Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
jatuhnya markas kelompok Hendra


__ADS_3

"Ad, tolong panggil mbak Latifah dan pak Darman kemari,"


"Iya Ta, segera Adnan keluar untuk memanggil mbak Latifah dan pak Darman.


Keduanya segera menuju ke sarang para penjahat ini.


Latifah terkejut ketika mendapatkan ada banyak gadis gadis muda di situ.


Siapa mereka Mas tanya Latifah.


Kelihatannya mereka korban jual beli manusia Mbak jawab Tirta.


Dan ketika pandangan Latifah terarah pada Bayu, dia makin terkejut ketika di lihatnya lengan Bayu yang terbebat oleh kaus luar dari Adnan dan terlihat masih ada bekas bekas darah disana.


Jadi Adnan hanya mengenakan kaus dalam saja.


"Mas Bay, tanganmu,, teriak Latifah penuh kekhawatiran.


Latifah segera memegang lengan bayu dan melepas bebatan kaus nya


"Aduh, pelan-pelan Mbak!" seru Bayu sambil meringis.


"Pak Darman tolong ambilkan kotak P 3k di dalam mobil."


Pak Darman dengan sigap berlari mengambil kotak yang di maksud di dalam mobil yang sudah diparkir masuk ke halaman markas kelompok Hendra ini.


Latifah dengan sigap memberi perawatan pertama pada Bayu.


Ternyata luka di bahu Kiri Bayu tidak begitu dalam, hanya sedikit menyobek kulit dan dagingnya saja.


Bayu sangat senang dengan perhatian yang di berikan Latifah padanya, sungguh perawatan yang lembut dan menghangatkan.


"Aduhh ,,aduhh," Bayu mengaduh sambil meringis lagi, tapi kali ini dia sengaja bersandiwara, biar Latifah lebih memperhatikannya. Dan benar saja Latifah menjadi khawatir karenanya.


"Mana yang sakit mas,!" seru Latifah !


"ini Mbak ini,,," Bayu menunjuk dadanya.


"Loh dada mas Bayu juga terluka?" sontak wajah Latifah semakin Khawatir, segera di periksa nya dada bayu yang lebar dan termasuk bidang, walaupun kebawah sedikit menjadi gentong!


Wajah Latifah memerah dadu begitu mengetahui kalau Bayu sengaja menggodanya.


Dada bayu tidak terluka sama sekali, dan juga tidak ada lebam atau bentuk cedera yang lain. Latifah hanya melihat tahi lalat besar saja di dada bagian kanan Bayu.


Tirta dan Adnan yang mengetahui karakter Bayu hanya tersenyum simpul saja melihat kelakuan Bayu.


Dalam hatinya Tirta berdoa supaya Bayu segera mendapatkan tambatan hatinya.


"Bay, Ad, dan mbak Latifah, langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya.!?" Tirta meminta pertimbangan pada kawan-kawannya.


"Sebaiknya kita laporkan pada pihak berwenang saja Ta, biar penjahat-penjahat ini mendapatkan hukuman yang setimpal," kata Adnan.


"Berarti kita tidak akan bisa menangkap Hendra karena pasti Hendra dan dua pimpinan yang lain pasti segera kabur," kata Tirta.

__ADS_1


"Aku rasa sekarang ini pun mereka pasti sudah mengetahui kejadian ini Ta, pasti sudah ada salah satu anak buahnya yang memberikan informasi. lanjut Adnan.


"Bagaimana menurutmu Bay?" Tirta meminta pendapat dari Bayu.


"Kelihatannya benar pendapatnya Adnan Ta," kata Bayu.


"Dan mbak Latifah mungkin ada pendapat lain?" tanya Tirta kepada Latifah.


"Terserah pada pustusan kalian saja," jawab Latifah.


"Baiklah kita laporkan kejadian ini pada yang berwajib saja!" kata Tirta memutuskan.


"Pak Darman , coba hubungi pihak kepolisian terdekat pak, kami akan menunggu disini."


"Baik Mas," pak Darman segera keluar dengan mengendarai mobil untuk melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian.


Setelah pak Darman pergi Tirta, Bayu, Adnan dan mbak Latifah memeriksa kembali ruangan-ruangan di markas kelompok hendra.


Ternyata di garasi yang cukup besar, Latifah mendapti truk-truknya yang hilang masih terparkir di garasi markas ini. Dari lima truk yang hilang. 4 diantaranya masih disitu tapi satu di antaranya sudah mulai dipreteli menjadi banyak part dan tinggal chasis saja dan cabinnya yang teronggok di sana.


Jadi satu truk tampaknya sudah berhasil dijual ataupun di bawa entah kemana.


Latifah sangat bersyukur mendapatkan kembali truk-truk hasil usaha keras almarhum suaminya.


Beberapa saat kemudian dua mobil polisi telah datang dan terparkir di halaman. Beberapa polisi polisi segera turun dan menghampiri mereka.


Sebagian polisi segera memeriksa kedalam bangunan tersebut. Sedang kan seorang yang tampaknya kepala satuan berbincang-bincang sambil menanyakan detail kejadian kepada Tirta ,Bayu dan Adnan.


