Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
tentang permintaan ki Ranu


__ADS_3

Tubuh Aryo Seto tergeletak di tengah arena pertarungan,


Tampak ki Sardulo sedang berjongkok di sebelah Aryo Seto, tampaknya dia sedang memeriksa keadaan Aryo Seto.


Belum sempat ki Sardulo berbuat sesuatu , mendadak seorang kakek yang sudah tua kira kira seusia ki Ranu, melompat mendekati tubuh Aryo Seto..


kakek ini segera duduk di sebelah tubuh Aryo Seto yang masih tergeletak di tanah.


Si kakek ini memegang dan memijit beberapa bagian Tubuh Aryo Seto, wajahnya tampak tegang dan serius.


Dan setelah beberapa saat kemudian dia telah melepaskan pijitannya dia segera berkata pada ki Sardulo ;


"Sardulo bawalah orang- orangmu pulang ke padukuhan. Tandulah Aryo Seto, nanti aku yang akan mengobati lebih lanjut," kata kakek tersebut yang tampaknya sudah mengenal ki Sardulo dengan baik.


"Njih ki Pradigdo !" jawab ki Sardulo yang tampaknya sangat menghormati kakek- kakek ini.


Para pengikut Aryo Seto kemudian segera membuat tandu seadanya dari batang bambu yang banyak tumbuh di sepanjang jalan itu.


Selanjutnya Kemudian mengangkat tubuh Aryo Seto dan meletakkannya ke atas tandu bambu tersebut dan kembali ke padukuhan Wuni.


"Ranu ! Aryo Seto adalah muridmu!


Sebagai gurunya sudah seharusnya kamu mendidiknya dengan baik!" kata kakek tua tersebut.


"Pradigdo, aku sudah mendidiknya semampuku, semua ilmuku sudah aku wariskan kepadanya,? tapi sifat dasarnya kalianlah yang seharusnya lebih memahami karena sudah dari kecil lah Sastro dan kamu yang telah mendidiknya! Dan sekarang apa balasan Aryo kepada ku kepada warga padukuhan Srengseng ini!? apa balasannya?!" balas ki Ranu dengan suara cukup keras!


"Kamulah yang seharusnya bertanggung jawab, dia selama puluhan tahun dalam pengawasan dan didikanmu!" lanjut ki Ranu.


Ya ternyata antara ki Ranu dan ki Pradigdo yang juga merupakan kakek guru dari Aryo Seto adalah kenalan lama.


"Huh , alasan saja kau Ranu!" seru ki Pradigdo tak kalah geram nya.


"Jika ada apa-apa dengan Aryo Seto kamu dan semua penghuni padukuhan Srengseng harus bertanggung jawab". ancam ki Pradigdo.


"Tunggulah sampai Aryo menuntut balas atas kelakuan kalian hari ini." lanjut ki Pradigdo.


"Aryo sudah berjanji tidak akan mengganggu padukuhan ini lagi Pradigdo! dia sudah menyatakan kesediaannya untuk tidak mengganggu padukuhan ini apabila dia kalah dalam perang tanding kali ini, dan sekarang dia sudah kalah ," seru ki Ranu!


"Aku tidak perduli dengan perjanjian di antara kalian !" jawab ki Pradigdo.


"Yang jelas nantinya Aryo Seto akan menuntut balas atas perintah ku..!" kata ki Pradigdo tegas.


"Satu tahun lagi Ranu, Satu tahun lagi aku pastikan Aryo akan datang lagi kemari !"


Setelah berkata demikian ki Pradigdo segera melompat cepat pergi menyusul orang orang padukuhan Wuni.


"Hmm dasar orang tua gila," geram ki Ranu.

__ADS_1


Orang orang tampak lega, mereka seperti terlepas dari beban berat yang menindih hati mereka.


ki Ranu tampak menarik napas panjang.


Tampaknya hari ini permasalahan belumlah usai karena kemunculan ki Pradigdo.


***


Pagi itu di pendopo rumah ki Ranu.


Tampak ki Ranu dan Tirta terlibat dalam pembicaraan serius, hanya mereka berdua saja.


"Anakmas Tirta Jayakusuma, tampaknya permasalahan ini masih jauh dari kata selesai," kata ki Ranu membuka pembicaraan dengan Tirta.


"Iya Eyang, tampaknya memang demikian," jawab Tirta.


"Setahun lagi tampaknya kami akan meminta tolong lagi pada anakmas dan akan merepotkan lagi anakmas Tirta," lanjut ki Ranu.


"Untuk itu anakmas, seperti permintaan eyangmu kemarin, aku titip kan padukuhan ini dan juga Nastiti kepadamu. kata ki Ranu lagi.


"Tapi Eyang Ranu,," sela Tirta berusaha memotong kata-kata ki Ranu.


"Kamu tidak harus salalu ada di padukuhan ini anakmas, cukup sekali- kali saja anakmas ketika padukuhan sedang dalam keadaan penting atau ketika anakmas sekedar ingin mengetahui keadaan padukuhan ini.


