Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
mendadak nikah


__ADS_3

Kini tinggal tiga orang pria pemegang senjata cakar besi.. dua berhadapan dengan Mbah Hardjo dan satu berhadapan dengan kang Damar.


Pada saat yang bersamaan, Leo Adnan dan Bayu yang sedang membopong Mbak Latifah calon istrinya yang tampak sangat shock, keluar dari ruangan dalam.


Adnan tampaknya juga sudah menyelesaikan perlawanan lawannya.


Melihat Mbah Hardjo dikeroyok dua orang , Leo dan Adnan segera melompat bersama-sama mengambil alih lawan- lawan Mbah Hardjo.


"Biar kami yang membereskan orang-orang jahat ini Mbah !" seru Adnan.


Pertarungan segera terjadi antara Adnan dan Leo menghadapi dua lawan bersenjatakan cakar besi..


Ketika semua konsentrasi terpusat pada tiga lingkaran pertarungan. Tiba-tiba saja...


"Duarr,, !" terdengar ledakan keras dan asap kuning menyebar ke seluruh ruangan,, tampak nya ini adalah bom asap..


"Semua merapat ke tembok,, !" seru Leo yang memang paling berpengalaman dalam menghadapi pertarungan model apapun.


"Lindungi Tomy!"


Ya, diantara mereka yang terlemah adalah Tomy.


"Bay, jaga mbak Latifah !" seru Leo memperingatkan Bayu.


Bayu walaupun masih dalam keadaan terluka tapi masih mampu menjaga diri nya dan mbak Latifah yang masih dalam dukungannya.


Dan pada saat itulah terdengar teriakan-teriakan ngeri,, tampaknya mengalami kesakitan yang amat sangat.


Tirta dan kawan-kawan tampak terkejut mendengar teriakan-teriakan ini..


"Bayu, Adnan , Tomy kalian aman?" seru Tirta.


"Kami semua aman!" seru Bayu , Tomy juga yang lainnya..


Ketika asap mulai memudar, tampklah darah berceceran di lantai. Ternyata orang orang terluka oleh pertarungan sengit itu, telah mati dengan bekas luka dari cakar besi yang menembus jantung mereka..


pandangan mayat-mayat bergelimpangan dengan darah segar mengalir dari dada yang tertembus cakar besi sungguh membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri..


"Sungguh biadab!" seru Tirta melihat pembantaian sedemikian kejinya.. karena baginya nyawa sangatlah berharga walaupun seorang penjahat sekalipun..


Itulah sebabnya selama ini dia selalu berusaha menghindari jatuhnya korban jiwa dalam setiap pertarungannya.


Tirta kemudian melangkahkan kaki keruang dalam.


Dan ternyata disana pun sama saja.


Hendra dan Ramon serta dua orang pria pemegang senjata cakar besipun mengalami nasib yang sama..


Tampaknya kelompok orang-orang bersenjata cakar besi ini tidak ingin jika rahasia kelompok mereka terbongkar.


Tindakan yang mengorbankan kawan sendiri adalah tindakan yang sangat keji dan biadab !


Tapi inilah yang benar-benar terjadi ! Dan kedepannya kelompok inilah yang akan menjadi lawan berat Tirta Jayakusuma.

__ADS_1


Setelah melaporkan kejadian pembunuhan di lokasi ini pada pihak berwajib, mereka segera kembali ke Wiradesa.


Dalam perjalanan Tirta mendiskusikan tentang kejadian yang barusan di alami.


"Tampaknya mereka adalah organisasi kejahatan yang barusan muncul Ta,, Sewaktu aku masih menjadi pembunuh dan malang melintang di dunia kegelapan, tak pernah aku menjumpai kelompok yang bersenjatakan senjata cakar besi seperti ini.." kata bang Leo.


"Benar bang Leo, kelompok ini tampaknya sangat kejam ! bahkan kawan sendiri saja bisa di habisi dengan sadis. Tampaknya pun, lambat atau cepat kita pasti berhadapan dengan mereka, apalagi hari ini kita sudah berbenturan dengan mereka.". kata Tirta.


"Coba nanti abang akan cari tahu info tentang mereka lebih dulu, siapa tahu Jim dan Gendon mengetahui nya.


***


Hari itu acara lamaran ditunda karena mbak Latifah masih trauma, juga kondisi Bayu masih terluka.


Sementara itu Dinda mengikuti terus setiap langkah dari Tirta.. kemanapun Tirta melangkah, Dinda selalu ada disampingnya.


Ketika Tirta dan Dinda duduk duduk di halaman rumah Mbak Latifah.


Dari jauh, tampak dua mata bening dan lembut dengan hijab hitam menutup mahkotanya hanya bisa memandang sambil menunduk sedih.. Sudah beberapa saat yang lalu dia berusaha menghapus jejak jejak di hatinya .


Ya, gadis cantik dan lembut ini adalah Zahra. Dengan hidung mancung, bibir merah merekah dan kulit putih..


