Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
undangan Dinda


__ADS_3

Hari itu genap sebulan sudah Bayu dan Adnan belajar olah kanuragan di padepokan Mbah Hardjo.


Banyak kemajuan yang telah di alami keduanya. Sekarang untuk bisa mencapai puncak Gunung Ungaran adalah pekerjaan yang mudah bagi keduanya, seperti berjalan di tempat yang datar saja.


Begitupun Tirta Jayakusuma, tubuhnya semakin berisi dan kekar, walaupun masih saja terlihat jangkung dan kurus. Dilihat sekilas seperti pemuda ke kebanyakan, akan tetapi dari tubuh tersebut tersimpan kekuatan yang Nggegirisi, kekuatan yang luar biasa hebat nya.


Pagi itu setelah semalaman berlatih di puncak Gunung Ungaran, mereka sedang berbincang di pendopo. Tirta, Bayu, Adnan, Eyang Pandu, Mbah Hardjo Serta Damar.


Terlihat di tengah-tengah mereka ada beberapa piring berisi hidangan khas padepokan itu. Ketela rebus, Ubi rebus, pisang rebus juga ada kentang rebus. Semuanya serba rebus yang masih mengeluarkan asap pertanda masih hangat dan baru diangkat dari panci rebus.


Tak ketinggalan pula rokok klobot khas lintingan sendiri dari Mbah Hardjo.


Mereka berkumpul dengan ceria terutama Bayu, ada-ada saja yang dibicarakannya, semua serba lucu dan kocak kalo dia yang menyampaikannya.


Pagi itu Tirta membuka-buka hapenya. Banyak Whatshap yang masuk belum di balasnya. Dari Ibu, Dinda, dan Iza, ada juga dari cewek cewek yang sebagian tidak dikenalnya akibat namanya yang melambung tinggi di kampus.


Ibu menanyakan keadaannya, begitu juga Dinda yang berharap segera bertemu, dan Iza yang menagih janji padanya untuk main ke rumahnya. Dia segera menjawabnya satu persatu.


Hari itu Tirta berencana pulang menemui Keluarganya. Sudah seminggu dia tidak pulang kerumah, Baru nanti sore dia berencana berkunjung ke rumah Iza. Rencana tersebut disampaikannya kepada Bayu dan Adnan. Ketika mendengar rencana Tirta ini, Bayu segera saja menyatakan keinginannya untuk ikutan.


"Aku ikutan ya Ta, biar sekali-kali jalan ke tempat lain gitu loh."


Adnan juga mendukung keinginan Bayu ini. Akhirnya jadilah mereka hari itu berkunjung ke rumah nya Tirta dan sorenya berkunjung ke rumah Iza.


Pagi itu Tirta, Bayu dan Adnan ada kuliah pagi lebih dahulu, sehingga mereka kekampus, baru setelah selasai kuliah mereka ke rumah nya Tirta.


Selesai mereka mengikuti kuliah, Dinda,Nani dan Tia sudah mengajak mereka untuk ke warung langganan mereka di samping kampus. Hari ini Dinda ingin berbincang agak lama dengan Tirta, sehingga ketika mereka keluar ruangan kuliah Dinda langsung menyatakan keinginan buat mentraktir teman-temannya.


Dengan begini pasti Bayu tidak akan bisa menolak nya dan akhirnya Tirta juga akan mengikuti.


Mumpung gratis! begitu masuk warung Bayu langsung memesan bakso dan mie ayam kesukaannya.


"Bakso dua mangkok dan mie ayam dua mangkok mbak," pesannya pada mbak-mbak penjaga warung .


"Loh mas kok pesannya cuma empat, yang dua gimana dong?" tanya mbak penjaga warung.

__ADS_1


"Itu buat aku doang Mbak! biar mereka pesen sendiri-sendiri!" jawab Bayu.


Mbak penjaga warung hanya geleng-geleng kepala,


"Biasanya kan Mas Bayu cuma Satu mangkok mie dan satu mangkok Bakso?


"Ini luar biasa Mbak!" sergah Bayu.


Yang lain, mendengar pesanan Bayu juga ikut geleng-geleng kepala.


Mereka berenam duduk berhadap-hadapan. Dengan sengaja Dinda mengambil duduk di depan Tirta.


Beberapa hari ini, Dinda selalu kesulitan berjumpa dengan leluasa dengan Tirta karena Tirta beralasan sedang sibuk berlatih bersama Bayu dan Adnan. Dan kali ini tampaknya Tirta Bayu dan Adnan mempunyai waktu yang agak luang.


