Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Tirta yang romantis ?


__ADS_3

Agak jauh di belakang Juragan cantig Latifah, seorang gadis berhijab dengan wajah manis nan lembut memandang dari kejauhan ketika Tirta disambut dengan peluk cium oleh seorang gadis yang sangat cantik, berambut panjang dan bernampilan modis..


Hatinya menjadi perih, sedih. Harapan-harapan dan impian impian yang berkembang dan bermekaran mengisi relung hatinya mendapat pukulan keras dan tergoncang. Dia mengikuti kakaknya menjemput Bayu dengan harapan bisa bertemu pemuda yang telah mencuri hatinya tersebut.


Tapi kenyataannya sekarang, pemuda itu tampaknya sudah mempunyai wanita di sisi nya.


Alangkah kecewa dan terlukanya batin Zahra,,Dia hanya bisa menunduk dan tidak berani memandang kenyataan di depan matanya. Batinya benar-benar terpukul.


Hingga satu tangan kecil dan lembut dan dengan suara yang lucu menggemaskan, mendadak mengagetkan nya..


"Tante, tante Zahra,,! sudah ditunggu Mama,," kata sang gadis kecil itu sambil menarik-narik tangan Zahra.


Ternyata hari kedatangan mereka di bandara Ahmad Yani Semarang, sudah di beritahukan kepada mbak Latifah oleh Bayu, juragan kaya raya dan cantig dari Wiradesa oleh Bayu.. termyata selama ini masih rutin menjalin hubungan Bayu! Dan dari hari ke hari menjadi semakin erat dengan jurgan cantik ini.


Dalam setiap kesempatan Bayu mengungkap perasaan-perasaannya pada Janda muda, cantig dan kaya raya ini, sehingga membuat angan dan harapan sang juragan cantig ini semakin melambung tinggi dan melayang di awan.. apalagi memang Bayu pintar sekali bercanda dan membuat sipapun lawan bicaranya tertarik dengan omongannya dan gaya penuturanya yang lucu.


Setelah mereka semua berkumpul di ruang tunggu bandara Ahmad Yani, Tirta segera memperkenalkan semuanya satu persatu.


Iza, Nani, juragan cantig dari Wiradesa, Zahra juga Leo.


"Ta, Adnan dan semuanya aku tidak ikut pulang ke padepokan dulu, aku akan ke Wiradesa dulu ," kata Leo.


"Tolong sampakan permintaan maafku pada Mbah Hardjo, Eyang Pandu dan juga pada kang Damar. Nanti beberapa hari lagi baru aku akan kembali ke padepokan ," lanjut Bayu..


Bayu terlihat sangat cerah, ceria dan Gembira..


"Mbak, jaga tuh anakan Gajah, seru Adnan bercanda.


"Jangan sampai ngabisin makanan di tempatnya Mbah Latifah ya Bay," pesan Tirta..


Mbak Latifah, mendengar semua candaan ini hanya tersenyum simpul.. kemudian menjawab;


"Iya Mas Tirta, mas Adnan, akan mbak jaga Mas Bayu supaya tetap kerasan di Wiradesa, tidak mencari kelapa dan rumput di kebun tetangga!"


Mendengar candaan mereka ini semua tertawa gembira..


"Kalian pikir aku makan kelapa sama rumput heh, " seru Bayu,,


"Bercanda Bay bercanda!" kata Adnan.


Mereka kemudian berpisah di halaman parkir bandara.


Kemudian Bayu bersama mbak Latifah, Zahra dan si kecil menuju Wiradesa, sedangkan Tirta, Adnan, Leo Nani serta Iza bersama menuju ke padepokan di lereng gunung Ungaran.


Setelah perjalanan kurang lebih satu jam melewati kota semarang kemudian melewati daerah Cangkiran sampailah mereka ke padepokan Mbah Hardjo.

__ADS_1


Leo dan Iza juga Nani tampak bingung ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman sebuah Mushola tua.


Tirta segera mengajak mereka semua untuk turun dari mobil dan melangkah menyusuri jalan setapak kearah selatan,.


Iza yang penasaran segera bertanya pada Tirta;


"Di daerah sini sudah tidak ada bangunanya Ta, dimana padepokan kalian?" tanya Iza tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Nanti juga akan kelihatan," sahut Tirta sambil melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kecil.


Sebenarnya sejak tadi pun Leo sudah penasaran dengan hal ini, akan tetapi di simpannya saja dalam hati.


Beberapa saat mereka berjalan sampai lah mereka pada pohon jati yang cukup besar sebagai perbatasan antara halaman padepokan dengan area luar padepokan..


Begitu Leo, Iza dan Nani melintasi pohon tersebut, alangkah terkejutnya mereka.


Di depannya mendadak muncul sebuah bangunan rumah Tua berbentuk joglo berdiri dengan kokoh, tidak terlalu besar juga tidak kecil..


Tampak di teras padepokan, Mbah Hardjo, Eyang Pandu dan kang Damar sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.


Tirta memang sudah mengabarkan pada kang Damar kalau hari ini mereka akan pulang ke padepokan.


"Assalamualaikum.,." begitu sudah sampai Tirtaaaa segera mengucap salam yang segera diikuti oleh rekan-rekannya..


"Wa alaikum salam," jawab Mbah Hardjo, kang Damar dan Eyang Pandu,,


Setelah mereka duduk , Tirta segera memperkenalkan Iza Nani dan Leo kepada Mbah Hardjo, Eyang Pandu dan Kang Damar.


