Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Kebenaran


__ADS_3

Tirta segera meninggalkan arena pertarungan dengan mengajak guntur dan kawan kawannya.


Disepanjang jalan Bayu tak henti hentinya memuji dan menyanjung Tirta setinggi langit.


"Hebat kau Ta, Aldi bisa kau tahan begitu rupa , tadi aku lihat pertama kali sombongnya minta ampun.. eh akhirnya dia gak bisa ngalahin kamu,, malu pasti dia di depan kawan kawannya tuh"..seru Bayu.


Guntur segera menimpali ocehan Bayu.


"Sebenarnya lah tadi Aldi sudah kehabisan nafas, kalo dilanjutkan dia bisa pingsan tanpa dipukul".


"Iya Ta, sejak kapan sih kamu lihay bertarung kayak gitu? tanya Adnan.


"Bener bener hebat sekali kau Ta, ajarin dong aku Ta, biar aku hajar tuh muka nya Aldi, jadikan aku muridmu ya Ta?" cerocos Bayu.


"Apa kamu siap ngecilin perut kamu itu bay" Adnan yang menjawab.


"Emang nya kenapa dengan perut aku ha .. kan dengan perut gede ini malah tahan pukul'?. jawab Bayu


"Tahan pukul sih iya, tapi kalo gerakannya lambat kaya anak gajah gimana mau bertarung hayo", balas Adnan.


Sepanjang jalan mereka ramai membicarakan pertarungan tadi,


tanpa terasa mereka sudah sampai di perkemahan, beberapa senior segera menyambut mereka dengan antusias dan menanyakan kunjungan Guntur ke perkemahan anak anak karate. Mereka segera duduk di depan tenda utama tempat dimana dinda dan selvi beristirahat.


Mereka yang menyambut adalah senior yang berjaga jaga di perkemahan, sedangkan yang laen sedang melakukan aktivitas pelatihan.


Selvi dan Dinda yang mengetahui kedatangan Guntur , Tirta dan lain lain yang tadi menyambangi Aldi dan kawan kawannya juga ikutan keluar.


Mereka segera menanyakan hasil kunjungan mereka Guntur ke kelompoknya Aldi.


Guntur menyerahkan kepada Bayu untuk menceritakan dari awal hingga akhir kejadian dengan anak anak karate yang di pimpin Aldi.


Dengan semangat 45 Bayu segera menceritakan dengan detil apa yang terjadi ketika mereka mengunjungi Aldi.


Mereka mendengarkan dengan seksama dan sekali sekali bersorak ketika Bayu menceritakan kisah pertarungan antara Tirta dan Aldi yang sangat seru. Dengan gaya yang humoris dan kocak membuat cerita nya semakin seru saja.


Tirta sekali sekali menundukkan kepala malu mendengar kan cerita Bayu yang menjadikannya bak Pahlawan yang luar biasa hebat di mata teman-temannya.

__ADS_1


Dinda yang ikut mendengarkan cerita Bayu semakin yakin kalo waktu itu yang menolongnya dan juga Selvi adalah Tirta.


"Benar kan Vi, dugaanku kalo yang menyelamatkan kita malam tadi adalah Tirta". bisik Dinda pada Selvi.


"Iya tampaknya benar Din, Tirta memang cowok yang baik dan menarik, tidak sombong dan rendah hati pula", balas Selvi sambil berbisik pada Dinda.


"Aku jadi ingin mengenalnya lebih deket Din" lanjut Selvi.


Dinda terdiam mendengar omongan selvi ini.


Ketika Bayu sudah selesai dengan ceritanya, maka Guntur dan senior senior laen segera membubarkan diri , sebagian ada yang tinggal di area kemah dan sebagian menyusul ke tempat kegiatan yang sedang berjalan.


Faiza masih tinggal di perkemahan bersama Tirta, Bayu Adnan , Selvi.


Dari tadi pandangan Faiza tidak lepas dari sosok Tirta, Dia semakin kagum pada Tirta, Hatinya semakin terjerat oleh pemuda satu ini.


Sedangkan Dinda secara diam-diam juga memendam perasaan kagum, sejak dari semula kenalan dia sudah respect dan suka dengan Tirta, apalagi setelah dia tahu ternyata Tirta adalah cowok yang mempunyai kelebihan luar biasa dan tetap rendah hati.


Dia ingin bicara berduaan saja dengan Tirta, tapi sejak tadi tidak juga ada kesempatan untuk mendekati Tirta, karena Faiza selalu di dekat Tirta.


