Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
kota Tegal


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, mereka segera keluar dari hotel dan berjalan-jalan di Mall yang ada di dekat Hotel tersebut.


Mereka hanya berjalan-jalan saja, keluar masuk stan dan toko, tanpa membeli apapun.


Setelah bosan Bayu segera mengajak keluar dan mencari makan, di alun-alun kota tegal.


***


Jakarta, sehari sebelumnya.


Hendra bersama Ramon dan beberapa anak buahnya sedang berada di sebuah rumah mewah di kawasan elit di ibukota.


Hendra tampak berbincang-bincang serius dengan Ramon.


"Dari info orang kita tampaknya benar kalo tempat kita sudah di ketahui polisi! setelah kita keluar beberapa saat kemudian polisi datang. Untunglah kita sudah keluar dari sana Bos!" kata Ramon.


"Apakah kamu sudah mengetahui siapa yang mengobrak abrik markas kita dan menghancurkan usaha kita!?" tanya Hendra pada Ramon.


"Info yang didapat anak buah kita, itu di lakukan tiga anak muda Bos! Katanya mereka mempunyai ilmu beladiri yang sangat kuat, Hans saja bisa di kalahkan dengan mudah oleh para pemuda itu! padahal dia memegang pistol!"


Hendra mendengarkan keterangan dari Ramon dengan serius.


"Cari tahu tentang ketiga anak muda itu Mon, juga pergerakan mereka. Aku ingin ketiganya segera di habisi.. Cari jagoan-jagoan ataupun pembunuh bayaran. Tapi yang benar-benar tangguh dan hebat, bayar berapapun yang mereka mau!" kata Hendra.


"Baik Bos!" jawab Ramon.


***


Malam itu di alun-alun kota Tegal, Tirta, Bayu dan Adnan nongkrong tikar yang disediakan oleh pedagang nasi goreng di seputar alun-alun kota Tegal sambil menikmati teh poci dan nasi goreng.


Mereka menikmati malam yang cerah dengan bintang-bintang bertaburan di langit.


"Tampaknya lain waktu kita harus kembali ke Wiradesa," kata Adnan membuka pembicaraan.


"Ya, smoga saja!" jawab Tirta pendek.


"Tidak semoga Ta, tapi harus!" jawab Adnan tersenyum.


Mereka berbincang sambil makan.


"Ada dua orang wanita cantik yang menunggu lho!" kata Adnan melanjutkan.


"Memangnya dua orang cantik itu menunggu siapa Adnan?" tanya Tirta bingung.


"Maksud ku yaaa,,, mbak Latifah sudah nunggu Bayu.. dan Zahra ..!??


Zahraa.....?"


"kenapa dengan Zahra?? sahut Tirta tambah bingung.


"kamu ini blo'on banget deh Ta! tahu apa pura-pura tidak tahu nih," jawab Adan kesal.

__ADS_1


"Sueer brother, aku bener - bener gak paham arah omonganmu,,!" jawab Tirta kebingungan.


"Iya Adnan! aku juga kurang tahu arah bicaramu!" Bayu menambahkan.


"Huh... Bay, Bay... Kamu tuh cuma sibuk ngurusin juragan cantikmu saja!" semprot Adnan.


"Gini ya,, " Adnan melanjutkan.


"Aku lihat semalam tuh, Zahra mencuri-curi pandang terus pada juragan Tirta," kata Adnan sambil mengunyah nasi goreng.


"Nah,,, kelihatan banget kan, kalo tuh gadis cantik nan anggun itu, ada something wrong gitu di hatinya." lanjutnya.


Tirta terkejut mendengar uraian dari Adnan.


"Dan prediksiku,,,,!!" lanjut Adnan.


Bayu dan Tirta mendengar serius perkataaan Adnan.


"Zahra sudah ...."


"Sudah apa brother!?" seru Tirta tidak sabar lagi..


"Zara sudah .... sudah,,, ya sudahlah... besok saja .." jawaban Adnan membuat penasaran Tirta..


Ketika mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol, terlihat segerombolan anak muda menghampiri mereka,


"Hei kalian! minta duit dong!" teriak salah satu pemuda itu..


Pedagang nasi goreng sudah ketakutan, ketika melihat gerombolan pemuda mendekati lapaknya ini.


"Tampak nya mereka mabuk Bay, Ad," bisik Tirta.


Bayu dan Adnan mengangguk.


Tirta segera mengeluarkan uang seratus ribuan dan diberikan pada gerombolan pemuda itu, dengan harapan mereka tidak mencari gara-gara dan segera pergi.


"Kawan-kawan, seratus ribu nih! seru pemuda yang di berikan uang oleh Tirta seraya memamerkan uangnya pada kawan-kawannya!


"Wah, Ndek! (dari nama pendek) tampaknya mereka punya duit lumayan nih!" kata teman pemuda yang di berikan uang oleh Tirta tadi.


