
Para pemuda yang di bawa oleh Mahardhika kemudian di serahkan di bawah komando dari bang Leo.
Mereka kemudian dibagi bagi menjadi tiga kelompok kecil beranggota kan sepuluh orang.
Dengan pemimpin regu masing masing adalah Ki Sadewa, Ludiro dan Mahardhika sendiri.
Kini di padepokan sudah terbentuk empat pasukan di bawah komando bang Leo.
Selain bertanggung jawab terhadap ketiga regu ini bang Leo Juga masih bertanggung jawab pada pasukan bentukkannya yang beranggotakan para mantan anggota cakar iblis yang sudah bertaubat dan menyatakan kesetiaan nya pada padepokan lereng gunung Ungaran ini.
Sedangkan Tirta jayakusuma sebagai komandan utama dalam menghadapi kelompok cakar iblis ini..
Eyang pandu dan kyai wonokerti akan turut serta membantu akan tetapi mereka tidak terikat dalam komando bang Leo.
Untuk mematangkan persiapan dan kemampuan bang Leo akan menggembleng pemuda pemuda yang baru datang ini, Karena memang sebagian kemampuan olah Kanuragan nya masih di bawah standard yang telah ditetapkan oleh bang Leo.
Mulai malam ini para sesepuh juga orang-orang yang mempunyai daya linuwuh mulai bekerja keras menggembleng para pemuda yang baru datang .
Pada dasarnya pemuda-pemuda ini sudah mempunyai dasar-dasar olah Kanuragan yang cukup hebat dari perguruan nya masing masing, tinggal mematangkan dan menguatkan fisik mereka saja juga menambah pengalaman bertarung dengan berlatih tanding dengan serius.
Malam itu cuaca cerah dengan bulan bersinar terang .
Puluhan orang mendaki puncak gunung dengan cepat.
Tirta bergerak laksana kilat saja melintasi lembah dan lereng lereng yang terjal..
Sejak sore tadi, hatinya gundah dengan keberadaan Nastiti,, Tirta kasihan pada gadis ini, akan tetapi dia tidak ingin memberikan harapan- harapan palsu..
Dalam keadaan yang demikian dia berlari laksana kilat, meninggalkan jauh rombongan para pemuda yang di pimpin oleh bang Leo.
Ketika dia sudah sampai di puncak Ungaran, Tirta berdiri menghadap jurang terjal yang ada dihadapannya.
Angin di puncak gunung bertiup keras membuat rambut nya yang lumayan panjang berkibar tertiup angin gunung yang deras!
Dia menarik nafas dalam dalam dan menikmati sejuknya angin di puncak Ungaran ini.
Tiba, tiba,.....
" Mas! mas Tirta,,,!"
terdengar bisikan lembut di telinganya..
Tadinya tirta jayakusuma mengira desir halus dari gerakan seseorang yang mendekatinya adalah kyai Wonokerti,.. karena yang bisa mengikuti pergerakannya, dalam pemikiran Tirta adalah kyai Wonokerti seorang!
__ADS_1
Tirta jaya Kusuma lupa, bahwa aji kidang Kencono yang di kuasainya sekarang ini bersumber dari Nastiti!
Deg! jantung Tirta seperti melompat keluar begitu suara yang menyapanya adalah suara gadis yang lembut dan merdu!
"Nastiti!" Tirta terkejut, dan berakata lirih menyebut nama si gadis dari Srengseng ini.
"Iya, Mas,, aku mengikuti mas Tirta," kata Nastitin sambil menundukkan wajahnya.
Setelah menentramkan gejolak hatinya, dengan canggungn Tirta jaya Kusuma kemudian duduk di sebuah batu gunung hitam sebesar kerbau yang sedang duduk.
Nastiti segera ikut duduk di sebelah Tirta jaya Kusuma..
Inilah kesempatan yang Nastiti cari cari! Berduaan saja dengan Tirta jaya Kusuma!
Beberapa saat mereka berada dalam keheningan.
Pandangan Tirta jauh menembus awan yang berarak di bawah. gunung dan menutupi lereng lereng gunung Ungaran!
Dia seperti berdiri di atas awan !
Setelah beberapa saat akhirnya Tirta lah yang membuka pembicaraan..
"Bagaimana dengan ayahmu Mr, Budiman?" tanya Tirta pelan..
Kenapa kamu datang kemari Nastiti, kelompok yang akan aku hadapi kali ini sangatlah berbahaya! berbeda dengan kekuatan Aryo Seto.. !"
