Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Mama, Rani dan Randi


__ADS_3

"Oh Nadine,, ya,, maaf Nadine Mama baru sakit,, mama pusing terus," kata mama Rani lirih,,


"Sudah mam, gak usah bangun dulu mam," cegah Nadine ketika mama Rani hendak bangun dan duduk.


Nadine segera menggenggam jari jemari mama Rani dan menciuminya. Nadine sangat sedih melihat keadaan ibu dari sahabatnya ini. Air mata mengalir dari mata indah Nadine.


"Maaf Rani mungkin aku ada sedikit kemampuan untuk meringankan sakitnya mamamu,,"


Tirta menawarkan dirinya untuk mencoba meringankan sakit mama Rani.


"Iya cobalah Ta, kata Nadine yang memang sudah percaya sekali akan kemampuan Tirta..


Dengan ragu Ranipun mempersilakan Tirta untuk mencoba melihat keadaan mamanya.


Tirta segera mendekati pembaringan kemudian menggenggam tangan mama Rani dari pinggir pembaringannya..


Dirasakannya memang denyut nadi sang mama memang lemah dan tidak beraturan..


Tirta segera mengerahkan tenaga batinnya untuk memperlancar aliran darah, aliran rasa hangat segera mengalir menyusuri seluruh bagian tubuh mama Rani.


Beberapa tempat terasa tersumbat, tapi dengan kekuatan batin Tirta, semuanya dapat di tembus dan lancar kembali..


Keringat segera membasahi seluruh tubuh mama Rani, wajahnya yang tadinya pucat pasi sedikit demi sedikit berubah menjadi merah pertanda mulai dialiri darah kembali.


Aura gelap yang tadinya bergayut di wajah mama Rani perlahan mulai berubah cerah.


Setelah dirasa cukup, Tirta segera melepaskan tanganya dari tangan mamanya Rani.


"Cobalah sekarang Tante untuk bangun ," kata Tirta lembut.


Mama Rani segera mencoba unruk bangun , Tubuhnya terasa segar, ringan dan kuat.


Mama Rani merasa tubuhnya sehat seperti sedia kala, tetapi wajah nya masih terlihat sedih dan penuh penderitaan.


"Sebenarnya Tante sudah sehat kembali, tapi tampaknya keinginan untuk menghadapi kenyataan hidup membuat Tante seakan akan lemah, inilah yang menjadi penyebab utama sakit tante," kata Tirta.


"Hilangkan semua perasan sedih Tante, tante harus kuat untuk bisa menjaga Rani," lanjut Tirta..


"Rani masih butuh bimbingan dari Tante.."


"Apakah tante tidak kasihan melihat Rani hidup sendirian, ? Apa Tante tidak ingin menyaksikan keberhasilan Rani dalam hidup? menyaksikannya bahagia?" lanjut Tirta.


"Iya mas," bisik mama Rani yang segera berurai air mata mendengarkan perkataan Tirta.


"Yang sudah lalu biarlah berlalu tante, Papa Rani pasti akan sedih jika melihat Tante seperti ini,!" tambah Tirta..


Mama Rani terdiam mendengar perkataan anak muda di hadapannya ini, walaupun terlihat masih muda tapi mempunyai pandangan dan pemikiran yang dalam.


Mama Rani akhirnya mulai bersemangat lagi untuk menjalani hidupnya..

__ADS_1


"Terimakasih Tirta," kata Rani tulus.


"Sungguh Nadine benar-benar beruntung mendapatkan cowok sebaik kamu Ta,,"


Nadine yang mendengar kata-kata Rani segera menyahut;


"Sejak awal aku kenal Tirta , aku langsung jatuh hati padanya Ran, dan memang penilaian ku padanya tidak salah.." lanjut Nadine bangga..


"Bahkan Tirta juga sudah menolong kami sekeluarga dari ancaman orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga kami, bahkan berniat membunuh kami sekeluarga."


Nadine segera bercerita secara singkat bagaimana Tirta telah menolong dirinya dan keluarganya berkali-kali.


Tirta yang mendengar ocehan Nadine jadi menunduk malu , dan menyela pembicaraan Nadine.


"Ahh kebetulan saja itu Rani," kata Tirta merendah.


"Hmm inilah yang aku suka dari Tirta Ran, selalu rendah hati dan tidak sombong.."


"Jagalah hubungan kalian baik-baik!" pesan Rani.


"Jagalah Nadine Ta, dia temanku dan juga sahabat terbaikku! dia gadis yang baik, dia tidak gampang jatuh cinta, sudah banyak pemuda yang mendekatinya tapi selalu di tolaknya, dan sekarang dia sudah menemukan kamu ,, jangan kecewakan Nadine," Rani memberikan pesannya pada Tirta.


