Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
kembali berlatih di puncak ungaran


__ADS_3

Pagi itu di kampus Tirta, Adnan Nani , Tia dan Dinda seperti kebiasaan mereka sebelumnya sudah asyik ngobrol di warung sebelah kampus.. ada yang kurang tampaknya kali ini,,, Yaa tanpa kehadiran sosok Bayu yang menyebabkan suasana kurang ramai dan kurang seru..


Dari tadi Dinda sudah berada di samping Tirta terus, tapi dia terlihat lebih banyak diamnya.


Justru Nanilah yang lebih banyak berbicara kepada Adnan, tampak nya mereka mulai lebih terbuka akan hubungan mereka..


"Aduh senengnya aku!! kita masih bisa kumpul lagi seperti awal-awal kuliah," Nani nyeletuk membuka suasana yang terasa agak kaku.


"Hmm,,, iya, tapi terasa kurang rame sih, karena gak ada si anak gajah," timpal Tia..


"Kan ada Kamu yang bisa mewakili Bayu ,Tia," celetuk Adnan, sambil tersenyum lebar..


Demikiannlah , suasana sedikit demi sedikit mencair , setelah sekian lama mereka berdiam,,,


Siang nya sehabis megikuti kuliah mereka menyempatkan diri mampir ke base camp WanaHardi..


"Siang kakak-kakak, seru Tia menyapa para senior di sana..


Guntur, Alex, Erwin dan beberapa senior dan junior tampak sedang berkumpul disana..


"Eh Tirta, Adnan, sudah lama kalian tidak kesini?" ayo ayo masuk, " seru Guntur..


"Eh dimana Bayu? tumben dia tidak bersama kalian?" tanya Guntur..


"Baru ada urusan ke luar kota mas," jawab Adnan.


"Kemana saja kalian selama ini? kok mendadak seperti hilang di telan bumi saja" lanjut Guntur.


"Kami sedang ada kegiatan lain mas," jawab Tirta singkat.


Selanjutnya mereka duduk-duduk di lantai base camp WanaHardi.


Dalam suatu pembicaraan, Guntur berkata pada Tirta;


"Ini Ta, kita mau ngadain pendakian, rencananya sih ke pegunungan Tengger dan Bromo ,," kata Guntur.


"Tapi itu bagi yang mau saja," kata Guntur lagi.


Karena selain ongkosnya mahal juga waktunya cukup lama," lanjut Guntur lagi.


Tirta dan teman-temannya mendengarkan dengan seksama..


"kapan rencananya berangkat mas Guntur ?" tanya Tirta.


"Kira kira seminggu lagi Ta," jawab Guntur.


Guntur kemudian menerangkan segala sesuatu tentang rencana mereka ke Tengget dan Bromo.

__ADS_1


Tirta dan sahabat-sahabatnya berada di camp WanaHardi sampai jam kuliah berikutnya..


Hari itu tampaknya Iza tidak nongol di kampus, sehingga Dinda sangat senang sekali. lambat laun wajahnya yang gelap berubah menjadi ceria kembali, senyuman selalu terkembang di wajahnya yang cantik, karena dia bisa membuntuti kemanapaun sang pemuda berjalan.


***


Malam itu di padepokan.


Tirta , Adnan, kang Damar dan semua penghuni padepokan melakukan rutinitas seperti biasa, naik ke gunung Ungaran!


Pukul delapan tepat mereka berlari cepat laksana bayangan setan saja,, beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di puncak Ungaran di tempat dimana mereka selalu berlatih..


Mbah Hardjo dan Eyang Pandu hanya melihat dari samping saja ketika Tirta , Adnan dan Kang Damar berlatih dalam satu arena pertarungn .


Leo yang tadinya masih ragu untuk terjun ,, akhirnya mau juga turun gelanggang begitu kang Damar menariknya untuk terjun.


Mau tidak Mau Leo akhirnya tertarik juga untuk terjun dalam arena latihan di puncak gunung ini karena latihan pertarungan terlihat sangat seru dan menegangkan.


Mereka berlatih bertarung bersama- sama, tak ada lawan dan tak ada kawan, mereka bertarung secara serabutan, lawan berganti-ganti, cara bertarung seperti ini membuat kemampuan mereka bisa meningkat dengan cepat.


"Lihatlah Djo, kemampuan Tirta sudah meningkat pesat sekali, Ilmunya semakin menyatu dalam tubuhnya! Juga Adnan," kata Eyang Pandu sambil menyaksikan latihan mereka..


Mbah Hardjo mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju dengan pendapat Eyang Pandu.