"Cakar iblis ini luar biasa kuat!" kata Tirta Jaya Kusuma..
" Aku dan juga penduduk dukuh Srengseng dan dukuh Wuni ingin membantu semampu kami mas!" jawab Nastiti.
Kami ingin menyumbangkan sedikit tenaga kami yang tidak seberapa ini pada mas Tirta lanjut Nastiti..
Tapi dalam hati Nastiti berkata lain .
" mas, betapa rindunya hati ini padamu, mas !" batin Nastiti, tapi Nastiti tak mampu mengungkap perasaannya pada sang pemuda!
Setelah berbincang beberapa saat, kecanggungan di antaranya mulai memudar...
Nastiti mulai bercerita tentang keadaan dukuh Srengseng dan juga dukuh Wuni yang mulai membaik!
Dan Kyai Wonokerti yang berdiam di dukuh Srengseng bersama Ki Singo Lodra.
Hingga beberapa saat yang lalu datanglah Mahardhika dan Intan ke dukuh Srengseng membertikan akan perjuangan Tirta jaya Kusuma dalam menghadapi musuh-musuh berat nya.
__ADS_1
Tanpa di minta, para pemuda penjaga padukuhan serentak menyatakan kesediaan nya untuk membantu perjuangan Tirta jayakusuma dalam memberantas kejahatan!
Akhirnya diputuskan tidak semua pengawal padukuhan Srengseng ikut,, hanya sepuluh pemuda pengawal yang turut serta termasuk Ki Sadewa dan Nastiti..
Sementara dari padukuhan Wuni yang turut serta adalah Ki Wigati sendiri dan seorang keponakannya.
"Terimakasih Nastiti,,, kamu jauh dari Srengseng kemari untuk ikut dalam perjuangan. tanpa pamrih ini,, perjuangan yang hanya kita sendiri lah yang tau artinya, tanpa berharap imbalan apapun! perjuangan dengan taruhan nyawa !" lanjut Tirta.
"Mas Tirta sudah banyak membantu kami! bahkan dengan taruhan nyawa,, jadi sudah sepantasnya kami warga dukuh Srengseng membantu mas Tirta tanpa berharap apapun mas!" jawab Nastiti lembut..
Beberapa saat kemudian dari bawah lereng mulai terlihat puluhan orang yang sedang mendaki cepat ke tempat Tirta dan Nastiti berada..
Bayu, Adnan, Irman, Tomy, sepasang pedang Iblis dan juga mantan Anggota Kelompok Cakar Iblis lah yang lebih dulu sampai di atas puncak gunung Ungaran!
Diikuti kemudian kelompok kelompok bentukan bang Leo yang terdiri dari anggota padepokan silat yang. dipimpin oleh ki Sadewa, Mahardhika dan Ludiro!
Leo dan Kang Damar tampak mengawal dari ujung paling belakang!
Mulai malam itu dan beberapa hari kedepan dan mungkin seterusnya puncak gunung Ungaran akan menjadi semakin ramai oleh para pemuda yang sedang berlatih olah Kanuragan.
***
Pagi itu semua penghuni padepokan lereng gunung Ungaran sudah berkumpul di depan Gandok atau Banjar. yang setengah jadi!
Dengan tambahan tenaga, maka di harapkan pekerjaan pendirian gandok bisa secepatnya di selesaikan.
Rencananya akan didirikan tiga gandok yang cukup besar yang masing masing gandok atau banjar ini bisa menampung sepuluh sampai dua puluh orang!
Dengan bekerja sama seperti ini, menjadikan keakraban dari orang orang yang baru datang dengan para penghuni padepokan terasa semakin akrab..
Dan benar saja, ketika hari menjelang siang, Gandok pertama sudah jadi dengan kokohnya!
Walaupun dengan bahan bahan sederhana dan seadanya tapi terlihat sangat bernilai artistik tinggi!
Ternyata kemampuan kang Damar dalam bidang pembuatan gandok dan sejenisnya dengan bahan bahan yang sederhana ini sangat mumpuni.
Siang itu mereka beristirahat melepas lelah.
Tawa riang dan celotehan dan candaan menjadikan suasana makin akrab.
Walaupun hanya makan siang yang sederhana, teras nikmat sekali.
Nasi putih dengan lauk ikan asin dan tempe goreng, sambil terasi dan juga sayur asem yang asemnya dari daun kedondong sungguh membuat orang orang makan dengan nikmat! juga ada sambel urap dari daun kemlanding!
__ADS_1
Kebersamaan yang sudah langka di jaman ini!