat.


Setelah bosan barulah mereka duduk-duduk di pantai sambil menikmati suasana senja di pantai Alam Indah.


"Ta, tadi aku membeli ini," Adnan mengeluarkan sesuatu dari Tas yang di bawanya sejak tadi.


Ternyata itu adalah sebuah tongkat pipa besi baja sepanjang lima puluh centi tapi di dalamnya ada isinya batang besi baja yang bisa di tarik hingga panjang totalnya jadi delapan puluh ataupun sembilanpuluh centi.


Tirta segera mengambi tongkat itu dan menimang nimangnya.


"Cukup ringan dan kuat tampaknya Ad." kata Tirta memberi penilaian.


Coba kamu mainkan Ad kata Tirta seraya mengembalikan tongkat itu ketangan Adnan.


Adnan segera memainkan tongkat dengan kecepatan tinggi dan kuat.


Sambaran Sambaran tongkat membelah udara sore itu.


Tirta segera memberikan arahan-arahan gerakan yang sekiranya kurang pas pada Adnan.


Permainan Adnan semakin lama semakin hebat saja, dia mulai menyatu dengan tongkat yang baru di belinya tersebut.


Bay, coba kamu jadi lawan tanding bagi Adnan. kata Tirta.


"Pakai belatimu Bay!" seru Tirta.


Bayu memang masih menyimpan belati dari kelompok Leo yang jatuh tadi pagi.


Belati dari kelompok Leo ini tampaknya bukan belati sembarangan, terbuat dari Stainless steel dan terlihat sangat tajam dan kuat. Kelihatan sekali belati ini belati mahal produk luar negri.


Bayu segera mengeluarkan Belati dan segera terjun ke arena, menyerang Adnan dengan sangat cepat dan kuat..


Adnan dan Bayu juga Tirta sudah terbiasa berlatih bertarung dengan sungguh-sungguh supaya tidak kaget ketika menghadapi pertarungan yang sesungguhnya.


Dua kekuatan saling beradu di pinggir pantai Alam Indah ini.



__ADS_1


pantai Alam Indah Tegal


__ADS_2