"Ta, hari ini kamu tampaknya agak luang, bisakah nanti kamu ke rumah Dinda?" Dinda mulai membuka pembicaraan.


"Ada acara apa ya Din?" tanya Tirta yang sedang membuka-buka hape karana pesanan nya belum jadi.


"Tidak ada acara apa-apa Ta, tapi Mama ingin membuat acara syukuran saja," jawab Dinda.


"Tentu, tentu, kalian di undang semua kok," jawab Dinda.


"Kapan acaranya Din?


Soalnya kalo nanti sore sampai malem hari ini kami tidak bisa hadir," jawab Tirta.


Dinda berpikir sejenak, kemudian menjawab,


"Bagaimana kalo besok siang? kan besok hari minggu tuh."


"Loh katanya ada acara kok malah waktunya nanya ke Tirta?" tanya Tia terkejut.


"Mmh, gimana ya," Dinda jadi bingung sendiri. Sebenarnya acaranya memang sengaja di buat-buat agar Tirta mau ke rumahnya. Jadinya dia bingung ketika ada pertanyaan seperti itu.


Kali ini Nani yang tau maksud Dinda ikutan menjawab.

__ADS_1


"Acaranya memang buat kita-kita aja gitu lho Tiaaaa, jangan bawel ah, pokoknya kita-ikutan aja, ikutan makan- makan aja."


Dinda merasa lega mendengar pembelaan Nani.


"Iya memang acaranya buat ngundang kalian-kalian kerumah aku kok!" Dinda segera meluruskannya.


"Yang penting kan ada Tirta?" celetuk Bayu yang sedang sibuk menelan beberapa bakso sekaligus di mulutnya.


"Cerewet kamu Bay dah tuh cepetan habisin baksonya!" semprot Nani.


Akhirnya diputuskan mereka menerima ajakan Dinda kerumahnya besok hari Minggu siang sekitar jam sebelas.


Hari itu udara Kota Semarang agak sejuk, karena mendung yang bergelayut. Biasanya kota Semarang sangat panas, karena Kota Semarang terletak di pesisir pantai utara laut Jawa.


Bayu mengendarai motor sendirian sedang kan Adnan berboncengan dengan Tirta, mereka mengendarai motor dengan santai keluar dari kampus dan menuju rumah Tirta di perbatasan antara Kota Semarang dan Kota Ungaran.


Mereka berkendara melewati RS Kariadi naik ke arah selatan melewati jalan S Parman, dilanjutkan lewat RS Elisabet, kemudian lewat Gombel dan Jl. Setiabudi. Dari Jalan Setiabudi mereka berbelok ke arah Banyumanik dan kemudian mengambil arah ke arah Gedawang. Rumah nya Tirta memang berada di perumahan Gedawang. Perumahan sederhana di pinggiran kota Semarang berbatasan dengan kota Ungaran.


Sesampainya di rumah Tirta di sambut Ibu dengan pelukan hangat, Levi, Irman dan Bapak juga ikut menyambutnya. Hari itu Ibu sengaja masak besar menyambut pulangnya sang putra bersama-sama sahabatnya.


Sudah sejak pagi Ibu berbelanja bebagai macam buah dan sayuran juga ayam, karena putranya sudah memberitahukan akan pulang siang ini bersama sahabat-sahabatnya.


"Ayo nak Bayu, nak Adnan silahkan masuk, anggap rumah sendiri!"


"Iya bu, trimakasih," sahut Bayu dan Adnan.


Irman yang supel, ceria dan penuh humor segera saja terlibat pembicaraan yang seru dengan Bayu. Sifat mereka hampir mirip satu dengan yang lain, sedang Adnan dan Levi, adik bungsunya Tirta hanya mendengarkan pembicaraan mereka saja.


"Mas Bayu kan sudah berlatih ilmu beladiri tapi kok perut Mas Bayu kok gak kempis ya ?" tanya Irman.


"Jangan-jangan Mas Bayu gak serius? atau mungkin latihannya kurang seru ya?"


"Bukan begitu Irman, ini Mas Bayu sudah latihan keras banget lho, coba tanya Mas Tirta deh" jawab Bayu


"Lha ini buktinya, Mas Bayu tidak susut! perut masih gendut giniii!" sanggah Irman sambil memukul-mukul perut bayu yang segede gentong!

__ADS_1


"Nih lihat lengan Mas Bayu! sekarang lebih kekar dan kencang kan!?" Bayu sengaja memamerkan otot lengannya seperti binaragawan.


__ADS_2