
Tirta membimbing Dinda memasuki taman kecil itu dan berteduh di dalam sebuah gazebo yang kondisinya masih lumayan baik.
"Tau kalau hujan deras kayak gini mending tadi bawa mobil saja," kata Tirta..
"Gak apa-apa Ta ! aku seneng kok," kata Dinda.
"Asal bersama kamu, aku tetap bahagia,,"lanjut Dinda
"Din, aku panggilkan taksi online saja gimana? tanya Tirta menawarkan.
Tidak usah, kata Dinda pelan. tampaknya baju yang basah membuatnya mulai keinginan.
Tirta yang mengetahui keadaan Dinda yang kedinginan menjadi khawatir akan kesehatan Dinda.
Dinda yang merasakan kedinginan reflek memeluk erat-erat sang pemuda..
Tubuh mereka menyatu memunculkan rasa hangat di hati dan di tubuh, tak dirasakan lagi dinginnya malam ..
Hujan tampaknya tidak akan reda dalam waktu singkat..
Dalam hujan badai dan dinginnya malam,,,,,
Dua tubuh berpelukan erat untuk mengurangi dinginnya malam...
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu,, dua bibir sudah saling menyatu, saling libat dan saling kulum,,,
Tirta merasa bahwa ini adalah salah, pelan di dorongnya tubuh si gadis menjauh darinya...
Tampak Dinda agak kecewa...tapi Dinda hanya terdiam..
Perasaan Tirta Jayakusuma campur aduk tidak karuan...
Dia merasa telah berkhianat pada Iza, tapi dia juga merasa bersalah pada apa yang telah terjadi pada Dinda..
Kepalanya sangat pusing memikirkan ini semua.
"Kenapa Ta?" tanya Dinda yang merasakan ada yang tidak beres dengan perasan Tirta,,,
"Apakah salah aku mencintaimu, berharap padamu?" tanya Dinda lagi...
Sudahlah Din, jangan pikirkan yang enggak-enggak , kata Tirta sambil memeluk tubuh Dinda yang menggigil kedinginan tersebut..
***
Suatu hari di padepokan.
__ADS_1
Malam itu semua penghuni padepokan naik gunung Ungaran.. akan tetapi malam ini Tirta Jayakusuma mendapatkan wisik kalau eyang Wasis Jayakusuma ingin bertemu dengan dirinya juga ingin bertemu dengan adiknya Irman .
Tirta segera membicarakan masalah ini pada Mbah Hardjodikoro..
"Iya Ngger, mungkin ada sesuatu yang mungkin akan disampaikan oleh eyang Wasis kepada kalian berdua Ngger." kata Mbah Hardjo.
"Iya Mbah,, sementara ini kami tidak ikut naik dulu.." kata Tirta.
Dan malam itu , ketika tepat tengah malam Tirta Jayakusuma dan Irman sudah berada di dalam sentong yang memang diperuntukkan jika eyang Wasis Jayakusuma ingin bertemu.
Beberapa saat Tirta dan Irman menunggu di ruangan itu..
Ketika dalam keheningan malam terasa angin lembut melewati Tirta dan Irman..Tiba-tiba seorang kakek kakek tua tapi masih terlihat gagah dan berwibawa dengan pakaian beskap dengan segala perlengkapannya sudah duduk di kursi dalam ruangan itu..
Terlihat agak samar tapi terlihat nyata..
Salam sembah sujud eyang , seru Tirta dan juga Irman..
"Kali ini ada beberapa hal yang akan aku sampaikan kepada kalian cucu-cucuku!"
"Dahulu pernah aku sampaikan jika saatnya Tiba akan ada tugas berat yang sudah menunggu Angger Tirta Jayakusuma!"
"Dan tugas itu sudah hampir tiba,, makannya aku minta Angger Tirta mempersiapkan diri lebih tekun dalam olah Kanuragan." kata eyang Wasis jayakusuma..
"Untuk menghadapi tugas berat tersebut eyang harap, Angger Tirta lebih memperdalam ilmu yang sudah Angger kuasai..!"
"Kamu pasti merasa ilmu itu sudah kamu kuasai dengan sempurna Ngger, akan tetapi ketahuilah bahwa sebenarnyalah aji Suryo Dahono yang kamu kuasai itu masih jauh dari sempurna! Aji Suryo Dahono yang Angger kuasai masih tingkat pertama, begitupun aji Tapak Geni !" terang eyang Wasis.
"Aku tahu kamu punya perjanjian pertarungan di padukuhan Srengseng , jadi dalam beberapa bulan ke depan sebelum Angger memenuhi perjanjian dengan Ki Pradigdo aku harap Angger sudah dapat meningkatkan kemapuan Angger."
Tirta yang mendengar kata-kata dari eyang Wasis Jayakusuma atau Ki Pragola mengangguk angguk tanda mengerti.
"Sebelum kamu kembali ke padukuhan Srengseng, pergilah lebih dahulu ke gunung Ijen di Banyuwangi, carilah api biru di kawah Ijen, seraplah inti dari api biru itu kedalam tubuhmu,, gunakan lah cincin dari Ki Ranu, itulah tingkat kedua dari aji Suryo Dahono...!"
