
Wajah Jadug tampak pucat ! Tapi dia adalah pria dengan temperamen yang keras, tak mudah untuk menyerah dan mengatakan kalah!
Dengan langkah yang berat Jadug kembali menyerang dengan sisa-sisa kekuatannya..
Mudah saja bagi Tirta mengindar..
Jadug tampak menggerung! Akan tetapi tenaganya sudah tidak mampu untuk mendukung nya lagi.
Inilah yang di namakan Nafsu Kuda Tenaga ayam..
Nafsu membara tapi apa daya tenaga letoi....
Dalam keadaan yang demikian Tirta hanya melakukan pukulan ringan hingga membuat Jadug kembali jatuh tersungkur di di tengah- tengah arena yang sudah berubah menjadi kawah kecil tersebut..
Tiba-tiba dari gelap nya malam muncul bayangan seseorang yang langsung menuju tengah arena.
Sekali kibasan, angin dahsyat menyapu ke arah Tirta Jayakusuma !
Tirta tampak menyilangkan kedua lengan nya di depan dada untuk menahan kibasan dari Ki Singo Lodra, guru dari Jadug.
Kaki Tirta tampak seperti menancap di bumi bagai tonggak kayu dan tidak bergeser setapak pun!
"Kuat juga kamu anak muda!" seru Ki Singo Lodra, setelah mengetahui kibasan lengannya ternyata tidak mampu menggeser posisi anak muda ini!
Tiba-tiba saja Ki Singo Lodra mengambil sikap seperti halnya Jadug ketika akan mengerahkan aji Tapak Lodra..
"Sudahlah Singo Tua, Biarlah urusan anak-anak muda mereka sendiri yang menyelesaikan nya! kita yang tua-tua ini yang sudah bau tanah jangan ikut campur, dan memperkeruh suasana,,!" seru suara dari kegelapan itu...
Dari getaran suaranya Ki Singo Lodra sudah tahu bahwa ada orang kuat yang sedang bersembunyi di gelapnya malam.
"Siapa kau !?" seru Ki Singo Lodra sambil mengerahkan aji Gelap Ngampar!
Suaranya menggelegar seperti suara guntur membelah angkasa!
Beberapa penonton tampak memegangi dada dan beberapa yang lainnya tampak jatuh terduduk akibat jantung nya tergetar oleh aji Gelap Ngampar yang di keluarkan Ki Singo Lodra.
"Jangan pamer suara cemprengmu di sini Singo Edan! " seru suara itu lagi.
"Kamu lupa padaku Singo Edan!?" kembali suara itu menyahuti.
"Hampir lima puluh tahun lalu kita pernah bertemu dan bertarung di puncak Mahameru!" seru suara itu lagi.
Begitu mendengar ini Ki Singo Lodra tampak terdiam! dia sangat terkejut!
Tak disangka setelah puluhan tahun dia akan bertemu kembali dengan satu-satunya orang mampu membuat nya malu seumur hidupnya.
"Ohh, kamu ternyata Wonokerti!" seru Ki Singo Lodra, tampak terkejut..
__ADS_1
"Baiklah Wono Kerti, akan aku cari kamu setelah aku sembuhkan Muridku ini! geram..
"Akan aku balas sampai lunas, perbuatanmu padaku waktu itu Wonokerti! lanjut Ki Singo Lodra.
Ki Singo Lodra kemudian memapah Jadug dan pergi dari arena pertarungan itu.
Suasana sepi, setelah kepergian guru dan murid itu kemudian di pecahkan oleh suara Ki Seno Aji..
"Pertarungan belum selesai, masih ada Mahardhika ! Silahkan Mahardhika!" seru Ki Seno Aji.
Tampak nya kondisi Mahardhika sudah membaik dan Mahardhika memang sempat ber kompromi dengan Tirta dan juga para tetua seperti kyai Syahroni, Kyai Fakih, Ki Maruto Ki suromenggolo dan yang lainnya , jikalau salah satu dari mereka berhasil mengalahkan Jadug, maka Mahardika dengan perguruan silat Watu Gununglah lah yang akan menempati pemimpin dari persekutuan perguruan perguruan silat se Jawa Timur dan Bali.
Tirta Jayakusuma memang berekberatan untuk menduduki posisi ini, dikarenakan memang dia bertempat tinggal di lereng gunung Ungaran yang nota bene jauh dari sini, dan memang banyak tugas yang membutuhkan tenaganya.
Seperti pertarungan di awal..
Tirta pun mengurung Mahardhika di tengah-tengah arena dengan serangannya yang dahsyat nya.
Debu membumbung menye limuti arena pertarungan karena ketiadaan panggung yang porak poranda sebagai akibat dari peraturan dari Tirta Jayakusuma dan Jadug.
