
sementara itu di salah satu sudut Singapura, di sebuah resto di kawasan Newton Food Center yang dekat dengan Orchard Road.
Tampak Mr Budiman sedang duduk bersama dengan seorang pria yang tampaknya juga seorang bandar narkoba besar yang merupakan DPO pihak kepolisan.
Karena Singapura ini adalah surganya para penjahat dan penjarah uang rakyat Indonesia.
Karena ketiadaan perjanjian ekstradisi antara dua perintah menyebabkan para penjahat dan penjarah bebas berkeliaran di negara kota ini..
Akan tetapi pemerintah sekarang ini sedang berusaha untuk membawa Singapore ke arah pernjanjian ekstradisi walaupun ada konsekuensi yang tidak menguntungkan yang harus dihadapi oleh negara .
Tampaknya setelah kegagalan Peter dengan empat kelompok bentukannya membuat Mr Budiman semakin menyadari kekuatan pemuda-pemuda dari kota Semarang tersebut.
Tampaknya Mr Budiman bercerita banyak mengenai kegagalannya dalam mengatasi Tirta Jayakusuma, sehingga membuat dirinya harus bersembunyi di Singapura ini.
"Begitulah Bram,. anak buahku banyak yang mati dan juga tertangkap oleh ulah anak muda ini..." Mr Budiman menutup cerita nya.
Mendengar cerita koleganya ini , Bram kemudian berkata;
"Menurutku, kamu jangan lah menyerangnya dulu, juga jangan mencari perkara dengan nya, lebih baik hindari. kamu harus terus menjalankan bisnismu,, rekrut orang baru,"
"Dan selama bisnismu tetap beroperasi , kamu bisa menyusun kekuatan untuk suatu saat bisa berhadapan dengan pemuda itu jika kamu ingin menghadapinya.".
"Oh ya Budiman, aku dengar ada pemain baru dalam bisnis kita ini..
"Tampaknya ada satu organisasi kejahatan rahasia yang mulai bergerak. Mereka menundukkan kelompok-kelompok kecil untuk tunduk dan bekerja pada mereka.. kelompok ini bertindak sangat kejam tapi setiap tindakan mereka tidak meninggalkan celah bagi pihak-pihak lawan untuk mendeteksi mereka,,, bahkan polisi pun tidak mampu mendeteksi keberadaan mereka ini !"
Mendengar ini, Mr Budiman hanya mengangguk-anggukan kepalanya yang botak itu.
"Mereka hanya meninggalkan jejak cakaran besar di lokasi jika itu adalah perbuatan mereka." lanjut Bram.
"Kelompok-kelompok yang sudah tunduk dan dibawah Panji-panji mereka harus menyetor upeti pada mereka." kata Bram lagi.
"Ketika beberapa saat yang lalu utusan mereka datang padaku, aku tidak menentang mereka , karena lebih baik mencari aman daripada bentrok yang pasti akan merugikan ku."
"Bahkan dengan demikian mereka juga akan melindungi bisnis kita !" lanjut Bram.
"Aku anjurkan kamu ikut dalam naungan mereka dulu Budiman, untuk melindungi bisnis mu.." kata Bram mengakhiri ceritanya pada Mr Budiman.
"Baik Bram, akan aku pikir kan terlebih dahulu, nanti aku kabari lagi nanti jika aku ingin bergabung dengan mereka!" jawab Mr Budiman.
***
__ADS_1
Sementara itu setelah kegagalan dari Peter dan anak buahnya, Aktivitas di padepokan terlihat tenang juga berjalan seperti biasa..Tirta, Bayu dan Adnan mulai mengikuti kuliah seperti semula.
Sementara itu pak Michael dan keluarganya juga bersiap-siap kembali ke Jakarta untuk melakukan aktivitasnya seperti sedia kala.
Rencananya akhir pekan ini dia dan Mama Nadine, Nadine dan Joey akan kembali ke Jakarta, sedangkan Tomy tetap berada di padepokan untuk belajar olah kanuragan..
Sebenarnya Nadine ingin tetap tinggal di kota ini, akan tetapi pak Michael menghendaki supaya Nadine menyelesaikan kuliahnya dulu sambil belajar meneruskan usaha sang Papa.
***
Hari itu terlihat Tirta, Bayu, Adnan dan Nani serta Tia sedang duduk-duduk di halaman kampus di bawah sebuah pohon angsana yang rindang dan besar.
"Dinda tidak masuk lagi ya Tia?" tanya Bayu pada Tia.
"Tidak tau aku Bay," jawab Tia.
