
Sejak hari di mana Aryo Seto pergi karena di usir oleh ki Ranu.
Wulungan semakin giat mendalami olah kanuragan dari ki Amongraga dan sekali-kali juga dari ki Ranu.
Akan tetapi ki Ranu sendiri mulai meragukan penilaiannya sendiri dalam menilai seseorang,,
kekhawatirannya akan Aryo Seto membuat ki Ranu lebih berhati-hati dalam menurunkan ilmunya terutama aji-aji yang merupakan piandelnya (andalan) seperti aji Bayu Bajra dan Suryo Dahono.
Akan tetapi semua keragu-raguan dan kekhatirannya sirna begitu dirinya bertemu dengan Tirta Jayakusuma yang sopan santun, andap asor serta rendah hati.
Setelah acara penjajagan ilmu kanuragan di halaman itu usai, ki Amongraga segera memerintahkan sebagian pengawal padukuhan Srengseng untuk berjaga- jaga di pintu masuk padukuhan itu, sedangkan sebagian lagi di perintahkan untuk istirahat terlebih dahulu..
Hari menjelang petang, malam ini adalah malam yang telah direncanakan oleh Aryo Seto untuk berkunjung. Untuk mengusai dukuh Srengseng ini.
Di pintu masuk padukuhan terlihat puluhan pemuda sudah terlihat berkumpul di pos penjagaan yang berada di Regol (gapura) padukuhan.
Diantara mereka tampak ki Amongraga dan Wulungan.
Mereka duduk-duduk ataupun sekedar minum- minuman hangat untuk menghangatkan tubuh.
Sedangkan sebagian lagi berkumpul di pendopo rumah ki Ranu.
Mereka menunggu kedatangan Aryo Seto dengan hati yang berdebar-debar.
Ketika malam semakin pekat dan kabut mulai turun karena cuaca malam itu lumayan dingin, lebih dingin dari hari kemarin, telihat lamat- lamat puluhan cahaya obor dari kejauhan yang makin lama semakin dekat.
Setelah obor-obor mendekati dalam jarak beberapa ratus meter dari regol Srengseng, terlihat seorang pemuda yang cukup tampan dengan kulit putih berjalan di depan dengan diikuti puluhan orang di belakangnya.
Diantara para pengikutnya yang di ajak adalah pamannya , adik dari ayahnya, yang sekarang ini telah di angkat menjadi Jagabaya padukuhan juga beberapa gegedug ( jagoan ataupun orang yang dianggap kuat) dari padukuhan Wuni.
"Aryo Seto ! seru para pengawal padukuhan yang sedang berjaga jaga di regol padukuhan.
Segera seorang pemuda memukul kentongan tiga kali sesuai kesepakatan kalau Aryo Seto telah sampai segera memukul kentongan tiga kali saja..
Ketika rombongan Aryo Seto sudah sampai di regol padukuhan. Aryo Seto segera mengenali ki
Amongraga dan juga Wulungan nyah
"Selamat bertemu kembali ki Amongraga,! Wulungan !" seru Aryo Seto.
"Kalian tampaknya sudah tidak sabar menungguku untuk menjadi pemimpin kalian menggantikan ki Ranu," lanjut Aryo Seto.
"Hmm ,, jangan bermimpi, Aryo !" balas ki Amongraga.
__ADS_1
"Jika kalian mau jadi pengikut ku kalian akan aku jadikan pemimpin di padukuhan ini, kamu ki Amongraga akan menggantikan ki Ranu sedangkan kau Wulungan akan menjadi Jagabaya di padukuhan ini.."
"Huh tak perlu menguji kesetiaan kami pada padukuhan ini Aryo!" jawab ki Amongraga.
Pulanglah saja Aryo , tak mungkin kami rela kau pimpin, mau apa jadinya padukuhan ini?" lanjut ki Amongraga.
"Aku kemari kali ini hanya ingin mendengar jawaban dari ki Ranu," jawab Arya Seto.
"Baiklah Aryo, Ki ranu akan segera sampai di sini ,, biarlah semua keputusan ada si tangan ki Ranu, kami hanya nyengkuyung apa yang sudah menjadi keputusan ki Ranu," jawab Ki Amongraga lagi.
Beberapa saat kemudian rombongan para pengawal padukuhan yang berada di pendopo rumah ki Ranu telah sampai di Regol desa dengan dipimpin langsung oleh ki Ranu.
"Guru !" seru Aryo Seto...
"Kamu kemari dengan membawa orang orang mu, dengan maksud menguasai padukuhan ini, masih pantas kah kamu memanggilku guru?"
"Sejak hari dimana kamu pergi dari sini dengan mencorengkan kotoran di wajah ku, kamu sudah aku anggap orang lain, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." kata ki Ranu
"Aku hanya ingin menjadikan Padukuhan Srengseng ini lebih maju dan lebih terbuka guru !" seru Aryo.
"Seperti padukuhan-padukuhan di luar sana!" kata Aryo Seto lagi.
"Apakah dengan mabuk, judi dan hal- hal buruk seperti itu Aryo ?" tanya Ki Ranu..