Terlihat dari luar pertarungan sangatlah serunya dan dahsyat, tapi sebenarnya Tirta hanya sibuk dengan dirinya sendiri..
Kadangkala Tirta mengarahkan pukulan pukulan tangan kosongnya ke tanah berpasir di sekitar arena itu sehingga debu membumbung tinggi..
Setelah beberapa saat kemudian, dalam suatu kesempatan Tirta melontarkan dirinya sendiri jauh keluar Arena ,, seakan akan terkena pukulan berat,, dan dengan tertatih tatih, dia pergi begitu saja dari arena itu menuju kegelapan malam sambil berseru;
"Maaf, aku sudah kalah, aku mengakui kemenangnamu Mahardhika!!"
Mahardhika berdiri dengan kokoh di tempat nya..
"Terima kasih Tirta," bisiknya,, dia sangat terharu dengan pengorbanan dan kebesaran hati Tirta Jayakusuma. Sahabat dan juga saudara nya!
Ki Maruto dan anak muridnya, juga anak buah Mahardhika bersuka cita, kedepannya perguruan. Watu Gunung adalah pemimpin dari perkumpulan perguruan silat. Panji-panji mereka akan berkibar tinggi .
Tirta berjalan dengan di ikuti Bayu dan Adnan.
Dalam gelapnya malam di lereng gunung Ijen, tampak sesosok bayangan hitam menunggu di atas sebuah batu yang cukup tinggi!
melihat bentuk nya, seperti seorang wanita, karena terlihat dada yang menonjol dengan tubuh yang ramping!
"Siapa di situ!" seru Adnan berteriak di gelapnya malam..
"Aku mas,, Mawar,.!" terdengar suara lembut mendayu membuat siapapun yang mendengarnya seakan tersihir oleh suara ini..
"Waduh,,,!" seru Adnan kaget.. seperti melihat hantu saja.
Gimana nih Ta, tanya Adnan pada Tirta..
__ADS_1
Jangan takut mas, aku menemui kalian dalam damai, tidak bermaksud melukai kalian ,, kata Mawar lagi..
"Tidak tidak, kalau ingin bicara kamu tetap di sana saja, seru Tirta yang memang masih trauma menghadapi Mawar.
Tiba, tiba Tirta berseru ;
"Lariiii,,,!!!"...
Serentak ketiganya berlari lintang pukang, mencari jalan lain menuju puncak gunung Ijen...
Mereka berlari dengan cepatnya sehingga dalam sekejap sudah meninggalkan Mawar yang berdiri membeku di tempatnya.
Mawar tampak menarik nafas dalam-dalam, nampak sangat kecewa karena ditinggal begitu saja oleh mereka bertiga...
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di puncak gunung Ijen, dimana mereka sering berbincang-bincang dengan kyai Wonokerti.
Dan benar saja Ki Wonokerti sudah duduk bersila di atas batu gunung di puncak gunung Ijen.
"Mari Ngger, silakan duduk!" panggil Kyai Wonokerti menggapai dan mempersilakan mereka bertiga duduk di dekat Kyai Wonokerti.
Ketiganya segera duduk mengitari Kyai Wonokerti.
"Tampak nya kalian habis berlari- lari?" tanya Kyai Wonokerti.
"Iya Kyai, kami berlari karena di kejar hantu Kyai," jawab Adnan!
"Hantu? tanya Kyai Wonokerti bingung..
"Iya,,, hantu Kyai, hantu cantik Kyai,... !?" lanjut Adnan..
Mendengar ini, Kyai Wonokerti terkekeh kekeh.
Maksud kalian hantu cantik yang mengejar-ngejar kalian waktu itu!?" tanya Kyai Wonokerti..
"Iya Kyai,, hantu mana lagi yang di takuti ! kecuali hantu cantik itu..!" jawab Bayu.
Tirta tampak malu mendengar jawaban Bayu ini.
"Kami lari juga karena Tirta Kyai ! Dia ngajakin lari, .
Ya larilah kami,, !" kata Bayu .
Demikian lah malam itu mereka berbincang-bincang cukup lama hingga dini hari.
Malam itu Tirta, Bayu dan Adnan tidak turun ke kawah gunung Ijen karena memang ritual yang di jalani oleh Tirta Jaya Kusuma sudah usai.
Malam itu, Tirta juga pamit kepada Kyai Wonokerti karena esok hari akan menuju ke Tengger untuk memenuhi Janji di padukuhan rahasia Srengseng..
__ADS_1
Mendengar ini, Kyai Wonokerti tampak kecewa...
Beberapa hari ini dia begitu bersemangat menemani anak-anak muda yang lucu-lucu dan baik ini mendalami ilmu Kanuragan di kawah Ijen ini dan beberapa saat lagi dia akan kehilangan pemuda-pemuda ini yang telah dianggapnya seperti cucu nya sendiri..