Dan alangkah baiknya apabila anakmas ingin menetap di sini !


"Aku tahu anak mas mempunyai kehidupan sendiri di luar sana, makanya eyangmu tidak memaksa anak mas Tirta untuk tinggal di padukuhan Srengseng ini," lanjut ki Ranu.


"Dan untuk masalah Nastiti, sejak semula aku sudah yakin untuk menitipkannya pada anak mas!"


"Deg !" hati Tirta mulai kacau ketika ki Ranu membicarakan tentang Nastiti.


"Orang tua Nastiti sudah tidak ada ketika Nastiti masih kecil, Ibunya Nastiti sakit-sakitan sejak ditinggal oleh suaminya karena tergoda oleh gemerlapnya kehidupan di dunia luar sana.." kata eyang Ranu


"Nastiti sudah tidak ada yang menjaga anak mas! sedangkan eyangmu ini tidak mungkin untuk menjaganya selamanya.!"


"Eyangmu ini tidak menuntut mu untuk tiap saat ada di samping Nastiti, karena eyang yakin, banyak wanita diluar padukuhan ini yang tertarik pada anak mas, karena anak mas mempunyai aura yang bisa menarik kaum wanita untuk mendekat pada diri anak mas Tirta Jayakusuma."


"Anak Mas telah di takdirkan mempunyai sisihan lebih dari satu, akan tetapi akan banyak rintangan dalam kehidupan anak mas."


Tampaknya ki Ranu adalah seorang Waskita yang tahu akan kejadian- kejadian yang mungkin terjadi di masa mendatang.


"Untuk itu anak mas tidak perlu kuatir akan perjodohan ini," kata ki Ranu lagi.


"Semua yang terjadi pada diri anak mas Tirta sudah digariskan! jalani saja susuai kehendak dari Gusti ingkang Murbeng Dumadi.


Tuhan yang mengatur kehidupan ini."

__ADS_1


"Eyangmu tidak akan terlalu mengikatmu, juga eyang pastikan Nastiti juga akan menyetujui nya."


"Anak mas Tirta tetap bisa melanjutkan kehidupan seperti biasanya, seperti tidak ada apa-apa yang terjadi setelah anak mas keluar dari padukuhan Srengseng ini," kata ki Ranu.


Tirta hanya menunduk diam mendengarkan kata-kata ki Ranu yang panjang lebar. Dia berusaha meresapi kata- kata dan petuah-petuah ki Ranu.


"Tetapi apakah bisa hatinya untuk Nastiti?" batin Tirta.


Walaupun ki Ranu sudah mengatakan tidak akan mengikatnya untuk selalu berada di padukuhan ini, tapi hatinya tetap saja begejolak dan bimbang.


Dia menjadi teringat pada Iza, Nadine dan juga Dinda. Mereka telah mengisi relung hatinya dan hari- harinya selama ini.


"Baiklah anak mas, nanti malam akan eyang undang beberapa tetua untuk menjadi saksi tentang keputusan ini .


***


Dalam suatu kesempatan, Tirta segera menceritakan tentang permintaan ki Ranu kepada kedua sahabatnya Bayu dan Adnan.


Pada dasarnya keduanya memang sudah sedikit mengetahui tentang niat ki Ranu ini..


Jika Tirta menolak secara tegas pasti akan menyakiti semuanya, ki Ranu, Nastiti dan juga warga padukuhan Srengseng ini.


"Menurutku, akan sangat menyakitkan bagi warga padukuhan Srengseng jika sampai kamu menolaknya Ta, tapi juga akan menjadi dilema besar jika kelak yang menjadi jodohmu diluar adalah Iza, atau Nadine mengetahui kejadian ini,"


Kata Adnan.


"Benar Adnan," kata Tirta.


"Dan kamu harus tahu resikonya !" lanjut Adnan.


"Bisa saja setelah tahu kamu telah menikah disini maka Faiza atau siapapun yang menjadi istri kamu kelak akan segera meninggalkanmu. Tapi bisa juga mereka akan menerimanya!" lanjut Adnan.


"Aku pikir kalau kita menjaga rahasia ini rapat-rapat tidak ada yang akan mengetahuinya..


Kan hanya kita bertiga saja yang tahu." kata Bayu.


Bayu dan Adnan hanya bisa memberikan saran -sarannya saja, tapi semua keputusan ada di tangan Tirta.


***


Malam menjelang tiba. penerangan segera dinyalakan.


Di pendopo beberapa orang pembantu sedang sibuk menggelar tikar dan mempersiapkan segala sesuatu.


Pisang, rebus, ganyong, singkong, ubi jalar, nogosari dan lain lain..


Beberapa saat kemudian ki Sentanu, ki Amongraga, Wulungan juga para sesepuh padukuhan sudah sampai dan duduk di tikar yang sudah di persiapkan.

__ADS_1


__ADS_2