Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
hati juragan cantik


__ADS_3

Malam itu di rumah mbak Latifah, sebagian karyawan berkumpul untuk berjaga- jaga dan mengadakan tasyakuran, karena keluarga mbak Latifah telah lolos dari perampokan yang membahayakan keluarganya.


Makanan berlimpah dan suasana penuh kekeluargaan terlihat jelas di wajah-wajah para karyawan yang hadir.


Mereka benar-benar lega!


Tirta Bayu dan Adnan benar-benar menjadi pahlawan bagi keluarga mbak Latifah dan para karyawannya.


Mereka layaknya aktris, diperhatikan dan di sanjung-sanjung sehingga membuat ketiganya jadi kikuk.


Banyak yang meminta ketiganya untuk sementara tinggal disana untuk memastikan keamanan keluarga besar juragan Latifah.


Dalam kesempatan itu Mbak Latifah menyampaikan banyak terima kasih pada Tirta, Bayu dan Adnan secara terbuka di depan para karyawan dan keluaraga mbak Latifah.


Juga mbak Latifah berharap dengan sangat supaya mereka bertiga bersedia untuk tinggal beberapa hari di Wiradesa ini.


Adnan mewakili Tirta sebagai pemimpin diantara mereka bertigapun menyampaikan rasa terima kasih telah diterima dengan baik di keluarga juragan Latifah. Akan tetapi mereka tidak bisa tinggal terlalu lama di situ, mereka harus segera melanjutkan perjalanan.


Setelah semua karyawan sudah pulang, tinggallah mereka bertiga di rumah itu bersama mbak Latifah, putri kecil nya dan Zahra.


Mbak Latifah masih berusaha membujuk Tirta, Bayu dan Adnan supaya tinggal beberapa hari lagi di situ, akan tetapi keputusan Tirta, Bayu dan Adnan sudah bulat, mereka akan melanjutkan perjalanan esok hari, berpetualang mencari pengalaman.


Malam itu mereka berbincang sampai larut malam, banyak yang mereka perbincangkan.


Bayu lah yang membuat suasana nya hidup. Ada ada saja yang bisa di jadikan bahan obrolannya. Bayu juga banyak memberi pesan kalo ada apa-apa tentang Hendra supaya segera menghubungi mereka ataupun Ipda Faisal.


Dari obrolan- obrolan mereka, tampak sekali kalau Bayu tertarik pada mbak Latifah dan mbak Latifahpun menanggapi dengan malu malu.


Zahra adik mbak Latifah beberapa kali terlihat mencuri-curi pandang pada Tirta. Dalam hati gadis itu sangat kagum pada pemuda ini. Hal ini tak lepas pula dari pengamatan sang Kakak! Latifah. Zahra adalah gadis cantik dan anggun juga pemalu. Tirta tidak menyadari ini.


Zahra sangat ingin berbincang-bincang berdua saja dengan sang pemuda. Dan kesempatan itu datang ketika sang pemuda keluar sebentar untuk menerima panggilan telpon entah dari siapa.


Zahra mengikuti dari belakang, dan ketika Tirta selesai dengan pembicaraannya. Zahra dengan memberanikan diri menyapa sang pemuda.


"Mas Tirta bicara dengan siapa,?" tanya Zahra berbasa-basi.


Tirta terkejut, ada suara merdu yang menegurnya dari belakang..


"Ehh Zahra, ini telepon dari Ibu aku, jawab Tirta.


"Ooh, mungkin Ibu mas Tirta sudah kangen sama Mas, dan juga kawatir keadaan Mas," kata Zahra mberanikan diri berbicara dengan sang pemuda walaupun hatinya bergejolak tidak karuan.


Kenapa mas Tirta tidak bersedia tinggal beberapa hari lagi sinini,? apa pelayanan kami kurang memuaskan bagi masTirta? , tanya Zahra.


"Bukan, bukan begitu Zahra, kami sebenarnyalah dalam perjalanan mencari pengalaman, sebenarnya juga kami tidak di kejar waktu, tapi jika kami terlalu lama tinggal di satu tempat dan kami betah maka perjalanan kami juga semakin lama dan panjag," kata Tirta menjelaskan pada Zahra.


Gadis ini hanya mengangguk-angguk saja sambil memandangi wajah pemuda di depannya yang lembut dan teduh tapi menyimpan banyak misteri baginya.


"Sebenarnya zahra berharap mas Tirta bisa tinggal di sini beberapa hari lagi, tapi ya sudahlah kalau itu sudah jadi keputusan mas Tirta, Zahra hanya bisa mendoakan Mas, supaya selalu sehat dan bisa kesini lain kali, Zahra akan menunggu sampai mas Tirta bisa mengunjungi kami di sini lagi." Zahra berbicara setengah berbisik, karena ini menyuarakan suara hatinya agar sang pemuda tanggap dengan apa yang di sampaikan Zahra.

__ADS_1


Tirta hanya mengiyakan, dia tidak terlalu memikirkan kata-kata Zahra, yang hanya dianggap sebagai harapan biasa saja.


ketika malam semakin larut, Tirta Bayu dan Adnan segera kembali ke rumah kecil kusus tamu yang kemarin di gunakan untuk menampung para penjahat yang terluka, sekarang sudah kosong karena sore tadi Ipda Faisal dan anak buahnya sudah menjemput Black dan kawananya.


Pagi itu Tirta Bayu dan Adnan sudah terlihat rapi dan bersiap siap untuk melanjutkan petualangan mereka. Luka Bayu juga sudah diperban dengan baik.


Di teras rumah mbak Latifah dan putri kecilnya serta Zahra sudah menunggu para pemuda itu.


