
Flashback.
Bayu bersama ayah dan ibunya serta kakak laki-lakinya yang ternyata juga hampir-hampir mirip dengan Bayu,. besar dengan perut segentong, selepas Maghrib meluncur ke Wiradesa.
Kali ini mereka membawa beraneka macam hasil kebun dan hasil sawah milik mereka.
Malam malam mereka sampai di rumah juragan Latifah dengan disambut oleh mbak Latifah bersama keluarganya.
"Bay, kamu pinter nyari calon Istri,,. bisik Bapaknya.
"ini sih bener-bener juragan kaya raya," kata kakaknya yang tampaknya juga mempunyai karakter yang mirip- mirip juga dengan Bayu, . suka bercanda, ceria dan konyol tapi jujur dan apa adanya.
Bayu Hanya tersenyum-senyum saja mendengarkan ocehan kakaknya ini..
Dengan membawa berbagai hasil bumi seperti ketela, pisang, sukun, kelapa juga sayur mayur dan semua hasil bumi, di tambah ayam jago, mereka berjalan menuju rumah sang juragan.
Adat lamaran di tiap-tiap daerah di Jawa pun berbeda beda..
Ada yang membawa isi rumah seperti meja, kursi, almari, dipan dan lain sebagainya . Ada pula yang membawa ternak seperti kambing, kerbau maupun sapi.
"Mari pak Bu, mari silahkan masuk," ajak mbak Latifah dengan wajah penuh senyum bahagia.
Bayu, kakaknya serta kedua orang tuanya segera memasuki rumah gedong magrong magrong ( kata orang Jawa melukiskan rumah besar dan bagus) itu..
"Besar sekali Bune !" (sebutan suami pada istri orang Jawa).
"Iya Pakne !" (panggilan istri pada suami orang Jawa) jawab si Ibu nya Bayu.
"Beruntung sekali kamu Bayu," kata si Ibu.
Malam itu Bayu dan mbak Latifah sangat bahagia.. mereka mengobrol sampai larut malam.
Sementara orang tua Bayu dan kakaknya sudah sedari tadi beristirahat di rumah kecil disebelah rumah utama yang di peruntukkan untuk tamu-tamu yang menginap.
Ketika waktu mendekati tengah malam Bayu segera ijin pada mbak Latifah.
Aku dah mulai ngantuk Mbak, kata bayu sambil berdiri Dan mencium kening juragannya yang Sebentar lagi akan di nikahinya..
Iya, Mas Bay,, istirahat lah dulu,.besok masih ada acara yang penting, kata Mbak Latifah pada Bayu..
Ketika hari menjelang fajar, sekiranya jam 3.
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan gaduh dari dalam rumah mbak Latifah.
"Bay, bangun Bay,, !" seru Ibunya yang terjaga lebih dulu karena mendengar suara suara gaduh dari dalam rumah juragan Latifah.
Bayu yang biasanya susah di bangunin, sontak kaget, karena dia juga mendengar suara keributan dari dalam rumah calon istrinya itu.
Bayu segera terbangun dan berlari menuju rumah Mbak Latifah yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari tempat nya beristirahat.
Ketika dia sampai di ruang tamu..
Alangkah terkejutnya Bayu menyaksikan Mbak Latifah diseret-seret oleh seseorang tak dia kenal .
__ADS_1
"Mas Bay, tolong mas Bay,!"seru mbak Latifah..
"Lepasin Hendra,! lepasin !" seru mbak Latifah..
Bayu segera sadar, inilah Hendra yang memang beberapa kali ingin menculik Mbak Latifah..
Dengan kemarahan yang meluap-luap Bayu segera menerjang ke arah Hendra,,
"Lepaskan mbak Latifah !" seru Bayu keras .
Akan tetapi begitu sampai di depan hendra,, dua orang tampak menghalangi nya..
Dengan senjata seperti cakar mereka menghalangi terjangan Bayu .
Terjadi pertarungan sengit di ruang tamu itu..
Tampak kemudian Hendra sudah berhasil membawa mbak Latifah keluar dari rumah.
Para penculik kali ini tampaknya benar benar sangat tangguh.
Kemampuan perseorangannya ternyata hampir mendekati kemampuan Bayu.
Kini Bayu di keroyok oleh empat orang pria yang semuanya menggunakan senjata cakar.
Tanpa senjata, Bayu tampak keteteran menghadapi para penyerbu kali ini..