"Harusnya kan Tirta yang lebih tau ?" balik bertanya Tia..
"Coba deh kalian hubungi Dinda ," kata Tia pada kawan kawannya..
Nani segera berusaha menghubungi Dinda..
"Tidak diangkat," kata Nani setelah beberapa saat berusaha menghubungi Dinda..
Tirta segera berusaha menghubungi Dinda, akan tetapi beberapa saat kemudian dia segera menggeleng gelengkan kepala.
"Tidak ada yang mengangkat," kata Tirta.
"Sebaiknya kita kerumah Dinda, usul Tia..
Mereka kemudian sepakat setelah selesai kuliah siang hari mereka akan berkunjung ke rumah Dinda.
Berlima mereka meluncur ke rumah Dinda di daerah Semarang atas tepatnya di Bukit Sari.
Kota Semarang memang secara geografis sebagian wilayahnya berada di pinggiran pantai Utara pulau Jawa sedangkan sebagian wilayah yang lain berada di perbukitan.
Setelah sampai di rumah Dinda, mereka disambut oleh Mamanya Dinda.
"Terimakasih kalian mau menengok Dinda.." kata Mama . Dinda menyambut mereka.
"Ayo Mbak, Mas silakan masuk, sambut Mama Dinda.
__ADS_1
Mama Dinda kemudian mengajak mereka semua ke kamar Dinda.
Letak Kamar Dinda sendiri berada di lantai atas.
Begitu menaiki tangga Mama Dinda mengarahkan langkahnya menuju salah satu kamar yang berada di paling ujung.
Di depan kamar yang tertutup, Mama Dinda mengetuk dengan pelan pintu kamar tersebut, akan tetapi setelah beberapa saat tidak ada reaksi ataupun jawaban dari dalam.
Mama Dinda segera mendorong pintu tersebut, dan ternyata memang tidak terkunci dari dalam.
"Mbak Tia, mbak Nani, ayo masuk," ajak Mama Dinda.
Tia dan Nani segera melangkah memasuki kamar Dinda yang terlihat sangat luas dan mewah berhiaskan pernak-pernik khas anak gadis..
Sementara Tirta, Bayu dan Adnan menunggu di luar kamar.
Di dalam kamar tampak Dinda sedang berdiri di pinggir jendela menghadap keluar, pandangannya tampak jauh menerawang nembus batas waktu.
"Dinda, ini ada mbak Tia dan mbak Nani, " kata Mama nya pelan..
Tapi Dinda tampak terdiam, kata-kata Mamanya tampak seperti tidak didengar oleh Dinda.
"Mbak Tia dan mbak Nani, Mama tinggal dulu ya,, mungkin Dinda mau bercerita atau berbicara dengan kalian," kata Mama Dinda..
"Iya Bu," sahut mereka berdua.
Sementara itu setelah keluar kamar, Mamanya Dinda segera menemui ketiga pemuda tersebut yang masih menunggu di luar kamar..
"Mas Tirta, mas Bayu , bisakah Mama berbicara pada kalian?" kata Mama Dinda.
"Iya Bu kata," Tirta segera mengikuti Mamanya Dinda dan duduk di sofa yang ada di sudut pinggir ruangan dengan pandangan kolam renang di bawahnya.
"Begini mas Tirta, mas Adnan dan mas Bayu ! Entah kenapa sejak kejadian malam itu Dinda berubah menjadi pemurung, wajahnya terlihat sedih dan menangis tiba tiba juga berteriak-teriak ketakutan. Mama sudah memanggil Psikiater untuk mengetahui kenapa Dinda bisa seperti ini.. tapi sejauh ini belum ada perkembangan nya." Kata Mama Dinda sambil memandangi ketiga pemuda di depannya ini.
"Dinda tidak mau bercerita tentang apa yang terjadi." keluh Mama Dinda tampak sedih.
"Psikiater yang menanganinya hanya mengatakan kalau Dinda mengalami trauma.. " lanjut Mama.
"Dalam tidurnya dia juga sering berteriak-teriak ketakutan dan menyebut nama mas Tirta." lanjut Mama Dinda lagi..
Adnan yang mendengarkan cerita Mamanya Dinda tampak menghela nafas panjang. Dialah yang telah menolong Dinda dan menyelamatkannya jadi dia tahu semua yang terjadi dalam diri Dinda.
__ADS_1
Tirta yang mendengar cerita inipun tampak terkejut..Adnan tidak pernah bercerita tentang kejadian malam itu. Adnan hanya bercerita kalau dia sudah berhasil menyelamatkan Dinda.