Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
pengawal padukuhan


__ADS_3

Wulungan segera melangkah ke luar dari pendopo menuju ke halaman.


Halaman ini cukup luas dan lapang tanpa ada pohon ataupun tanaman karena memang sering digunakan untuk pelatihan para pemuda dalam olah kanuragan.


Mereka semua segera keluar menuju halaman termasuk Tirta, Bayu dan Adnan juga Nastiti.


Wulungan sudah berdiri di tengah-tengah halaman.


"Silahkan anakmas Tirta," kata ki Amongraga yang tampaknya memang sengaja untuk memaksa Tirta untuk menghadapi Wulungan.


Nastiti yang ada di sisi Tirta tampak mengatakan sesuatu pada sang Pemuda..


"Jangan ragu mas Tirta, turun tangan saja seperti menghadapi lawan lawanmu.


Yang penting jangan sampai terluka berat,, agar para pemuda ini tidak congkak dan tahu diri!" bisik Nastiti.


Tirta menganggukkan kepala tanda mengerti perkataan Nastiti.


Tirta segera melangkahkan kakinya menuju ketengah halaman di mana Wulungan sudah berdiri dengan kokohnya.


Tirta segera membungkukkan badannya seraya menangkupkan telapak tangan di dada, sebagai tanda penghormatan dan subo sito.


Sebelum keduanya bergerak, ki Amongraga mewanti-wanti agar tidak ada yang terluka dalam jajag ilmu kanuragan ini.


"Marilah kakang Wulungan," Tirta segera mempersilakan Wulungan untuk memyerang lebih dulu.


Dengan teriakan bagai guntur, Wulungan bergerak dengan cepat nya mengarahkan sebuah pukulan tangan kosong.


Wulungan ini adalah pemuda yang telah dididik dengan ilmu kanuragan dan juga olah kebatinan sejak kecil oleh ki Amongraga, dan sekarang ini kemampuanmya tampak sudah hampir melampaui kemampuan dari gurunya ini.


Dengan disertai suara seperti angin topan dahsyat, menandakan pencapaian yang luar biasa dalam mengolah ilmunya, Wulungan melancarkan serangan dengan sungguh-sungguh tanpa mengukur kekuatan lawan terlebih dahulu.


Tirta segera menyadari kalau Wulungan tampaknya telah menggunakan segenap kemampuannya untuk segera menjatuhkan lawan dalam sekali serang.


"Tampaknya pukulan Kakang Wulungan ini di landasi aji Bayu Bajra, walaupun dalam tingkatan yang belum tinggi ," batin Tirta.


Tirta kali ini cukup memahami kalau dirinya harus bersikap lebih tegas dalam menghadapi pertarungan penjajagan ini, karena dia harus mendapatkan kepercayaan dari para pengawal dukuh Srengseng ini dan juga para tetua yang hadir di halaman ini.


Tirta segera menyilangkan kedua tangannya, untuk menyambut pukulan dahsyat yang sudah di lambari aji Bayu Bajra dari Wulungan.


Aji Lembu sekilan di kerahkan ke kedua lengannya, menyongsong pukulan Wulungan yang di lambari aji Bayu Bajra.


Tirta sudah memperkirakan kekuatan dari Wulungan dengan Bayu Bajranya, dia hanya mengerahkan lembu sekilan untuk memberi sedikit pelajaran pada Wulungan.


"Duag!,,,,, brugg!".....

__ADS_1


Dua kekuatan raksasa bertemu!


Lembu sekilan bertemu Bayu Bajra!


Dua ajian yang sudah lama punah telah muncul lagi di dunia ini!


Tirta yang sudah mewarisi tenaga batin dari eyang Wasis Jayakusuma dan ki Ranu, mempunyai kekuatan yang sudah benar-benar di luar nalar manusia.


Apapun aji yang di gunakan pasti akan memjadi berlipat-lipat kekuatannya jika yang mengetrapkannya adalah Tirta Jayakusuma.


Tubuh Wulungan terlontar sampai lima meteran akibat aji Bayu Bajra yang membentur aji Lembu sekilan milik sang pemuda.


Semua tertegun dan ternganga melihat kejadian yang begitu cepat.


"Aji Lembu sekilan!" desis ki Amongraga dan juga para sesepuh yang tahu akan olah kanuragan dan berpengalaman luas.


Wulungan yang jatuh, tampak berdiam beberapa saat.


Setelah dirasa kannya aliran darahnya kembali normal, dia langsung melenting tinggi dan kembali menyerang dengan kalapnya.


Wulungan merasa malu.


Didepan kawan-kawannya , apalagi di depan Nastiti! hanya sekali serang dia sudah jatuh.