"Kami pamit dulu Mbak, terimakasih atas penerimaan dari mbak Latifah dan semua keluarga disini, semoga silaturahmi kita tetap berlanjut di masa yang akan datang," kata Adnan.


"Iya Mas, kalau ada waktu luang mampirlah kemari. Rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian!"


Mereka sudah berbalik dan hendak melangkahkan kaki ketika mbak Latifah tiba-tiba berseru manggil.


"Mas Bayu!" Bayu segera menoleh ke belakang dan di saat itulah Latifah memeluknya, mencium pipinya dan berbisik,


"Aku akan menunggumu Mas!"


Bayu terkejut, begitupun Tirta dan Adnan.


"Iya,,iya, iya Mbak" jawab Bayu gagap.


"Bayu akan segera kemari setelah perantauan ini usai," jawab Bayu tersenyum bahagia.


"Om harus janji kemali lagi yaa," kata si kecil putri Latifah. Bayu segera meraih si kecil, mengangkat dan menciumnya.


Mata Latifah berkaca-kaca melihat putri kecilnya yang dekat dengan Bayu.


***


Sore itu di jalan raya pantura pinggiran kota Tegal.


Tiga orang pemuda duduk di warung es kelapa muda, seharian mereka kepanasan dan sore ini mereka berhenti di warung pinggir jalan menikmati es kelapa muda.


Mereka duduk melepas lelah sambil memandangi lalu lintas yang ramai.


"Kita nanti mau menginap di mana Ta," tanya Adnan sambil menikmati kelapa hijau muda.


"Lha kamu kepinginnya kita menginap di mana," tanya balik Tirta.


"Bagaimana kalau untuk malam ini kita menginap di hotel tengah kota Tegal saja, kita bisa menikmati suasana malam di kota ini," jawab Adnan..


"Boleh,, boleh!" jawab Tirta.


Sebenarnya kalao mereka ingin menginap di hotel berbintang tiap hari pun bisa, atau makan di restoran-restoran mewah pun bisa.


Sebelum berangkat mereka sudah di bekali kartu Atm oleh kang Damar, dan isinya lumayan. Apalagi Tirta juga punya kartu dari pak Fajrul yang isinya sangat banyak.


Tapi mereka adalah pemuda-pemuda sederhana yang tidak suka berfoya-foya dan juga belum tercemar oleh gaya hidup hedonis.

__ADS_1


Setelah selesai beristirahat mereka kemudian naik angkot menuju tengah kota Tegal.


Mereka mencari-cari hotel yang sekiranya cocok.


Mereka turun di alun-alun kota tegal dan berjalan menyusuri kota Tegal. Ketika mereka melihat ada Sebuah hotel yang cukup besar dan megah dan tidak jauh dari sana ada sebuah Mall yang cukup megah dan ramai, Bayu segera mengajak mereka untuk melihat hotel tersebut.


Mereka segera menuju resepsionis hotel dan menanyakan pada resepsionis apakah masih ada kamar yang kosong.


Seorang gadis manis, dengan rambut panjang menyambut mereka.


Tapi sayang, sambutannya terlihat agak meremehkan karena di lihatnya tiga pemuda itu lusuh dan berjalan ke lobi juga jalan saja tanpa naik mobil pribadi.


"Maaf, kalau kamar yang paling murah disini sudah habis adanya kamar Vvip yang harganya 2 jt permalam, jawab gadis resepsionis itu terlihat sekali meremehkan Tirta Bayu dan Adnan.


Ketiganya kaget mendapatkan jawaban ini, padahal mereka tadi hanya menanyakan apakah masih ada kamar atau tidak.


"Maaf mbak, kami hanya menanyakan apakah ada kamar kosong saja!" Jawab Bayu mulai panas.


"Iya mas,,mas, adanya kamar yang Vvip saja ,, jawab sang resepsionis.


Ketika mereka sedang berbicara dengan si resepsionis mendadak ada seorang pemuda perlente dengan seorang gadis yang datang.


Segera si resepsionis tadi menyambut dengan senyum ramah, tanpa memperdulikan Tirta, Bayu dan Adnan.


"Masih ada kamar yang biasa?" , tanya pemuda perlente tersebut,


"masih, mas!"


Si resepsionis segera mengeluarkan sebuah kartu, sebagai kunci kamar hotel.


BayuAdnan dan Tirta saling pandang, benar-benar sangat meremehkan sekali resepsionis ini.


"Mbak! mbak tadi katanya tinggal kamar Vvip saja, lha tadi itu kok dapet kamar biasa, tanya Bayu.


"Itu tadi sudah pesan duluan mas!" jawab sang resepsionis ketus.


"Bagaimana Ta?" tanya Bayu pada Tirta yang tampaknya mulai marah.


"Ya sudah kalau memang adanya room Vvip ya ambil saja. kata Tirta cuek.


Sang resepsionis kaget mendengar jawaban sang pemuda.


"Baik Mbak kalau begitu kami ambil room yang Viip,!" kata Bayu.


Kali ini si resepsionis masih tidak percaya dan langsung berkata,


"harus di bayar dulu mas," katanya.


"Baik mbak, Tirta segera mengeluarkan kartu yang di punyainya, yang di beri oleh pak Fajrul papanya Iza.

__ADS_1


Setelah selesai pembayaran, si resepsionis terlihat seperti malu, akan tetapi untuk menutupi malunya dia tetap bersikap ketus.


Mereka bertiga segera di antar karyawan hotel ke ruangan Vvip yang terletak di lantai lima hotel tersebut.


__ADS_2