Beberapa saat kemudian Bayu, Adnan dan Tirta sepakat akan mengikuti acara lapangan, mereka bergegas menyusuri sungai kearah bawah, karena pelatihan Diksar siang ini dilakukan sambil menyusuri sungai kecil di Nglimut ini. Kali ini Faiza berdiam si base camp, karena dia bertugas menyiapkan konsumsi siang ini bersama beberapa senior lain.


"Mau kemana kamu Din?" tanya Selvi.


"Ini mau keluar cari angin Sel, sumpek di dalam terus" . jawab Dinda berbohong.


"Aku ikut ya Din?"


"Gak usah Sel, aku ingin menyendiri saja, " jawan Dinda


Selvi hanya diam saja segera Dinda dengan terburu-buru meninggalkan Selvi.


Dengan terpincang-pincang Dinda berjalan setengah berlari mengejar Tirta, Bayu dan Adnan.


Untunglah mereka baru berjalan belum terlalu jauh, sehingga Dinda berhasil mengejar mereka.


"Tunggu Bay, Ta" seru Dinda ketika jarak mereka semakin dekat.

__ADS_1


Mereka bertiga secara bersamaan menoleh kebelakang. Meraka terkejut Dinda sudah ada di belakang mereka bertiga.


"Dinda ! ngapain kamu menyusul kami kesini?" Bayu langsung berteriak.


"Kamu kan sedang sakit?" tanya bayu.


Ketika Dinda sudah di hadapan mereka , dengan kawatir Adnan segera berkata.


"Janganngan ikut kegiatan dulu Din, kakimu masih pincang gitu kok!"


"Ah sudah agak mendingan, tadi ada yang mijit kakiku, sambil berbicara Dinda melirik kearah Tirta dan tersenyum.


"Walau agak pincang tapi sudah jauh baikan dari pada tadi malam. yang mijitin aku benar-benar luar biasa." Tirta yang mendengar keterangan Dinda ini hanya diam dan menundukkan muka seakan tidak tahu apa apa.


"Aku mengejar kalian bukan mau ikutan kegiatan, aku hanya ingin menanyakan sesuatu hal yang pribadi sama Tirta, jadi ya maaf Tirta aku tahan di sini dulu, kalian berdua tinggalkan Tirta disini dulu ya,, maaf ya Bay, Adnan" Dinda berkata dengan penuh permohonan supaya mereka berdua bisa meninggalkan mereka berdua saja.


Bayu yang memang tanggap segera menyeret Adnan meninggalkan mereka.


Sebenarnya Adnan agak keberatan karena dia tahu Dinda ada rasa sama Tirta, dia agak cemburu, tapi apa daya, Dinda menghendaki demikian.


Dinda segera mengajak Tirta duduk duduk di batu besar dipinggir sungai tersebut.


Kaki Dinda yang putih bersih dan lembut terjuntai di air sungai yang mengalir deras dan jernih dengan bebatuan besar dan kecil di dasarnya, sehingga menimbulkan riak air dan suara gemericik.


Beberapa saat Dinda berdiam diri sambil memainkan kakinya di air sungai yang jernih dan dingin.


Tirta hanya duduk si samping Dinda sambil berdiam dan memandangi aliran air. Mereka saling diam dengan pikiran masing masing sambil menikmati aliran air sungai didepan mereka berdua.


Hingga beberapa saat kemudian Dinda membuka pembicaran.


"Sejak awal aku yakin kamulah yang menolongku malam itu Ta, dan aku semakin yakin ketika tadi Bayu menceritakan tentangmu, Aku sangat berterima kasih padamu, aku berhutang budi padamu. Sejak kita berkenalan walau baru beberapa hari saja, aku sudah yakin, kamu cowok yang baik".


Tirta hanya diam, dia tidak mengiyakan ataupun membantah Dinda.


"Terimakasih telah menolongku Ta, jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah mati, atau aku cedera berat yang bisa membuatku cacat seumur hidup."


"Ahhh jangan seperti itu Din, aku hanya kebetulan saja bisa menolongmu" jawab Tirta lembut.

__ADS_1


"Lagian kita adalah sahabat, kemaren dulu aku juga kamu tolong ketika di pak Geger kan ?" jawab Tirta.


"Itu urusan kecil saja Ta" balas Dinda sambil tersenyum, dia jadi teringat kejadian kemaren, ketika wajahnya Tirta kebingungan karena harus mentraktir para sahabatnya itu.


__ADS_2