
"Sebenarnya kami berasal dari lereng gunung Ungaran bang Leo, kami sedang ditugaskan oleh guru kami untuk merantau mencari pengalaman, juga untuk mengasah ilmu kanuragan yang kami pelajari." Tirta mulai bercerita tentang Dirinya dan kedua kawannya.
"Dan jika kami menemukan kejahatan ataupun kebatilan kami di wajibkan untuk ikut menumpasnya." Tirta melanjutkan ceritanya.
"Siapakah guru kalian ini Mas," tanya Leo.
"Maaf kami tidak bisa mnyebutkan bang Leo, kelak bang Leo bisa turut kami ke padepokan di lereng gunung Ungaran kalo bang Leo bersedia." jawab Tirta.
"Baik Mas jika kalian usai dengan petualangan ini Abang akan ikut kalian ke Padepokan, biar abangmu ini mengenal kebih jauh kalian dan guru-guru kalian." balas bang Leo!
"Oh ya, menurut abang, sebaiknya kalian harus langsung menuju Jakarta! mencari Hendra dan kelompoknya. Karena dia pasti akan mencari orang- orang lagi yang mungkin saja bisa lebih hebat dari Abang."
"Jika kalian melakukan perjalanan yang lambat, dia pasti menyiapkan diri untuk menghadapi kalian, dan secepatnya kalian menyerangnya, pasti dia tidak ada kesempatan untuk meloloskan dirinya." lanjut Leo
"Bagaimana menurut kalian,,?" Leo memberikan masukan pada Tirta Bayu dan Adnan.
"Benar juga saran bang Leo" Adnan memberi tanggapan.
Jika kita bergerak lebih cepat, mungkin saja Kelompok Hendra tidak akan bisa kabur lagi dan tidak sempat mencari bala bantuan." Adnan melanjutkan.
Akhirnya Tirta menyetujui saran dari Leo, dan malam nanti, tanpa menunggu lebih lama, mereka berangkat menuju Jakarta dengan bus malam, dengan didampingi oleh Leo.
***
Pagi di Terminal Pulo Gadung.
Empat orang berjalan keluar dari terminal, mereka adalah Tirta Bayu dan Adnan dan sekarang bertambah denga Leo.
Mereka sedang menunggu taksi online di luar kawasan terminal.
Setelah beberapa saat kemudian mereka sudah meluncur menuju daerah Rawa Bebek.
Leo bercerita bahwa dia akan membawa Tirta Bayu dan Adnan untuk tinggal di salah satu rumahnya di daerah Rawa Bebek.
Rumah Leo sendiri di Rawa Bebek berada di tengah tengah perkampungan. Rumah itu tidak mewah ataupun besar.. akan tetapi mempunyai halaman yang luas. Alasan Leo mengajak mereka kesini supaya Jejak mereka tidak di cium oleh Hendra.
Karena rumah lain yang di punyai Leo terlalu mencolok dan mudah di temukan karena Mewah dan orang- orang tertentu sudah terbiasa berhubungan dengan Leo di Rumah mewahnya yang berada di daerah Cibubur.
"Ayo silakan masuk!" Leo mempersilakan masuk tamu tamunya ke halaman. Jarak halaman sampai pintu rumah sekitar duapuluhan meter, cukup luas untuk daerah Rawa Bebek.
__ADS_1
Halaman Rumah Leo ini sungguh asri dengan tanaman beraneka macam, Tanaman Hias seperti Aglonema dari berbagai warna, keladi, Bonsai, dan lain sebagainya. Semuanya terawat dengan baik. Membuat siapapun yang ada di halaman itu merasa nyaman.
.
Di Depan pintu rumah yang setengah terbuka Leo segera memanggil sebuah nama.
"Nadia,,! Nadia!! panggil nya,
Seorang wanita muda segera muncul di depan Leo,
"Aku pikir kakak sudah lupa punya adik di sini !??" serunya yang segera merangkul dengan erat Leo. Setelah puas merangkul sang kakak, Nadia segera melepaskan rangkulannya. Barulah Leo berkata lagi ;
"Perkenalkan ini kawan- kawan Abang!" kata Leo memperkenalkan Tirta Bayu dan Adnan.
"Uh lagi- lagi kakak ngenalin pada orang orang yang gak jelas!" jawab Nadia yang tampak tidak senang dengan kawa - kawan abangnya.
Tirta, Bayu dan Adnan terkejut mendapat sambutan Nadia yang ketus seperti ini.
"Maaf ya Ta, Bay, Ad. Memang kelakuan adikku satu- satunya ini seperti ini, terlalu aku manja sejak kecil!" kata Leo yang tampaknya juga kurang tepat. karena itu adalah kesalahan Leo yang mengenalkan lingkungan yang salah pada Nadia
"Ya sudah kalau kamu tidak suka pada mereka, Abang tidak akan memaksamu, cuman abang mau bilang untuk beberpa hari kedepan kawan-kawan abang akan tinggal sementara si sini di rumah ini," kata Leo.