Mendadak pemuda yang berbicara tadi mengeluarkan sebilah pisau pendek dari pinggangnya dan langsung menodongkan pisau itu ke arah leher Tirta yang masih dalam posisi duduk beralaskan tikar.


"Mana dompetmu! keluarkan semua!" pemuda yang memegang pisau itu memerintah Tirta.


Bayu yang ada di sebelah Tirta segera berdiri, dan berkata;


"Kalian ini meminta duit kami kasih, eh malah keterluan! Minta hati di kasih, malahan minta ampela!" kata Bayu jengkel.


Pemuda yang memegang pisau kecil segera mengalihkan todongan pisaunya ke arah Bayu, karena dilihatnya Bayu berani membantah, dan si pemuda berandalan itu kelihatan marah pada perkataan Bayu!


Begitu pisau mengarah pada Bayu, reflek tangan kanan Bayu bergerak menangkap tangan pemuda yang memegang pisau kecil tersebut dan memilinnya..

__ADS_1


Segera saja pemuda berandalan yang memegang pisau dan menodongkan pada Bayu, berteriak- teriak kesakitan.


"Aduh ,, aduh mas,, lepas,,, lepaskan kan!" teriak pemuda berandalan itu marah.


"Tidak tahu diri! geram Bayu makin menekan dan memilin tangan yang memegang pisau kecil sehingga pisau tersebut terlepas dari pegangannya.


Akibat pilinan yang makin keras, pemuda itu sampai mengeluarkan air mata sampai bercucuran!


Mengetahui hal ini, kawannya yang terdekat segera memukul Bayu, tapi dengan sigap Bayu menangkap tangan yang hendak memukulnya dengan tangan kirinya .


Dua orang sekarang berada di tangan Bayu. Bayu segera memelintir tangan pemuda yang barusan memukulnya kebelakang , sehingga tangan terpelintir kebelakang.


Melihat kejadian ini, pemuda berandalan yang lain sigap hendak lari.


Tapi Adnan dengan sigap menyapukan kaki nya sehingga dua orang sekaligus terjerembab jatuh tertelungkup dan salah satunya terjatuh dengan hidung membentur batu, akibatnya dia berteriak kesakitan dan darah mancur keluar dari hidungnya!"


Tinggal seorang lagi yang tampaknya sudah sangat ketakutan sehingga terpaku di tempatnya.


Ya pemuda- pemuda berandalan ini berjumlah lima orang.


"Kalian ingin aku apakan hah!" seru Bayu.. sambil menambah tenaga pilinan pada pemuda berandalan yang masih dipeganginya, menambah rasa sakit yang luar biasa pada pemuda-pemuda berandalan tersebut.


"Maaf mas, maafkan kami! lepaskan kami,,! hu, hu, hu, hu!"


Dua pemuda yang di pegangi Bayu menangis, sepeti anak kecil saja. Tak disangka hari ini mereka kena batunya.


"Akan kami lepaskan kalau kalian berjanji tidak mengulangi perbuatan kalian!" kata Bayu.


"Iya Mas, kami berjanji!" kata dua pemuda yang masih dipegangi oleh Bayu.


"Ayo kalian yang lain juga berjanji!" seru Bayu!


"Iya Mas, kami berjanji!" seru mereka serempak.


"Awas ya! kalau kalian ketemu kami lagi dan ketahuan berbuat tidak baik, menodong ataupun mabuk- mabukan! Akan aku patahkan kaki dan tangan kalian?" ancam Bayu.


"Dan jangan sekali-kali kalian ganggu para pedagang di sini!"


"Iya mas,, !" jawab mereka, yang segera saja hendak pergi!


Lima berandal tersebut akhirnya di lepaskan oleh Bayu setelah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.


Pedagang nasi goreng, tempat Tirta dan kawan-kawannya makan segera mengucap kan terimakasihnya pada Tirta, Bayu dan Adan!


Dan sebagai bentuk rasa terimakasinya pedagang tersebut hendak menggratiskan makanan Tirta, Bayu dan Adnan.


Akan tetapi Tirta menolak nya karena bagaimanapun mereka mencari rejeki dengan susah payah.


Sebenarnyalah perbuatan -perbuatan seperti ini sering kita jumpai di sekitar kita, ini terjadi karena minimnya perhatian orang tua mereka, juga karena lingkungan dan pergaulan dari para pemuda. Mereka kadang hanya ingin menunjukkan eksistensi dan dianggap berani oleh kawan-kawannya saja.


Malam semakin larut, tapi di alun-alun kota Tegal masih tetap ramai dengan para pedagang dan pengunjung yang menikmati malam di kota ini!

__ADS_1


Tirta, Bayu dan Adnan segera kembali ke hotel karena esok hari mereka akan melanjutkan perjalanan panjang mereka.


__ADS_2