"Selamat datang di padepokan kami , " sambut Mbah Hardjo ramah, anggap lah sebagai rumah kalian sendiri," lanjut Mbah Hardjo.


Sementara Leo sudah asyik mengobrol dengan Damar, karena memang sebelumnya sudah saling kenal.. kelihatan sekali kalau mereka sudah sangat cocok.


Setelah beberapa saat mengobrol bersama di pendopo, Tirta kemudian minta ijin pada Mbah Hardjo untuk mengajak Iza berjalan- jalan di sekitar padepokan. Demikian halnya dengan Adnan dan Nani.


Tirta mengajak bejalan di belakang padepokan dimana disana mengalir sungai kecil yang berbatu-batu dan beraliran air cukup deras, dengan air yang sangat bening dan bersih, membuat siapapun ingin merasakan segarnya air sungai kecil itu.


Iza dengan segera melangkahkan kakinya ke sungai kecil itu,, yang ternyata hanya semata kaki saja dalamya, terasa sangat sejuk dan nyaman di kaki .


"Ayo Ta turun kesini!" pinta Iza.


Tirta segera melangkahkan kakinya memasuki derasnya aliran sungai kecil itu.


Baru saja Tirta memasukkkan kakinya, Iza sudah mencipratkan air sungai ke arah Tirta,, .


"Uhh !" Tirta terkejut tapi dia hanya tersenyum saja menyaksikan ulah kekanakan Iza ini, dengan gembira Iza bermain air sungai ditemani Tirta yang duduk di sebuah batu yang cukup besar di tengah-tengah sungai kecil berair jernih dan mengalir dengan deras tersebut..

__ADS_1


Sesekali Tirta membalas cipratan cipratan air dari Iza, sehingga membuat rambut hitam panjang nya menjadi basah..


"Curang, curang kamu Ta!" teriak Iza manja, karena dia sedang berjongkok seperti mengambil sebuah batu bundar berwarna kebiruan dari dasar sungai yang berair jernih tiba tiba mencipratkan air dari arah belakang nya.


Tirta melihat bagaimana Iza menggerakkam kepalanya menggerakkan rambut hitamnya yang panjang dan basah terkena cipratan- cipratan air dari Tirta..


Gerakan Iza sungguh mempesona, jika saja di ulang dengan slow motion pasti akan membuat adegan yang luar biasa indah.


Ketika rambut wajah dan juga baju sudah basah semua, Iza segera menghampiri Tirta yang sedang duduk-duduk di batu besar di tengah sungai itu.


"Ta tolong aku mau naik!" seru Iza.


Tirta segera mengulurkan tangan nya dan menarik Iza ..


"Huft," Tirta menarik sebelah tangan Iza , akan tetapi karena batu basah dan licin, gerakan Iza menjadi tidak terkonttol ! Iza jatuh tepat menimpa sang pemuda, Tirta terkejut demikianpun Iza..


Beberapa saat mereka saling pandang, mata bertemu mata dan saling memandang, rambut Iza yang indah dan wangi sebagian jatuh menutup sebagian wajah sang pemuda..


Entah siapa yang bergerak lebih dulu, kedua bibir mereka sudah saling bertautan,


"Huft , mmmh?" sesaat mereka menikmati bibir yang saling bertaut,


Dirasakan oleh Tirta, darah mudanya bergejolak, tangannya mengelus rambut panjang dan halus Iza, sedangkan kedua tangan Iza memegangi pipi sang pemuda..


Ciuman berlangsung lumayan lama, sampai akhirnya Iza melepaskan dirinya sambil terengah-engah,, wajahnya memerah dan nafasnya memburu..


Tirta segera bangkit dan duduk , demikianpun Iza. Iza tampak menunduk malu, dia belum pernah merasakan ciuman sepanas ini.


Setelah beberapa saat saling berdiam di atas batu di tengah-tengah sungai kecil itu, Tirta


segera mengajak Iza untuk keluar dari sungai dan melihat-lihat kebun di seberang sungai, dimana banyak terdapat buah buahan, seperti rambutan, Durian dan kelengkeng.


"Ihhh buahnya segar- segar Ta,,!" seru Iza.


Tirta mengiyakan dan tanpa di minta dipanjatnya pohon rambutan dan di petiknya beberapa buah, kemudian dia meloncat turun dan membuka kulitnya dan menyerahkan buahnya pada Iza,,


Romantis sekali !, seperti seorang pria yang menyerahkan seikat kembang pada kekasihnya, akan tetapi kembangnya di ganti rambutan!. So sweet deh..


"Trimakasih ya Ta, " ucap Iza bahagia..


Kemudian mereka berjalan lagi menyusuri rimbunnya kebun itu, hingga menemukan pohon Kelengkeng yang juga sedang berbuah dengan lebatnya.


Tanpa diminta pun Tirta sudah melompat dan memanjat pohon kelengkeng itu,,


Dengan kemampuannya saat ini, sangat mudah baginya untuk memanjat pohon apapun dan setinggi apapun demi membahagiakan sang gadis.

__ADS_1


Sementara agak jauh dari Tirta dan Iza, tampak Adnan berjalan berdua dengan Nani. Tampak Nani masih agak canggung berduaan saja dengan Adnan.


__ADS_2