Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
road to Ijen


__ADS_3

Mereka berjalan menyusuri sudut-sudut kota lama sambil bergandengan tangan.


Setelah capek, Iza mengajak duduk di sebuah bangku taman yang terletak agak jauh dari keramaian pengunjung.


Dalam kesempatan itu, Tirta menyampaikan akan tugas untuk memperdalam ilmu Kanuragan dengan melakukan perjalanan ke kawah Gunung Ijen.


"Aku ikutan ya Ta," kata Iza manja.


"Kalau kamu ikutan, malahan aku gak jadi memperdalam ilmu Kanuragan, adanya malah kita bulan madu di sana," goda Tirta sambil tersenyum.


"Ih, sekarang kamu genit Ta ! kata Iza sambil mencubit pinggang sang pemuda.


"Tapi gak papa deh, kan seru tuh bulan madu di sana !" jawab Iza penuh harap.


"Tapi jangan dulu ya Izaaa, belum waktunya! pamali atuh, lain kali aja yaa," kata Tirta lagi.


"Besok kalau udah nikah aku ingin jalan- jalan berdua saja sama kamu ke tempat tempat indah Ta.." Rajuk Iza..


Tirta mengangguk sambil merengkuh tubuh lembut di sebelahnya dan mencium rambut wangi nan indah dengan penuh perasaan sayang.


Sore itu mereka berdua duduk- duduk sambil menikmati senja di kota tua tersebut hingga memasuki waktu Maghrib.


Kemudian Tirta mengajak ke sebuah resto yang ada di kawasan itu untuk mengisi perut yang sudah mulai berontak minta di isi.


Hari beranjak malam ketika Tirta dan Iza kembali menyusuri jalanan kota Semarang yang cukup ramai di malam itu.


Tirta mengarahkan motornya menuju jalan Pahlawan, sebuah jalanan di pusat kota Semarang.


Sebuah jalan tempat muda mudi kota Semarang menghabiskan malam panjang dengan sekedar nongkrong menikmati akhir pekan.


Tirta mengajak Iza turun dan duduk duduk di jalan Pahlawan ini.. Iza sendiri belum pernah nongkrong di jalanan ini, walaupun dia tahu jalanan ini tempatnya anak anak muda kota Semarang menghabiskan malam .


Maklum anak gadis, akan sangat tidak baik jika berada di tempat seperti ini tanpa ada yang mengawal nya. Dan sekarang dia sudah ada yang mengawal dan menjaganya .


Dan ternyata nongkrong seperti ini adalah hal yang menyenangkan, apalagi bersama kekasih hati.


***


Hari ini Tirta, Bayu, Adnan serta Mahardika berangkat menuju gunung Ijen di Banyuwangi melalui jalanan Pantura.

__ADS_1


Mereka berencana melakukan perjalanan dengan santai sambil mencari pengalaman.


Berempat mereka mengendarai Toyota Alphard hitam dengan Tirta bertindak sebagai Driver.


Perjalanan adalah hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak muda seusia mereka.


Jiwa muda yang penuh semangat petualangan dan rasa ingin menaklukkan segala sesuatu masih begitu menggebu.


Dari Semarang mereka memasuki kota Demak dan singgah di masjid Demak. Sebuah masjid peninggalan para penyebar agama Islam yaitu pada masa kerajaan Demak Bintoro berdiri dengan kokoh nya dan dipimpin oleh Raden Patah dengan di dukung oleh Walisongo. Masjid ini di bangun pada abad ke 15 atau 1401 Saka. Setelah dari masjid Agung Demak mereka menuju ke makam sunan Kalijaga yang jaraknya kurang lebih dua kilometer dari Masjid Agung Demak ini.


Setelah Ziarah ke makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu, Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Kudus.


Jarak antara Demak ke Kudus sendiri tidak terlalu jauh, hanya kurang dari setengah jam saja, atau kurang dari dua puluh kilometer.


Sesampai di kota Kudus yang terkenal dengan kota Kretek ini, Mereka menyempatkan diri untuk mampir juga ke masjid Menara Kudus, Sebuah masjid peninggalan Sunan Kudus.


Perjalanan kemudian di lanjutkan ke kota Pati, kota yang juga di kenal dengan Hogwarts Van Java, atau kota yang penuh Mistis.


Di kota Pati mereka menuju makamnya Saridin atau Syech Jangkung yang sangat terkenal di kalangan orang-orang pesisir tanah Jawa sebagai murid sunan Kalijaga yang menggunakan seluruh hidupnya dalam menyebarkan agama Islam.


Makam Saridin tersebar di mana-mana, ada di Palembang, Cirebon juga di kulon Progo DIY. Tapi entahlah yang mana yang benar-benar makamnya Saridin atau syech Jangkung ini.