Kali ini dia sangat marah, marah sekali !


Tirta kali ini hanya menghindar dan melompat saja kesana-kemari tanpa bermaksud membenturkan tenaganya kembali, karena kawatir akan lebih menyakiti Wulungan..


Setelah beberapa saat kemudian Tirta mendengar suara halus di telinganya yang tampaknya adalah suara ki Ranu.


"Jangan ragu anak mas, segera sudahi perlawanan Wulungan supaya dia lekas sadar perbedaan kemampuannya dengan kemampuan anak mas!"


Dalam suatu serangan yang membadai dari Wulungan, Tirta tampak tidak berusaha menghindar.


Dadanya sengaja di biarkan terbuka tanpa bermaksud menghindar atau menangkisnya,


Wulungan nampak tersenyum penuh kemenangan!


"Desss, ! ,,,,, ,, gubrak!" pukulan kuat dengan di lambari aji Bayu Bajra membentur dada terbuka dari Tirta Jayakusuma.


Kembali orang-orang yang menyaksikan pertarungan ini terkejut bukan alang kepalang.


Tubuh tinggi besar dari Wulungan kembali terlontar ke belakang beberapa meter jauhnya, kali ini terasa dadanya hampir meledak.


Aji Bayu Bajra menghantam balik dirinya..

__ADS_1


Darah telah menitik di sudut bibirnya,, senyum yang tadi sempat menghiasai wajahnya hilang tak berbekas dan hanya meninggalkan kesakitan di wajah Wulungan.


Tampak dia berusaha untuk bangkit dengan bertelekan kedua tangannya, akan tetapi tenaga yang bergolak di dadanya tampaknya masih bergejolak tak karuan dan tidak segera mereda.


Sementara Tirta yang kali ini mengerahkan aji Tameng Waja tetap berdiri kokoh laksana pokok kayu jati berusia ratusan tahun. Berdiri tanpa tergoyahkan !


Kali ini ki Amongraga bertambah lagi rasa kejutnya..!


"Aji Tameng Waja!" desis ki Amongraga.


"Sudah cukup ! saya kira penjajagan kali ini sudah cukup!" seru ki Amongraga.


Dia kemudian berjalan mendekati Wulungan yang sudah bisa duduk.


Diperiksanya kondisi, Wulungan, ki Amongraga telihat lega setelah mengetahui keadaan Wulungan.


Tampaknya Wulungan hanya mengalami sedikit goncangan di wadagnya,, dan tidak terluka parah.


" Maaf kan aku Guru," kata Wulungan lirih.


Tidak apa Wulungan, tujuanmu kan hanya menjajagi saja kemampuan anak mas Tirta Jayakusuma, bukan untuk beradu jiwa, jawab ki Amongraga.


Kali ini terhapus sudah tentang keraguannya kepada Tirta Jayakusuma dari ki Amongraga.


"Benar-benar anakmuda yang tangguh, lawan yang sepadan untuk Aryo Seto," batin ki Amongraga.


Tirta segera menyatakan permintaan maafnya kepada Wulungan;


"Maaf kakang Wulungan,, saya tidak bermaksud menyakiti kakang," kata Tirta, sejenak setelah ki Amongraga memeriksa keadaan Wulungan.


"Maaf juga ki Amongraga, jika saya terlalu kasar," kata Tirta pada ki Amongraga.


"Tidak apa- apa anakmas, dalam penjajagan kanuragan seperti ini adalah hal biasa jika terkena pukulan dan tendangan!


Dengan demikian kita bisa mengenali kemampuan diri kita, juga mengenali kemampuan orang lain." jawab ki Amongraga dengan legowo.


Sementara itu tampak Wulungan masih belum bisa legowo dengan kekalahannya kali ini .


Setelah kepergian Aryo Seto, dirinyalah pemuda yang dianggap pimpinan dari anak-anak muda di padukuhan Srengseng ini. Dia mulai memposisikan dirinya sebagai kepala dari pengawal padukuhan ini. Walaupun ada juga pemuda-pemuda yang juga tangguh selain dirinya yang juga menjadi pimpinan dari kelompok kecil dari pengawal padukuhan.


Ya dari seratus pengawal padukuhan telah di bagi menjadi lima kelompok kecil terdiri dari dua puluh orang anggota dan satu orang pemimpin.


Dan Wulungan ini adalah pemimpin dari salah satu kelompok tersebut.


Karena dia adalah murid tertua dari ki Amongraga dan juga ki Ranu , sehingga dia merasa menjadi wakil dari ki Amongraga ini.

__ADS_1


Apalagi sejak kepergian Aryo Seto.


__ADS_2