
Sudiro sudah mengerahkan segenap tenaganya, demikian juga dengan Sadewa.
Teriakan- teriakan penonton yang mendukung keduanya saling bersahut-sahutan menambah semangat bagi keduanya.
Pertarungan ini berjalan seimbang untuk beberapa saat lamanya. Setelah beberapa saat kemudian barulah pukulan- pukulan dari keduanya saling mendarat di tubuh sang lawan.
Peluh sebesar jagung mulai menghiasi leher mereka.
Hingga pertarungan mulai melambat karena tenaga yang mulai terkuras.
Beberapa saat kemudian tenaga mereka benar-benar mulai habis, hingga suatu saat , Sadewa yang tiap hari bekerja di ladangnya ternyata masih mempunyai sedikit cadangan tenaga, sehingga pada detik- detik terakhir dia mampu melakukan tendangan yang mengkibatkan Sudiro harus jatuh dari atas panggung bambu tersebut.
"Terimakasih adi Sudiro sudah sudi mengalah pada kakangmu ini," kata Sadewa merendah..
Sudiro tampak kecewa, tapi begitu mendengar kata-kata Sadewa yang merendah dia menjadi lega, dan menjawab;
"Ah, kang Sadewa terlalu merendah. kali ini aku memang kalah kang ! Kang Sadewa memang lebih tangguh dari dugaanku!" kata Sudiro.
Pendukung Sadewa bersorak-sorai gembira.
Sadewa segera turun dari panggung tersebut.
"Kali ini Sadewa yang menjadi pemenangnya !" seru ki Amongraga.
"Selanjutnya Kebo Dengen dan Brangah! silahkan naik ke panggung!" seru ki Amongraga.
Dua orang segera melompat dengan lincah keatas panggung.
Kebo Dengen adalah seorang pria yang sudah berkeluarga, berusia matang seperti halnya Sadewa. Tubuhnya terlihat liat dengan otot-otot yang kekar, terlihat sangat kuat dan kokoh.
Sedangkan Brangah adalah salah seorang pimpinan pasukan pengawal yang terlihat sangar!
Dengan brewok tebal menutupi dagunya, mata tajam setajam mata elang , penampilannya sungguh membuat lawan keder sebelum bertarung.
"Silahkan Adi menyerang lebih dulu," kata Kebo Dengen mempersilahkan Brangah yang memang jauh lebih muda darinya untuk menyerang terlebih dahulu.
Dengan di iringi teriakan keras, Brangah segera mengarahkan tendangan samping ke arah pinggang dari Kebo Dengen!
Kebo Dengen segera melompat tinggi dan membalas pula dengan tendangan !
Keduanya segera terlibat pertarungan tangan kosong yang seru.. Sesuai namanya, Brangah bertarung dengan liar seperti macan tutul, melompat kesana kemari dengan gerakan yang sangat cepat..
Gerakan-gerakannya benar-benar menirukan lompatan macan tutul ketika menerkam mangsanya.
Gerakan- gerakannya pun di lambari oleh aji Bayu Bajra.
Sedangkan Kebo Dengen mempunyai karakter petarung yang tenang dan penuh perhitungan, setiap gerakannya mengandung tenaga yang kuat dan mantap.
Begitulah dua gaya bertarung yang berbeda mengadu kekuatan di atas panggung bambu itu..
pertarungan kali ini benar-benar sangat seru !
__ADS_1
Baru setelah berlangsung lebih dari satu jam, mulailah terlihat tandang Brangah mulai surut.
Luka- luka lebam mulai terlihat di sekujur tubuh Brangah, gerakannya sudah melambat dan tidak segesit semula.
Sebaliknya tandang Kebo Dengen semakin merajalela saja. Tenaganya seakan-akan tidak ada habisnya.
Hingga suatu saat pukulan kerasnya yang berlandaskan Bayu Bajra menghantam dengan keras dada dari Brangah.
"Desss, " terdengar suara pukulan yang menghantam dada Brangah.
"Ahhh,,!!" Brangah tidak bisa menguasai dirinya dan jatuh telentang.
Kebo Dengen tampak menunggu sampai Brangah berdiri dengan tegak.
"Siap Adi ?" seru Kebo Dengen pada Brangah.
Begitu Brangah sudah menyatakan kesiapannya, Kebo Dengen segera melakukan serangan-serangan lebih gencar lagi.
Dan beberapa saat kemudian, kembali satu pukulan keras menghantam perut Brangah.
Kali ini Brangah jatuh telentang lagi dan tidak mampu untuk bangun.
Ki Amongraga segera melompat ke atas panggung arena, dan memeriksa keadaan Brangah.
Di dapatinya Brangah sudah dalam keadaan pingsan.
"Pemenangnya adalah Kebo Dengen !" seru ki Amongraga.