Tirta beberapa hari ini memang dalam kebimbangan besar dalam hatinya.


Mendengar kata- kata Rani membuat hatinya dalam dilema besar.


Mereka berbincang- bincang dengan asyiknya, tampaknya semangat mama Rani untuk hidup telah bangkit lagi.


Hari menjelang gelap ketika Tirta dan Nadine minta diri. Ketika hendak menuju ke mobil yang terparkir di halaman, mereka berpapasan dengan sebuah mobil yang memasuki halaman rumah itu dan kemudian seorang pemuda turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah tersebut.


"Itu Randi ," bisik Nadine pada Tirta..


Tirta segera mengamati pemuda itu,, seorang yang sebenarnya cukup gagah , tapi mempunyai tatapan mata yang agak liar.


Face nya agak mirip Rani, karena mereka adalah saudara kembar.


"Ayo jalan Ta," ajak Nadine.


Tirta segera menjalankan mobil meninggalkan rumah Rani, ada perasaan yang tidak enak hinggap di hati Tirta.


***


Randi memasuki rumah tanpa permisi dan langsung Berteriak memanggil saudari kembarnya begitu saja.


"Rani,,! Ran,,! Raniii,,,!" serunya begitu dia memasuki rumah itu.. Tanpa salam dan tanpa basa-basi.


"Ada apa teriak-teriak Randi," jawab Rani..


"Rani, kamu harus ikut aku,, !" seru Randi seraya mendekati Rani dan langsung meraih tangan Rani dan menariknya dengan kuat..

__ADS_1


"Akan kamu ajak kemana aku Randi !" seru Rani terkejut dan berusaha mepertahankan diri dari seretan Randi.


"Pokoknya harus ikut !" bentak Randi..


"Iya, tapi ikut kemana!" seru Rani mulai marah.


Mama Rani yang melihat kejadian itu berusaha mencegahnya , akan tetapi apa daya, tenaganya masih sangat lemah!


Karena kalah tenaga akhirnya Rani pun terseret keluar oleh Randi dan langsung dimasukkan kedalam mobil yang ternyata disana telah ada dua orang yang telah menunggu di dalam, keduanya segera memegangi Rani dan melakban mulut rani dan mengikat kedua tangannya.


Mobil segera melaju meninggalkan rumah itu.


Rani yang berada dalam mobil hanya bisa pasrah, dalam keadaan seperti ini akan sia- sia saja kalau dia berontak.


Ternyata Rani di bawa ke daerah cibubur.


Sesampainya di sebuah rumah yang cukup besar jauh dari perkampungan, mobil segera memasuki halaman yang cukup luas.


Rani segera diseret dua orang yang menjaganya sejak tadi,


Di dalam rumah itu termyata sudah menunggu seorang pria agak gendut dengan beberapa pria lainnya yang agaknya adalah para anak buahnya..


"Inikah saudarimu Randi ,," tanya pria gendut itu.


"Iya Bos !" seru Randi sambil menunduk..


"Hmm cantig juga saudarimu ini," kata pria Gendut sambil mengitari Rani.


"Okelah, bisa untuk melunasi hutang- hutang mu padaku," kata pria gendut itu.


Rani yang mendengar percakapan ini terkejut . Tak disangkanya saudara kembarnya ini begitu tega menjual dirinya. Air mata meleleh di pelupuk Matanya.


Dia hanya bisa menangis batin, saudara kembarnya saudara sekandung, saudara sedarah benar-benar telah berubah karena narkoba..


"Bawa dia ke kamarku !" seru pria gendut itu pada kedua orang yang memegangi Rani.


"Beri Randi satu paket sabu!" seru pria gendut itu pada anak buahnya yang lain.


"Siap bos!" seru anak buahnya..


Rani berusaha memberontak ketika dipaksa dimasukkan ke kamar sang pria gendut itu yang tampaknya adalah bos besar pengedar narkoba.


Tapi apalah dayanya, hanya tenaga gadis kecil yang lemah. Mana mungkin mampu melawan tenaga dua pria kekar yang memeganginya.


Di dalam kamar yang cukup besar Rani di ikat di atas ranjang. ke dua tangannya di ikat ke atas ranjang, begitu pun kedua kakinya di ikat ke kanan dan kekiri sehingga mengangkang.


Dalam keadaan demikian kedua pria inipun tersenyum-senyum, sambil beberapa kali menyentuh bagian- bagian sensitif Rani..


Air mata mengalir di kedua pipi putih Rani. Belum pernah sebelumnya dia diperlakukan sekasar ini.

__ADS_1


__ADS_2