"Dan lihatlah Leo Djo,, Dia juga cukup hebat! andaikata tiap gerakannya di lambari tenaga batin alangkah hebatnya dia, mungkin akan bisa melampaui Damar, dan bisa mendekati kemampuan Tirta.." lanjut Eyang Pandu..


"Benar Kang, Leo pada dasarnya mempunyai watak dan pembawaan yang berbeda,, dia cenderung Liar dan brutal!


"Mungkin dipengaruhi cara hidupnya terdahulu," jawab Mbah Hardjo..


"Bagaimana kalau kita ajari tenaga batin Djo ?" kata Eyang Pandu lagi..


"Saya kira belum saatnya Kang Pandu. Masih sangat riskan, karena Leo baru saja menapaki jalan ini,, biarlah beberapa saat ketika pikiran dan hatinya sudah mapan" lanjut Mbah Hardjo.


Eyang pandu mengangguk angguk,,


Benar katamu Djo,, akan susah mengendalikan nya jika kelak di kemudian hari dia ternyata salah jalan kembali, sedangkan ilmunya sudah benar-benar matang,, kata Eyang Pandu.


Di arena pertarungan, mereka sudah mandi keringat, Adnan yang tampak paling lemah diantara mereka sudah menepi sejak tadi.. Tingggal bayangan Leo, Tirta dan Kang Damar yang masih saling melibat dan baku hantam.


Leo yang sebelumnya tidak pernah merasakan pertarungan dengan lawan- lawan tangguh seperti ini! Dia menjadi sangat bersemangat, gerakannya lincah dan ulet, kecepatannya sudah mampu mengimbangi Damar dan Tirta, dan bahkan satu yang menjadi kelebihan Leo, yaitu pengalannya dalam bertarung.. Sudah banyak pertarungan m-pertarungan yang di jalaninya.


Dan satu kekurangannya adalah stamina,, ternyata fisiknya tidak mampu mengimbangi Damar yang memang pekerjaannya adalah berkebun yang setiap hari naik turun gunung merawat kebunnya.


Sedang kan Tirta pada dasarnya mempunyai kekuatan batin yang luar biasa besar karena mewarisi ilmu- ilmu dari Eyang Wasis Jayakusuma. Sehingga jangan di tanya lagi kekuatan batin maupun wadagnya ! Benar-benar luar biasa dan ngedab edapi!


.

__ADS_1


***


Ketika tengah malam menjelang,


Mbah Hardjo segera menghentikan latihan itu dan mengajak semuanya untuk turun gunung.


Begitulah setiap hari mereka berlatih di atas puncak Ungaran.


Tiga hari Kemudian Bayu terlihat sudah bergabung kembali bersama Tirta dan Adnan.


Dalam kepulangannya ke padepokan kali ini, dia membawa kabar gembira pada kawan kawannya..


Bayu bercerita kalau dia akan bertunangan dengan mbak Latifah, juragan kaya raya dari Wiradesa, Pekalongan.


"Apakah keputusanmu sudah kamu pikir masak-masak Bay," tanya Tirta.


"Sudah sih Ta, aku sudah mantap ingin menikahi mbak Latifah kata Bayu Tegas..dan untuk sementara kami akan bertunangan terlebih dahulu kata Bayu lagi.


Kapan rencananya pertunanganmu Bay?" tanya Adnan..


"Rencananya sih bulan depan," jawab Bayu..


"Aku harap kalian datang di acara pertunaganku ya!" pinta Bayu.


Semuanya yang berada di situ segera menyanggupi permintaan Bayu untuk datang ke acara pertunagannya.


Dan dalam kesempatan itu, Bayu juga mengatakan mungkin akan sering-sering ke Wiradesa ke tempatnya juragan Latifah setiap akhir pekan.


"Cie , cie yang sedang jatuh cinta nih, mulai meninggalkan kawan lama begitu mendapatkam kawan hidup..!' canda Adnan.


"Ah kau Adnan," seru Bayu seraya memukul bahu Adnan...


"Hanya akhir pekan saja kok," bantah Bayu..


"Iya iya gak papa Ngger, kata Mbah Hardjo," melegakan Bayu.


"Oh ya Bay, minggu depan WanaHardi akan mengadakan acara pendakian di Tengger, kamu ikut ya," kata Tirta pada Bayu.


"Mmh kalo akhir pekan sudah berjanji pada mbak Latifah untuk mengunjunginya di Wiradesa," jawab Bayu ragu..


"Nahhh, benar kan kataku ," sahut Adnan..


"Ketemu kawan baru melupakan kawan lama,", seru Adnan..


"Pengin ikut sih , tapi..."


"Sudah,,, kamu ijin dulu pada mbak Latifah dulu, ,,, ataukah aku yang akan minta ijin," sambar Adnan agak ketus kali ini..

__ADS_1


__ADS_2