Eyang Wasis Jayakusuma berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan kata-katanya;
"Untuk Angger Irman,, berhubung memang Angger Irman mempunyai dasar-dasar yang bagus dalam olah roso dan olah batin, alangkah baiknya kalau Angger Irman lebih menggali apa yang sudah di punyai , akan tetapi alangkah lebih baik lagi jika Angger Irman juga membekali diri sedikit ilmu Kanuragan dan jaya kawijayan untuk menjaga diri sendiri karena mau tidak mau Angger sudah terlibat dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan dunia kekerasan dan kebatilan." Kata Eyang Wasis..
"Tapi eyang,...saya bener-bener takut berkelahi, saya takut darah." kata Irman..
"Kalo masalah yang mendatangimu bisakah kamu menghindarinya cucuku?" balik bertanya eyang Wasis Jayakusuma..
Irman hanya diam, dia tidak berani membantah kata- kata dari leluhurnya ini..
"Kemarilah Angger Irman, eyang akan sedikit menuntunmu dalam olah rasa dan olah batinku juga sedikit Jaya kawijayan sebagai bekal buatmu ! kelak dikemudian hari kamu pasti akan membutuhkannya."
__ADS_1
Demikianlah di dalam sentong tersebut Irman dan juga Tirta mendapatkan limpahan ilmu batin dan juga petunjuk-petunjuk yang sangat berharga dari eyang Wasis Jayakusuma.
Dan tanpa di sadari pula oleh Irman , ternyata Eyang Wasis Jayakusuma telah mempertajam panggraita, juga roso yang telah di punyai oleh Irman. Serta menanamkan aji Tameng Waja dan Lembu sekilan dalam tubuh Irman dan memberikan tenaga batin yang cukup besar , tanpa sepengetahuan Irman sendiri.
Setelah selesai menuntun Irman, Eyang Wasis Jayakusuma alias Ki Pragola memberikan petunjuknya lagi mengenai tugas yang sangat berat tersebut.
Akan muncul seorang laki laki yang sangat jahat dan kejam Ngger, Dia menguasai berbagai macam aji dari para Leluhur tanah Jawa. Aji yang benar benar kuat. Dia adalah keturunan dari penguasa dunia hitam pada masa lalu.. Dan tugas berat ini ada di pundakmu cucuku Tirta. kata eyang Wasis Jayakusuma.
Untuk itu aku berharap Irman juga ikut membantu tugas yang aku bebankan di pundak kakangmu ini. kata eyang Wasis lagi.
"Injih, eyang,,!" jawab Irman melegakan perasaan eyang Wasis.
Demikianlah ketikanhari menjelang fajar dan ayam jantan mulai berkokok, seluruh penghuni padepokan sudah turun dari puncak Gunung Ungaran dan selesai pula pertemuan antara Tirta Jayakusuma dan Irman dengan eyang Wasis Jayakusuma sang leluhur keluarga Jayakusuma.
Setelah keluar dari sentong tempat dia bertemu dengan eyang Wasis jayakusuma, Tirta segera menceritakan tentang petunjuk-petunjuk yang telah di berikan kepadanya dan juga kepada Irman adiknya.
"Sebaiknya petunjuk-petunjuk dari beliau segera di laksanakan Ngger, saran Mbah Hardjoikoro.
"Iya Mbah Hardjo, rencananya beberapa hari kedepan saya akan berangkat ke gunung Ijen lebih dahulu," kata Tirta.
Di waktu yang lain, Tirta menyampaikan rencananya ini pada segenap penghuni padepokan.
Bayulah yang pertama-tama menyampaikan keikutsertaannya, walaupun sekarang ini dia sudah beristri! Kemudian di ikuti Adnan dan Mahardika yang mulai jenuh di padepokan terus terusan. Dia segera menyatakan untuk ikut dalam perjalanan kali ini.
Tomy dan Irman sebenarnya ingin ikut, akan tetapi ternyata mereka terbentur oleh sekolah yang sedang bersiap-siap dalam ujian kelulusan.
Beberapa hari berlalu dengan cepat, Tirta hari itu mengantar Iza pulang kerumahnya setelah selesai jam kuliah.
Kali ini Tirta mengajak Iza berkeliling keliling kota Semarang. Sudah lama dia tidak pernah mengajak Iza jalan-jalan berdua saja dengan tunangannya ini.
Kali ini, Tirta mengarahkan motornya ke arah kota lama Semarang. Setelah berjuang selama kurang lebih setengah jam menembus kemacetan di sore itu, sampailah Tirta dan Iza di kawasan kota lama kota Semarang.
Kota lama sendiri adalah kota yang dahulunya dibangun oleh VOC pada tahun 1700 an .
Kota lama sendiri di juluki juga Little Netherland, karena mirip dengan kota kota di Belanda..
Tirta segera mencari lokasi parkir motor di dekat Gereja Blenduk.
Dengan bergandengan tangan, mereka menyusuri jalanan di kawasan kota lama . Banyak muda mudi yang menikmati suasana sore di kawasan ini. Ada yang sedang berselfi ria, ada yang sedang bersenda gurau dengan kawan-kawan nya, ada pula yang hanya duduk-duduk menikmati suasana senja.
Gereja Blenduk di kawasan kota lama Semarang
__ADS_1
kawasan kota lama Semarang