Demikianlah pertarungan ketiga ini di menangkan oleh Dengen.
"Jalu dan Kerto silahkan naik panggung ," seru ki Amongraga.
Dua orang pemuda segera melompat hampir bersamaan keatas panggung bambu tersebut.
Jalu ini merupakan anggota dari pasukan pengawal padukuhan di bawah komando Wulungan, sedangkan Kerto adalah pimpinan kelompok kecil pasukan pengawal.
Setelah saling hormat keduanya langsung terlibat duel yang seru.
Jalu seorang pemuda yang lincah, gerakannya sangat cepat bagaikan kijang ,, dan dia mempunyai tendangan kilat yang susah di hindari oleh lawan-lawannnya .
Sedangkan Kerto ini adalah pemuda yang sudah matang, berusia tiga puluhan tahun.
Sebagai pimpinan kelompok kecil, kemampuannya lumayan hebat.
"Silakan Kerto, " Jalu mempersilakan Kerto menyerang terlebih dahulu.
Kerto segera menyerang dengan segenap tenaga, dia tahu dalam latihan sehari-hari Jalu sangatlah lincah dan cepat.
Pertarungan kali ini segera berlangsung dengan cepatnya, silih berganti pukulan dan tendangan dilancarkan.
Setelah beberapa saat kemudian dengan kelincahan dan kecepatan tendangannya jalu sudah bisa membuat Kerto harus melompat turun dari arena pertandingan, sehingga otomatis Jalulah yang memenangkan pertandingan kali ini.
__ADS_1
"Jalu yang menang ! "seru Ki Amongraga.
"Baiklah warga semua , para pemenang kali ini adalah Wulungan, Sadewa, Kebo Dengen dan terakhir Jalu." seru ki Amongraga..
"Untuk sementara pertandingan sampai di sini dulu biarlah para pemenang beristirahat sejenak ," lanjut ki Amongraga.
"Nanti malam kita lanjutkan kembali," ki Amongraga segera menutup acara pemilihan Jagabaya untuk dilanjutkan nanti malam, karena hari sudah menjelang sore.
***
Malamnya di halaman rumah ki Ranu.
Di sekeliling panggung bambu sudah ramai warga padukuhan Srengseng yang hadir untuk menyaksikan pertandingan terakhir untuk menentukan pemenang yang untuk selanjutnya berhak menduduki sebagai Jagabaya di padukuhan Srengseng ini.
Obor- obor sudah di nyalakan di sekitar panggung bambu tempat arena pertandingan.
Ki Amongraga, ki Ranu, ki Sentanu, Tirta, Bayu dan Adnan juga Nastiti
sudah berdiri di sisi sebelah kanan panggung.
"Wulungan dan Jalu!" panggil ki Amongraga.
"Siap ki," seru keduanya.
"Silahkan naik ke panggung arena," seru ki Amongraga.
Wulungan dan Jalu segera berhadap- hadapan.
Dalam keseharian Wulungan dan Jalu adalah sahabat baik. Mereka berada dalam kelompok kecil pengawal padukuhan yang sama.
"Silakan kang Wulungan, Jalu mempersilakan Wulungan untuk menyerang lebih dulu." kata Jalu.
"Hati-hati Jalu," seru Wulungan yang segera bergerak menyerang.
Wulungan tahu tingkat kamampuan Jalu, begitupun Jalu sudah tahu kemampuan Wulungan.
Dalam latihan sehari-hari mereka sudah terbiasa berlatih tanding dan Jalu pun tidak terlalu banyak berharap untuk bisa memenangkan pertarungan kali ini.
Dan benar saja, Jalu sudah terkurung oleh serangan-serangan dahsyat dari Wulungan.
Dalam remangnya malam dan hanya mengandalkan penerangan obor di sekeliling arena pertandingan, cahaya biru tipis tampak menyelimuti lengan Wulungan dan mengejar kemanapun Jalu melompat.
Walaupun tubuh Wulungan tinggi dan besar tapi kecepatannya sungguh-sungguh luar biasa karena dilandasi aji Bayu Bajra yang sudah berada pada tingkat yang cukup hebat.
Gerakan cepat dan tendangan kilat Jalu nampak tidak berarti bagi Wulungan.
Jalu hanya mengandalkan kecepatan dan kelincahan saja untuk bisa menghindari setiap serangan Wulungan.
Beberapa saat kemudian Jalu yang memang tahu kemampuan Wulungan terlihat meloncat keluar arena pertandingan untuk menghindari serangan Wulungan yang sangat menakutkan baginya..l
"Pertandingan selesai, Wulungan pemenangnya!" seru ki Amongraga.
__ADS_1
Terdengar sorak sorai riuh dari para pendukung Wulungan.
.