"Sungguh kalian anak-anak muda yang hebat, aku kagum pada kalian semua, tapi akan lebih baik kalian melaporkan kepada kami jika ada kejadian seperti ini Mas. kata sang komandan.


"Siap Ndan,!" jawab mereka bertiga kompak.


Mereka saling bertukar nomor ponsel dengan sang komandan polisi yang masih muda tersebut yang ternyata bernama Faisal, dengan pangkat Ipda ( inspektur dua) dan masih berusia dua puluh lima tahunan.


Ipda Faisal sendiri baru menjabat di kepolisian beberapa bulan, karena baru lulus dari Akpol.


"Oh ya Ndan, truk-truk yang ada di garasi adalah milik mbak Latifah, bisakah kami ambil Ndan?" tanya Tirta.


"Nanti saja Mas, kalau sudah selesai kami data untuk keperluan penyidikan. Nanti akan kami beritahukan kalian untuk mengambilnya," jawab Faisal.


"Baik Ndan! kalau begitu kami akan pulang dulu ndan, sudah capek nih," kata Bayu.


Mereka segera meninggalkan markas Hendra dan kembali ke rumah mbak Latifah.


Di sepanjang jalan, Bayu pura-pura kesakitan dan mengeluh sakit pada mbak Latifah yang tampaknya juga sangat perhatian pada Bayu. Dengan penuh perhatian mbak Latifah beberapa kali mengelus pipi tembem Bayu dan menenangkanya. Dan Bayu???


sangat menikmatinya..!!!!


"Dasar Bayu!" sungut Adnan dalam hati.


Mereka sampai di rumah mbak Latifah ketika adzan Ashar berkumandang.


Zahra dan para penghuni rumah segera keluar dan menyambut mereka,

__ADS_1


"Syukurlah, Mbak, kalian bisa selamat," ucapnya. Dan ini mas Bayu terluka?" bagaimana lukanya Mbak?" Zahra bertanya dengan khawatir


"Tidak apa-apa Zahra, tadi Mbak sudah merawatnya kok, jawab Latifah sambil berjalan masuk kedalam rumah.


Hari itu seluruh penghuni rumah dan para karyawan bersyukur bahwa masalah bisa teratasi.


Walaupun Hendra yang menjadi pimpinan utama para penjahat ini belum tertangkap, tapi paling tidak gerakannya sudah tidak leluasa lagi.


***


Di suatu tempat di tengah kota Pekalongan.


Tampak seseorang pria agak gendut berusia sekitar 30 tahunan sedang marah-marah tidak karuan. Umpatan dan caci maki kotor meluncur dari mulutnya.


"Sialan, bang***t .." teriaknya keras.


"Siapa pemuda-pemuda itu! berani-beraninya mengganggu urusan ku,!" teriaknya.


"Kami tidak tahu bos," jawab salah seorang pria dari beberapa pria yang ada di hadapannya.


"Black dan anak buahnya sudah tertangkap semua, barusan juga ada kabar kalau markas juga jatuh. Hans, Bram dan semua anggota kita yang ada di markas juga takluk oleh tiga pemuda itu Bos. Dan sekarang mereka di bawa ke kantor polisi." Pria itu menambahkan keterangan.


Pria yang melaporkan pada Hendra adalah seorang pria agak kurus dengan seluruh muka dan tangannya penuh dengan tatto, sangat menyeramkan untuk di lihat, hidung dan telinganya pun penuh dengan anting.


Mendengar keterangan dari anak buahnya ini, Hendra sejenak terdiam. Tampaknya dia mulai menyadari kalau lawannya kali ini sangat tangguh. Orang menakutkan seperti Hans saja bisa keok.


Sekarang kelompok ini tinggal pimpinan Narkoba, Trafficking dan Otomotif. Bagian eksekusi yang merupakan ujung tombak kelompok Hendra sudah habis.


Dari ketiga bagian kelompok yang tersisa tidak ada satupun yang mempunyai kemampuan menghadapi lawan yang kuat.


Hendra mulai menenangkan dirinya dan berfikir jernih.


Tampaknya polisi sudah mulai mengendus jejak nya.


"Ramon, hubungi semua anak buah kita, sementara semua kegiatan kita hentikan sementara," serunya.


Ternyata pria yang penuh tatto itu adalah Ramon, salah satu pimpinan kelompok Hendra yang mengurusi Narkoba, dari sabu-sabu, ganja, ekstasi dan lain sebagainya.


"Kita harus segera keluar dari sini Mon, secepat nya, aku yakin sebentar lagi para polisi itu akan sampai kemari.


"Baik Bos!" jawab Ramon.


"Untuk sementara kita berdiam di Jakarta dulu sampai kondisi menjadi kondusif, setelah kondisi memungkinkan kita akan merekrut kembali orang-orang dan memulai lagi kegiatan kita," tambah Hendra.


Beberapa saat kemudian sebuah Alphard dan Pajero sport keluar dari rumah persembunyian tersebut.





batik Pekalongan

__ADS_1


__ADS_2