Tampak para penyerbu ini juga kaget dengan kemampuan pemuda besar dan gendut ini
Sesaat sebelum mereka mundur, salah satu penyerbu berhasil menyarangkan cakar besinya ke dada Bayu,, Tiga bekas cakaran menggurat dada Bayu!
Bayu masih sempat mengejar mereka ke halaman , akan tetapi dia kalah cepat.. Para penculik sudah berhasil membawa kabur juragan Latifah, calon isterinya.
"Mbak Latifah !!? seru Bayu putus asa...
Tak dirasakannya dadanya Yang bersimbah darah akibat luka cakaran dari senjata para penculik itu..
***
"Kami akan berangkat mencari mbak Latifah Bay," kata Tirta.
"Aku ikut ya,,!" seru Bayu lemah.
"Apa tidak sebaiknya kamu menunggu di sini dulu Bay," kata Tirta.
"Aku tidak akan bisa tenang di sini Ta, " jawab Bayu lirih.
Ya, walaupun Bayu masih tampak lemah akan tetapi tampaknya dia tidak memikirkan dirinya sendiri ! Dia lebih memikirkan keselamatan mbak Latifahnya !
yang berangkat kali ini adalah semua penghuni padepokan, sedangkan Dinda Tia dan Nani ditinggal di rumah ini.
Irman kali ini pun menjadi petunjuk jalan,, dengan kemampuan nya dalam olah roso dan olah batin dia segera memberikan arah perjalan.
Kali ini perjalanan menyusuri jalanan Pantura, dari Comal, Pemalang, hingga Tegal.
__ADS_1
Sesampai di alun-alun kota Tegal tampak mobil yang di tumpangi mereka berputar beberapa kali di sana.
"Ke arah mana Ir?" tanya Tirta pada adiknya.
Sesaat kemudian Irman sudah menentukan arah..Dia menunjuk satu arah, yang ternyata menuju kota Slawi..
Setelah keluar dari kota Tegal, di tengah tengah perjalanan Irman tampak Irman berseru.
Stop ,, sebentar mas, serunya.
Tirta segera menghentikan laju mobilnya..
Irman segera menengok kearah belakang,, kurang lebih jarak seratusan meter di belakang nampak sebuah bangunan cukup megah dengan tembok mengelilingi bangunan tersebut..
Pintu gerbangnya tampak tertutup rapat.
Mungkin mereka ada di sana kata Irman..
Mereka kemudian Tampak turun menghampiri Alphard satunya..
Tirta segera menceritakan kalo Irman mencurigai kalau rumah megah yang ada di belakang mereka adalah tempat kawanan para penculik mbak Latifah!.
"
Aku dan dan kang Damar serta Adnan sebaiknya lewat belakang. kata bang Leo mengusulkan..
Tirta, Mbah Hardjo, Tomy dari Depan sedang Bayu sebaiknya di dalam mobil ini bersama Irman. usul Leo lagi.
"Baiklah kita putuskan demikian saja," kata Tirta menyetujui usulan bang Leo.
Mereka segera bergerak cepat menuju rumah besar yang berpagar cukup tinggi mengelilingi rumah besar tersebut.
Setelah sampai di pintu gerbang rumah besar tersebut, Tirta segera mengintip dari sela sela pintu gerbang..
Terlihat halaman sangat lengang dan sepi, hanya ada dua buah mobil saja yang terparkir di halamannya.
"Sepi Mbah," kata Tirta pada Mbah Hardjodikoro.
Tirta segera mendorong pintu gerbang tersebut, tapi tampaknya di kunci dari dalam.
"Lompat saja Ngger," usul Mbah Hardjo.
"Iya Mbah ," jawab Tirta yang segera melompat dinding tembok setinggi kurang lebih dua meter.
Setelah mendarat di dalam, tampak halaman rumah itu memang tak ada yang yang menjaga seorangpun.
Tirta segera membuka pintu gerbang tersebut dari dalam supaya Tomy dan Mbah Hardjo bisa masuk,, karena Tomy masih belum mampu melompati dinding tembok setinggi itu.
Setelah Mbah Hardjo dan Tomy masuk, mereka bertiga segera bergerak mendekati rumah besar tersebut dengan hati-hati supaya tidak mengejutkan orang-orang yang ada di dalamnya.
senjata yang di gunakan para penculik
__ADS_1