"Aryo, tampaknya orang tua ini masih ingin berkuasa disini, tidak mau menyerahkan posisinya kepada yang lebih muda," kata seorang pria usia pertengahan yang berdiri di samping Aryo. Dia adalah Paman dari Aryo Seto yang benama ki Branjang!
"Baiklah guru, tampaknya guru memang sudah tidak bisa di ajak bicara, memang harus dengan kekerasan baru guru percaya kalau aku sanggup menjadi kepala dukuh dan gegedug padukuhan menggantikan guru ! kata Aryo Seto.
"Apakah ada seorang pemuda yang bisa lebih baik dari aku guru? Untuk memimpin padukuhan ini!?"
"Lebih hebat dari aku?"
"Lebih kuat dari aku?"
"Wulungan kah? atau Amongraga? atau siapapun guru?" tanya Aryo Seto .
"Jadi pemimpin tidak harus hebat dan Kuat Aryo, tapi adalah orang yang mampu melindungi, mengayomi warganya! mampu membuat ketenangan , tidak malah membuat kerusakan dan kehancuran bagi warganya !" jawab ki Ranu lagi.
"Sudah Aryo ,, percuma bicara pada tua bangka ini,,
tujuan kita sudah jelas,, kita ambil alih padukuhan ini kata seorang pria yang juga berusia pertengahan yang berdiri agak di belakang Aryo Seto. Dia adalah salah satu gegedug padukuhan Wuni yang bernama ki Sardulo.
"Hei ki Ranu, jika kau tidak rela kedudukanmu kami ambil maka bersiaplah akan ada banjir darah disini di padukuhan Srengseng ini." Kata orang yang berdiri agak di belakang Aryo itu..
__ADS_1
"Aryo ! Seekor anjingpun tidak akan menggigit pemiliknya, orang yang memberikannya makan dan tempat bernaung..!"
"Tapi kamu sebagai manusia, sudah hilang watak kemanusiaan mu, sudah keblinger kamu Aryo..!" kata ki Ranu.
"Jika kamu benar-benar pria perkasa dan tangguh , maka kamu tidak akan membawa kawan- kawanmu kemari untuk membantumu ! "
"Kamu akan datang kemari dengan jantan tanpa melibatkan orang lain," lanjut ki Ranu.
Rebutlah tanah ini dengan tanganmu sendiri jika kamu mampu, Taklukan orang terkuat dari padukuhan Srengseng ini dengan kekuatannmu sendiri," kata ki Ranu melanjutkan hasutannya pada Aryo, supaya Aryo emosi..
Tujuan ki Ranu kali ini adalah untuk membuat Aryo Seto masuk dalam perangkap ki Ranu untuk berperang tanding tanpa melibatkan warga padukuhan Srengseng yang akan memyebabkan banjir darah yang akan membuat penderitaan bagi warga Srengseng baik menang maupun kalah.
Benar saja , begitu mendengar perkataan ki Ranu , Aryo Seto langsung meluap emosinya.
Setahunya hanya gurunya saja yang juga gegedug padukuhan ini yang mempunyai kamampuan paling hebat, itupun karena usianya yang semakin tua menyebabkan kamampuan olah kanuragan nya juga semakin menyusut.. dan juga Semua ilmu dari sang guru telah di serapnya sampai habis.
Tapi untuk menghadapi sang guru pun Aryo juga masih sungkan dan Ewuh.
"Apakah guru menghendaki aku untuk melawan guru ?" tanya Aryo Seto..
"Tidak Aryo!" jawab ki Ranu cepat..
" Aku tahu dengan batasanku,, aku juga tahu aku tidak akan mampu mengahdapimu.".
"Apakah Wulungan? atau Amongraga atau mungkin yang lainnya?" seru Aryo Seto .
"Anak Mas Tirta, kemarilah seru ki Ranu memanggil Tirta Jayakusuma.
Seorang pemuda tinggi dan agak jangkung, bertubuh agak kerempeng dengan pandangam mata yang tajam tapi teduh. Beralis tebal dan berambut hampir sebahu, segera keluar dari kerumunan para pengawal padukuhan Srengseng mendekat ke Arah ki Ranu dan Aryo Seto.
"Siapa dia Guru," seru Aryo Seto.
"Dia adalah Tirta Jayakusuma, murid baru ku!" jawab ki Ranu pedas.
"Dan dia adalah calon cucu menantuku kelak," jawab ki Ranu Tegas.
Aryo Seto tampak terkejut dengan keterangan ki Ranu yang terakhir ini.
Tirta , juga melengak mendengarkan perkataan ki Ranu, tapi dia tidak berani membantah perkataan orang tua ini..
Wulungan, dan juga para pemuda padukuhan sama- sama terkejut mendengar perkataan ki Ranu..
Tampaknya ki Ranu bermaksud menjodohkan cucu kesayangannya pada pemuda yang baru beberapa hari ini ada di antara mereka,, walaupun harus di akui memang pemuda ini adalah pemuda yang baik, berbudi pekerti baik, dan tahu tata Krama!
__ADS_1
Juga cukup tampan menarik dan gagah.