Ketika dia sedang melamun, tiba tiba;


"Mbak, mbak cantik cantik kok ngelamun, entar cepetan tua lho!" Seru satu suara riang dari cowok remaja yang baru menginjak dewasa.


Zahra yang terkejut segera memalingkan wajah kesamping dimana terdengar suara cowok itu..


"Ternyata kamu!?" seru Zahra.


Dipandanginya cowok itu..


Dia tahu, cowok ini adalah adiknya Tirta Jayakusuma.


Dan tiba-tiba saja cowok remaja ini sudah duduk disampingnya ! tanpa permisi lebih dahulu, duduk begitu saja di sampingnya !


Mata bulat, wajah penuh senyum dan ceria..


"Seperti kakaknya, tapi sang adik wajahnya agak-agak terlihat jahil.." pikir Zahra.


"Hmm, sok tau kamu !" , seru Zahra jengkel karena, lamunannya terganggu.


"Mbak, namanya siapa sih ?" tanya Irman pada Zahra..


"Lah , nanya nanya segala !" jawab Zahra ketus..


Ya walaupun tampaknya berwajah lembut , tapi kadang juga Zahra bisa judes seperti ini..


"Ya udah, kalo gak mau nyebut nama,, aku panggil saja sesukaku,, bagaimana kalo cemplon,, ? ya,,, ya cemplon..!" sahut Irman dengan senyum nakalnya.


Sebenarnya Irman tahu nama gadis ini, tapi dia sengaja menggodanya..


"Huh, ngarang aja, masak ngasih nama kayak gitu, yang agak bagusan dikit napa,,, ?" nampak Zahra mulai mau di ajak bercanda oleh Irman..

__ADS_1


Ok,ok mbakyu tembem....


"Huh malahan parah,, ! mosok kamu bilang aku Tembem,,, ?" protes Zahra.


"Habis, perbendaharaan kata di otakku hanya itu.!" jawab Irman sambil garuk-garuk kepalanya yang enggak gatal...


"Ya udah,,, namaku Zahra,,! Zahra khoirunnisa... panggil saja Zahra atupun Nisa... kata Zahra.


"Aku panggil khoirun boleh nggak!?"


"Huh konyol dan menjengkelkan sekali sih kamuuuu,,!" seru Zara..


Dan tanpa ampun tangan Zahra sudah mencubit dengan gemas pinggang kerempeng Irman..


"Waduh,,, tolong mas Tirta ,,, aku mau di culik Khoirun....!?"


Tirta yang sedang bersama Dinda segera menoleh,,


"Sukurin, kena batunya kamu..!"


seru Tirta melihat Irman di cubiti oleh Zahra....


Ya jarak usia Irman dan Zahra terpaut kurang lebih satu tahun saja, lebih tua Zahra.


Tampaknya mereka berdua mulai akrab...


***


Demikianlah hari itu acara lamaran ditunda sampai esok hari.


Baru keesokan harinya acara lamaran di laksanakan.


Karena pertimbangan seringnya gangguan yang menimpa mbak Latifah yang seorang janda kembang, maka keluarga mbak Latifah meminta pada keluarga Bayu untuk melakukan akad nikah sekalian..


Dan atas kesepakatan kedua orang tua pihak laki-laki dan pihak wanita, akhirnya acara lamaran berganti dengan acara ijab kabul atau akad nikah dengan mengundang seorang kyai untuk menikahkan mbak Latifah dan Bayu..


Wajah- wajah bahagia dan sumringah menghiasi wajah cantik Mbak Latifah dan Bayu.


Hari itu Bayu benar-benar bahagia,,,, dia bisa menjadi suami dari mbak Latifah , janda kembang yang cantik, baik hati dan kaya raya.


***


Setelah acara akad nikah usai, Tirta dan rombongan kembali ke kota Semarang malam harinya.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika mereka sampai di padepokan di lereng Gunung Ungaran dengan selamat.


Karena sudah larut malam, Adnan mengantar kan Nani dan Tia kembali ke kost mereka, sedangkan Dinda diantar oleh Tirta menggunakan motornya, karena kemarin Dinda Tia dan Nani ke padepokan naik taksi online.


Motor di pacu dengan santai menulusuri jalanan lengang Gunungpati ke arah Ungaran.


Ya Tirta mengambil jalan menuju Ungaran lebih dulu, baru kemudian ke arah Semarang..


Namun ketika akan memasuki kota Ungaran, mendadak hujan seperti badai menerjang dengan derasnya. Hujan deras disertai angin dan petir.

__ADS_1


Tubuh Tirta basah kuyup, begitupun Dinda yang merangkul erat di belakang. Dia lupa tidak membawa jas hujan.


Tirta segera menepikan kendaraan ke tepi jalan dan kebetulan Tirta berhenti tepat di sebelah taman kota . Taman Unyil namanya, letaknya di sudut jalan di pinggiran kota Ungaran menuju kota Semarang.


__ADS_2