Hal ini memang tidak bisa di salahkan Nadia , karena Nadia tahu seperti apa pergaulan kakaknya ini.
Dia tahu kakaknya terjun di dunia hitam tapi dia tidak tahu bahwa kakanya adalah pentolan pembunuh bayaran yang di segani.
sering kali dia berkunjung di rumah kakaknya di Cibubur, dan seringkali pula dia berinteraksi dengan kawan-kawan kakak nya.
Mereka kasar-kasar dan tidak beretika dan kadang- kadang memandang Nadia seperti memandang domba saja, siap untuk diterkam.
"Aku percaya pada mereka Nadia, aku jamin deh mereka pemuda baik, sangat baik malah," jawab Leo membela Tirta Bayu dan Adnan.
"Sono gih siapkan kamar paling belakang buat mereka!" suruh Leo pada adiknya ini.
Nadia dengan bersungut sungut pergi kebelakang untuk merapihkan dan membersihkan kamar belakang yang akan di gunakan kawan kawan kakak nya,
"Apa kakakku sudah gila ya, masak temen-temen premannya disuruh nginap di sini," batinnya !
Tapi memang sebelumnya tidak ada satupun dari kawan-kawan kakaknya yang pernah di ajak kemari!
__ADS_1
Di ruangan tamu Leo menceritakan sikap Nadia yang seperti itu karena menganggap semua kawan-kawan Leo adalah para laki-laki brengsek yang tidak punya sopan santun.
Tirta Bayu dan Adnan mengangguk angguk mendengarkan Leo berbicara tentang Nadia!
"Nadia tolong buatkan kopi buat temen-temen Abang ya, seru Leo dari ruang tamu.
"Begitulah adikku Mas, dia tumbuh dan mengenal diriku seperti ini, tapi dia tetep sayang pada Abangnya ini yang telah merawat nya sejak kecil karena sejak dia berusia sepuluh tahun, orang tua kami sudah pergi selama lamanya." Leo mengakhiri ceritanya.
"Hari ini Abang akan mengerahkan anak buah abang untuk mencari info tentang Hendra, kalian disini dulu saja, setelah tahu lokasi persembunyian mereka, abang akan kasih tahu. Mungkin kalau siang ini sudah dapat infonya , nanti malam kita sudah bisa bergerak."
Beberapa saat kemudian Nadia sudah keluar dengan nampan di tangannya berisi empat gelas kopi yang masih mengepul.
"Sini duduklah dulu Nadia!
Jangan cemberut begitu nanti gak ada seorang pemudapun mendekatimu," canda Leo pada adiknya ini.
"Ini Tirta!" kata leo sambil mengarahkan pandangannya pada Tirta . Tirta segera menyodorkan tangannya, Nadia ragu- ragu untuk menyambut, sehingga membuat Leo melotot padanya .
Dipandanginya wajah pemuda di depannya, dengan ragu di sodorkannya telapak tanganya, sedikit saja menyentuh jari jemari Tirta, itupun di tariknya dengan cepat.
Dan ini Bayu, kata Leo. Sepeti halnya ketika bersalaman dengan Tirta, dengan Bayu pun di melakukan hal yang sama. juga selanjutnya dengan Adan.
Setelah itu Leo mengatakan akan pulang dulu ke Cibubur. Nanti kalao sudah dapat info dia akan segera mengabarkan pada Tirta.
Setelah Leo pergi, Tirta Bayu dan Adnan diantar kan oleh Nadia untuk melihat kamar yang akan di tempati mereka bertiga.Tidak banyak perkataan yang keluar dari bibirnya yang indah.
Sebuah kamar yang cukup besar dengan sebuah pembaringan yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk mereka bertiga tidur bersama.
Pagi itu setelah mengerjakan tugas rumah Nadia agaknya akan pergi entah kemana, dengan pakaian layaknya gadis kota , kaos lengan pendek dan celana jeans mencetak bentuk tubuh yang bagus dengan rambut panjang, kaki jenjang serta dada dan bokong yang pas seperti gitar spanyol! Didukung tinggi seratus tujuhpuluh lima centi, bak model model iklan di tipi..(maklum orang desa, gak bisa nyebut televisi).
Tirta dan Bayu sedang di ruang tengah sedangkan Bayu sedang membersihkan dirinya di belakang.
"Mbak mau pergi?" tanya Adnan di buat sesopan mungkin, supaya memberikan kesan Yang baik Pada Nadia.
Sapaan Adnan tampak nya tidak di gubris oleh nadia,
Adan dan Tirta saling pandang, dan tidak berkata kata lebih lanjut.
Hari ini Nadia ada kuliah jam 10. Jadi hari ini dia berangkat dari rumah jam 8 pagi supaya tidak terlambat, soalnya di Jakarta ini sangat macet. apalagi di waktu waktu pagi dan sore hari sampai petang ketika para pekerja berangkat dan pulang.
__ADS_1
Nadia kuliah di sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di ibukota ini, dengan mengambil jurusan kedokteran gigi.