Letak makam Saridin di Pati sendiri berada di desa Landoh kecamatan Kayen yang berjarak kurang lebih 17 kilometer kearah selatan kota Pati. Tepatnya ke arah kabupaten Grobogan.


Alkisah di dalam penjara Saridin bebas keluar masuk penjara karena dengan mudahnya Saridin melewati jeruji besi penjara. Juga karena titah sang Adipati yang mempersilakan Saridin keluar masuk penjara Jika mampu.


Setelah dari makam Saridin atau syech Jangkung mereka kemudian menuju ke kecamatan Margoyoso, berkunjung ke desa Kajen dimana di sana ada makam penyebar agama Islam yang lain yaitu makam syech Ahmad Muttamakin yang merupakan seorang Waliyullah, seorang yang senang mendalami ilmu-ilmu agama. Beliau hidup sekitar tahun 1700 an.


Syech Achmad Muttamakin ini masih mempunyai garis keturunan dari pangeran Benawa, Jaka Tingkir , juga dari Ki Ageng Pengging..Dan keturunan dari syech Muttamaqin ini diantaranya adalah Kyai Haji Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama (persatuan para Ulama), yang juga orang tua dari Kyai Haji Abdurrahman Wahid (di nukil dari silsilah Syech Ahmad Muttamaqin di Google).


Syech Muttamaqin terkenal juga dengan sebutan Sunan Kajen.


Setelah puas berkeliling di daerah Pati yang memang mempunyai jejak jejak para penyebar Islam di Jawa, juga jejak jejak peradaban Jawa di masa kerajaan Mataram Islam.


Dan disinilah eyangnya dahulu memimpin Pati, dan putra dari Eyang Wasis Joyokusumo yang meneruskan kejayaan Pati pesantenan adalah Wasis Joyokusumo 2 atau Adipati Pragola 2 memimpin segenap rakyat Pati melawan serbuan Mataram yang di pimpin oleh Sultan Agung dengan ratusan ribu bala tentaranya.


Adipati Pragola gugur terkena tombak pusaka Kyai Baru klinting.


Bagi warga Pati, Ki Pragola adalah panutan! Dia adalah sosok pria gagah , seorang pemimpin Digdaya dan amat di cintai oleh rakyat Pati pesantenan. Dia gugur di Medan laga sebagai laki laki sejati.

__ADS_1


Tirta, Bayu, Adnan dan Mahardika kemudian melanjutkan perjalanannya lagi menyusuri jalanan Pantura.


Hari menjelang Magrib ketika mereka memasuki kota Rambang.


Di Kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota penghasil Ulama-ulama besar di negeri ini.


Dan di pinggiran kota Rembang sendiri juga ada makam Saridin juga, tepatnya di desa Landoh kurang lebih Tujuh kilometer dari kota Rembang ke arah Blora.


Warga Landoh Rembang sendiri menyebut Saridin sebagai Mbah Tauhid Mbah Punden.


Setelah sholat Magrib di kota Rembang, mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Setelah berkendara kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka di kota Lasem.


Tirta segera membelokkan mobil yang di kendarainya ke jalanan kecil yang ternyata menuju sebuah pemakaman tua..


"Ta, mau kemana ini, !" seru Bayu..


"Akan aku ajak ke makam kakak perempuan sunan Bonang yang bernama Nyai Ageng Maloko." kata Tirta.


Ya makam dari kakak sunan Bonang ini terletak di Lasem , tepatnya berada kurang lebih satu kilometer sebelum memasuki kota Lasem dari arah Kota Rembang. Sedangkan makam sunan Bonang sendiri yang ada di kota Lasem adalah hanya berupa petilasan dan tempat pasujutan dari sunan Bonang.


Setelah dari makam Nyi Ageng Maloko, hari sudah malam. Sebenarnya mereka ingin mengunjungi petilasan Sunan Bonang di desa Bonang Lasem ini, akan tetapi karena sudah larut malam jadi mereka memutuskan melanjutkan perjalanan ke Tuban.


Bonang sendiri adalah lokasi tempat penyebaran Islam oleh Sunan Bonang yang mempunyai nama asli Raden Maulana Makdun Ibrahim.


Tengah malam mereka sampai di kota Tuban, kota asal dari Mahardika dan eyang Pandu..


Ternyata Rumah Mahardika berada di tengah tengah kota Tuban, letaknya kurang lebih hanya satu kilometer dari alun alun kota Tuban.


Ketika mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar dan tampak asri, Mahardika terlebih dahulu turun dari mobil.



Masjid Agung Demak peninggalan Kesultanan Demak



Masjid Menara Kudus

__ADS_1



Masjid Sunan Bonang di desa Bonang, Lasem


__ADS_2